
Kalea memejamkan mata kala merasakan tangan kekar dan berat memeluk tubuhnya dari belakang. Saat ini, dia dan Javas sedang berada di sebuah tempat wisata yang sudah terkenal di Singapura.
Tempat wisata berupa sungai dan pengunjung bisa menaiki perahu berkeliling kota. "Kamu suka?" tanya Javas sambil menumpukan dagu di bahu Kalea.
Tentu saja Kalea mengangguk. Keduanya tinggal duduk dan akan ada seseorang yang membawa perahu itu berlayar. "Aku bahagia bisa menghabiskan waktu bersamamu, Mas," jawab Kalea yang kini menggenggam lengan Javas yang bertengger di perutnya.
"Coba buka mata kamu? Pemandangan kota begitu sayang untuk dilewatkan. Jangan menutup mata terus-menerus," pinta Javas lembut sambil mencuri kecupan di rahang Kalea.
Merasa geli, Kalea terkekeh. Dia pun membuka mata dan menikmati pemandangan yang disuguhkan. Hembusan angin terasa segar menerpa wajahnya. Belum lagi, rambut Kalea yang berantakan karena ulah angin.
"Coba lihat aku!" Javas mengangkat tubuh Kalea agar menghadap ke arahnya.
Pekikan tertahan pun terdengar dari Kalea. Tindakan Javas terlalu tiba-tiba sampai Kalea tidak sempat untuk menyiapkan diri.
"Sebentar lagi matahari akan tenggelam. Itu adalah waktu terbaik untuk mengabadikan momen," ucap Javas memberi kode.
kalea tersenyum dan menengadah. "Baiklah. Kita akan segera berfoto. Akan lebih baik jika kita menggunakan kamera ponsel milik Mas. Resolusinya lebih tinggi dan hasilnya pasti luar biasa," ucap Kalea layaknya fotografer profesional.
"Ambillah sendiri," goda Javas menunjuk saku celana jeans-nya di samping tubuh.
Karena tidak ada yang perlu di khawatirkan, Kalea menurut saja dan merogoh saku celana milik Javas. Dia tidak tahu saja jika gerakannya menimbulkan gelenyar aneh di tubuh Javas.
Javas sampai harus menahan napas ketika jemari Kalea mencoba menerobos masuk saku celananya. Pikiran liar seperti datang menghampiri.
"Baiklah. Kita akan mulai mengambil foto," ucap Kalea membuyarkan pikiran yang tidak-tidak dari Javas.
Javas berdehem untuk membasahi tenggorokannya. Kejadian tadi pagi membuat otak Javas semakin tidak menentu. Dirinya dan Kalea hampir saja kelepasan dan melakukan hal yang iya-iya.
"Kenapa melamun sih?" tanya Kalea bingung karena sejak tadi Javas tidak fokus.
Javas tersenyum lebar lalu mendekatkan wajah pada telinga Kalea. "Aku terngiang-ngiang dengan kejadian tadi pagi. Kamu benar-benar membuatku gila," bisiknya hingga membuat pipi Kalea bersemu merah.
"Javas! Fokus!" geram Kalea penuh penekanan. Bukannya takut dengan ancaman, Javas justru tertawa renyah. Suka sekai melihat wajah Kalea yang panik saat dirinya mencoba menggoda.
Sore hari itu, di sungai Singapura, mereka habiskan untuk bercengkrama. Beberapa foto di bawah matahari tenggelam juga sudah mereka dapatkan.
__ADS_1
Keduanya saling melempar canda dan memeluk satu sama lain tanpa ingin terpisahkan.
...----------------...
Pukul delapan waktu Singapura, Kalea diajak ke apartemen yang sudah Javas sewa. Ternyata, tidak jauh dari apartemen milik Kimi. Jika berjalan kaki, mungkin hanya menghabiskan waktu tujuh menit.
"Istirahatlah. Kamu pasti lelah," pinta Javas saat keduanya sudah tiba di dalam apartemen.
Kalea mengedarkan pandangan. Apartemen tersebut lebih mewah dari milik Kimi. Wajar sih. Seorang Javas pasti ingin tidur di tempat yang nyaman. "Kenapa?" tanya Javas ketika melihat bibir Kalea mencebik lalu manyun beberapa kali. Belum lagi, kepalanya yang mengangguk-angguk seakan sedang memikirkan sesuatu.
"Hah? Kenapa memangnya?" Kalea justru balik bertanya karena tidak paham dengan pertanyaan Javas.
"Itu—" Javas menunjuk bibir Kalea.
Sontak hal itu membuat Kalea menyentuh bibirnya sendiri. "Ada apa?" tanyanya bingung.
Javas menggeleng lalu terkekeh sendiri. Kalea justru merasa aneh dengan sikap Javas. "Aneh sekali," gerutunya lalu mendudukkan diri di single arm sofa.
