
Kalea memarkirkan motor matiknya di depan pelarangan rumah. Dia meminta izin pada Javas untuk pulang lebih awal karena banyak cucian yang sudah menumpuk. Javas tentu mengizinkan Kalea pulang karena bagaimanapun, Javas menyadari jika Kalea masih menjadi seorang istri.
Kalea berjalan memasuki rumah. "Sepertinya, mas Zoni sudah pulang," gumam Kalea sambil tangannya bergerak memutar kenop pintu.
Saat pintu terbuka, Kalea hampir tidak percaya dengan penglihatannya. Dia sampai mengucek mata berulang kali untuk memastikan bahwa apa yang dilihatnya adalah kenyataan.
Rumah yang saat ini Kalea pijak, sudah terlihat rapi dan wangi. Kalea tahu jika wangi ini bersumber dari pewangi lantai yang digunakan untuk mengepel.
"Kamu sudah pulang, Sayang?" ucap suara yang hampir saja membuat jantung Kalea akan copot dari tempatnya. Zoni muncul dari arah dapur dengan baju yang basah karena keringat.
"Sudah. Kamu sedang apa, Mas? Kenapa rumah sudah rapi?" tanya Kalea bingung.
Zoni tersenyum manis. "Aku sengaja membantumu untuk bersih-bersih rumah supaya kamu tidak terlalu lelah nantinya. Aku sudah membersihkan seluruh ruangan dengan menyapu dan mengepelnya. Kamu hanya tinggal menjemur pakaian sebentar lagi karena aku sudah menggilingnya di mesin cuci," jelas Zoni panjang lebar yang membuat bibir Kalea terbuka kemudian tertutup lagi.
Terlalu terkejut dengan perubahan Zoni yang tiba-tiba baik, Kalea pun bertanya. "Kamu sehat kan, Mas?"
Zoni tidak merasa tersinggung seperti yang sudah-sudah. Apalagi meluapkan kekesalan pada Kalea dan memperlakukan istrinya dengan kasar. "Kenapa? Kamu terkejut ya? Bukankah aku kemarin mengatakan ingin memulai kembali rumah tangga kita? Aku sadar, aku sudah banyak menyakitimu," jelas Zoni yang membuat Kalea diserang rasa bimbang.
Bimbang dengan nasib dirinya ke depan. Jika dirinya kembali pada Zoni, lalu bagaimana dengan nasib Javas? Lagi pula, rasa cinta untuk Zoni sudah tak lagi tersisa. Hatinya seperti mati rasa ketika melihat sosok laki-laki di hadapannya.
Namun, Kalea tidak tahu bagaimana cara mengakhiri hubungannya dengan Zoni. Belum lagi, kini Zoni menunjukkan sikap lembut yang berhasil membuat rasa bersalah Kalea semakin besar.
Kalea mengangguk ragu. "Baik. A-aku akan mandi terlebih dahulu," pamit Kalea sambil memaksakan bibirnya untuk mengulas senyum.
"Kalea!" panggil Zoni ketika Kalea baru saja akan menaiki tangga.
Kalea menoleh dan menunjukkan raut penuh tanya. "Kenapa, Mas?"
Zoni tidak langsung menjawab. Matanya menatap Kalea lekat dan penuh keteduhan. "Mulai malam ini, tidurlah di kamar utama. Tidak seharusnya kita berpisah ranjang karena hal itu akan semakin membuat hubungan di antara kita memburuk."
__ADS_1
Bahu Kalea merosot ketika mendengar pernyataan tersebut. Satu kamar bersama tentu akan membuat Kalea tidak bisa bebas menghubungi Javas saat malam hari.
"Ta-tapi kenapa? Bukankah semua itu terlalu cepat bagiku? A-aku masih takut," ucap Kalea beralasan sambil membuat raut wajah memelas.
Zoni menghembuskan napas kasar. "Baiklah. Kita bicarakan lagi nanti."
Setelah itu, Kalea benar-benar berlalu meninggalkan Zoni. Dia tidak langsung membersihkan diri melainkan dia sempatkan untuk memikirkan kejadian barusan.
"Bagaimana ini? Aku tidak suka mas Zoni berubah manis seperti itu," gumam Kalea merasa frustasi.
Setelah beberapa menit merenung, Kalea memutuskan untuk mandi. Dia ingin melupakan sejenak masalah hidupnya dengan mengguyur air dingin ke tubuhnya.
Tidak berapa lama, Kalea telah selesai dan melilitkan handuk ke rambut dan tubuhnya. Hari ini dia sedang tidak ingin mengenakan bathrobe yang dinilai kurang praktis jika sedang terburu-buru.
