Salahkah Bila Aku Mendua

Salahkah Bila Aku Mendua
Bab 40. Berniat pamit


__ADS_3

Walau sudah tahu kata sandi apartemen Javas, Kalea memilih untuk menekan bel. Dia hanya berharap semoga Javas baik-baik saja. Karena bel pertama seakan tidak didengar, Kalea kembali menekannya.


Sudah hampir sepuluh menit Kalea menunggu. Namun, belum ada tanda-tanda Javas akan membukakan pintu. Perasaanya mendadak cemas. Dia bergegas menekan nomor enam digit lalu pintu itu terbuka.


"Mas Javas?" panggil Kalea pelan sambil pandangannya mengedar.


Tidak ada tanda-tanda kehidupan karena apartemen Javas tampak rapi. Kalea berpikir mungkin Javas berada dalam kamarnya. Setelah berjalan beberapa langkah, Kalea mencoba mengetuk pintu tetapi masih tidak ada jawaban.


Dengan terpaksa, Kalea membuka pintu yang saat ini tidak terkunci. Ketika sudah terbuka, Kalea bisa melihat Javas yang terbaring di ranjang dengan selimut yang menutupi tubuhnya. Hanya bagian kepala saja yang terlihat.


Kalea mendekat dan langsung duduk di sisi ranjang. Karena posisi tidur Javas miring, Kalea bisa memandangi wajah Javas puas-puas.


Wajah yang sudah beberapa hari ini Kalea rindukan. "Mas Javas?" panggil Kalea lembut dan Javas masih bergeming.


"Mas?" Lagi, dan Javas masih bertahan pada posisi semula.


Merasa ada yang tidak beres, Kalea menggerakkan badan Javas sampai posisinya menjadi telentang. "Mas Javas!" pekik Kalea mendadak panik.


"Kenapa, Sayang. Aku mengantuk sekali karena hampir tidak tidur beberapa hari ini," gumam Javas yang setidaknya membuat Kalea merasa lega. Javas masih hidup.


Kalea ingin beranjak. Namun, tangan Javas lebih dulu menariknya hingga membuat Kalea terbaring di sebelah Javas. Tidak ada protes yang Kalea layangkan. Dia justru menikmati pemandangan wajah Javas yang tampak damai dengan mata terpejam.


Setelah itu, Kalea bisa merasakan tubuhnya ditutup menggunakan selimut yang digunakan Javas dan merasakan ada tangan besar yang mendekap tubuhnya.


Wajahnya kini seakan tak berjarak dengan wajah Javas. Keinginan untuk mengucapkan perpisahan pun Kalea urungkan.


"Mas?"


"Hm?"

__ADS_1


"Kamu tidak tidur beberapa hari ini? Mengapa ada lingkaran hitam di bawah matamu?" tanya Kalea sambil memberikan sentuhan disana.


Javas tersenyum dengan mata yang masih setia terpejam. "Bagaimana aku bisa tidur jika seseorang yang aku cintai sedang menjalani hari beratnya? Sekarang, aku juga tahu apa tujuan kamu kesini. Tolong jangan katakan apapun untuk saat ini," jawab Javas lalu melabuhkan kecupan di kening Kalea cukup dalam.


Kalea sudah tidak terkejut lagi dengan pernyataan Javas. Itu sudah pasti karena Javas bukanlah orang sembarangan.


"Tetapi, aku harus pergi. Aku sudah membeli tiket pesawat," desis Kalea takut.


"Kenapa harus pergi? Kamu bisa disini bersamaku," protes Javas yang kini matanya telah terbuka sempurna.


Kalea menunduk. "Kamu pasti sudah tahu semuanya tentang hari yang telah aku lewati. Aku harus bangkit dan memulainya dari diri sendiri. Aku akan ke Singapura untuk menjalani pendidikan kursus," beritahu Kalea yang tidak membuat Javas terkejut sama sekali.


"Aku sudah tahu semuanya. Bagaimana luka di pelipis mu? Aku ingin menemui mu saat itu, tetapi ada ibu dan ayahmu yang bisa saja semakin membuat kamu terluka. Aku hanya bisa melihat dari kejauhan," sesal Javas sungguh-sungguh.


