
Javas dan Kalea sudah sama-sama pulih dari luka akibat kecelakaan yang menimpa keduanya. Mereka sudah menjalankan aktifitas harian seperti biasa. Tidak terasa, pernikahan Kalea bersama Javas sudah berjalan satu bulan lamanya.
Pagi ini, ketika semua berada di meja makan, Javas berniat untuk mengumumkan acara resepsi pernikahannya dengan Kalea. Sudah waktunya seluruh dunia tahu jika Kalea hanyalah milik Javas Kanagara.
Kalea menurut saja. Apapun itu asalkan bersama Javas, akan dia jalani dengan sepenuh hati. Keduanya berjalan bersama menuruni anak tangga. Dua pasang mata tampak memperhatikan senyum cerah yang lebih cerah dari biasanya, tersemat di bibir Kalea dan Javas.
"Sepertinya, ada sesuatu yang menggembirakan deh, Ma," tebak Kesha dengan tangannya yang sibuk mengambil sarapan.
"Iya nih. Senyum kalian lebar sekali? Ada apakah gerangan?" Bu Belinda memilih untuk menanyakan langsung kepada yang bersangkutan.
Javas dan Kalea saling lempar pandang, lalu terkekeh bersama. Setelah Javas menarik kursi untuk sang Istri dan Kalea duduk, baru Javas juga melakukan hal yang sama.
"Ada apa sih? Jangan buat kita penasaran," kesal Kesha dengan bibir yang mengerucut.
"Tidak, Ma. Aku dan Kalea ingin memberitahukan tentang resepsi pernikahan. Seminggu lagi, kita akan adakan acara tersebut. Setelah itu, aku dan Kalea akan pergi ke Bali untuk berbulan madu," jelas Javas mengatakan rencananya.
Kesha dan Bu Belinda ber-oh-ria bersama. "Mama pikir ada kabar baik apa." Raut wajah Bu Belinda tampak kecewa. Untungnya, Javas segera menyadari perubahan riak wajah sang Mama.
"Mama tenang saja. Kabar baik yang Mama tunggu akan segera Mama dengar. Doakan saja agar benih Javas segera tumbuh," ujar Javas menenangkan.
Kalea hanya meringis malu. Suaminya itu kelewat jujur saat sedang bersama ibunya. "Tidak masalah. Lagi pula, usia pernikahan kalian masih berusia satu bulan. Mama percaya, cepat atau lambat kalian akan segera diberikan momongan," jawab Bu Belinda merasa bersalah.
Beliau mencoba menenangkan sang Putra juga menantunya yang bisa saja salah paham padanya. Beliau memang kecewa. Namun, rasa kecewa itu tidak akan membuat rasa sayang pada anak dan menantu berkurang.
Biarlah waktu yang akan menjawab kapan anak dan menantunya itu memberinya cucu. "Bagus. Lebih cepat lebih baik. Setelah itu, kalian bisa mengambil waktu berdua saat berbulan madu. Tenangkan pikiran dan dibuat santai saja," sambungnya lagi disertai senyum manis.
__ADS_1
Kalea pun ikut tersenyum. Bersyukur karena Bu Belinda mau mengerti keadaan dirinya. "Terima kasih, Ma. Karena sudah mau mengerti aku," ucap Kalea bersyukur.
"Tidak perlu berterima kasih. Nanti, Mama dan Kesha akan membantu mengurus acara resepsi itu. Ayah dan ibu kamu juga harus tahu. Nanti siang Mama akan ke sana untuk mengabari mereka. Hal tersebut merupakan hari bahagia dan semua orang harus merasakannya." Bu Belinda kembali berucap panjang lebar dan menyambut antusias keputusan anak dan menantunya.
Setelah pukul delapan, Javas dan Kalea berpamitan untuk pergi ke kantor masing-masing. Pekerjaan harus segera diselesaikan sebelum Keduanya mengambil libur dua Minggu di Bali.
Beruntung, Reza sudah menjadi orang yang Kalea percaya. Dia memang bisa segalanya. Untuk asisten baru suaminya, dia juga mudah menyesuaikan diri. Namun, ketika nanti dirinya dan sang Suami pergi, Kesha dan Bu Belinda yang akan memegang perusahaan. Mereka belum bisa percaya seratus persen kepada orang baru.
