Salahkah Bila Aku Mendua

Salahkah Bila Aku Mendua
Bab 32. Tentang hati


__ADS_3

Hari ini, Zoni harus ikut rapat bersama atasannya di sebuah restoran. Hal tersebut memang sudah biasa bagi Zoni. Oleh karena itu, Zoni merasa tidak adil ketika jabatannya tidak dinaikkan. Padahal, dari segi kerajinan Zoni masuk dalam kategorinya.


Atasannya memilih sebuah restoran all you can eat yang sebenarnya kurang santai untuk acara rapat. Bagi Zoni, hal tersebut terlalu ribet karena harus membahas pekerjaan dan memanggang daging secara bersamaan. Zoni hanya khawatir konsentrasi orang yang terlibat akan terganggu.


Saat dia berjalan bersama teman sekantornya memasuki ruangan yang telah di reservasi, Zoni seperti melihat siluet Kalea yang berjalan bersama seorang laki-laki.


Hanya sekilas karena siluet itu sudah menghilang dibalik sekat ruangan. Otak Zoni berpikir, mungkin hal itu hanya kebetulan. Orang tersebut sekedar mirip dengan bentuk tubuh Kalea.


Tidak mungkin Kalea bisa pergi ke restoran mahal seperti saat ini. Selain mustahil, Zoni juga yakin jika Kalea tidak memiliki uang sebanyak itu. Apalagi datang bersama seorang pria. Zoni geleng-geleng kepala untuk menghilangkan pikiran Negatif yang hinggap.


'Tidak mungkin. Kalea sangat mencintaiku,' batin Zoni percaya diri. Setelah itu, Zoni bergegas masuk ke ruangan karena rapat akan segera dimulai.


...----------------...


Matahari sudah mulai condong ke barat. Kalea tidak mengira jika Javas akan mengajaknya ke pantai. Pantas saja, Javas meminta Kalea untuk berganti pakaian dengan bahan rayon. Gunanya agar Kalea tidak kepanasan.


"Mas. Kenapa tidak mengatakannya padaku jika ingin kesini? Aku lupa membawa sunscreen loh. Bagaimana jika wajahku harus kembali gelap dan kusam setelah pulang dari sini?" ucap Kalea dengan wajah tertekuk lesu.


Javas tertawa. "Kamu tenang saja. Aku sudah menyiapkan semuanya." Dia memutar tubuh untuk mengambil sesuatu yang ditaruh di kursi penumpang. Ada tottebag yang entah berisi apa saja.


"Aku sudah membawa peralatannya," ucap Javas sambil tersenyum menyombongkan diri.


"Wah. Sepertinya kamu sudah mempersiapkan nya dengan matang ya, Mas." Tidak habis pikir karena Javas begitu rapi dalam mengurus sesuatunya.


"Lupakan. Tidak inginkah kamu berlarian di sana? Di atas pasir putih dan lembut itu? Apalagi, matahari akan tenggelam sebentar lagi. Jangan sampai kita terlewat, Sayang," goda Javas sambil mengerling nakal di akhir kalimat.

__ADS_1


Wajah Kalea tampak berbinar cerah. Dia tidak bisa menyembunyikan rasa bahagia di hatinya. Entah sudah berapa lama Kalea tidak pergi untuk berlibur. Sampai-sampai, Kalea begitu senang dan bahagia.


Setelah memakai sunscreen dan melepas sandal jepitnya, Kalea dan Javas turun dari mobil. Keduanya berjalan sambil berpegangan tangan menapaki pasir putih nan lembut itu tanpa alas kaki.


Udara yang sejuk dengan kondisi angin yang lumayan kencang, membuat rambut Kalea yang tergerai menjadi berantakan. Berulangkali Kalea mencoba menyingkirkan rambut yang menutupi wajahnya. Alhasil, rambutnya kembali tersibak mengikuti arah angin.


"Mau diikat saja rambutnya?" tawar Javas saat melihat Kalea terlihat kurang nyaman.


"Memangnya ada ikat rambut?" tanyanya dengan dahi mengkerut heran.


Tanpa menjawab, Javas langsung memposisikan berdiri di belakang Kalea. Tangannya mulai sibuk mengumpulkan rambut Kalea. Setelah berada dalam satu genggaman, tangannya yang menganggur digunakan untuk merogoh saku celana bahan, dimana ikat rambut itu di simpan.


Setelah menemukan, Javas segera mengikatnya asal dan tinggi-tinggi. Sialnya, leher jenjang Kalea kini terekspos nyata hingga membuat Javas berulangkali menelan ludah. Ingin sekali Javas menyesap tengkuk itu atau sekedar memberikan kecupan ringan.


