
Avisa Evangeline pagi ini mengabarkan pada para karyawannya bahwa ia mempekerjakan beberapa pegawai untuk membantu di Everium. Elliot sendiri merasa senang, karena artinya ia akan mendapatkan kawan-kawan baru lagi setelah beberapa pegawai hengkang dari toko kue dan bunga tersebut.
"Namaku Ryan Mycenae," sosok pemuda berambut kelam dengan netra kuning mengulurkan tangannya pada Elliot.
"Salam kenal, Monsieur Mycenae. Saya Le Verrier," sebagaimana adat orang berkenalan, pantang menyebut nama kecil.
Saat tangan mereka bersentuhan, Elliot merasakan sensasi aneh. Namun pengejawantahan Neptunus itu tidak tahu apa yang terasa aneh itu.
Perkenalan antar pegawai telah dilakukan. Elliot mengenal teman-teman barunya yang di antaranya ada Han Suryeon dan Choi Kang Hyuk dari Korea. Soren Marius dan Kirigaya Akitsu, lalu Ryan Mycenae. Pegawai yang terakhir ini cukup aneh menurutnya, setidaknya bagi Elliot sendiri.
Karena hari itu cukup sibuk, Elliot tidak mempermasalahkan hal tersebut dan bekerja dengan semestinya. Kawan-kawannya pun sepertinya bekerja dengan giat dan tidak ada keanehan apapun.
Setidaknya begitulah seharusnya bila saja Elliot tidak keluar ketika tirai kelam memberangus senja. Apa yang ia lakukan mengubah segalanya.
Bentala berhelai kebiruan ini menggerakkan tungkai kembarnya menuju ke arah pantai. Seperti biasa, Elliot butuh tempat untuk sekedar menatap (rumah)-nya di atas sana. Ataupun bulan yang benderang di sana.
Sesekali rasa nyeri berkelebat di antara organ-organ tubuhnya. Menyebalkan.
Kutukan yang ia terima dari makhluk-makhluk gaib atas perbuatan earthlings yang memiliki relasi dengannya.... Ah, ia tak ingin menyebutkannya. Sejauh yang ia tahu, jumlahnya ada 12.
Ralat. Keseluruhan ada 13, namun Poseidon sudah mengatakan bahwa satu di antaranya tak bisa dihilangkan dengan cara apapun. Ranum meloloskan ekshalasi. Intinya, saat ini Elliot hanya bisa menghabiskan hidup sebagai manusia biasa.
Tidak sepenuhnya. Tetapi setidaknya Elliot terlihat demikian. Kesampingkan dirinya yang immortal. Semua anggota keluarganya memiliki hal itu.
Bulan yang bersinar cerah menyinari pantai yang tadinya gelap, kini diterangi cahaya bulan. Namun, secantik apapun cahaya itu tentu saja ada sisi gelap.
Misalkan disini, sesosok manusia sedang melakukan sesuatu yang brutal kepada sesama rasnya.
Ryan ーnama sosok ituーtelah bersimbah darah. Bukan darahnya, melainkan darah beberapa orang yang ia bunuh di depannya.
[Hehe... hanya karena kau bisa melawan kali ini.. uhuk.. bukan berarti di kesempatan berikutnyaー]
"DIAM!!"
Belum sempat orang tersebut menyesaikan kalimatnya, Ryan menghantamkan kepala orang tersebut ke terumbu karang. Tidak ada napas terdengar kecuali dirinya sendiri.
__ADS_1
Rambut—ralat, wig Ryan yang biasanya rapi kini cukup berantakan. Jelas saja, ia harus melawan beberapa orang malam ini tanpa persiapan matang pulaー hingga ia kehabisan peluru dan harus melawan mereka dengan sihirnya.
Dirinya tersengal-sengal. Kelelahan memakai Mana melebihi kapasitas biasanya, pasti mereka mengincar saat dirinya kehabisan Mana, hingga mudah untuk diincar.
'Bloody hell!'
Rutuk Ryan dalam hati, ia telah terbiasa diburu oleh pemburu magus karena dirinya penerima Segel. Namun kali ini lebih merepotkan dibanding biasanya.
Menyenderkan badannya pada terumbu karang terdekat. Ryan harus menghilangkan bukti-bukti agar tidak ada saksi, namun tubuhnya sedang tidak mau mendengarkan perintahnya.
Oh, apa ini? Aroma khas darah manusia menyembul di antara aroma air laut yang Elliot kenali. Ada pembantaian, kah?
Netra unik Elliot mencoba mencari tahu sumber aroma tersebut dan tertumbuk pada satu hal. Satu sosok. Ya, buana berasmakan Elliot ini mengetahuinya. Sebab ia sempat diperkenalkan dengan sosok itu.
'srek!!'
