
Hide and Seek with Alice. Elliot mengulang kembali kalimat tersebut. Ia tidak pernah tertarik untuk memainkan permainan supranatural semacam ini. Sebab terakhir kali berurusan dengan White Death saja, Elliot terpaksa harus menanggung satu kutukan.
Mengingat itu, Elliot jadi pening. Meskipun luka akibat percobaan itu kini sudah sembuh, namun trauma terhadap ilmuwan dan orang-orang itu masih membekas.
Baiklah, kesampingkan dulu hal tersebut. Yang harus ia lakukan kini adalah wawancara. Ia harus bisa menyelesaikan esai ini segera.
Semua orang yang memainkan permainan ini (baik iseng maupun memang nyalinya besar) mengatakan bahwa mereka semua berhenti bermain di tengah-tengah karena ada suara laki-laki di dalam rumah. Elliot mengernyitkan alis dan bertanya.
"Suara laki-laki? Itu siapa?"
(Konon katanya, itu adalah pembunuh Alice. Jika ia sudah masuk ke dalam rumah, tidak ada cara untuk mengusirnya.)
Elliot terpekur lama. Mencoba mencari maksud dari permainan ini. Di satu sisi, ia ingin tahu apakah Alice dalam permainan ini adalah anak angkatnya atau bukan. Di sisi lain, ia tidak ingin berurusan dengan makhluk gaib lagi.
Akhirnya, ia mengambil keputusan yang amat sangat berani. Peduli setan jika akhirnya ia menambah panjang daftar kutukannya.
Elliot menghampiri narasumber lainnya yang ingin mencoba permainan tersebut. Elliot meminta agar nanti ia diperkenankan untuk masuk ke dalam rumah saat suara laki-laki itu terdengar.
Memang pada masa itu alat penyadap tidak secanggih masa kini, namun Elliot memakainya. Ia butuh timing yang tepat untuk mengusir hantu laki-laki itu. Jadilah Elliot memasang beberapa alat penyadap di rumah tersebut. Tentunya atas izin sang empunya rumah.
Karena permainan itu hanya boleh dilakukan sendirian, Elliot hanya bisa menunggu di luar rumah. Sembari menghangatkan tangannya di depan api unggun, ia menunggu hingga mulainya permainan tersebut.
"Alice I am playing your game now."
Terdengar suara dari receiver penyadap yang Elliot pasang.
"Sudah dimulai, ya?" gumam Elliot sembari menatap lurus ke arah rumah sang narasumber.
Malam itu terasa panjang bagi sang empunya rumah. Ia harus mencari-cari kertas bertuliskan namanya dan Alice.
Beberapa kali ia disesatkan oleh hantu wanita itu, hingga terdengar suara laki-laki di dalam rumah. Elliot segera masuk ke dalam rumah narasumber itu dan menggunakan kekuatannya untuk melindungi sang empunya rumah.
"Kita bertemu di sini, pembunuh Alice," Elliot menatap tajam sosok hantu yang ada di depannya.
Hahahaha!! Ayah angkatnya Alice, ya? Kau ingin balas dendam, hah?
"Saya tidak ingin balas dendam, hanya ingin melindungi pria ini." Elliot menggunakan uap air suci untuk mengusir hantu itu.
Air suci? Kau....
Tanpa diduga dada kiri Elliot ditikam oleh sang hantu. Membuat pengejawantahan Neptunus itu terjatuh dengan darah bersimbah di bagian dada.
__ADS_1
Tidak mati? Kenapa?
"Sayangnya caramu tidak mempan pada saya, ya?" Elliot kembali menggunakan uap air suci untuk memberangus kehadiran hantu laki-laki itu.
SIAL! ALICE!
Setelahnya hanya ada teriakan mengerikan dari si hantu. Elliot memegangi dadanya yang tadi ditikam. Ia hanya bisa mencabut pisau dari sana tanpa bisa menghentikan pendarahannya.
(Daddy?) suara yang familiar itu mengejutkan Elliot.
"Alice?" Elliot menengadahkan kepalanya dan melihat bayangan yang ia kenal mendekat dan membentuk sosok yang pastinya sudah ia kenal baik. "Ternyata benar itu kau."
(Daddy, kenapa Daddy ada di sini? Daddy bahkan ceroboh menyeruak masuk di tengah-tengah ritual!) isak tangis Alice pun terdengar dan begitu mengibakan.
"Maaf, Alice. Tapi, Daddy hanya ingin melindungi yang punya rumah ini." jelas Elliot sembari mengulurkan kuasanya. Bermaksud untuk mengusap rambut putri angkatnya seperti dulu.
Sayangnya, Alice bukan lagi manusia seperti dulu. Tentu saja tangan Elliot seperti menyentuh udara kosong.
(Daddy, karena Daddy mengacaukan ritualnya. Dia marah dan bekas tikamannya tadi itu akan menjadi kutukan bagi Daddy. Alice tidak bisa menolong Daddy untuk menetralisir kutukannya!)
Ah, sial! Rupanya begitu! Sayangnya Elliot terlambat menyadari dan seketika luka di dada kirinya terasa begitu panas dan terbakar. Setelahnya Elliot tidak sadarkan diri.
