Salahkah Bila Aku Mendua

Salahkah Bila Aku Mendua
Bab 70. Kedatangan Zoni


__ADS_3

Sampai mobil berhenti di depan gedung dimana toko perhiasan Kalea sedang dibangun, perempuan itu masih memasang mode merajuknya. Helaan napas kasar pun terdengar dari Javas.


"Sampai kapan kamu akan diam? Tidak lelah memangnya?" tanya Javas sambil mencoba meraih jemari sang Istri. Namun, segera ditepis oleh sang Empunya.


Sejak dari rumah sakit, Javas enggan menjelaskan siapa Alika kepada Kalea. Hal itulah yang membuat Kalea berspekulasi ada sesuatu antara suaminya dengan perempuan bernama Alika. Harusnya, Javas jelaskan saja. Kalea akan coba memahami. Ya walaupun, harus ada bagian mendiamkan yang sulit sekali dilewatkan.


"Aku turun," ucap Kalea marah tetapi tetap bernada lembut.


Javas bergegas mencekal pergelangan tangan sang Istri. Dia tidak ingin bekerja dalam keadaan istrinya marah. Dia ingin bekerja dengan tenang dan damai.


"Jangan marah lagi aku mohon. Aku hanya ingin berpesan agar kamu tetap berada dalam ruangan. Untuk mengantisipasi barangkali ada teror lagi. Sudah ada orangku yang mengawasi dari jauh agar tidak terlalu menonjol. Aku mohon, jangan matikan ponselmu. Aku tidak suka merasa khawatir." Javas berucap panjang lebar. Menjelaskan keinginan dan ketakutannya.


Barulah Kalea luluh. Dia merasa tak tega jika harus berlama-lama mendiamkan sang Suami. "Maafkan aku," ucap Kalea pada akhirnya. Mencoba menurunkan ego yang terlalu tinggi.


Javas mengangguk dan mengecup puncak kepala Kalea lembut. "Nanti aku jemput. Akan aku beri tahu nanti setelah berada di rumah."


Kalea mengangguk patuh setelah mendengar penjelasan Javas. Tidak ada yang harus dikhawatirkan lagi karena saat ini Javas hanyalah miliknya. Kalea harus mencoba percaya diri atas hal tersebut. Javas hanya mencintai dirinya.


"Salim dulu, Mas," ucap Kalea sambil menyodorkan telapak tangan. Setelah Javas menerima, Kalea mengecup punggung tangan sang Suami penuh sayang.


"Jaga diri baik-baik. Tetaplah waspada dan telepon aku bila menangkap sesuatu yang mencurigakan," pesan Javas dan lagi-lagi Kalea mengangguk patuh.


Setelah memastikan Kalea masuk ke gedung, Javas baru melajukan mobil menuju hotel. Hari ini dia ada pertemuan dengan investor penting.


"Perketat penjagaan di rumah dan toko, Za. Aku khawatir orang yang sama akan melakukan lebih. Setelah kejadian tadi, aku yakin orang dibaliknya bisa lebih kejam," titah Javas tegas dengan rahang mengeras.

__ADS_1


Dia marah jika ketenangan hidupnya diusik. Dia juga tidak akan segan untuk membalas mereka yang terlibat, lebih kejam dari kejahatan yang mereka lakukan.


'Tunggu saja tanggal mainnya,' batin Javas bersumpah.


Kalea yang sudah masuk ke gedung, dia diberitahu oleh salah satu pekerja jika ada yang mencarinya. "Siapa namanya? Mengapa dia mencari ku?" tanya Kalea heran sekaligus sedikit takut.


"Namanya pak Zoni, Bu. Beliau mencari Ibu untuk membicarakan sesuatu," jelas salah satu pekerja.


Kalea mengangguk saja. Mantan suaminya itu entah memiliki tujuan apa hingga harus mencarinya. Baru saja Kalea akan membuka mulut, pekerja tadi sudah menyelanya.


"Itu orangnya, Bu," tunjuknya ke arah pintu masuk. Kalea menoleh dan melihat Zoni telah berdiri di sana dengan kepala tertunduk malu.


"Hai, Kalea. Apa kabar? Bisa meminta waktunya sebentar?" ucap Zoni yang membuat Kalea mengerjap bingung.


"Ada apa ya, Mas? Bisa katakan saja?" tanya Kalea datar.


Zoni mendongak sebentar lalu menunduk lagi. "Aku tahu. Mungkin kesalahan ku dulu sudah tak termaafkan lagi. Oleh karena itu aku datang untuk memohon maaf padamu. Aku ingin hidup bahagia setelah ini tanpa harus menanggung dosa karena telah melukai kamu dulu," jelas Zoni panjang lebar dan Kalea masih tetap bertahan dengan raut wajah datar.