Baru saja berharap Ryan bisa bernapas, namun ada suara yang mengganggunya. Apa rekan mereka yang lain? Mau tidak mau Ryan bersiap untuk bertarung kembali.
"Siapa disana!?" Ryan berteriak pada sosok tersebut.
"Saya," Elliot berusaha untuk tetap tenang. "Apakah saya mengganggu kegiatanmu, Monsieur Mycenae?"
Ryan menatapnya dingin, tapi kesan janggal tercipta dari sikapnya. Kenapa pria di depannya tidak takut? Kenapa tidak ada rasa panik dari wajahnya? Kenapa pria itu mengenalinya? Dan kenapa-kenapa yang lain.
Justru wajah cerianya sekarang membuatnya curiga. Ryan mencoba berdiri, meski tubuhnya memang susah di ajak bekerja sama namun situasi sekarang mendesaknya agar menggerakkan tubuhnya.
"Aku bertanya lebih dulu, kamu siapa!? Apa kamu rekan orang-orang ini!?" sepertinya Ryan lupa bahwasanya Elliot adalah rekannya sesama pegawai di Everium.
Walaupun pria di hadapannya ini bukan bagian dari mereka, namun ketentuan dari Asosiasi tempatnya bekerja—ralat, Asosiasi tempatnya diperbudak, jika ada saksi yang melihat kegiatan sihir, maka saksi tersebut harus di bungkam.
Walaupun tidak begitu, bagaimana Ryan menjelaskan keadaannya yang sudah membunuh orang-orang itu. Pilihan mana saja memojokkan dirinya.
'DEG!'
Ryan sudah tidak kuat menopang berat tubuhnya, sekarang jatuh berlutut. Membunuh satu orang saja mungkin sudah sulit, maka pilihannya satu yang memungkinkan.
__ADS_1
Ryan mengambil pistolnya, dengan tangan gemetar ia membidik mayat-mayat di sana, dilesatkan langsung peluru tersebut. Dan terjadilah api biru yang membesar dan melahap mayat-mayat tersebut hingga menjadi abu.
Ya, itu adalah sihir kepunyaannya. Menghilangkan bukti tersebut prioritas utama. Toh, jika pria di hadapannya melapor polisi, tidak akan ada yang percaya mengenai sihir.
Ryan kembali terduduk, menyender pada terumbu karang. Napasnya tambah terengah-engah, yang tadi itu limit Mana dirinya. Setelah ini Ryan pasrah akan nasib selanjutnya.
"Dengar..."
Menunjuk ke arah Elliot, "...Meski aku dalam keadaan seperti ini, urusan kita belum selesai. Siapa kamu sebenarnya?"
Keringat bercucuran dari dahi Ryan, lengan yang sedang mengacung juga gemetaran. Kondisinya begitu buruk.
Ah, rupanya.... Earthlings selalu mudah lupa akan segala hal. Termasuk eksistensinya. Buana dengan netra unik ini meloloskan ekshalasi.
Kuasanya terulur dan diletakkan di dada kirinya. Memberikan salam selayaknya Elliot bertemu dengan orang lain pada umumnya.
Elliot tidak takut akan kematian. Sebab tidak ada aspek kematian pada dirinya, kendati itu baru berlaku bila yang melakukan adalah penciptanya.
"Jika saya rekan mereka, saya akan menyerangmu saat saya melihatmu tadi, bukan?" tetap tenang nada bicaranya. "Saya Neptunus, tunggu—itu bukan lagi sebutan saya dalam sosok ini."
Dengan kutukan yang melekat pada dirinya, Elliot tak akan mungkin menggunakan kekuatannya sebagai perwujudan planet. Pun ia bukan lagi dewa saat ini.
"Saya Elliot Le Verrier, seseorang yang dikutuk dan kebetulan saya melihatmu di sini." tanpa ragu, tungkai kembarnya membawa diri mendekat ke arah jejaka yang beberapa waktu lalu memperlihatkan semacam sihir di depannya. Bukan suatu hal yang baru, karena ia pernah melihatnya.
"Tidak perlu mengacungkan senjata atau apapun pada saya, tidak akan ada gunanya bila lawan bicaramu seorang yang tidak bisa mati." kembali ranum itu meloloskan ekshalasi.
"Saya hanya ingin menemui seseorang di sini," telunjuknya mengarah ke laut. "Namun, rasanya ia tak akan muncul saat ini."
Meski Poseidon akan menjawab panggilannya, sosok itu tak akan mau muncul secara sukarela. Sosok itu hanya akan mengirimkan utusan, atau bila Elliot benar-benar apes. Tidak ada yang datang padanya.
"Ini tempat di mana saya menunggu anak-anak saya," ungkapnya sembari menatap ke arah bulan yang benderang di atasnya. "Hanya itu. Walau terdengar aneh." jelasnya pada Ryan dengan jujur.
Percaya atau tidak, itu urusan belakangan.
—bersambung
__ADS_1