Kalea membuka mata lebar. Seingatnya, ibu maupun sang Ayah tidak pernah datang untuk sekedar mengunjungi dirinya. "Oh ya? Kenapa aku tidak pernah melihat mereka menemui ku? Aku pikir mereka tidak akan datang," tanya Kalea penasaran.


Ada rasa senang dan bahagia ketika mengetahui fakta yang ada. Namun, Kalea belum berani menemui keduanya.


"Mas?" panggil Kalea lagi.


"Kenapa, Sayang?"


"Aku harus pergi dan mungkin tidak sebentar. Aku tidak tahu mau membawa hubungan kita kemana. Keadaan sedang tidak baik-baik saja jika aku tetap melanjutkan hubungan ini. Salah satu cara adalah mengakhiri semua. Mengakhiri hubungan terlarang kita," ucap Kalea mencoba memberi Javas pengertian.


"Kenapa harus mengakhiri? Apakah tidak ada jalan lain?" tanya Javas tak suka.


Kalea menghela napas kasar. "Cobalah mengerti. Aku tidak akan melarang mu jika seandainya menemukan sosok perempuan yang menggantikan aku di hatimu. Kamu boleh meninggalkan aku dan menikah dengan perempuan ter—"


Cup.

__ADS_1


Belum sempat Kalea menyelesaikan kalimatnya, Javas sudah memotongnya dengan kecupan. "Jangan katakan apapun tentang perpisahan," ucapnya serius.


Dia bangun dan duduk yang segera diikuti oleh Kalea. "Tetapi, hal tersebut harus dilakukan," rengek Kalea frustasi.


"Kenapa harus berpisah? Kamu boleh pergi ke manapun asalkan jangan pernah memutuskan hubungan denganku. Kita tidak akan pernah berpisah sampai hubungan ini resmi. Sampai aku menjadi suamimu dan kamu menjadi istriku." Javas tidak ingin dibantah maupun ditentang. Dia tetap akan mempertahankan Kalea dalam hidupnya.


Kalea membuang napas kasar. Pikirannya mendadak pusing akibat ulah Javas. Tiba-tiba, Kalea merasakan sentuhan lembut di punggung tangannya. Dia menoleh dan mendapati Javas tengah menatap dirinya dalam-dalam.


"Pergilah. Kejar cita-citamu. Aku tidak akan melarangnya selama tujuan kamu baik. Kamu harus tunjukkan pada dunia bahwa kamu bisa dan mampu. Aku siap menunggu sampai kamu kembali. Tidak peduli selama dan seberat apapun cobaan itu," ucap Javas laksana embun di pagi hari yang memberikan kesejukan di hati Kalea.


Dia tersenyum manis lalu memeluk Javas erat. "Akhirnya aku menemukan jawaban atas pikiranku berhari-hari," ucapnya merasa lega.


Javas membalas pelukan tersebut tak kalah erat. "Semua tidak serumit yang ada dalam jalan pikiran kamu. Mudah saja jika kita menikmati setiap prosesnya," ucapnya menenangkan.


Kalea semakin melebarkan senyum. Hadirnya Javas di hidup Kalea bagai sebuah pepatah. Habis gelap terbitlah terang. Javas sumber cahaya kehidupan Kalea.


Laki-laki itu mengajarkan banyak hal kepadanya. "Baik. Aku akan pergi dan kembali lagi hanya untukmu, Mas." Tekad Kalea sudah bulat. Selain untuk membuktikan kepada dunia, dia juga ingin merasa pantas bersanding dengan seorang Javas Kanagara.


"Baiklah. Kalau begitu, temani aku tidur terlebih dahulu. Lagi pula, pesawatnya akan berangkat pukul tujuh malam nanti kan?" pinta Javas memang tahu segalanya.


Kalea mencebikkan bibir. Namun demikian, Dia tetap ikut berbaring dan menemani Javas tidur. Beruntung, hari masih pagi dan baru pukul sembilan. Dia masih memiliki banyak waktu untuk melepas rindu dengan Javas.


Akhirnya, Javas bisa kembali tidur nyenyak setelah beberapa hari terserang insomnia. Kalea memang obat tidur yang mujarab untuknya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...mampir juga kesini yuk 👇...


__ADS_1


__ADS_2