Salahkah Bila Aku Mendua

Salahkah Bila Aku Mendua
Bab 78. Komentar buruk


__ADS_3

Hanya butuh dua hari Javas dirawat. Kalea setia menemani di sisi suaminya. Sikap Javas justru semakin manja ketika sedang sakit seperti itu. Seumur mengenal Javas, ini mungkin baru pertama kali untuk Kalea. Karena sebenarnya, Javas itu ciri orang yang jarang sakit.


"Administrasinya sudah diurus, Mas. Kamu butuh ke toilet dulu atau tidak?" tanya Kalea menawarkan. Tangannya sibuk mengemas pakaian ganti yang sudah kotor milik suaminya.


"Aku bisa sendiri, Sayang. Kamu selesaikan dulu pekerjaannya," jawab Javas lalu berjalan menuju toilet. Kalea melirik sebentar pada punggung suaminya yang menghilang di balik pintu. Lalu, dia kembali menyelesaikan pekerjaan.


Kalea telah selesai mengemas barang. Bersamaan dengan itu, Javas pun keluar dari toilet. "Sudah? Masih ada yang ingin dibereskan tidak? Akan aku bantu," tanya Javas sambil mendekat pada Kalea yang telah duduk sofa bed.


Gelengan kepala dari Kalea sebagai jawaban atas pertanyaan Javas. "Aku sudah selesai. Mau menunggu di sini atau menunggu di luar?" Yang dimaksud Kalea menunggu adalah menunggu Reza menjemput. Asistennya itu belum menelepon lagi.


"Tunggu disini saja lebih nyaman," jawab Javas lalu duduk di sebelah Kalea. Dia langsung melingkarkan lengan di pinggang istrinya. Satu tangannya menelusup masuk lewat bawah kaos yang dikenakan Kalea. Mengelus punggung mulus dan lembut itu pelan.


"Geli, Mas!" protes Kalea disertai gelak tawa.


Javas mengabaikan protes itu. Dia justru menumpukan dagu di pundak Kalea dengan nyaman. "Kapan kita akan melakukan resepsi? Katanya, kita akan pergi berbulan madu setelah mengadakan resepsi. Aku berharap, jangan terlalu lama." Celetukan itu membuat Kalea menoleh ke arah dimana wajah suaminya itu terlihat dari samping.


"Mas maunya kapan? Lagi pula, toko perhiasan milikku sudah mulai buka. Ini tidak akan terlalu memalukan," jawab Kalea meringis malu.


Decakan sebal pun terdengar. Kalea masih saja menjaga ketidak-percayaan dirinya dengan erat. "Jadilah diri sendiri. Mau kamu anak orang kaya atau bukan, itu tidak masalah bagiku. Jangan pedulikan komentar orang lain. Karena hanya itu yang bisa mereka lakukan. Selebihnya, mereka tidak peduli," pesan Javas penuh makna.


Kalea semakin lekat menatap wajah sang Suami. Ucapannya memang ada benarnya. Dia tidak harus peduli dengan semua komentar buruk yang dilontarkan orang lain untuknya. Harusnya sih, Kalea tidak peduli.


Namun, tetap saja hal itu mengganggu pikiran Kalea. Otaknya akan terdistraksi komentar buruk tersebut selama beberapa hari. "Aku tidak bisa, Mas. Sekuat apapun aku mencoba tidak peduli, kepalaku selalu penuh akan pikiran yang berkecamuk," jawabnya jujur. Tidak ingin menutupi apapun.

__ADS_1


"Kamu overthinking. Kita hanya memiliki dua telinga untuk mendengar. Sedangkan kenyataanya, ada banyak orang yang memiliki mulut tetapi salah menggunakannya. Seperti mengomentari hal yang tidak penting dan berbicara yang tidak selayaknya. Jadi, tugas kita hanya harus memfilter kata-kata seperti apa yang boleh kita jadikan bahan renungan." Javas mencoba membuat Kalea kembali percaya diri.


"Kalau bukan kamu sendiri yang menyayangi batin kamu, siapa lagi? Hidupmu adalah tanggung jawabmu. Selebihnya, aku hanya membantu. Kamu lebih berhak atas hidupmu sendiri," sambungnya ketika melihat Kalea hanya terdiam.


"Berarti, aku harus bagaimana?" tanya Kalea mulai memikirkan ucapan sang Suami.


"Jangan pikirkan hal-hal yang bukan menjadi kendalimu. Pikirkan saja apa yang saat ini ada di depan matamu. Yang pasti, hal tersebut tidak melukai batinmu."