"Aku akan menikah tiga hari lagi. Aku ingin meminta restu padamu agar semua berjalan lancar. Karena dulu aku pernah menyakitimu, bisa saja kamu belum memaafkan dan aku harus menderita karena hal itu," ucap Zoni lagi terdengar tidak tulus.


Kalea tersenyum sinis. "Kamu meminta maaf hanya karena hal tersebut? Kenapa aku harus memaafkan kamu? Bukankah kita bisa hidup tanpa harus saling memaafkan? Rasanya, kata itu sangat sulit untuk aku balas."


Zoni tersenyum lembut. Sama sekali tidak tersinggung dengan ucapan Kalea. "Maaf jika aku menyusun kata kurang baik. Tetapi, aku bersungguh sungguh-sungguh ingin meminta maaf padamu. Aku turut bahagia atas hidupmu yang sekarang. Kamu sudah bersama orang yang tepat." Zoni pun maju selangkah.


"Datanglah ke pesta pernikahan ku. Aku mohon. Dengan begitu, aku akan menganggap jika kamu telah merestui pernikahan keduaku," ucap Zoni sambil menyodorkan surat undangan pernikahan.

__ADS_1


Kalea menatap tanpa minat kertas undangan tersebut. "Aku rasa, kita tidak perlu lagi menjalin hubungan. Aku sudah memaafkan kamu. Namun, hal itu bukan berarti aku sudah lupa dengan semua perlakuan mu padaku," ucap Kalea menggebu-gebu. Tatapannya tampak muak menatap sosok pria di hadapannya.


Tanpa disangka, hal tak terduga pun terjadi. Zoni berlutut di hadapan Kalea dengan kepala tertunduk lesu. Seperti menyiratkan akan penyesalan terdalam. "Tolong, Kalea. Maafkan aku. Berikan aku hidup tentram dengan diberi maaf darimu," ucapnya memohon sambil menangkupkan telapak tangan.


Kalea ingin sekali menendang wajah pia di hadapannya. Namun, ketika mengingat nilai kemanusiaan, niat itu hanya tertahan dalam benaknya. "Berdiri, Mas. Kamu tidak perlu melakukan hal tersebut."


"Aku tidak akan berdiri sampai kamu memberiku sebuah maaf," jawab Zoni kekeh pada pendiriannya.


Kalea menghela napas kasar. "Aku memaafkan mu. Sekarang, berdirilah! Aku akan datang ke pesta pernikahan mu juga," ucap Kalea pada akhirnya. Tidak ada cara lain agar pria di hadapannya itu berdiri. Dia malu menjadi pusat perhatian.


Zoni tersenyum penuh binar di matanya. Dia bangkit dan kembali menyodorkan kartu undangan pernikahan. "Suatu kehormatan besar bila kamu datang ke acara pernikahan ku. Terima kasih, Kalea," ucap Zoni penuh rasa syukur.


Kalea mengangguk kaku. Tidak tahu apakah harus benar-benar datang atau mengiyakan saja agar Zoni segera pergi dari hadapannya.


"Baiklah. Kalau begitu aku pulang dulu. Terima kasih karena telah memberiku maaf hari ini," ucap Zoni berterima kasih. Tidak lupa, dia melempar senyum tulus yang jarang sekali Kalea lihat dulu.


Tiba-tiba terlintas dalam kepala, apakah Zoni sudah benar-benar berubah? Apakah waktu satu tahun berhasil menyadarkan laki-laki yang menjadi mantan suaminya itu? Semoga saja hal tersebut benar adanya.


"Sama-sama, Mas. Maafkan aku juga jika dulu pernah menyakiti dan mengecewakan mu." Kini giliran Kalea yang meminta maaf. Tidak ingin Zoni hidup memendam dendam untuk dirinya.


Zoni mengangguk penuh pemakluman. "Apa yang kamu lakukan dulu tidak akan terjadi jika aku tidak memulainya terlebih dahulu. Kita sama-sama salah dan membenarkan jalur yang kita pilih. Mari, hidup dengan baik setelah ini."


Kalea sampai terperangah tidak percaya dengan ucapan Zoni barusan. Dia mencoba menajamkan pendengaran barangkali salah dengar. Zoni kali ini tampak berbeda dengan Zoni satu tahun yang lalu. Namun, sesegera mungkin Kalea mengubah ekspresi terkejutnya.


"Mari," jawab Kalea berusaha mengulas senyum.

__ADS_1


__ADS_2