Salahkah Bila Aku Mendua

Salahkah Bila Aku Mendua
Bab 44. Masakan Kalea


__ADS_3

Saat panggilan video terhubung, Kalea bisa melihat wajah Javas yang sangat kusut. Tidak seperti biasanya yang cerah setiap saat.


Cukup lama keduanya terdiam dengan saling pandang. Hingga Kalea sudah tak tahan dan memilih bertanya. "Apakah ada sesuatu yang mengganggu isi kepalamu, Mas?" tanya Kalea penuh kelembutan.


Javas tersenyum tipis kemudian layar ponsel Kalea tampak bergerak-gerak. Javas merubah posisi duduknya menjadi tidur telentang. "Kenapa? Wajahmu terlihat sangat lelah," tanya Kalea semakin penasaran. Apalagi, Javas tak kunjung membuka suara.


Gelengan kepala adalah jawaban dari pertanyaan Kalea. Javas seperti masih betah mengunci mulutnya. Sejak tadi, belum terdengar sepatah katapun dari mulut Javas.


"Sepertinya, aku mengganggu waktu istirahatmu. Maafkan aku. Kalau begitu, aku tutup dulu. Mas bisa beristirahat seka—"


"Jangan ditutup. Aku hanya sedang merindukanmu dan ingin menatap wajahmu lebih lama," sergah Javas sebelum Kalea menyelesaikan kalimatnya.


Kalea tersenyum sendu. Dia juga sama rindunya pada sosok pria yang kini sudah mengisi seluruh tempat di hatinya. Namun, Kalea masih harus berjuang agar pantas saat bersanding dengan Javas kelak.


Sudah hampir dua bulan Kalea berada di negeri orang. Selama itu juga, dia harus menahan kakinya untuk tidak pulang. Masih belum saatnya.


Soal perceraiannya dengan Zoni, semua sudah selesai. Beruntung tidak ada drama yang dilakukan mantan suaminya. Lalu untuk rumah yang dibeli bersama, Kalea memilih mengikhlaskan. Dia malas meributkan masalah harta. Walau secara tertulis, atas namanya masih belum diganti.


"Aku harap kamu bisa bersabar. Aku masih butuh waktu sepuluh bulan lagi untuk pulang," jawab Kalea dengan mata berkaca-kaca, tak kuasa melihat Javas di seberang sana.


"Andai satu Minggu ke depan ini, aku tidak ada perjalanan bisnis ke Surabaya, mungkin aku sudah berada disana." Javas berucap lirih, sendu dan mengiris kalbu.


Semua yang Javas katakan mengenai rindu, nyatanya selalu membuat Kalea menangis diam-diam. Dia juga merindukan Javas. Kalea pikir, jauh dari seseorang yang dicintai, tetap akan membuatnya baik-baik saja.


Namun kenyataannya, Kalea tersiksa rindu tersebut. Ingin sekali dia memeluk tubuh kekar Javas dan menenggelamkan wajahnya di dada bidang laki-laki itu.


Apalah daya, keinginan masih menjadi harapan dan entah sampai kapan semua ini akan segera berakhir. "Apakah kamu menangis? Aku mohon jangan menangis. Aku akan temui kamu secepatnya," sentak Javas khawatir.

__ADS_1


Kalea tidak sadar jika sudah meneteskan air mata di depan layar ponsel yang masih menampilkan wajah Javas. Dia tersenyum lalu menghapus air matanya kasar. "Aku tidak menyangka jika merindukanmu akan seberat ini. Benar kata Dilan, rindu itu berat," ucapnya lalu terkekeh pelan.


Javas yang berada di seberang sana pun ikut terkekeh. Memang sangat berat dan dia berharap, dirinya kuat.


Obrolan keduanya berlanjut sampai berjam-jam lamanya. Bahkan, walau menghabiskan sampai pagi menjelang pun, tidak akan membuat rindu itu terobati. Justru, perasaan itu semakin menggebu-gebu dan ingin segera bertemu sang Tuan.


...----------------...


Di sebuah pusat perbelanjaan, Zoni tengah menemani Sonia makan siang. Dia rela mengorbankan jam istirahatnya demi permintaan sang Ibu.


