Salahkah Bila Aku Mendua

Salahkah Bila Aku Mendua
Bab 83. Extra chapter~Hari bahagia


__ADS_3

Dua hari mengurus semua keperluan, Kalea dan Javas akhirnya berangkat dari Bandara Soekarno-Hatta menuju Bandara Ngurah Rai, Bali. Butuh waktu sekitar dua jam setengah untuk bisa sampai di kamar hotel yang Javas pesan.


Satu jam lima puluh menit dari dari Jakarta ke Bali, dan hampir empat puluh menit untuk sampai ke kamar hotel. Kamar dengan tipe Honeymoon suite menjadi pilihan yang tepat untuk pasangan pengantin baru. Namun, Kalea dan Javas sudah tidak terbilang baru lagi.


Setelah berada dalam kamar, Kalea sudah tidak peduli lagi dengan pemandangan sekitar. Dia tidak sabar untuk bertemu dengan kasur empuk. Dia langsung merebahkan diri dengan posisi telentang. Matanya terpejam merasakan kenyamanan yang tiada tanding. Tidak butuh waktu lama, Kalea terlelap.


Javas yang melihat hal tersebut, hanya menggelengkan kepala. Sepertinya, istrinya itu sangat kelelahan. Setelah melepas jaket yang dikenakan, Javas pun ikut berbaring setelah sebelumnya membenarkan posisi tidur sang istri.


...----------------...


Kalea terbangun ketika mendengar deburan ombak yang entah darimana asalnya. Dia membuka matanya lebar-lebar sambil mengumpulkan nyawa yang masih tercecer.


Saat akan bangkit, dia merasakan ada tangan kokoh yang melingkar di perutnya. Kalea tersenyum kala mendapati Javas tertidur sangat lelap. Setelah menyingkirkan pelan-pelan, dia turun dari ranjang dan membuka gorden tinggi dan tebal yang menutupi balkon.


Ketika sudah terbuka, mata yang semula masih mengantuk, kini terbuka lebar. Di depan sana, kamar hotel yang Javas pesan ternyata menawarkan Ocean view yang sangat indah.


Kalea menggeser pintu kaca yang menghubungkan kamar dengan balkon. Udara segar di sore hari seketika menerpa wajahnya. Dia tersenyum bahagia karena Javas memilih kamar hotel yang tepat. Memang benar, fasilitas tergantung harga. Kalea yakin, Javas memesan kamar ini dengan harga yang terbilang mahal.


Tangan Kalea direntangkan dengan kepala yang sedikit mendongak merasakan tamparan angin yang berasal dari lautan. Bersamaan dengan itu, Kalea merasakan sebuah tangan besar yang melingkar di pinggang diikuti dagu yang bertumpu di bahunya.


Tidak perlu menoleh karena Kalea sudah tahu siapa pelakunya. "Kamu suka?" tanyanya masih dengan suara serak khasnya.


Kalea mengangguk dan memeluk lengan Javas yang berada di depan perutnya. "Sangat suka. Terima kasih karena sudah mengajakku kesini," jawab Kalea sambil melirik sekilas wajah suaminya yang terlihat sangat dekat bagai tanpa jarak.


"Masih mengantuk, Mas?" tanya Kalea karena melihat kelopak mata Javas yang setia terpejam.


Anggukan kecil Kalea rasakan dari pemilik kepala di sampingnya. "Yah, padahal aku ingin ke pantai loh hari ini. Sepertinya, seru berada di pantai saat matahari akan tenggelam," usul Kalea.

__ADS_1


Javas pun mengangkat kepala dan menatap profil samping sang Istri. "Mau ke pantai?" tanya Javas sambil mencuri kecupan di sekitar rahang Kalea.


Bukannya menjawab, Kalea justru memejamkan mata merasakan sentuhan lembut yang dihasilkan dari bibir Javas. "Mau ke pantai kan?" tanya Javas lagi karena Kalea tak kunjung menjawab.


"Iya. Aku ingin bermain air," jawab Kalea kemudian melepaskan diri dari belitan suaminya. Dia bisa gagal main di pantai jika terus berada di posisi seperti tadi. Tipu daya Javas sangatlah besar.


"Bermain di kamar mandi kan bisa. Atau berendam di jacuzzi agar tubuhmu lebih nyaman. Kita bisa berendam bersama." Javas mencoba memberikan pikiran itu di kepala Kalea, berharap istrinya itu berubah haluan.


"Tapi—"


"Kita bisa bermain besok. Hari ini terlalu lelah, Sayang. Lebih baik kita berendam bersama agar badan lebih segar," tawar Javas lagi tak kenal lelah.


