Salahkah Bila Aku Mendua

Salahkah Bila Aku Mendua
Bab 30. Berantakan


__ADS_3

Tubuh Kalea rasanya kaku karena saat ini sedang di peluk Zoni dari belakang. Ya. Zoni akhirnya tidur di kamarnya dengan memeluk Kalea. Setelah mendengar dengkuran halus dari Zoni, Kalea perlahan melepas belitan tangan suaminya. Dia beringsut turun lalu menyambar ponsel yang berada di atas nakas.


Kalea berjalan mengendap-endap agar tidak menciptakan suara dan menganggu tidur sang Suami. Kalea sudah bertekad untuk bertanya pada Kimi walau dia belum ingin bercerita tentang semua hal yang terjadi.


Setidaknya, Kalea memiliki gambaran siapa yang harus Kalea pilih. Semoga saja Kimi bisa memecahkan masalah yang dirinya hadapi.


Dia memilih duduk di kursi makan setelah menghidupkan lampunya. Setelah itu, jarinya mulai lincah mengotak-atik ponsel demi mencari nama Kimi disana. Kalea berharap, Kimi mau menerima panggilan telepon darinya walau Kalea tahu jika saat ini, sahabatnya pasti sudah tertidur.


Tepat di dering kelima, suara Kimi terdengar di seberang sana.


"Kenapa, Kal? Tumben malam sekali teleponnya?" tanya Kimi terdengar serak menandakan baru bangun tidur.


Kalea menghela napasnya pelan. "Maaf kalau ganggu ya, Kim. Namun, baru saja aku menerima telepon dari salah satu teman kerja. Dia meminta pendapatku dan aku tidak tahu jawabannya. Barangkali kamu bisa membantu?" Kalea mulai menjelaskan niat awalnya. Namun, dia tidak mengungkap siapa yang sebenarnya Kalea maksud.


"Hah? Pendapat apa? Aku akan mencuci muka terlebih dahulu agar bisa menyimak dengan baik."


Kalea mengangguk walau gerakan tersebut tidak bisa dilihat oleh Kimi. Kemudian, Kalea bisa mendengar grasak-grusuk yang berganti dengan suara gemericik air.


Kimi benar sedang mencuci wajahnya terlebih dahulu.

__ADS_1


"Halo, Kal. Kamu masih disana kan?"


Suara itu membuat Kalea tersadar. "Iya, masih. Aku langsung pada intinya saja ya? Jadi begini, temanku itu kan sudah punya suami. Namun, suaminya itu kasar dan sudah tidak seperti dulu lagi. Suaminya itu juga suka menghina temanku dan tidak segan mengatakan jelek, jerawatan, dan berwajah kusam. Suatu hari, dia bertemu dengan seorang laki-laki yang sangat menghargai keberadaannya. Dia jatuh cinta dan berniat untuk memilih laki-laki baru. Namun, disaat semua itu akan terjadi, suaminya meminta waktu untuk memperbaiki semuanya. Menurutmu, temanku itu harus apa?" Kalea bertanya panjang lebar.


"Itu bukan kisah kamu kan, Kal?" tanya Kimi memastikan. Hal itu sontak membuat Kalea gelagapan.


"Mana ada. Itu cerita temanku. Cobalah berikan saranmu," jawab Kalea berbohong.


"Oke. Aku akan memberikan pandanganku tentang masalah ini. Menurutku, bukankah temanmu itu sudah berkomitmen dengan orang pertama? Harusnya, saat ada orang kedua, dia tidak boleh goyah dan harus sesuai dengan komitmen awal. Lalu, jika temanmu meninggalkan orang pertama demi orang kedua, apakah dia yakin tidak akan ada orang ketiga, keempat, bahkan kelima? Begitulah manusia. Mereka cenderung tidak puas dengan apa yang mereka miliki saat ini."


...----------------...


Ya. Dirinya sudah terlalu serakah karena menahan Javas sedangkan dirinya masih bertahan dengan Zoni.


Ting.


Denting lift menyadarkan Kalea dari lamunan dan bergegas keluar dari benda kotak itu. Dia berjalan menyusuri lorong dan tidak berapa lama, akhirnya tiba. Dia masuk dengan menggunakan kartu akses yang Javas berikan.


Setelah terbuka, Kalea langsung menuju kamar Javas dan membangunkannya. "Javas, Bangun! Ini sudah siang!" ucap Kalea sambil membuka tirai gorden.

__ADS_1


"Selamat pagi, Sayang," sapa Javas yang membuat dada Kalea terasa sesak.


Kalea berusaha mengulas senyum. "Mandilah. Aku akan masak untukmu," ucap Kalea lalu segera mencari pakaian kerja yang cocok. Setelah urusannya selesai, Kalea segera keluar dari kamar.


Javas yang melihat itu, merasa aneh dengan sikap yang ditunjukkan Kalea. Tidak biasanya Kalea irit bicara kecuali saat sedang datang bulan. "Mungkin sedang datang bulan," gumam Javas menebak.


Kalea yang sudah berada dapur, dia justru berdiri melamun. Pikirannya sedang tidak karuan antara harus memilih Javas dan Zoni. Jika kembali pada Zoni, Kalea takut ban-ban yang telah lalu akan terulang. Namun, jika Kalea memilih Javas, apa uang harus Kalea katakan pada semua?


Kalea menghela napas sambil mengusap wajahnya kasar. Kepalanya terasa berat hingga dia tidak bisa berkonsentrasi.


Mencoba mengembalikan kesadaran, Kalea mulai mencari bahan makanan. Namun, Kalea justru kembali melamun dan menghabiskan waktu untuk merenung.


"Apa semua baik-baik saja? Mengapa pagi ini kamu tidak terlalu bersemangat. Oh iya, kamu juga sudah kembali mengganti nama panggilan untukku. Ada apa?" tanya Javas lembut.


Kalea menoleh pada Javas yang kini sedang berjalan mendekatinya. Dia menggelengkan kepala untuk meyakinkan, tidak ingin Javas tahu terlebih dahulu tentang masalahnya.


"Tidak ada. Mungkin, aku hanya stres saja. Sudah lama tidak pergi untuk jalan-jalan," jawab Kalea yang seketika membuat Javas tersenyum penuh arti.


"Kenapa tidak mengatakannya sejak tadi? Mari, hari ini kita akan menghabiskan waktu bersama dengan berkeliling ibu kota. Aku tidak mau melihatmu bersedih. Kamu hanya boleh merasakan bahagia saat bersamaku," ucap Javas yang nyatanya kembali membuat Kalea sadar diri.

__ADS_1


Javas terlalu baik untuk dirinya yang berantakan.


__ADS_2