Salahkah Bila Aku Mendua

Salahkah Bila Aku Mendua
Bab 37. Pertengkaran


__ADS_3

Zoni mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi, berharap agar segera tiba di rumah. Dia tidak sengaja melihat Kalea dan seorang pria sedang berbincang penuh cinta di pusat perbelanjaan tadi.


Merasa ada yang harus dicari tahu, Zoni memilih mengikuti mobil yang membawa Kalea entah kemana. Karena jalanan yang sedikit padat, Zoni sempat kehilangan jejak. Namun, dia terus menjalankan mobil sesuai hati nurani.


Saat melewati sebuah taman, Zoni melihat mobil dengan nomor kendaraan yang sama. Jelas Zoni mencatat nomor kendaraan tersebut karena akan sangat berguna untuknya.


Zoni menepi tepat di sebelah mobil mewah tersebut. Dia memukul setir, merasa kesal karena sudah dibohongi dan diduakan oleh Kalea. Bisa-bisanya Zoni tidak menyadari itu sejak lama.


Pantas saja Kalea terlihat lebih cantik. Pakaian yang digunakan juga terbilang bukan barang murah. "Bodoh! Aku memang bodoh karena sudah dibohongi sejak lama," gumam Zoni merutuki diri.


Zoni mengedarkan pandangan. Dia ingin menangkap basah perselingkuhan Kalea dengan seorang pria yang sepertinya kaya raya. "Jangan-jangan, dia hanya simpanan. Dasar mu ra han!" rutuk Zoni lagi.


Dia keluar dari mobil dan mulai mencari keberadaan Kalea. Saat dia berbalik, bisa dilihat Kalea dan laki-laki yang sama keluar dari toko bunga.


Zoni mengepalkan kedua tangan dan berdiri di trotoar, berada di garis lurus dengan zebra cross. Di ujung sana, Kalea dan pria tadi tampak mesra. Belum lagi, laki-laki tadi tampak sangat mencintai Kalea.


****!


Zoni mengumpat dalam hati ketika melihat dengan mata kepalanya sendiri, jika Kalea baru saja dikecup keningnya. Kemarahannya sudah berada di ubun-ubun. Bersamaan dengan itu, Kalea menoleh dan pandangannya beradu.


Zoni tahu jika saat ini Kalea sedang ketakutan karena perselingkuhannya terbongkar. Tidak ingin membuat Kalea bahagia di atas penderitaannya, Zoni segera membawa pulang Kalea. Dia harus memberi pelajaran pada istri durhakanya.


...----------------...


Setelah tiba di rumah, Kalea mencoba melepaskan diri karena Zoni menariknya kasar memasuki rumah. "Lepaskan, Mas. Aku bisa berjalan sendiri!" teriak Kalea kesakitan.


Dia sadar bahwa apa yang dilakukan salah. Namun, Kalea tidak peduli selama bisa hidup bahagia tanpa harus tertekan setiap hari.


Setelah membuka kunci, suaminya itu kembali menyeret tubuhnya. Sekuat tenaga Kalea mencoba melepaskan diri, pegangan di lengannya justru semakin erat sampai Kalea merasa kebas.


Bruk!

__ADS_1


Kalea merasa tubuhnya didorong dengan kencang dan menghantam pinggiran sofa. Beruntung, sofa tersebut empuk sehingga Kalea tidak terluka. "Aw!" pekik Kalea terkejut.


Kalea bisa melihat Zoni yang mendekat lalu berjongkok di hadapannya. Kalea mengangkat kepala untuk menatap Zoni yang kini tampak angkuh.


"Sudah berapa lama kamu berselingkuh di belakangku?" tanya Zoni dingin dan penuh penekanan.


Namun, hal itu tidak membuat Kalea takut. Kalea mengangkat kepala, mulai berani dan mengingat ucapan Javas tentang sebuah mahkota tak kasat mata di kepalanya.


"Sudah hampir dua bulan," jawab Kalea tak gentar. Tatapannya datar memandang sang Suami.


Zoni tersenyum miring dan itu sangat menyeramkan untuk Kalea. Walau begitu, Kalea mencoba menguatkan diri. Dia harus berani termasuk berani mengakui kesalahan.


Tawa mencekam menggema di seluruh ruangan. Zoni terlihat menyeramkan ketika sedang seperti itu. Hal itulah yang selalu Kalea rasakan dulu sebelum mengenal Javas. Sekarang, Kalea beranikan diri untuk melawan.


"Sudah lama juga. Pantas saja kamu memiliki krim perawatan wajah yang mahal. Kamu juga sudah berulangkali meminta cerai dariku. Ternyata, kamu tidak sepolos yang aku duga," ucap Zoni meremehkan.


Kini giliran Kalea yang tersenyum miring. "Kamu memang bodoh," ejek Kalea merasa menang.


Mendengar ucapan Zoni barusan, Kalea menelan saliva susah payah. Dia tentu tahu apa yang akan terjadi selanjutnya jika kedua orang tuanya tahu.


Melihat wajah Kalea yang pias, Zoni tersenyum senang. Dia tertawa penuh kemenangan. Kalea memang harus diancam mengenai keluarganya.


