
Javas mengantar Kalea pulang menuju kosnya. Laki-laki itu tidak lelah memprotes Kalea yang lebih memilih tinggal di kost daripada di apartemen miliknya. Bahkan bila perlu, Javas akan memberikan satu kamar VVIP di hotel mewah miliknya.
Namun, Kalea tetaplah sosok dengan segala kesederhanaannya. "Kenapa tidak tinggal bersamaku saja di apartemen?" tanya Javas ketika dalam perjalanan.
Kalea yang duduk di kursi samping kemudi, menoleh sambil terkekeh pelan. "Aku takut tidak bisa menjaga diri dengan baik. Pesona Javas Kanagara membuat ku rela menyerahkan semuanya," guraunya yang membuat Javas menunjukkan wajah tengilnya.
Bukan Javas namanya jika tidak sombong.
"Eh. Kenapa ini berbeda dari jalan menuju kost ku, Mas? Kamu mau bawa aku kemana? Ini sudah malam loh," tanya Kalea panik ketika menyadari jika jalan yang dilewati berbeda dari jalan menuju kost.
"Ke suatu tempat. Ini sudah saatnya," gumam Javas penuh misteri. Kalea semakin mengerutkan alis, merasa bingung. Dia juga tidak menyukai sebuah teka-teki.
"Kemana sih? Kenapa tidak mengatakannya padaku?" tuntut Kalea kesal.
"Kamu ikut saja. Semoga kamu suka ya, Sayang," jawab Javas tersenyum tanpa beban. Melupakan jika dia telah membuat anak orang penasaran setengah mati.
Merasa tidak ada guna, Kalea diam dan melihat pada jalanan yang menampakkan lampu kerlap-kerlip dari lampu ruko pinggir jalan. Hingga tiga puluh menit berlalu, mobil Javas masuk ke area restoran mewah.
"Mas. Kita kan sudah makan," protes Kalea belum mengerti tujuan Javas mengajaknya kesana.
"Ikut saja. Kita makan sedikit saja. Seperti camilan atau kamu butuh minum susu," jawab Javas tersenyum santai.
Setelah membukakan pintu mobil untuk Kalea, Javas menautkan jemarinya pada jemari Kalea. Hari yang sudah malam dengan cahaya remang-remang membuat suasana hari itu sangat romantis.
"Mau kemana sih?" tanya Kalea masih belum menyerah.
"Ke lantai paling atas. Kamu akan tahu setelah berada di sana." Lalu, Javas membawa Kalea menaiki benda kotak berjalan dan menekan angka maksimal pada tombol tersedia.
Kalea berpikir, di waktu malam yang hampir pukul sebelas itu, manusia sudah tidur dan dipeluk alam mimpi. Nyatanya, ketika Kalea berdiri di tempat itu, masih ada orang yang beraktivitas. Bukan hanya satu atau dua, melainkan dalam jumlah yang tidak sedikit.
Kalea digandeng menuju ruangan outdoor di gedung tersebut. Seketika mata Kalea terbuka lebar. "Mas? Ini indah sekali," gumam Kalea takjub pada kerlap-kerlip ibu kota yang dilihat dari ketinggian.
"Kamu suka kan?" tanya Javas tersenyum puas.
__ADS_1
Tentu saja Kalea mengangguk. Ini sangat indah dan menakjubkan. "Mengapa ada tempat seindah ini? Dan mengapa aku tidak mengetahuinya?" gumam Kalea saat Javas telah meminta Kalea untuk duduk. Mata perempuan itu tiada henti menatap sekeliling dengan pandangan kagum.
"Mas?" panggil Kalea antusias.
"Iya, Sayang?"
"Boleh tidak jika aku ingin berdiri disana?" tanyanya meminta izin.
Javas tidak menjawab melainkan langsung beranjak dari kursi dan mengulurkan tangan pada Kalea. Setelah Kalea menerima uluran tersebut, Javas benar-benar membawa perempuan yang dicintainya menuju pagar pembatas dari gedung tersebut.
Kalea berdiri tepat di depan pagar pembatas tersebut. Dia merentangkan tangan menikmati angin yang berhembus menerpa wajahnya. "Mas! Ini indah sekali," pekik Kalea girang.
Javas tergelak lalu memeluk Kalea dari belakang. Dia tidak akan membiarkan Kalea terlalu antusias hingga lupa dengan keselamatannya sendiri.
"Jangan terlalu banyak bergerak. Coba lihat di bawah sana, Sayang," pinta Javas pada taman di lantai bawah.
Kalea yang memang belum melihat ke arah bawah, mengalihkan pandangan dan seketika, mulutnya terbuka lebar. Jantungnya memacu lebih cepat dari biasanya. Ini memang bukan yang pertama untuknya. Namun rasanya, debaran itu lebih nyata dari yang pertama.
"Mas ..." cicit Kalea yang matanya sudah berkaca-kaca.