Karena tidak ingin membantah sang Suami, Kalea akhirnya mengangguk. Lagipula, masih ada enam hari lagi untuk Kalea mengunjungi pantai bukan?


"Baiklah. Ayo, kita berendam bersama," ajak Kalea sambil menarik lengan sang Suami ke kamar mandi. Kamar mandi yang disuguhkan juga termasuk mewah. Ada dua ruangan setelah pintu kamar mandi terbuka.


Kalea masuk lebih dulu sedangkan Javas memilih bertahan di ambang pintu. Saat Kalea mulai melepas semua kain yang menempel di tubuh, saat itulah Javas mulai menelan saliva.


Gerakan yang Kalea lakukan seakan terlihat begitu menggoda di mata Javas. Tidak ingin menunggu lebih lama, Javas pun melakukan hal sama. Setelah itu, ikut bergabung masuk ke jacuzzi.


"Andai di kamar kita ada jacuzzi ya, Mas. Mungkin aku akan berendam setiap hari," ucap Kalea sambil memejamkan mata, merasakan tubuhnya yang rileks.


Javas tidak bisa mengalihkan mata dari pemandangan di depannya. Sangat sayang untuk dilewatkan begitu saja. Entah sudah berapa kali Javas menelan saliva, tetapi istrinya itu seperti tidak sadar jika sedang ditatap dengan lapar.


"Sayang?" panggil Javas yang terdengar sayu.


"Hm?" Kalea hanya bergumam dengan mata yang setia terpejam.

__ADS_1


"Bisa kita melakukannya sekarang?" Pertanyaan itu berhasil membuat mata Kalea kembali terbuka. Dia tersenyum miring menatap sang Suami yang ternyata sudah tidak tahan.


Tidak ingin berdosa karena membiarkan suaminya tersiksa, Kalea bergerak untuk berpindah posisi. Dia duduk tepat di antara paha sang Suami.


"Kamu boleh melakukannya sekarang."


...----------------...


Jakarta, pukul 17:00 WIB.


Bu Belinda memijat pelipisnya yang terasa pening. Semenjak pagi, anak dan menantunya itu belum ada kabar sedikitpun. Padahal, beliau sudah mewanti-wanti untuk menghubungi keluarga di Jakarta lebih dulu sebelum menjalan progam honeymoon.


Jika belum ada kabar seperti ini, Bu Belinda menjadi khawatir bukan? Kesha yang melihat itu, menggelengkan kepala beberapa kali. "Ma? Mama tenang saja. Aku yakin, mereka telah sampai dengan selamat. Hanya saja, Mama tahu sendiri romansa pengantin baru tuh seperti apa. Aku saja yang belum menikah paham loh, Ma," ujar Kesha mencoba menenangkan sang Mama.


Bukannya lebih tenang, Mamanya itu justru melotot tajam ke arah Kesha. "Loh, Mama kok marah? Apa yang aku katakan adalah sesuatu yang benar. Mama juga pernah muda kan?" Kesha tidak lelah menjelaskan argumennya.


"Bukan itu yang Mama maksud. Tapi, kenapa kamu paham sekali? Padahal, kamu belum menikah. Jangan bilang jika kamu sudah pernah mencobanya," tebak Bu Belinda dengan tatapan memicing, penuh selidik.


Kesha mendengkus kencang. "Aku masih segel, Ma. Aku tahu karena kebanyakan orang seperti itu bukan? Bahkan, rahasia tersebut sudah menjadi konsumsi publik. Tidak hanya Bang Javas dan Kak Kalea saja. Ini tertuju untuk semua pengantin baru."


Bu Belinda menghela napas kasar, merasa lega mendengar penuturan anak gadisnya. "Bagus. Jaga kualitas diri kamu. Jangan sampai apa yang seharusnya kamu jaga, diberikan pada orang yang tidak tepat," ucap Bu Belinda lalu kembali mencoba menghubungi anak dan menantunya.


Kesha yang melihat itu, mengusap wajahnya kasar. Begitulah sosok seorang ibu. Selalu mengkhawatirkan tentang kondisi anak-anaknya.


"Aku ke kamar dulu ya, Ma," pamit Kesha.


"Makan dulu, Sha. Jangan sampai terlambat makan." Nah kan. Baru saja Kesha berkata dalam hati tentang sosok seorang ibu.

__ADS_1


Mamanya itu memang luar biasa. "Kalau begitu, Mama juga makan dong. Mama tenang saja. Nanti aku akan kirim nuklir ke hotel tempat Bang Javas menginap karena tak mengabari Mama dan membuat Mama khawatir," cetus Kesha sambil menarik lengan sang Mama menuju meja makan.


__ADS_2