Salahkah Bila Aku Mendua

Salahkah Bila Aku Mendua
Bab 36. Mawar merah


__ADS_3

Bahagianya seorang perempuan itu bukanlah berada di tempat mewah. Namun, bahagianya mereka adalah ketika dirinya dihargai dan dijaga perasaannya.


Seperti halnya Kalea. Saat bersama Javas, Kalea merasa telah menemukan orang yang tepat sebagai pendamping hidupnya. Karena Javas adalah orang yang bisa membuat Kalea bercerita panjang lebar tanpa takut dihakimi.


Javas adalah seseorang yang bisa menerima kekurangannya, memahami perasaannya, dan mampu membuat Kalea tenang dikala hatinya bergemuruh.


Javas adalah sosok yang paling tahu letak angin terkencang untuk redamkan isi hati Kalea yang tengah terguncang.


Kalea menatap jemarinya yang bertaut dengan jemari Javas. Sejak tadi, laki-laki itu tidak pernah melepas belitan tangannya. Dia mengulum senyum bahagia. Seindah ini dicintai oleh orang yang tepat.


"Kenapa senyum-senyum sendiri sih? Kenapa tidak mengajakku?" tanya Javas merajuk.


Hal itu tentu membuat Kalea tertawa. "Tidak. Aku hanya sedang tidak menyangka mengapa ada laki-laki setampan kamu yang mau mencintaiku. Padahal, kamu bisa mencari yang lebih dariku di luar sana. Namun, kamu justru bertahan denganku yang lebih banyak memiliki kurang daripada lebihnya."


Javas tersenyum sendu. "Entah mengapa, saat bersamamu aku juga merasakan bahagia. Bukan bahagia secara umum, melainkan bahagia yang berbeda. Aku menemukan cinta yang luar biasa saat bersamamu," jawab Javas sambil mencubit lembut pipi Kalea.


"Ih, gombal," ucap Kalea sambil berusaha menetralisir detak jantungnya yang kembali berulah.


"Mau belanja disini?" tawar Javas menghentikan langkah di depan sebuah gerai pakaian. Kalea sontak mendongak untuk membaca nama toko tersebut. Ketika sudah melihat, dia menggelengkan kepala pelan.


"Disini mahal-mahal, Mas. Aku tidak mau membuat uang tabungan Mas terkuras," jawab Kalea tidak enak hati.


Javas tertawa renyah. Kalea dengan sifat hematnya selalu berhasil membuat Javas kagum berkali-kali. Itulah mengapa Javas nyaman saat bersama Kalea. Perempuan itu memiliki pemikiran yang matang walau usianya masih di angka dua puluhan.


Javas lebih suka sosok perempuan yang tidak manja seperti kebanyakan ABG. "Tenang saja. Bahkan, jika kamu ingin membeli semua pakaian beserta tokonya, uangku masih tersisa banyak."


"Sombong sekali," gerutu Kalea menanggapi. Tawa Javas sudah tak terelakkan lagi. Kalea memang sumber mood baiknya.


"Baiklah. Karena Mas memaksa, aku akan membeli beberapa pakaian disini." Setelah itu, Kalea melenggang masuk ke gerai tersebut menuju pakaian khusus Hoodie. Javas pun mengikuti dengan sisa tawanya yang masih terdengar.


Kalea mulai memilih model Hoodie yang sekiranya cocok dipakai wanita maupun pria. Pilihan Kalea Jatuh pada Hoodie berwarna abu-abu tua. "Kamu suka yang itu?" tanya Javas yang sejak tadi hanya memperhatikan.


Tentu saja Kalea mengangguk. Dia menyukai model yang bisa dipakai wanita maupun pria. "Selera kita sama. Aku akan beli satu agar kita memiliki pakaian yang sama," ucap Javas tersebut dan mengambil satu lagi untuk dirinya. Tentunya dengan ukuran yang lebih besar dari milik Kalea.


Kalea mengembangkan senyum manis. "Itu akan sangat indah. Nanti kita harus langsung memakainya untuk berjalan-jalan di taman," ucap Kalea antusias.


"Tentu saja. Apapun yang kamu inginkan akan aku kabulkan," ucap Javas menyanggupi.


Setelah membayar belanjaan, Keduanya sepakat untuk mengunjungi sebuah taman. Sudah ada beberapa paper bag yang sudah Javas tenteng yang tidak lain adalah milik Kalea.


Suasana hari yang hampir sore serta kota yang baru saja diguyur air dari langit, membuat cuaca saat itu cukup dingin. Kalea tidak tahu jika di luar baru saja hujan dan masih menyisakan gerimis.


"Untungnya kita membeli Hoodie. Cuacanya sedang sangat dingin," ucap Kalea merasa bersyukur karena Hoodie itu kini telah keduanya pakai. Katanya agar serasi.


Javas mengangguk menyetujui. Keduanya tengah menunggu petugas valet di lobi mall yang sedang mengambilkan mobil milik Javas. "Mau makan lagi tidak?" tawar Javas sambil membenarkan rambut Kalea yang berantakan akibat tertiup angin.