"Iya, Sayang. Jawab sekarang. Aku ingin kamu menerimanya. Jika tidak, maka aku akan lompat ke bawah," goda Javas sambil mengecupi tengkuk Kalea lembut. Gemas sekali dan ingin segera memiliki Kalea sepenuhnya.
Kalea berdecak pelan. "Jangan aneh-aneh. Itu, Mas yang sudah menyiapkannya?" tanya Kalea terharu.
"Tentu saja. Memangnya siapa? Reza?" Javas mulai membawa-bawa nama asistennya itu. Kalea terkekeh geli sekaligus merasa bahagia.
"Mas?" panggil Kalea lembut.
"Jawab cepat, Kalea. Aku ingin lekas mendengar jawabannya. Jangan buat aku kecewa," tuntut Javas gemas karena Kalea sejak tadi menunda untuk menjawab.
Bibir Kalea mengerucut kesal. "Coba, sekarang Mas katakan langsung. Maka aku akan jawab," pinta Kalea lalu tangannya bergerak memeluk lengan Javas yang berada di atas perutnya.
"Kalea Annasya, maukah kamu menikah denganku? Menjalani setiap harinya bersamaku? Apapun itu, kita akan jalani bersama. Mengarungi bahtera cinta di sisa umur kita. Mau ya?" tanya Javas setengah memaksa.
__ADS_1
Bukannya kesal, Kalea tertawa renyah. Javas memang pemaksa tetapi Kalea suka. "Mas?" panggil Kalea lagi yang membuat Javas semakin gemas ingin segera mengantongi Kalea dalam karung.
"Mana jawabannya? Iya atau tidak? Mengapa sejak tadi Mas-mas terus," kesalnya merengek manja.
"Ih! Sabar! Dengarkan sampai aku selesai, Mas." Kalea pun ikut gemas sendiri.
Keduanya saling terdiam meresapi suasana malam itu. Mengabaikan jika di lantai tersebut bukan hanya ada mereka. Begitulah jika seseorang sedang jatuh cinta. Dunia serasa milik berdua.
Setelah menarik napas panjang, Kalea kembali membuka suara yang sempat hening. "Aku tidak tahu lagi bagaimana cara mendefinisikan isi hatiku saat ini. Sejak bersamamu, hidupku berubah menjadi sangat berarti. Bisa dikatakan, Mas adalah pembawa pelangi dan bunga untuk hidupku saat badai bencana sedang menerjang langkahku."
"Dari banyaknya kalimat, tidak ada satupun yang bisa mendefinisikan arti kamu di hatiku. Termasuk sajak-sajak yang indah sekalipun. Kamu ... Adalah anugerah terindah yang pernah kumiliki, Mas. Aku mencintaimu dan bersedia menikah denganmu," sambung Kalea yang membuat Javas melayang bagai tak lagi menapak di bumi.
Semua kalimat yang Kalea ucapkan sangat berkesan di hatinya. Apalagi di kalimat terakhir yang mengatakan jika Kalea bersedia menikah dengannya. Itu laksana embun di pagi hari yang menyejukkan hati.
"Terima kasih, Sayang. Terima kasih karena telah sudi menerimaku. Aku tidak akan banyak berjanji. Namun, akan aku pastikan jika suatu saat kita diterpa sebuah masalah, kamulah yang pertama kali aku ajak diskusi. Kita akan menyelesaikan semuanya bersama dan dengan cara terbaik," jawab Javas tidak mampu menyembunyikan rasa bahagianya.
Bahkan, tanpa sadar air mata bahagia menetes begitu saja. Kalea adalah mimpi terbesar dala hidupnya. Meski saat memperjuangkannya, banyak sekali rintangan dan halangan yang menghadang. Kini, sebentar lagi, perempuan itu akan selalu dalam rengkuhannya. Selamanya.
"Mas? Kamu menangis?" tanya Kalea saat merasakan punggungnya basah.
Saat akan membalikkan badan, Javas menahannya. "Iya. Ini adalah air mata kebahagiaan. Kamu adalah mimpi yang sejak dahulu aku semogakan. Jangan berubah pikiran. Aku akan gila da lompat ke bawah," ancam Javas yang langsung mendapat pukulan di lengannya.
Pekikan tertahan pun tak terelakan. "Sakit, Sayang," keluhnya meringis.
Kalea mendengkus kencang. "Makanya, kalau bicara tuh yang benar. Kalau Mas lompat, maka aku akan ikut lompat. Biar mirip sama Aiya Susanti dan Mei-mei," ucap Kalea bergurau.
"Haiya! Lompat!" sahut Javas melanjutkan gurauan Kalea. Tawa bahagia pun tidak bisa dicegah. Dua insan yang saling jatuh cinta itu saling memeluk sambil menikmati sisa malam yang syahdu itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...mampir juga kesini yuk 👇...
__ADS_1