
Arcturus menatap ke arah onggokkan buku-buku di atas meja kerjanya dan menghela napas pelan. Pekerjaannya sebagai guru sejarah SMA terlupakan selama beberapa minggu, dan membuat murid-muridnya harus belajar sendiri dengan segudang tugas yang ia beri.
Bukan tanpa alasan Arcturus melakukan itu. Sejak pertemuannya dengan William, lalu Elliot, ia memutuskan untuk rehat dari pekerjaannya sebagai guru. Meskipun demikian, pihak sekolah enggan melepaskan tenaga pendidik terbaik mereka itu. Jadilah, Arcturus diberikan waktu untuk sekedar istirahat dan harus kembali nanti.
Tiga bulan. Waktu yang diberikan untuk menyelesaikan semua ini. Namun Arcturus sendiri tahu, bahwa tidak mungkin bisa menyelesaikan semua ini dalam waktu tiga bulan.
"Pada akhirnya semua akan berakhir dengan tidak baik," gumam Arcturus saat mengingat apa yang terjadi beberapa waktu lalu.
Ia sudah memperingatkan pada Elliot dan juga William tentang keterlibatan mereka akan kasus Clarissa. Sayangnya keluarga planet terjauh dari tata surya itu sama sekali tidak bergeming. Mereka tetap ikut campur dan bisa Arcturus pastikan bahwa tak lama lagi mereka akan berhadapan dengan pertarungan hidup atau mati.
Layaknya pertandingan Mortal Kombat, menang akan berjaya sementara yang kalah akan mati. Arcturus sudah menyadari hal itu ketika ia memulai ritual terlarang untuk menyatukan dirinya dengan demigod pembunuh Medusa, Perseus.
Dan sekarang, keadaan makin buruk. Para Dewa telah turun dari singgasana mereka dan melewati gerbang alam dewa menuju ke bumi.
BRAK!!
Arcturus meninju kayu pintu di dekatnya. Jika perkiraannya tidak salah, maka bisa dipastikan pertempuran besar akan terjadi tidak lama lagi. Nasib manusia dan makhluk non-manusia pun akan dipertaruhkan di sini.
"Xenos?" suara lembut wanita terdengar dan membuat pria berambut merah itu segera menoleh ke arah yang memanggil asmanya. "Kau nampak pucat, apa kau baik-baik saja?"
Seorang wanita berambut panjang berwarna navy bergerak mendekat. Tangannya membawakan cangkir berisikan kopi yang masih mengepulkan asap. Di tangan lainnya ada sepiring sandwich.
Cleo Davis Mycenae, nama wanita itu, belum lama menjadi istri dari Arcturus. Namun, wanita itu tahu benar kisah hidup pria itu dari a sampai z. Cleo meletakkan sarapan di atas meja kecil di samping meja kerja Arcturus, ranum mungilnya terbuka dan melontar tanya.
"Kau memikirkan Clarissa dan orang-orang itu?"
Orang-orang yang dimaksud sudah tentu adalah anggota Asosiasi. Arcturus menghela napas kasar. Tak suka mengatakan hal semacam ini sebenarnya.
"Mereka sudah mengubah adikku menjadi boneka pembunuh." ada jeda dalam kalimatnya sebelum kembali dilanjutkan. "Kalau sudah begini, aku tak bisa lagi menyelamatkan Clarissa dari kutukan itu."
__ADS_1
Cleo bukannya tidak paham dengan situasi yang ada. Namun saat ini, ia lebih mengkhawatirkan kondisi fisik Arcturus yang terlihat kurang baik.
"Sarapan dulu, ya? Nanti aku akan mengobati luka-lukamu," Cleo menyodorkan kopi dan sandwich pada Arcturus.
Arcturus tentu tak perlu bertanya bagaimana Cleo bisa menyadari ada luka pada tubuhnya. Dua tahun hidup bersama Cleo, ia menyadari bahwa wanita itu terlalu peka terhadap hal-hal janggal. Bahkan dalam sekali lihat, Cleo bisa tahu apa saja yang ia sembunyikan. Luka-luka akibat pertempuran ataupun efek samping dari sihirnya.