"Aku turun dulu ya. Nanti jadi makan siang bersama kan?" tanya Kalea sebelum benar-benar turun dari mobil karena telah sampai di depan toko perhiasan miliknya.
"Cium dulu, Sayang. Kamu lupa?" omel Javas sambil menyodorkan punggung tangan untuk istrinya kecup.
Kalea tersenyum dan menerima uluran tersebut. Setelah itu, giliran Javas yang mencium kening Kalea penuh kasih sayang. "Nanti aku jemput jam dua belas, Sayang," ucap Javas sambil melambaikan tangan pada sang Istri yang sudah berlalu.
Mengenai mantan suaminya, Zoni. Terakhir kabar yang Kalea dengar, seluruh keluarganya memutuskan untuk pindah ke desa. Membangun usaha perkebunan di sana.
Sedangkan untuk ayahnya, Yudi, dia masih menjalani hukuman akibat perbuatan yang berniat mencelakai Kalea. Kabar tersebut tentu bisa Kalea dengar karena hidup di negeri bernama Indonesia ini.
Setelah kakinya menginjak toko, dia langsung disambut hormat oleh para pekerja. Semua itu Reza yang merekrut. Sungguh. Laki-laki itu sangat berguna untuk keberlangsungan usaha Kalea.
Kalea terus berjalan menuju ruangannya. Di depan ruangan itu, Reza sudah duduk di kursi kerja dengan komputer yang menyala di hadapan. Menyadari kehadirannya, Reza mendongak dan langsung berdiri penuh hormat.
"Selamat pagi, Nona," sambut Reza ramah.
"Selamat pagi, Za. Apa kabar hari ini?" tanya Kalea tersenyum tipis.
__ADS_1
Reza mengangguk. "Kabar baik, Nona. Disini, saya mendapatkan pekerjaan lebih ringan daripada dulu ketika bekerja di perusahaan Kanagara." Reza mengatakan pengakuannya yang membuat Kalea tergelak renyah.
"Apakah kamu tertekan ketika bersama suamiku?" tanya Kalea masih dengan tawa yang tersisa.
"Ya begitulah. Mengurus toko perhiasan saya rasa cukup mudah. Karena saya baru saja mengurus perusahaan besar. Namun, toko perhiasan Nona bukan berarti belum besar—"
"Iya, aku paham. Kamu memang luar biasa. Bulan depan kamu harus naik gaji," celetuk Kalea lalu meninggalkan Reza yang melongo menatap punggung Kalea yang sudah menghilang di balik pintu.
Setelah berada dalam ruangan, Kalea mulai membuka laptop miliknya. Dia berniat mengecek pemasukan minggu lalu yang telah direkap oleh Reza. Dan kesimpulan yang Kalea dapat, penjualan emas di tokonya meningkat pesat.
"Alhamdulillah. Semua usahaku tidak pernah sia-sia. Kini, tugasku adalah mengumpulkan modal awal untuk dikembalikan pada suamiku," gumam Kalea bersyukur.
Kalea merasa, dia sudah menjadi wanita karir yang selama ini selalu dia impikan. Wanita karir yang sukses dan bisa hidup mandiri. Tentunya hal tersebut tidak akan terjadi bila tidak ada campur tangan dari sang Suami.
"Terima kasih, Ya Tuhan. JanjiMu nyata dan benar-benar terjadi. Bahwa setelah kesusahan dan kesedihan, akan ada kebahagiaan yang tidak pernah disangka-sangka kehadirannya." Kalea bergumam penuh rasa syukur.
Ketika ada di posisi sekarang, Kalea menoleh mencoba menoleh ke belakang. Hanya sekedar untuk melihat, bukan mengulang. Dan hal yang tidak pernah Kalea sangka, dia bisa bertahan hingga sejauh ini. Dia kuat dan mampu menjalani terpaan badai hidup yang bertubi-tubi menghampiri.
Namun, hal itu terasa ringan ketika ada Javas di sampingnya. Javas menemani perjalan Kalea entah susah maupun senang. Laki-laki itu selalu setia berada di sampingnya.
"Terima kasih, Mas Javas."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...huh... setelah ini, aku akan tetap update hingga beberapa bab untuk extra chapter yah...🌹...
__ADS_1