Kalea mencebikkan bibirnya. "Kita baru saja makan satu jam yang lalu, Mas. Ini juga belum waktunya makan malam," jawabnya geleng-geleng kepala.

__ADS_1


"Ya barangkali kamu ingin ada makan sore juga." Javas bermaksud menggoda Kalea karena saat makan siang tadi, perempuan itu sangat lahap. Saat ditanya, ternyata Kalea belum sarapan. Pantas saja Kalea kelaparan.


"Untuk menggantikan sarapan kamu yang hilang," sambungnya lagi dan segera mendapat pukulan pelan di lengan atasnya.


"Apaan sih. Aku sudah kenyang, Mas. Nanti kita bisa beli roti di jalan," ucap Kalea sambil tersenyum malu-malu.


"Katanya kenyang," ledek Javas lagi yang membuat Kalea pun mengerucutkan bibirnya kesal.


Javas tertawa melihat hal tersebut dan berniat untuk mengabadikannya dengan kamera handphone. Beberapa jepretan berhasil Javas curi tanpa Kalea menyadarinya.


"Lumayan. Untuk teman tidur nanti malam," gumam Javas hingga membuat Kalea menoleh dengan raut penuh tanda tanya.


"Apa yang akan Mas gunakan untuk teman tidur?" tanya Kalea heran.


"Ini." Sambil menunjukkan hasil jepretan kamera ponsel miliknya. Kalea tersenyum dan mencoba merebut ponsel Javas.


"Aku mau melihatnya, Mas. Tidak akan aku hapus. Justru, aku ingin memintanya. Kamu pandai sekali mengambil foto dari samping," puji Kalea dan seketika itu, Javas menyerahkan ponselnya.


Bersamaan dengan itu, mobil Javas tiba di hadapan. Javas menarik pinggang Kalea agar berjalan mengikutinya. Karena Kalea terlihat fokus pada ponsel Javas, dia tidak menyadari jika sejak tadi ada sepasang mata yang menatap ke arahnya.


Saat sudah berada dalam mobil, Kalea kembali menyerahkan ponsel milik Javas. "Terima kasih. Aku sudah mengirim semuanya ke nomor ku. Oh iya, aku juga meminta beberapa foto Mas yang sedang berpose," ucap Kalea yang membuat Javas melayang bagai di awan.


"Bagus. Kamu harus menyimpan fotoku. Nanti, saat kita sudah berada di taman, kita harus foto bersama. Aku akan pajang foto kita dengan pigura besar dan akan aku gantung di kamar apartemen," ucap Javas sangat senang.


"Terserah kamu, Mas."


Hanya Javas yang bisa memperlakukan Kalea sebaik itu.


Pandangan Kalea mengedar. Ini baru pertama kalinya dia mengunjungi taman tersebut. Lumayan ramai karena tempatnya yang bagus. Tatapan mata Kalea jatuh pada toko bunga kecil di seberang jalan.


Javas yang paham kemana arah pandang Kalea, mulai mengartikan jika Kalea ingin membeli bunga. "Ikut aku? Mau beli bunga? Akan aku belikan yang banyak untukmu," ucap Javas sambil menggandeng tangan Kalea untuk menyeberangi jalan.


Kalea tersenyum dan menurut. Kakinya melangkah mengikuti Javas yang mulai menapaki zebra cross. "Pilihlah bunga kesukaanmu. Jangan pikirkan harga. Kalau kamu suka, belilah," pinta Javas sambil mendorong bahu Kalea untuk masuk.


Sayangnya, Kalea menggeleng dan Javas cukup kecewa. "Kenapa? Apa kamu tidak suka bunga?" tanya Javas memastikan.


Kalea kembali menggeleng. "Bukan itu. Aku ingin Mas juga ikut masuk. Aku ingin Mas yang memilihkan bunga untukku. Dengan begitu, aku akan merasa senang," ucap Kalea merengek layaknya anak kecil.


Kekehan renyah pun terdengar. Javas mengacak rambut Kalea gemas dan menggandeng tangan Kalea lagi untuk masuk ke dalam.


Setelah melihat-lihat, Javas begitu tertarik dengan bunga mawar berwarna merah. Dia menatap Kalea dan bertanya lebih dulu. "Mau bunga mawar tidak?"


Kalea mengangguk dengan senyum yang terkembang sempurna. "Tetapi merahnya yang sedikit kehitaman itu. Aku suka warna itu," jawabnya antusias.


Javas tersenyum dan meminta pramuniaga yang berjaga untuk membuatkan buket. "Tolong buatkan buket mawar merah yang ini ya, Mbak. Besarnya seperti ini," tunjuk Javas pada salah satu contoh buket.


Kalea membuka matanya lebar-lebar. "Mas? Apakah itu tidak terlalu besar? Satu saja cukup untukku," protes Kalea lirih.