Kalea mengangguk paham. Bersamaan dengan itu, ponsel milik Kalea berdering panjang, menandakan ada panggilan masuk. "Reza menelepon. Sepertinya, dia sudah sampai di bawah," ucap Kalea lalu menempelkan benda pipih itu ke dekat telinga.


"Halo, Za. Jemput ke atas ya. Tolong bantu bawakan barang-barang," titah Kalea yang segera disanggupi oleh Reza di seberang sana.


"Reza sudah sampai. Sebaiknya kita harus bergegas," ucap Kalea lalu beranjak dari duduknya. Dia menoleh ke belakang dimana Javas masih setia dalam duduknya.


"Kamu belum jawab pertanyaan ku soal resepsi pernikahan." Javas berucap pelan dengan kelopak mata uang berkedip beberapa kali.


Kalea terkekeh. "Iya. Aku setuju jika acara resepsi pernikahan dipercepat. Kita bahas lagi di rumah ya? Kan ada Mama yang harus diminta pendapatnya. Kalau ayah dan ibu sudah pasti ikut saja."


"Baiklah. Kita bahas di atas ranjang," celetuk Javas lagi yang membuat Kalea melotot tajam. Melihat itu, Javas meringis hingga gigi depannya terlihat.


"Benar dong. Kita akan bercerita panjang lebar sebelum tidur di malam hari," elaknya tidak ingin membuat Kalea marah.


Kalea pun geleng-geleng kepala heran. "Ayo, Mas. Kita turun dulu. Paling, Reza sebentar lagi tiba," ajak Kalea sambil menarik lengan sang Suami untuk berdiri.

__ADS_1


"Iya."


Setelah mobil melaju, Javas tiba-tiba meminta memutar setir dan bukan arah jalan pulang. Kalea paham kemana arah tujuan Javas. "Mau ke makam siapa, Mas?" tanya Kalea heran.


"Ke makam orang tua kamu. Sudah lama juga kita tidak kesana kan? Sekalian nyekar. Kita beli bunga dulu di tempat biasa," jawab Javas yang membuat Kalea merasa beruntung berkali-kali lipat. Suaminya itu sangat peduli dengan sesuatu yang berhubungan dengan dirinya.


Kalea mengangguk menyetujui. "Kita akan kesana."


Setelah beberapa menit, mobil menepi di depan toko bunga. Keduanya turun untuk membeli kelopak bunga mawar juga buketnya. Setelah apa yang dicari dapat, keduanya kembali melanjutkan perjalanan.


Setibanya di makam dan berjalan beberapa meter untuk sampai di nisan yang bertuliskan Sarita dan Darsono, Kalea dan Javas berjongkok di depan gundukan tanah itu.


Keduanya berdoa, memohon agar orang tua Kalea diberikan tempat terindah di sisi Tuhan. Setelah doa selesai, Kalea dan Javas mulai mencabuti beberapa rumput yang mengganggu. Untuk rumput yang tidak mengganggu, keduanya biarkan tumbuh di atas kubur.


Setelah selesai, Kalea dan Javas menaburkan kelopak bunga mawar putih untuk keduanya. Lalu, menaruh juga satu buket bunga mawar putih untuk masing-masing. "Semoga tenang di alam sana, Ayah, Ibu."


Keduanya meninggalkan makam ketika matahari mulai berjalan ke ufuk barat. Sinar oranye sudah mulai menyinari bumi, menandakan sebentar lagi matahari akan tiba di peraduan.


"Sepertinya, aku memiliki rencana untuk mengunjungi makan ayah dan ibu setiap bulan. Tujuannya agar makamnya terurus," celetuk Kalea ketika mobil telah kembali melaju membelah jalanan.


Javas mengangguk menyetujui. Sama sekali tidak keberatan dengan keputusan baik tersebut. "Tentu saja. Kamu boleh melakukannya."


"Oh iya. Aku juga belum pernah mengunjungi makam papa kamu loh, Mas. Kapan Mas akan ajak aku kesana?" tanya Kalea penuh harap.

__ADS_1


Javas tersenyum. Dia memang jarang berkunjung ke makam sang Papa. Tetapi, mama dan adiknya itu hampir setiap pagi datang berkunjung. "Besok ya. Aku akan kasih lihat. Hari ini sudah terlalu sore," jawab Javas dan Kalea tersenyum manis. Merasa tidak masalah karena ucapan sang suami ada benarnya juga.


__ADS_2