
Satu Minggu berlalu. Toko perhiasan Kalea akan segera dirilis nanti siang pukul satu. Kalea juga mengadakan pesta kecil dan mengundang beberapa rekan bisnis Javas untuk meyaksikan peresmian usaha perhiasannya. Namun, Kalea juga menerima tamu yang tidak diundang. Mereka juga harus tahu produk Annasya Jewelry yang ekslusif.
Semua persiapan telah selesai. Dua hari ini Kalea memang sibuk mengurus semuanya. Tentunya bersama Reza yang kini merangkap menjadi asisten pribadinya. Javas tidak ingin menyerahkan istrinya pada penjagaan yang lengah. Reza adalah orang yang tepat dan cekatan menurutnya.
"Akhirnya, aku bisa mewujudkan mimpiku disini," gumam Kalea bangga. Toko perhiasan itu telah berdiri kokoh. Di dalamnya sudah banyak etalase yang menampilkan aneka ragam perhiasan untuk pameran. Tentu saja perhiasan ekslusif yang hanya dibuat Annasya Jewelry.
Waktu sudah menunjukkan pukul dua belas lewat tiga puluh menit. Tamu undangan sudah mulai berdatangan dan duduk di kursi yang tersedia. Namun, sosok yang sejak tadi Kalea tunggu tak kunjung menampakkan batang hidungnya.
"Mas Javas kemana, Za? Apakah hari ini dia sibuk? Bukankah tadi pagi dia hanya ada pertemuan di luar dan itu hanya sebentar?" tanya Kalea heran.
Reza yang setia berdiri di samping Kalea, menggeleng. Sama tidak tahunya dengan keberadaan sang Atasan. "Harusnya sudah sampai di sini pukul sebelas siang, Nona. Saya akan coba menghubungi asistennya," jawab Reza lalu sibuk mengotak-atik ponsel lalu menempelkan di dekat telinga.
Kalea tidak terlalu menyimak pembicaraan Reza. Dia hanya mendengar jika Javas sudah keluar dari perusahaan sejak satu jam yang lalu.
Pikiran Kalea mendadak tak karuan. Dia mencoba menghilangkan pikiran buruk dan mengatakan jika Javas hanya terjebak macet. "Bagaimana ini, Za? Aku tidak mungkin meresmikan ini tanpa suamiku," ucap Kalea mengatakan keresahan hatinya.
Reza juga sama tidak tahunya. Akhirnya, dia memberikan saran. "Resmikan saja dulu, Nona. Kalau Tuan Javas terlambat, acara tetap tidak bisa diundur kan?"
Tidak memiliki pilihan lain. Kalea hanya berdoa dalam waktu sepuluh menit ini Javas akan sampai. Namun, ketika waktu bergulir dan menunjuk tepat di angka satu dan dua belas, ketika itu juga harapan Kalea seperti pupus.
"Nona? Semua tamu undangan sudah menunggu," ucap Reza mengingatkan.
Helaan napas kasar pun terdengar. Kalea hanya berharap semoga Javas baik-baik saja dimana pun tempatnya berada. "Baiklah. Kita akan mulai saja acaranya," ucap Kalea pada akhirnya.
__ADS_1
Ada Bu Yuni, Pak Tono, dan Lintang, Bu Belinda, dan Kesha yang turut hadir dalam acara tersebut. Dari sekian banyaknya keluarga yang hadir, tidak satu pun yang bisa menggantikan posisi Javas. Kalea seperti kehilangan nyawanya ketika tiada Javas di sampingnya.
Hingga acara selesai. Tubuh Kalea bagai tak bertenaga. Javas tak hadir dalam acara peresmian toko perhiasannya. Bukan tidak pernah berusaha menghubungi. Hanya saja, nomor suaminya itu sedang tidak aktif.
Setelah tamu undangan pergi dan pengunjung juga mulai pulang satu per satu, Kalea menarik lengan Bu Belinda untuk diajak berbicara. "Ma? Mama ada tahu dimana Mas Javas? Tidak mungkin dia tidak datang tanpa memberi kabar," ucap Kalea gelisah.
"Mama juga sejak tadi mencoba menghubungi Javas. Tetapi, nomornya tidak aktif. Bagaimana ini? Kita harus segera cari Javas." Bu Belinda tak kalah paniknya. Jika bukan Kesha yang menenangkan, mungkin beliau sudah pergi di tengah-tengah acara.