Kalea menyandarkan kepalanya di bahu sofa dan menatap langit-langit ruangan. Tubuhnya terasa lelah karena seharian ini jalan-jalan.
"Bagaimana dengan kursus desainmu?" tanya Javas sambil mendekat pada Kalea. Dia memilih duduk di double sofa yang tidak jauh dari Kalea.
Javas terlihat marah karena Kalea tidak memberitahukan dirinya atas masalah sebesar ini. "Kenapa tidak memberitahuku? Aku bisa membantumu," kesalnya dengan alis yang sudah bertaut.
Kalea menghela napas dan menatap Javas. "Membantu dengan uangmu? Disini tidak bisa , Mas. Aku juga ingin masuk kesana dengan prestasi bukan dengan uang. Tetapi, kamu tidak perlu khawatir. Semua sudah teratasi. Aku hanya di perbolehkan mengikuti kursus selama satu tahun dan materi yang diajarkan juga akan berbeda dengan yang tiga tahun," ucap Kalea sedikit murung.
Javas menggenggam jemari Kalea untuk menguatkan. "Tidak apa-apa bukan? Tunjukkan jika waktu satu tahun itu bisa merubah hidupmu. Aku yakin, kamu pasti bisa." Dia memberikan semangat agar Kalea tidak perlu merasa rendah diri.
Kalea tersenyum lalu mengangguk menyetujui. "Lagipula, nanti aku bisa belajar otodidak. Menurutku tidak terlalu sulit karena aku megambil kursus Jewelry Design."
"Wow! Itu luar biasa, Sayang," ucap Javas bangga lalu memeluk Kalea penuh sayang.
Cukup lama keduanya bertahan dalam posisi seperti itu. Hingga Kalea memilih melepas pelukan terlebih dahulu dan menatap Javas memohon. "Aku harus mandi dulu. Tubuhku sangat bau keringat," ucapnya meringis ketika mencium aroma tubuhnya sendiri.
Javas terkekeh dan mengacak rambut Kalea gemas. "Bagaimana jika aku temani?" godanya yang langsung mendapat pukulan kencang di lengan.
__ADS_1
"Mas!" pekik Kalea ketika merasakan tubuhnya melayang di udara. Javas menggendongnya ala koala menuju kamar.
Javas terbahak renyah ketika mendengar teriakan penuh protes dari Kalea. Namun, dia juga bahagia karena Kalea mengalungkan lengan di lehernya. Sangat berbanding terbalik dengan mulutnya yang memprotes.
Sesampainya di kamar, Javas justru mengukung tubuh Kalea setelah perempuan itu terbaring di ranjang. " Mas Javas," geram Kalea penuh penekanan.
"Iya, Sayang. Jangan marah-marah terus. Atau sebenarnya, kamu ingin dicium ya," goda Javas sengaja memainkan nada bicaranya menjadi mendayu-dayu.
Kalea melotot kesal. "Aku harus mandi, Mas. Aku tidak percaya diri mencium bau badanku."
Javas justru terdiam dengan menatap wajah Kalea lekat. Bodohnya, Kalea justru terpana dengan wajah Javas jika dilihat dari bawah seperti ini. Sangat tampan dan ... Hot.
"Kenapa diam?" tanyanya dilengkapi senyuman miring. Membuat wajah tampannya semakin memesona dan sangar secara bersamaan.
Kalea menggeleng dan mengerjap polos. Perlahan, Javas mendekatkan wajahnya pada daun telinga Kalea dan menggigitnya lembut.
Kalea sampai harus menggigit bibir bawahnya agar suara laknatnya tidak terdengar dan membuat pria dewasa di atasnya menjadi-jadi.
Kalea semakin tidak tahan saat merasakan kecupan lembut di rahangnya. Ingin sekali Kalea menjerit tetapi terlalu malu. Napasnya sudah memburu seiring dengan debaran jantungnya yang menggila.
Ciuman Javas semakin turun dan mengecup beberapa kali bibir Kalea. Lalu turun lagi dan berakhir di leher jenjang nan putih milik perempuan yang dicintainya.
Kalea sudah tidak tahan lagi. Suara laknat itu lolos begitu saja dari bibirnya saat merasakan sesapan perih dan nikmat secara bersamaan.
Belum lagi, tangan Javas yang kini merayap menyusuri pinggangnya. Ini sudah gila dan Kalea harus segera menghentikannya.
"Mash?" ucap Kalea sekuat tenaga untuk tidak mengeluarkan suara laknatnya.
Seakan tidak peduli dengan protes Kalea, ciuman Javas semakin turun dan berakhir pada dua kancing teratas dress Kalea yang sudah terbuka.
"Boleh aku buka semua?"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
jangan lupa komennya ya 🔥
__ADS_1
mampir juga kesini yuk 👇