RAHASIA JODOH

RAHASIA JODOH
BAB 82 Berubah


__ADS_3

Tya menggambil sarapan dan menyuapi suaminya.


Sementara ada sepasang mata yang memperhatikan mereka dengan perasaan geram.


🌹🌹🌹


Semenjak Hari minggu mereka pergi ke Gramedia waktu itu,mereka tampak mulai bertambah akrab.Awalnya Tya masih enggan menanggapinya,dengan alasan dia tak mau su'udzon pada suaminya. Tapi ketika kedekatan mereka membuat Yoga sedikit mengabaikan perasaannya dan keberadaannya,dia akhirnya mulai gerah juga.


"Aku tidak boleh diam saja...aku harus mengutarakan perasaanku kepada Aak.." bathinnya


Hari ini malam minggu,Tya ingin melewatkan malam minggu berdua bersama suaminya. Maka dia pun menghapiri suaminya yang sedang berada diruang kerjanya.


"Aak..."


"Hmmm..."


"Jangan hmmm..." rengek Tya seperti biasanya


"Iya...ada apa" jawab Yoga sambil memeriksa pesan-pesan yang ada di ponsel tanpa menoleh kepadanya.


Tya diam tak melanjutkan lagi kata-katanya,dia merasa diabaikan oleh suaminya. Dia pun memilih keluar dari ruang kerja suaminya menuju kamar tidurnya,lalu Tya masuk ke kamar mandi untuk berwudlu. Yoga mengalihkan pandangannya dari ponselnya,matanya menyapu ruangan mencari sosok istrinya tapi tak ditemukan Tya disana.


Sayup terdengar suara Tya sedang membaca Al Qur'an yang diselingi dengan isakan,Yoga mendekati istrinya.Yoga lalu teringat kata Yuli.


"Kamu harus mengenal istrimu lebih jauh Ga,jika kamu memergoki Tya mengaji lebih sering dibanding hari-hari biasanya,pasti ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.Apalagi saat dia mengaji diselingi dengan suara isakan,itu berarti dia sedang merasakan sakit hati yang sudah tak mampu ditahannya lagi" begitu yang pernah Yuli sampaikan padanya.


Yoga duduk bersimpuh di samping Tya yang sedang mengaji,menunggui istrinya sampai istrinya selesai mengaji.


"Ada apa...???" tanyanya ketika Tya selesai mengaji


"Kangen Bapak..." jawab Tya sambil berusaha berdiri


Yoga ingin membantu tapi Tya menolaknya.


"Aku bisa sendiri"


"Sayang ada apa??? Kenapa akhir-akhir ini kamu selalu menghindar dan seolah tak mau ku pegang" tanya Yoga.


"Mungkin bawaan anak-anakmu" jawab Tya sekenanya sambil membaringkan tubuhnya diranjang


"Kamu capek??? Aku pijitin ya..."


"Nggak usah terimakasih...kamu juga capek kan"


Yoga menghela napas,dia mencoba menarik perhatian Tya kembali. tapi Tya terus saja menolak. Yoga juga merasa aneh mendengar istrinya menyebut aku-kamu bukan seperti biasanya Tya-Aak.


Baru dia akan menanyakan soal itu pada Tya,sudah terdengar Luna gadungan memanggilnya.

__ADS_1


"Kakak ayo berangkat..." teriaknya dari luar kamar


Yoga menengok ke arah Tya,seolah dia berharap Tya melarang dirinya.


"Tya..."


"Pergilah...dia sudah memanggilmu"


"Kau tidak apa-apa kamu tinggal???"


"Sejak kapan kalo mau pergi tanya gitu...biasanya kan aku yang harus ngertiin kamu..."


"Kakak ayo...lama amat sih..."


"Iya...tunggu sebentar..."


"Tya...aku..."


"Pergilah...jangan bikin adikmu menunggu..."


"Aku tidak akan lama...ada yang ingin kubicarakan denganmu nanti..."


Tya diam tak menjawab...dan Yoga pun segera pergi meninggalkan Tya.


Sepeninggal Yoga,Tya keluar kamar menuju halaman belakang...


"Mo cari angin bi..."


"Jangan nyah...ini malem...udara malem nggak bagus untuk wanita yang mengandung"


"Tapi saya lagi pingin bi..."


Bi Sumi tau kalau nyonya nya sudah punya mau pasti tak bisa dicegah.


"Iya...saya temani ya nyonya..."


Tya mengangguk, Bi Sumi lalu memapah majikan perempuannya menuju gasebo taman.


"Nyonya tunggu sebentar disini ya,saya ambil jaket dan selimut dulu..."


"Terimakasih bi..." ucap Tya sambil duduk bersandar di tiang gasebo


Sementara di dalam rumah,Bi Sumi menuju kamar majikannya untuk mengambil jaket dan selimut.


"Sari bikinin wedang jahe sereh dan bawain juga camilan untuk nyonya di gasebo belakang"


"Gasebo belakang??? Ngapain bi nyonya disana???"

__ADS_1


"Udah jangan banyak tanya dulu...bikinin aja...jahenya jangan banyak-banyak ya..."


"Iya bi..."


Bi Sumi pun segera menemui nyonya nya di halaman belakang.


"Pakai jaketnya dulu nyonya...terus ini selimutnya..."


"Terimakasih bi..." jawab Tya datar


"Saya pijitin kakinya ya nyonya...wanita mengandung itu biasanya kakinya pegal-pegal"


Tya mengangguk,lalu Bi Sumi pun mulai memijit kaki nyonya nya. Bi Sumi tampak memperhatikan nyonya nya yang sedari tadi hanya diam membisu dan melamun.


"Nyonya...kalau ada yang ingin nyonya ceritakan pada saya...saya siap mendengarkan...jangan dibawa ngelamun aja nyonya...kasian anak-anak yang ada dalam kandungan nyonya..." ucap Bi Sumi mencoba memancing majikannya untuk cerita


Tak berapa lama,suara Mbak Sari mengagetkan mereka berdua...


"Halo...halo...selamat malam....ini minumannya sudah datang...silahkan..." ucap Sari.


"Terimakasih Mbak Sari...duduklah disini bersama kami..." titah Tya


Sari pun menurut...akhirnya mereka bertiga pun asik bercerita dan tiba-tiba,Tya menanyakan sesuatu.


"Bi...Mbak...menurut kalian,apakah Luna itu benar-benar adik sepupu tuan???"


"Maap nyonya,dari awal saya bertemu dengan Non Luna,saya sudah nggak suka...orangnya sombong dan arogan. Padahal selama saya bekerja dengan nyonya besar,belum pernah ada saudara dari pihak nyonya ataupun dari pihak tuan besar yang sesombong itu" ucap Bi Sumi.


"Iya...saya juga agak curiga nyah,sebab jika benar dia saudara nya tuan,harusnya sikapnya tidak seperti itu. Dia seperti sengaja berpakaian sexy hanya untuk menggoda tuan. Masa iya seorang adik berusaha menggoda kakaknya...Iya kan nyah????" timpal Sari


Tya manggut-manggut...dia semakin yakin bahwa Luna bukanlah adik sepupu Yoga.


.


.


.


.


.


.


.


Lanjut...

__ADS_1


__ADS_2