Saat Kalea keluar dari kamar mandi, dia dikejutkan dengan kehadiran Zoni di kamarnya. "Mas Zoni?" gumam Kalea terkejut.
"Sedang apa disini?" tanya Kalea gugup.
Ucapan sang Suami nyatanya tak lagi membuat Kalea tersipu. Kalea justru merasa aneh dengan pujian yang keluar dari mulut suaminya.
"Mas, tolong keluar dulu. Aku harus berganti baju," ucap Kalea memohon. Dia sangat menyesal tidak mengenakan bathrobe-nya dan malah mengenakan handuk sebagai penutup sebagian tubuhnya.
Kalea berusaha bersikap tenang dan berjalan ke arah lemari untuk mencari baju. Jika Zoni tak kunjung keluar, Kalea akan berganti pakaian di kamar mandi saja.
Belum sempat Kalea meraih dress miliknya, Kalea tiba-tiba merasakan ada tangan besar yang melingkar di perutnya diikuti oleh beberapa kecupan di tengkuknya.
Bukannya menikmati, Kalea justru menjerit kaget. "Aaaakkh!" teriak Kalea lalu segera melepaskan diri.
Jantung Kalea terasa bertalu-talu akibat sentuhan tadi. Zoni memandang heran sekaligus kecewa dengan reaksi Kalea.
__ADS_1
"Kenapa? Apa kamu tidak suka dengan sentuhan ku?" tanya Zoni kecewa.
Kalea menelan saliva. Tidak tahu harus menjawab apa dan takut jika sampai salah bicara. "Ti-tidak apa-apa. Aku hanya terkejut karena habis melamun," alibi Kalea sambil meringis malu.
Zoni tersenyum lalu kembali memeluk Kalea dari belakang. Kalea tidak bisa menolak lagi kali ini. Dia hanya pasrah saat tangan Zoni kembali melingkar di perutnya. Walau tidak nyaman, Kalea berusaha bersikap sebiasa mungkin.
Hingga merasa sudah cukup lama, Kalea berusaha melepaskan diri dan berkata. "Mas, aku harus mengenakan pakaian terlebih dahulu. Takut masuk angin juga," ucap Kalea yang beruntungnya, dibenarkan oleh Zoni.
"Aku tunggu di bawah ya? Nanti aku akan bantu kamu menjemur baju," pamit Zoni yang diam-diam membuat Kalea menghembuskan napas lega.
Kalea tersenyum lalu mengangguk. "Baik, Mas. Aku akan berganti pakaian terlebih dahulu."
Setelah pintu ditutup, Kalea mengelus dadanya yang terasa berdebar-debar tak karuan. Dia bergegas mengenakan pakaian dan menyisir rambut sebelum Zoni berubah pikiran dan masuk ke kamar lagi.
....................
Javas kembali datang ke rumah saat ibunya meminta untuk makan malam bersama. Javas begitu menyesal karena ternyata, sang Mama telah membuat rencana untuk mempertemukan Javas dengan perempuan kenalannya.
"Mama kenapa sih? Bukannya beberapa hari yang lalu aku sudah mengatakan, jika aku sudah memiliki pilihan?" kesalnya pada sang Mama.
Bu Belinda hanya menghela napas kasar. "Makanya, bawa ke rumah biar Mama bisa hidup dengan tenang. Mama takut apa yang dituduhkan Kesha ada benarnya. Mama tidak akan pernah rela jika kamu menjadi perebut istri orang," jelas bu Belinda panjang lebar.
Javas mengacak rambutnya frustasi. Merasa kesal dengan nasib percintaannya. "Lain kali aku akan ajak dia datang, Ma. Jadi aku mohon, Mama jangan mengajak perempuan lain untuk dikenalkan padaku," ucap Javas geram.
Bu Belinda Mengerucutkan bibirnya kesal. "Ya sudah. Hari ini kamu harus temui dia. Mama janji, ini yang terakhir kali," mohon bu Belinda memelas.
Javas menggeleng. "Tidak mau, Ma. Mama temani saja dia sendiri. Aku mau langsung pulang dan tidak berminat masuk ke rumah Mama." Setelah mengucapkan itu, Javas meninggalkan sang Mama begitu saja, masuk ke mobil dimana Reza telah menunggunya.
"Javas! Awas kamu ya! Tega kamu sama Mama!" pekik bu Belinda yang masih bisa didengar Javas dengan baik.
__ADS_1
Javas hanya tersenyum manis lalu melambaikan tangan ke arah mamanya. "Sampai jumpa besok pagi, Ma!" Mengabaikan umpatan sang Mama yang mengatainya anak durhaka.
Javas terbahak renyah di dalam mobil. Salah sendiri mamanya main menjodoh-jodohkan seperti anaknya tidak laku saja.