"Baiklah," ia mengambil cangkir kopi dan mulai menyesapnya perlahan. Kuasanya menjangkau satu buah sandwich dan memakannya lahap. "Enak!"
"Tentu saja," Cleo nampak bangga dengan pujian Arcturus. "Jadi, kau bertarung dengan siapa kali ini?"
Pertanyaan tiba-tiba dari Cleo membuat Arcturus harus menghabiskan sarapannya secepat mungkin. Tak ingin kehilangan selera dadakan akibat menceritakan hal-hal menyebalkan yang membuatnya terluka.
"Hei, pelan-pelan makannya. Nanti kau tersedak," Cleo mengingatkan suaminya.
"Mana bisa? Aku tak mau kehilangan selera makanku gara-gara si brengsek itu!" jawab Arcturus sembari menghabiskan makanan dan minumannya.
"Separah itu lawanmu?"
"Kau ini, kalau yang berkaitan dengan adikmu, pasti kau katakan sangat parah," tutur Cleo yang terdengar seperti sebuah keluhan.
"Tentulah! Dia cuma membuat kondisi Clarissa makin parah!" Arcturus nampak tak mau mengalah.
"Biar kutebak, lawanmu itu Poseidon?" Cleo menudingkan jemarinya ke arah Arcturus.
Terdengar dengusan dari si empunya asma Arcturus Xenos Mycenae itu. Cleo mengambil kesimpulan bahwa suaminya memang benar bertarung dengan nama yang ia sebutkan tadi.
"Luka-lukamu itu didapat dari serangannya?" sekali lagi Cleo bertanya, namun kali ini Arcturus menggelengkan kepalanya.
"Ini luka yang timbul dari penggunaan sihirku," jawab Arcturus tanpa menutup-nutupi.
__ADS_1
"Kau menggunakan sihir larangan lagi?" Cleo menyipitkan matanya.
"Mau bagaimana lagi, lawanku adalah Dewa." Arcturus membela diri.
"Apa harus menggunakannya?"
"Tidak ada pilihan lain, Cleo."
Jawaban itu membuat Cleo terdiam dan terpekur lama. Sejurus kemudian, ia menghela napas.
"Biar aku yang lawan dia," ucapan Cleo itu langsung menuai protes dari suaminya.
"Heh, yang benar saja! Kau tahu siapa yang kau lawan itu?!"
"Tahu, tapi aku tidak bisa membiarkanmu menggunakan sihir terlarang secara terus menerus, Xenos. Berbahaya bagi tubuhmu," Cleo menyergah dengan tegas. "Biar aku yang melawannya, kau istirahat saja."
"Tidak, aku tidak akan membiarkanmu untuk melawannya, Cleo."
"XENOS!"
"Aku bilang tidak ya tidak. Pahamilah situasinya, Cleo."
Dengan adanya dekrit tersebut, wanita berambut panjang itupun tak berani mendebat lagi suaminya. Ia pun menghela napas dan menganggukkan kepalanya.
"Baiklah, tapi kalau kondisimu makin buruk dari pada yang sekarang, aku tidak akan tinggal diam," ucap Cleo bersungguh-sungguh. "Akan kulalui gerbang alam dewa, dan kuacak-acak hingga mereka tidak berani datang ke bumi."
Cleo menggeram. Ia benar-benar nampak marah. Arcturus pun menghela napas.
"Aku janji, aku tak akan memaksakan diri." kuasanya terulur dan mengusap lembut pucuk kepala Cleo. "Istirahatlah."
__ADS_1
Cleo beranjak menuju ke kamar tidur. Meninggalkan Arcturus yang masih berada di ruang kerja. Pria berambut merah itu menghela napas.
Untunglah Cleo bisa ia bujuk. Jika tidak, hancur sudah semua rencana yang ia susun beberapa waktu lalu. Ia tengah merencanakan sesuatu yang kemungkinan besar, akan mengubah takdir adiknya. Juga orang-orang di dekatnya.