__ADS_1


"Tidak. Bagiku, kamu berhak mendapatkan yang lebih banyak dari itu. Menurut lah, aku akan senang jika kamu setuju," rengek Javas yang membuat Kalea terkekeh geli.


"Baiklah, Tuan Javas yang baik hati dan tidak sombong," jawab Kalea akhirnya menurut.


Satu buket mawar merah berukuran besar, berhasil Kalea genggam dengan kedua tangannya. Mungkin bila dihitung, mawar tersebut berjumlah sekitar seratus tangkai.


"Ini indah sekali. Seumur hidup, ini baru pertama kalinya aku dibelikan bunga. Terima kasih, Mas," ucap Kalea dengan mata berkaca-kaca.


Javas tersenyum dan tangannya bergerak untuk mengelus pipi Kalea. "Jangan sungkan untuk mengatakan apapun yang kamu inginkan. Aku hanya ingin melihatmu tersenyum seperti ini setiap hari," jawabnya kemudian mengajak Kalea untuk keluar dari toko.


"Berhenti sebentar, Sayang. Ada mobil yang sedang lewat," pinta Javas lembut dan Kalea pun berhenti di ujung zebra cross, menanti beberapa mobil yang lewat. Jalanan sudah mulai macet karena waktu hampir menunjukkan pukul empat sore.


Sambil menunggu, Kalea menghidu dalam-dalam aroma mawar yang sangat disukainya. Dia kemudian beralih pada Javas yang saat ini sedang menatapnya lekat. "Kenapa?" tanyanya heran.


Javas menggeleng dengan senyum menghias bibirnya. "Tidak. Aku hanya merasa bahagia saat melihatmu tersenyum seperti ini." Lalu, tangannya bergerak untuk merengkuh pinggang Kalea posesif hingga tubuh keduanya saling menempel dan sangat dekat.


Javas mengecup kening Kalea penuh kasih sayang dan Kalea juga menikmati sentuhan itu dengan memejamkan mata dan bibir tersenyum. Mengabaikan jika dia sedang berada di tempat umum.


Keduanya sampai tidak tahu jika di ujung sana ada sepasang mata yang menatap keduanya dengan kemarahan dan hati yang terluka.


Saat Javas melepas kecupan di kening, Kalea kembali fokus ke depan. Seketika tubuh Kalea membeku saat melihat di seberang sana, tepatnya berada di satu garis lurus dengannya, sosok Zoni tengah menatap dirinya dengan wajah marah. Belum lagi kedua tangannya yang terkepal sempurna.


Nyawa Kalea seperti melayang saat itu juga. "Mas? Ada mas Zoni di sana," lirih Kalea memberitahukan Javas.


Ketika Javas menatap ke depan, dia memang melihat sosok suami Kalea di seberang sana. "Sekarang kamu harus memilih antara aku dan suamimu," gumam Javas serius. Tatapannya masih mengarah ke depan.


Kalea menelan saliva. Tidak tahu harus menjawab apa. Dia bimbang juga bingung. Harusnya, Kalea dan Javas sudah menyeberang bersama banyaknya orang yang juga akan menyeberang. Namun yang ada, Keduanya sama-sama berdiri dengan kaku di tempat.


Waktu terasa melambat dan bumi bagai berhenti berputar. Kalea benar-benar berada di ujung maut ketika melihat Zoni mendekat. Saat suaminya itu berada di hadapan, Kalea ditarik paksa olehnya agar terlepas dari pelukan Javas. Bunga yang sedari tadi dipegang, kini jatuh ke lantai paving.


"Pulang! Kamu harus menjelaskannya padaku!" sentak Zoni yang membuat tubuh Kalea bergetar seketika.


"Tolong, jangan sakiti Kalea. Jika ingin menghukum, hukum saja aku," ucap Javas mencoba merebut Kalea lagi. Dia khawatir Zoni akan melakukan hal buruk pada Kalea.


Zoni tersenyum miring. "Oh, sudah sejauh itu hubungan kalian? Dasar murahan!" ucap Zoni menghina dan menarik Kalea dengan kasar untuk masuk ke mobilnya.


Javas ingin mencegah. Namun, ketika melihat Kalea menggeleng, hal itu segera diurungkan. Javas hanya berharap Kalea tetap baik-baik saja. Dia menatap sebuket mawar yang sudah tergeletak di dekat kakinya.


Setitik air mata seketika jatuh. Javas berjongkok dan mengambil kembali bunga mawar merah milik Kalea. Lalu, mengarahkan matanya menatap mobil Zoni yang mulai melaju meninggalkan dirinya sendirian di jalanan kota.


Ada yang hilang dan terbawa seiring kepergian mobil Zoni yang sudah tak terlihat lagi. Javas memegangi dadanya yang terasa sesak. "Apakah ini akan menjadi akhir dari semuanya?" gumamnya lemah.


Sebuket mawar merah itu, menjadi saksi bisu tentang bagaimana hubungannya dengan Kalea terungkap.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...jangan lupa kasih dukungannya ya🥰...

__ADS_1


__ADS_2