"Sudah, Mas?" Pertanyaan itu membuat Javas segera tersadar dari pikirannya yang iya-iya. Dia menghela napas berat karena selalu berpikir ke arah sana.


Ada sebuah gazebo yang bisa mereka duduki untuk menikmati panorama matahari tenggelam. Tentunya, gazebo itu adalah milik salah satu rumah makan yang dimana keduanya juga harus memesan makanan. Di dunia ini memang tidak ada yang gratis.


"Mau pesan makan apa, Sayang? Sudah waktunya makan malam juga kan," ucap Javas lembut sambil memberikan buku menu yang tersedia di meja.


"Apa saja, Mas," jawab Kalea yang sebenarnya malas membuka buku menu.


Javas berdecak kesal. "Tidak ada makanan apa saja, Sayang. Tolong, kalau ingin makan tuh yang masuk akal," ucapnya gemas.


Kalea tertawa dan itu membuat Javas terpana. Kalea tampil cantik walau mengenakan baju sederhana. Lalu, bagaimana jika Kalea memakai gaun di hari pernikahan mereka? Pikiran Javas selalu tertuju pada satu kata yaitu, menikah.

__ADS_1


Entah mengapa, akhir-akhir ini Javas merasakan takut yang berlebihan. Takut kehilangan Kalea karena perempuan itu meninggalkannya. Dan yang lebih menyakitkan lagi, Kalea memilih suaminya suatu saat nanti. Bagaimana pun, Javas harus memiliki persiapan agar saat hari itu tiba, Hatinya tidak terlalu remuk.


"Baiklah. Aku akan pesankan seafood saja. Kamu suka kan?" Akhirnya Javas memutuskan menu makannya sendiri.


Setelah memanggil waiters dan mengatakan pesanannya, Javas kembali memandang Kalea yang seakan sedang asik dengan dunianya sendiri.


Tidak lupa, Javas menggenggam tangan Kalea yang berada di atas meja. Kebetulan, saat ini mereka tengah duduk bersila di gazebo dan itu sangat memudahkan Javas untuk memberikan sentuhan kecil pada perempuan yang dicintainya.


Ibarat kata, Javas bisa menunjukkan love language-nya. Berharap, jika Kalea memiliki setitik keberanian dan berbalik memilihnya. Hanya doa itu yang setiap hari bahkan detik yang selalu Javas semogakan.


Kalea dan cintanya.


"Kenapa, Mas?" Kalea sedikit tersentak dan Javas menyadari itu. Sudah sejak pagi Kalea tertangkap basah sedang melamun. Javas yakin jika saat ini Kalea sedang tidak baik-baik saja. Namun, apakah Kalea tidak ingin berbagi padanya lagi seperti yang sudah-sudah?


"Kamu tahu tidak? Ada seseorang yang rela kehilangan hobinya demi seseorang yang dia suka. Namun, mengapa lebih banyak orang yang rela kehilangan hanya karena mendapat sebuah saran?" tanya Javas yang membuat Kalea seketika merasa tersentil.


"K-kenapa memangnya?" tanya Kalea tergagap.


"Karena dia cenderung memikirkan apa kata orang lain daripada kata hati nuraninya sendiri. Dia lupa jika hidupnya, ya dia yang menanggung. Tidak ada orang yang benar-benar peduli kecuali sedikit. Kebanyakan dari mereka adalah, hanya pura-pura peduli, menghakimi, atau sekedar ingin mencari informasi."


Penjelasan Javas tersebut berhasil membuat Kalea menelan saliva. Di kepalanya mulai muncul pertanyaan apakah Javas tahu dengan apa yang sedang kepalanya pikirkan?


"Kenapa berbicara seperti itu sih?" tanya Kalea gugup.


Javas diam dan tidak langsung menjawab. Saat itu juga, Kalea bisa melihat jika Javas tengah menatap wajahnya lekat-lekat. Tatapan yang selalu mampu menenggelamkan Kalea ke palung terdalam.

__ADS_1


"Jika ada yang memberikan saran tetapi tidak sesuai dengan kata hatimu, tolong jangan dengarkan. Karena hati dan pikiranmu tahu yang terbaik untuk kehidupan yang akan kamu jalani ke depannya. Cobalah sesekali dengar isi hatimu. Maka kamu akan menemukan kebahagiaan. Karena hati tidak pernah berbohong walau dalam keadaan terdesak pun."


__ADS_2