
Bu Laras menaruh kasar remot televisi yang dipegangnya,lalu melangkah masuk kekamarnya. Sementara Tya hanya bisa membuang napas kasar.
🌹🌹🌹
Setahun berlalu...
Hari-hari Tya diisi dengan bekerja dan bekerja...Yach seperti semua tau bahwa Tya adalah tulang punggung keluarganya sekarang. Dia yang harusnya masih mengenyam pendidikan di bangku kuliah dan masih seru-seruan dengan teman-temannya,terpaksa harus berperan sebagai pencari nafkah.
Bukannya nggak ikhlas,tapi hari-hari Tya makin terasa berat karna banyaknya permintaan ibundanya yang selalu merasa kurang puas dengan uang gaji yang dihasilkan Tya.Padahal ketika transferan gaji masuk,Tya segera mangalihkan uang itu ke rekening ibunya. Tapi ibu selalu mengeluh kurang dan curiga gaji Tya yang diberikan padanya hanya setengahnya. Itu yang membuat Tya lebih menghemat pengeluaran untuk dirinya,bahkan sekedar untuk makan siang pun dia harus mengalah.
Seperti siang itu waktu jam istirahat...selesai sholat dzuhur Tya duduk dikantin swalayan. Dihadapannya hanya tampak segelas lemontea tanpa ada temannya. Tya menyedot minumannya sambil matanya tak pernah lepas dari ponsel yang ada ditangannya. Dia mencoba mencari pekerjaan sambilan yang tidak mengganggu jadwal kerjanya di swalayan. Saking seriusnya sampai dia tak sadar ada seseorang yang dari tadi berdiri didepan mejanya.
"Boleh saya duduk disini mbak..." tanya orang itu dengan sopannya.
"Silahkan..." Tya mempersilahkan tanpa menengok siapa yang bertanya. Matanya masih sibuk dengan ponselnya.
"Nggak akan ada yang marah kan" kata orang itu.
Tya mulai terusik dengan perkataan orang itu,dia lalu mengalihkan pandangannya dari ponselnya.
"Yoga..." ucap Tya terkejut melihat orang yang mengusiknya tadi. Yoga tersenyum manis penuh arti.
"Kok bisa ada disini..."
"Aku tadi belanja tapi waktu aku lirik jam menunjukkan waktu sholat dzuhur,aku langsung tanya dimana aku bisa numpang sholat. Selesai sholat aku liat kamu jadi aku samperin...e nggak taunya dikacangin" ucap Yoga berbohong. Yoga lalu menarik kursi dan duduk didepan Tya.
"Maap..." ucap Tya sambil tersenyum.
"Duh manisnya senyum itu...bikin jantungku ngga beraturan saja..." gumam Yoga dalam hati.
"Emmm...sudah pesan makan???" tanya Yoga,Yoga tau dari tadi Tya cuma minum segelas lemotea saja.
"Sudah trimakasih..."
"Makan apa??? Makan angin???"
"Kamu bisa aja..."
"Oya,aku dengar kamu kan kuliah diluar negri...kok sekarang ada disini" Tya mencoba mengalihkan perbincangan mereka soal makan.
"Iya,aku sedang liburan semester jadi aku pulang. Kangen Indonesia"
__ADS_1
"Pulang kerja nanti ada yang jemput???" lanjut Yoga.
"Emmm...engga...emang kenapa???" Tya agak ragu menjawab.
" Ngumpul yuk...kangen nich...tar kamu hubungi temen-temen mu dan aku akan ajak Andri. Kita nongkrong bareng di kafe Legend...mau???"
Yoga tau kalau Tya ragu menjawab karna dia sudah berstatus tunangan,makanya dia menyarankan Tya mengajak teman-temannya.
"Aku tanya teman-temanku dulu ya,kira-kira mereka bisa nggak"
"Mereka bisa kok,aku sudah menghubungi mereka...tinggal kamunya aja" tiba-tiba Andri berjalan menghampiri mereka dan menjawab tanpa ditanya.
"Lho kalian berdua to...kirain Yoga sendiri"
"Ngarep aku datang sendiri ya???" tanya Yoga kepedean.
"Idih...nggaklah,cuma kaget aja liat Andri juga ada..." elak Tya.
"Ayo makan dulu,kita makan bareng...kamu belum makan kan???" ajak Yoga setelah pelayan kantin mengantarkan 3 mangkuk bakso.
"Bakso tanpa bawang goreng tanpa sledri dan jus mangga buatmu...Belum berubah kan???" tanya Yoga sambil menggeser mangkuk bakso dan gelas jus ke hadapan Tya.
"Hmm...tau dari mana...???" tanya Tya.
Tya melirik jam tangannya,karna sebentar lagi jam istirahatnya habis.
"Kalo nggak langsung kamu makan,kamu akan tambah terlambat...Lagian telat sedikit kan nggak papa" ucap Yoga.
"Aku disini kerja dan digaji Yoga...bukan sekedar main ato jalan-jalan..." jawab Tya,dia pun mulai menyuapkan bakso sedikit demi sedikit ke mulutnya.
Masalah kerja,Tya memang sangat disiplin. Pekerjaannya pun selalu rapi dan beres sebelum waktunya. Itulah yang membuat Pak Reza,supervisior swalayan sangat menyukainya. Bahkan rasa suka itu bukan hanya karna dia karyawannya yang teladan tapi duda satu anak itu juga menyukainya sebagai seorang laki-laki kepada perempuan.
"Maap,makanannya nggak aku habisin. Sudah waktunya aku kembali kerja lagi" Tya bangkit dari kursinya.
"Habiskan saja dulu makanmu...supervisiormu pasti juga maklum"
Tya menggelengkan kepalanya.
"Lain waktu saja ya...aku juga harus menyerahkan laporan penjualan ke sales,sebentar lagi mereka datang. Aku pamit dulu,trimakasih atas traktirannya" Tya menganggukkan kepalanya dan segera berlalu.
"Belum jadi ngomong...???" tanya Andri setelah Tya tak terlihat lagi.
__ADS_1
Yoga menggeleng, Andri pun hanya bisa membuang napas kasar.
Pulang kerja.
Setelah absen Tya pun segera keluar swalayan lewat pintu khusus karyawan.
"Tyaaaa...." panggil Tami,Yuli dan Indri bersamaan.
Tya segera menoleh kearah suara,dilihatnya ketiga sahabatnya sudah berpakaian rapi.Lalu diliriknya baju yang melekat ditubuhnya...masih pakai baju seragam.
"Duh gimana nich...masak aku pergi sama mereka pakai baju seragam" bathin Tya.
Tapi tiba-tiba...
"Pakailah ini..." Yoga memberikan paper bag.
"Mandilah sekalian...ada sabun cair dan handuk didalamnya,semua baru dan bersih,sudah dilaundry kok" lanjut Yoga yang mampu membuat Tya terbengong-bengong.
"Udah ayo aku anter mandi di toilet swalayan" Tami segera menggandeng Tya pergi.
Tya pun menurutinya. Dia masih belum bisa mengerti mengapa Yoga sampai sebegitu perhatian padanya.
.
.
.
.
.
.
.
Lanjut...
Hai...makasih masih setia membaca karya perdanaku...
Maap jika banyak salah-salah tulis dan kata-kata yang kurang pantas.
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen nya sebagai koreksi...
Mekasih...🙏🙏🙏