
Yoga masih setia dengan diamnya bahkan tubuhnya pun belum bergerak dari posisinya.
🌹🌹🌹
Tya terlihat bingung mau meminta Yoga untuk mengantarnya. Diam-diam Yoga memperhatikan gerak-gerik Tya yang hanya bisa diam menunduk. Yoga ingin melihat inisiatip apa yang akan dilakukan Tya padanya.
Setelah ditunggu beberapa saat dan tak melihat ada pergerakan dari Yoga Tya pun berdiri untuk keluar dari ruangan itu tetapi baru saja dia hendak melangkah,tangan Yoga menarik tangan Tya hingga Tya terjatuh dipangkuannya.
"Mau kemana..." Yoga mengunci Tya dengan tangannya.
"Kau tak mendengar kata mama tadi bahwa kalau kau pulang,aku yang disuruh mengantarmu..." ucap Yoga sambil tersenyum nakal.
Tya berusaha melepaskan tubuhnya dari pangkuan Yoga tapi justru Yoga mempererat kunciannya.
"Aku pikir kau tidur,jadi aku berinisiatif untuk pulang sendiri...lepaskan Yoga...jangan begini...ini tidak pantas..." Tya meronta minta untuk dilepaskan.
"Kau kan bisa membangunkanku,kenapa kau memilih pulang sendiri...apa kau ingin menemui Reza terlebih dahulu" ucap Yoga sambil melepaskan kunciannya.
Yoga tampak cemberut,memasang muka kecewa,sementara Tya segera bangkit dari pangkuan Yoga sambil merapikan bajunya.
"Aku tidak mau bertengkar masalah Pak Reza lagi,aku mau pulang...kepalaku pusing"
"Apa??? Kepalamu pusing??? Kita pergi kerumah sakit aja kalau begitu..." ucap Yoga terlihat cemas,Tya tersenyum melihat tingkah Yoga.
"Yoga...jangan berlebihan akh...aku pusing karna kamu terus-terusan ngajak bertengkar dan membahas soal Pak Reza lagi Pak Reza lagi...kalau kamu diam dan melupakan semuanya,pasti pusing di kepalaku hilang" jelas Tya dengan lemah lembut.
Yoga tersenyum
"Pokoknya aku nggak pernah rela kamu disentuh siapapun" ucap Yoga sambil bangun merapikan bajunya.
"Emang kenapa???" tanya Tya
Tya kini mulai menyadari bahwa sikap Yoga tak sewajar sikap seorang teman pada umumnya. Perhatiannya,rasa cemasnya dan juga kadang rasa cemburunya semua serba berlebihan. Tya juga jadi agak bertanya-tanya ketika mamanya Yoga menyebut kata 'mama' untuknya. Yoga menghentikan sejenak tangannya yang sedang merapikan bajunya,matanya melirik ke arah Tya yang tengah menunggu jawaban.
"Ya nggak suka aja..." jawab Yoga sambil melanjutkan aktipitasnya merapikan bajunya yang sedikit kusut.
"Ayok aku antar pulang sekarang..."
Tya mengerucutkan bibirnya,dia kecewa dengan jawaban Yoga. Dia merasa sedang dipermainkan Yoga. Tya memang belum sepenuhnya berpaling dari cinta Zaki tapi dia sudah merasa nyaman dengan keberadaan Yoga.
Mereka berjalan beriringan menuju mobil dan ketika Yoga akan membukakan pintu untuknya,Tya dengan cepat melarangnya.
__ADS_1
"Aku masih punya tangan Yoga,aku nggak mau ada karyawan lain yang melihat kau membukakan pintu untukku dan akan ada gosip baru untukku"
"Siap tuan putri cantikku..." goda Yoga.
Tya diam tak menjawab godaan Yoga seperti biasanya. Suasana jadi sedikit canggung dengan diamnya Tya yang justru melamun tak seceria biasanya. Tiba-tiba Yoga mengerem mendadak membuat Tya terkejut dari lamunannya.
"Ada apa Yoga,kok tiba-tiba mengerem mendadak???"
"Ada yang sakit..." jawab Yoga sekenanya
"Apa yang sakit...sakit sebelah mana???" tanya Tya dengan polosnya.
Yoga menarik tangan Tya dan menempelkan telapak tangannya tepat di jantungnya yang sedang berdebar kencang.
"Jantungku sakit Tya,debarannya selalu tidak beraturan jika berada di dekatmu. Dan tadi detaknya hampir hilang ketika kamu mendiamkan aku dari tadi" ucap Yoga sambil menatap tajam kearah Tya.
Sesaat ketika mata mereka bertemu,dengan cepat Tya membuang muka sambil menarik tangannya yang tengah berada di dada Yoga.
"Jangan bercanda Yoga..."
"Siapa yang bercanda...ketika kamu mendiamkan aku,detak jantungku semakin melemah dan jika semakin lama kau mendiamkan aku,aku yakin detak jantungku tak lama lagi akan berhenti..."
Tya tersenyum,ada semburat merah dipipinya karna dia merasa malu.
"Emang kata siapa lucu...Hmmm...katanya nggak lucu tapi kok senyum ya...Eh tunggu,ada semburat merah di pipi tuan putri cantikku...seneng tapi malu ya..." goda Yoga.
"Sudahlah Yoga...jangan menggangguku terus"
"Satu lagi...jangan suka memanggilku tuan putri cantikku"
Tya cemberut lucu,membuat Yoga gemas melihatnya.
"Kalo aku suka memanggilmu begitu gimana???"
"Aku bukan tuan putri cantikmu Yoga"
"Terus tuan putri cantik siapa??? Si Reza brengsek itu??? Atau si tukang selingkuh Zaki???" Yoga tersenyum sinis
"Yoga...apa sih sebenarnya mau mu???"
"Sebentar-sebentar baik...sebentar-sebentar perhatian...sebentar-sebentar ngajak bertengkar...Aku capek tau..."
__ADS_1
Entah kenapa tiba-tiba air matanya menetes tanpa permisi,membuat Yoga yang melihat kalang kabut dibuatnya. Reflex Yoga memeluk Tya untuk menenangkannya,dihapusnya air mata Tya yang menetes di pipi mulus Tya.
Tak lama Tya kembali menarik badannya dari pelukan Yoga.
"Maap Tya...tapi jangan menangis lagi"
"Aku janji tak akan membuatmu kesal lagi"
Tya menghapus sisa air matanya.
"Aku hanya takut salah mengartikan sikapmu padaku Yoga"
"Memang kamu mengartikan sikapku ini seperti apa???" tanya Yoga
"Jangan mulai lagi Yoga..."
Yoga menggenggam erat kedua tangan Tya,ditatapnya Tya dengan intens,membuat Tya salah tingkah dibuatnya.
Prayoga Putra Dewangga
.
.
.
.
.
.
.
Lanjut...
Jangan lupa like dan komennya ya...
Trimskasih...🙏🙏🙏...
__ADS_1