"Tadi pagi, aku lihat kak Javas baik-baik saja di kantor. Aku melihat Kak Javas keluar bersama asisten barunya. Mungkin ingin pergi rapat di luar," ucap Lintang yang sama sekali tidak menemukan kejanggalan.
"Ini tidak bisa dibiarkan. Kita akan berpencar untuk mencari keberadaan Tuan Javas. Datangi tempat-tempat yang selalu dikunjungi Tuan, barangkali beliau ada di sama," pinta Reza menginterupsi semuanya.
Dia berniat untuk tidak memberitahukan tentang hilangnya jejak sang Tuan. Namun, ketika mengingat keluarganya lebih berhak, Reza memilih untuk mengungkapkan.
Setelah Bu Belinda menoleh, Reza tampak menghela napas panjang dan berkata. "Tuan juga telah hilang jejak dalam pengawasan para mata-mata. Tidak ada alat yang bisa mendeteksi keberadaanya."
Bagai petir yang menyambar di siang hari, Kalea merasa dunianya runtuh. Kakinya terasa lemas hingga kehilangan keseimbangan tubuhnya. Beruntung, Lintang dengan sigap menahannya.
"Dimana suami Mbak, Tang. Bagaimana ini?" racau Kalea mulai menangis sesenggukan. Sebagai seorang ibu, Bu Belinda ingin terlihat kuat. Namun nyatanya, hal itu hanya tinggal wacana.
Dia ikut menangis, merasa khawatir pada keadaan putra tercinta. "Pak Tono? Bisa minta tolong bawa para wanita ke rumah? Saya dan Lintang akan mencari Tuan Javas terlebih dahulu," pinta Reza yang raut wajahnya tampak tegang.
"Aku ikut, Za. Aku akan ikut," tegas Kalea tidak ingin dibantah. Dia ingin mencari suaminya itu yang entah kemana. Kalea berharap, semoga ini tidak ada kaitannya dengan berita yang dibuat Javas beberapa hari yang lalu.
__ADS_1
Tidak ingin berdebat karena akan menghabiskan banyak waktu, Reza membawa serta Kalea untuk mencari keberadaan Javas.
Dalam perjalanan, Kalea tak henti-hentinya melafalkan doa untuk keselamatan sang Suami. Entah sudah berapa lama dan berapa tempat yang mereka kunjungi, Javas tetap tidak ditemukan.
Reza hampir menyerah ketika tiba-tiba mendengar dering ponsel milik Kalea berbunyi nyaring. Kalea yang sedang melamun pun terlonjak kaget dan langsung melihat siapa yang telah menelepon.
"Mas Javas meneleponku!" pekik Kalea tanpa sadar, merasa sangat bahagia.
"Hallo, Mas? Kamu dimana? Mengapa susah sekali dihubungi?" tanya Kalea beruntun.
"Hallo, maaf apakah ini dengan keluarga atas nama Bapak Javas?"
Kalea membeku di tempat. Bukan suara Javas yang ada di seberang sana. Firasat buruk seketika menggerogoti. Kalea tentu paham dari tutur bahasanya jika seseorang di seberang memiliki profesi di bidang kesehatan. Melihat kakaknya yang terdiam, Lintang langsung merebut ponsel dari tangan Kalea.
"Halo?" ucap Lintang.
"Iya. Ini keluarga Bapak Javas," ucap Lintang lagi dan Kalea tidak mampu mendengar kalimat apa yang diucapkan seseorang di seberang sana.
Saat Kalea melihat ke arah Lintang untuk meminta penjelasan, adiknya itu justru terdiam dengan raut wajah yang terbaca.
"Apa yang terjadi? Cepat katakan!" titah Reza tidak sabaran.
"Kak Javas mengalami kecelakaan. Dia ada di rumah sakit dan sedang ditangani. Dia juga dalam keadaan tidak sadarkan diri," ungkap Lintang yang membuat jantung Kalea seketika berdegup kencang.
__ADS_1
Kabar ini membuat telinganya berdenging dan pandangan matanya menggelap. Setelah itu, Kalea tidak mendengar apa-apa lagi.