Ya. Pertemuannya dengan Sonia adalah bu Rosi yang mengaturnya.


Sudah hampir satu bulan ini, hubungannya dengan Sonia menjadi semakin dekat. Mungkin karena intensitas pertemuan keduanya yang terbilang sering. Namun anehnya, belum ada benih-benih cinta di hati Zoni untuk perempuan di hadapannya. Perempuan yang saat ini dengan anggunnya memakan hidangannya.


"Kenapa melihatku seperti itu, Mas?" tanyanya lembut seperti biasa.


Mendengar hal tersebut, Sonia merasa pipinya memanas. Dia salah paham akan tatapan Zoni padanya yang diduga penuh cinta.


"Makan, Mas. Nanti nasinya keburu dingin," pinta Sonia mengalihkan pembicaraan. Dia sangat malu jika ditatap sedemikian lekat seperti itu.


Zoni mengangguk. Dia segera menghabiskan makan siangnya. Anehnya, Zoni justru teringat dengan masakan Kalea. Memang, rasa makanan di restoran tersebut enak. Hanya saja, lebih enak masakan yang dibuat oleh mantan istrinya itu.


"Kamu bisa masak?" tanya Zoni spontan.


Sonia hampir tersedak jika tidak pandai menguasai diri. Pertanyaan Zoni begitu membuatnya terkejut. "Jangankan memasak, datang ke dapur saja aku dilarang Papa," jawabnya tanpa rasa sungkan.


Zoni tersenyum tipis. Memang sulit menemukan perempuan yang seperti Kalea. Namun, dia tidak ingin membandingkan Sonia dengan Kalea. Jika boleh meminta, Zoni ingin sosok seperti mantan istrinya itu.

__ADS_1


"Kenapa memangnya, Mas?" tanya Sonia penasaran.


Zoni menggeleng pelan. "Tidak. Aku hanya ingin sekedar bertanya."


"Aku tahu dengan apa yang sedang kamu pikirkan, Mas. Setiap laki-laki pasti menginginkan seorang istri yang bisa mengurusnya termasuk membuatkan makanan. Namun, di zaman sekarang apakah hal tersebut masih berlaku? Aku memiliki uang yang banyak. Setiap hari kita bisa meminta koki di rumah Papa untuk memasak," ucap Sonia dengan polosnya.


Dia memang terbiasa dengan uang. Apapun yang akan dilakukan, uang yang selalu berbicara. Jangan salahkan Sonia karena hal tersebut dia pelajari dari sang Papa.


Zoni menghela napas pelan agar Sonia tidak mendengarnya. Dia cukup sadar jika strata sosialnya dengan Sonia sangatlah berbeda. Namun, orang tua Sonia yang hanya tersisa ayah, tidak masalah dengan perbedaan tersebut.


Selagi mencintai Sonia dengan baik, papanya akan setuju demi kebahagiaan sang Putri.


Lalu, Zoni mulai berkaca pada diri sendiri. Cinta? Tentu saja Zoni belum memiliknya untuk Sonia. Dia belum bisa memantapkan hati pada pilihan ibunya.


"Apakah kamu cukup keberatan dengan semua itu?" tanya Sonia yang sudah menghentikan aktifitas makannya.


Zoni tersenyum dan melakukan hal yang sama. "Kita jalani saja dulu. Aku juga baru bercerai. Apa kata orang nanti ketika mengetahui jika aku baru bercerai dan kembali menikah? Kamu juga bisa dituding sebagai perusak rumah tanggaku. Aku tidak mau hal itu terjadi," jelasnya entah murni karena alasan tersebut atau memiliki alasan lain.


Hal itu membuat Sonia semakin mengulum senyum, salah tingkah dengan sikap manis Zoni yang begitu memperhatikan reputasinya.


"Terima kasih karena sudah memperhatikan aku dengan baik. Aku percaya jika semua yang kamu lakukan demi kebaikanku," ucap Sonia dengan perasaan yang berbunga-bunga.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...jangan lupa dukungannya ya 😘...


...mampir juga ke karya temanku yuk 👇...

__ADS_1



__ADS_2