Bau refisol dan pemandangan putih lagi-lagi menyapa indera sang bentala. Kali ini bukan OTS 44 yang merawatnya, melainkan kakaknya. Planet ke lima dari tata surya, Jupiter.
"Kak, saya baru sadar kenapa begitu sambutannya?" Elliot merasa rikuh sendiri. "Ini di mana?"
{Rumah sakit pusat tempatku bekerja.} ada jeda sebelum Jupiter melanjutkan konversasi. {Kau ini benar-benar ceroboh, ya? Meskipun makhluk celestial tidak bisa mati, tapi kalau terus-menerus menerima kutukan. Kekuatan supranaturalmu akan melemah! Lalu bagaimana dengan misi kita nanti?}
Omelan Jupiter pun mengalir begitu saja tanpa henti. Bertalu-talu menghantam gendang telinga Elliot. Membuat putera bungsu Mentari itu menundukkan kepalanya.
"Maaf, Kak. Saya tidak berpikir sampai ke sana..."
{Haduuh, bahkan kau membagi dua dirimu. Kalau begini, nantinya hanya akan menimbulkan bencana, El.} ucapan Jupiter kali ini terdengar seperti sebuah keluhan.
Namun tidak bisa Elliot pungkiri, bahwa keputusannya membagi dua dirinya menimbulkan berbagai petaka. Andai saja ia tidak membagi dua dirinya, kejadian macam ini tentu saja tidak akan....
{Kutukan itu hanya bisa dipunahkan jika menghancurkan entitas yang mengutukmu.} Jupiter mengambil tempat duduk di sebelah pembaringan sang adik. {Hanya saja, karena kamu terkena kutukannya. Kamu tidak bisa memusnahkannya sendiri. Kau butuh orang lain untuk melakukannya.}
"Kalau begitu, Kakak—"
{Bukan aku juga, El.} Jupiter segera memotong ucapan adiknya. {Kekuatanku tidak cocok untuk memusnahkan makhluk gaib. Kau harus mencari seseorang yang bisa memusnahkan makhluk-makhluk yang telah mengutukmu.}
__ADS_1
Elliot terdiam. Apakah itu artinya nanti Alice juga akan dimusnahkan?
{Kau mengerti, El? Jalan satu-satunya hanya memusnahkan makhluk-makhluk itu. Kau tidak boleh berbelas kasih pada mereka. Sifatmu itu telah mengundang bahaya tahu!} Omelan Jupiter pun masih berlanjut.
"Saya mengerti, Kak." Elliot menundukkan kepalanya.
Ia kehabisan kata-kata. Tidak boleh berbelas kasih. Apa selama ini ia terlalu longgar saat berinteraksi dengan manusia bumi? Elliot hanya menghindari karma buruk yang ia tanggung di masa lalu.
Namun, semakin lama karma buruk itu semakin bertambah kendati ia berusaha menebus semua kesalahannya. Apakah itu artinya ia sebagai makhluk celestial tidak boleh manusiawi?
Misi Elliot dan yang lainnya adalah melindungi earthlings dari bahaya yang berasal dari luar dan juga dalam bumi. Tapi sekarang, kata-kata Jupiter seolah menohoknya.
Jupiter sadar bahwa ia sudah menambah beban adiknya dengan terus-menerus menekannya semenjak sang adik masuk rumah sakit. Pria besar itu menghela napas dan mengacak rambut biru milik Elliot.
{Istirahatlah, El. Aku akan mencari cara agar kau bisa terbebas dari kutukan-kutukan yang ada pada dirimu itu.}
"Terima kasih, Kak."
{Bukan apa-apa. Ayo, istirahat!}
Jupiter lantas keluar dari ruang perawatan dan ain kembarnya menangkap sosok OTS 44 di depan pintu.
{Kau?!}
(Oh, putra ke lima Mentari? Aku mencemaskan adikmu itu. Bagaimana kondisinya?) tanya Laurens tanpa basa-basi.
{Mau apa kau ke mari?!} suara Jupiter naik 2 oktaf.
(Aku bertanya baik-baik, Jupiter. Begini sikapmu? Dan lagi ini rumah sakit, memangnya boleh teriak-teriak?)
{TCH!} Jupiter berdecih saat mendengar terguran Laurens. {Tidak sepenuhnya baik, bahkan kutukannya bertambah lagi.}
(Apa lagi kali ini?)
{Dadanya akan terbakar dan waktu terjadinya tidak menentu. Aku tidak bisa memprediksinya.} jawab Jupiter dengan jujur.
(Ah, anak itu terlalu polos dan terlalu baik hati, ya. Merepotkan saja.) Laurens kembali berkomentar. (Kalau begini terus, bukan tidak mungkin adikmu itu akan hancur lebih dulu.)
{Semoga saja tidak. Aku yakin Elliot itu kuat.}
Meski demikian, baik Laurens maupun Jupiter tidak tahu. Bahwa setelahnya, Elliot akan berurusan dengan hal-hal gaib. Entah bagaimana akhirnya, hanya waktu yang akan menjawabnya.
__ADS_1
—bersambung