"Kenapa wajahmu pucat sekali? Mengakulah jika kamu itu bersalah. Disaat aku mencoba memperbaiki diri, kamu justru berselingkuh dengan laki-laki lain. Dasar istri tidak tahu diri!" rutuk Zoni meluapkan kekesalannya.


Kalea menatap nyalang pada Zoni yang kini sedang merasa di atas awan. "Kamu tidak ingin bertanya mengapa aku sampai mendua?" tanya Kalea yang nada bicaranya mulai bergetar. Dia sedang mengendalikan diri untuk tidak menangis dan terlihat lemah di depan suaminya.


"Tidak ada alasan yang membenarkan tentang sebuah perselingkuhan. Dari segi manapun, hal tersebut tetap salah," ucap Zoni merasa paling benar.


Kalea mengangguk membenarkan. "Benar. Tidak ada alasan yang bisa membenarkan sebuah perselingkuhan. Aku memang salah tetapi aku bahagia ketika melakukannya. Aku merasa dihargai dan dianggap ada," racau Kalea dan Zoni hanya diam mendengarkan.


Mata Kalea menatap lurus mata Zoni agar suaminya itu tahu bagaimana terluka dan tertekannya Kalea saat itu. "Saat aku menangis di tengah malam, apa kamu tahu itu? Saat aku butuh sekali telinga untuk mendengarkan, saat aku butuh bahu untuk bersandar, kamu kemana saja, Mas? Sekarang, saat aku tertangkap basah telah berselingkuh, kamu melimpahkan semua kesalahan padaku?" tanya Kalea bertubi-tubi. Dadanya terasa sesak ketika mengingat masa buruknya dulu.

__ADS_1


Melihat Zoni yang hanya diam, Kalea kembali melanjutkan kalimatnya. Dia akan keluarkan semua isi hati yang selama ini mengganjal. Mumpung Kalea juga diberikan waktu untuk menjelaskan.


Kalea menghela napas. Tatapannya menerawang jauh ke masa lalu. "Aku selalu merasa tertekan karena setiap hari diintimidasi oleh Ibu dan Anabella. Mereka selalu memperlakukanku layaknya hewan yang tidak punya hati. Saat aku bercerita padamu, apakah kamu percaya? Tidak. Kamu tetap memihak mereka dan ikut memusuhiku."


Air mata Kalea sudah tidak mampu dibendung lagi. Cairan kristal itu lolos begitu saja bahkan sangat deras. Rasa sesak itu kembali hadir setelah sekian lama mereda. Belum lagi rasa sesak ketika Kalea harus meninggalkan Javas sendirian di pinggir jalan.


Laki-laki yang mencintai dan dicintai dirinya. Kalea yakin, jika dia meminta Javas untuk merebut dirinya dari Zoni, Javas akan melakukannya dengan mudah. Namun, Kalea tidak ingin Javas terlibat terlalu jauh.


Kalea sampai harus menepuk dadanya sendiri agar sesak yang menghimpit sedikit mereda. Melihat Zoni yang hanya diam tanpa berniat menenangkan, semakin membuat Kalea sesenggukan.


"Lihatlah. Saat aku sedang seperti ini, tidak ada niatan kamu untuk menenangkan. Kamu adalah manusia yang paling tidak peka sedunia. Kamu sudah berubah, Mas. Sangat jauh sampai aku tidak lagi mengenalmu. Setelah naik jabatan, kamu mulai berubah. Mungkin, oleh karena itu Tuhan tidak mengizinkan kamu naik jabatan lagi bulan lalu. Karena apa? Karena kamu melupakan kewajiban kamu sebagai suami!" teriak Kalea di depan wajah Zoni.


PLAK.


Kalea tertawa sambil menangis ketika tamparan keras mendarat di pipinya dengan mulus. Tidak beratkah tangan Zoni ketika akan menamparnya? Kenapa ringan sekali?


Tangis Kalea semakin meraung-raung. Sakit raga juga jiwanya. Kalea sudah selayaknya orang gila yang terlalu parah mengalami depresi.


Zoni yang melihat itu, ikut meneteskan air mata. Mengapa semuanya jadi seperti ini? Zoni membekap mulut agar isakannya tertahan.


"Tampar saja aku, Mas. Dimana pun kamu bisa menamparku sesuka hati. Katakan saja jika kamu sudah tidak lagi mencintaiku. Aku akan pergi tanpa harus merasakan sakit ini," ucap Kalea lembut yang semakin membuat dada Zoni sesak.


"Bicara, Mas! Kenapa sekarang kamu diam? Kemana kemarahan yang sejak tadi kamu tunjukkan?" teriak Kalea menuntut penjelasan.


"Aku sangat membenci semua perlakuan kamu padaku. Kamu sangat kasar padaku. Kamu tidak tahu bagaimana aku harus kembali merakit hati yang setiap harinya kamu patahkan bahkan hancurkan. Aku jelek, aku jerawatan, wajahku kusam," racau Kalea sambil menghalau air mata dengan telapak tangan.


"Sekarang, terserah kamu mau berbuat apa padaku. Yang pasti, aku hanya ingin bercerai dan hidup bahagia dengan seseorang yang mampu menerima dan menghargai keberadaan ku."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...mampir juga ke karya teman othor yuk👇...

__ADS_1



__ADS_2