
Kalea menunggu dengan gelisah kepergian sang Suami ke apotek untuk membeli alat test kehamilan. Baru lima belas menit tetapi, Kalea merasakan waktu bergerak cukup lambat. Mungkin karena efek menunggu yang membuat semua terasa lama.
Ingin makan pun rasanya masih belum berselera. Dia ingin tahu jawaban hamil atau tidak dengan segera. Entah sudah menit ke berapa, pintu kamar hotelnya terbuka. Suaminya muncul dari sana. Kalea bergegas bangkit dan menghampiri.
"Mana, Mas?" tanya Kalea sambil menengadahkan tangan.
"Ini." Javas pun memberikan kantong kresek berwarna putih di tangan Kalea. Ketika membukanya, mata Kalea terbelalak lebar. Sedetik kemudian, Kalea tertawa terbahak-bahak. "Ini banyak sekali, Mas? satu, dua, tiga, sepuluh?" tanya Kalea tidak habis pikir. Tawanya masih menggema di seisi ruangan.
Javas pun terkekeh geli. "Aku tidak tahu harus beli dengan merek apa. Katanya, ada yang mahal ada yang murah juga. Kamu coba semua kalau gitu. Biar keefektifannya jelas." Javas mencoba memberikan argumennya.
Kalea mengibaskan tangan di depan dada. "Tidak perlu sebanyak itu, Mas. Aku akan gunakan tiga. Yang paling mahal, paling murah, dan yang sedang. Yang mana? Aku tidak tahu soalnya," ucap Kalea dan Javas segera menunjukkan yang diinginkan sang Istri.
Tiga bungkus testpack telah berada di tangan Kalea. Dia menarik dan menghembuskan napasnya terlebih dahulu sebelum masuk ke kamar mandi. "Berdoa ya, Mas. Semoga positif," ucap Kalea kemudian menghilang di balik pintu.
Javas tentu gelisah menunggu hasilnya. Sepagi itu, dia harus ke apotek karena rasa penasaran yang membumbung tinggi. Dia berdoa semoga yang diharapkan benar-benar terjadi.
Menunggu hampir sepuluh menit, pintu kamar mandi terbuka. Hal yang pertama kali menjadi perhatian Javas adalah wajah Kalea yang tampak murung. Dia mengerjapkan mata beberapa kali. Mencoba menahan rasa kecewanya karena tidak sesuai ekspektasi. Karena ada Kalea yang harus ditenangkan dan dijaga perasaanya.
"Bagaimana? Tidak masalah jika hasilnya masih negatif. Kita bisa berusaha lebih keras lagi," gumam Javas menenangkan.
Namun, ekspresi yang ditunjukkan Kalea selanjutnya, membuat dahi Javas mengernyit. Sedetik kemudian, Javas tahu akan jawabannya karena alat test tersebut disodorkan padanya.
Ada dua penanda. Untuk yang paling mahal, disana menunjukkan tanda 'plus'. Sedangkan di dua alat menunjukkan garis dua. "Apakah ini tandanya kamu sedang hamil?" tanya Javas dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Kalea mengulum bibirnya. Tak kuasa menahan cairan bening yang sudah membendung di pelupuk mata. "Iya, aku hamil, Mas!" teriak Kalea bahagia.
Javas tertawa bahagia dan membawa Kalea ke dalam pelukan. "Akhirnya. Terima kasih, Sayang." Ucapan terima kasih tak henti-hentinya Javas lontarkan. Dia bersyukur akhirnya bisa diberi kepercayaan oleh Tuhan.
__ADS_1
"Kita pulang hari ini saja ya, Mas? Aku sudah tidak sabar untuk periksa ke dokter dan mengabari semua keluarga," pinta Kalea memohon dengan puppy eyes-nya.
Javas mengecupi seluruh bagian wajah Kalea dengan penuh kelembutan. "Iya. Kita akan pulang hari ini juga. Aku akan pesan tiket setelah kita sarapan," jawab Javas menyetujui.
"Iya. Aku harus makan yang banyak dan bergizi agar anak kita cepat tumbuh dengan baik." Kalea juga membenarkan ucapan Javas yang mengharuskan dia untuk sarapan.
Javas menatap wajah sang Istri yang hari ini tampak pucat. Namun, hal tersebut tidak mengurangi sedikitpun kecantikannya. Tangannya bergerak menyingkirkan anak rambut agar tidak menghalangi pandangan.
"Aku mohon, jaga diri baik-baik agar anak kita juga sehat," ucapnya lembut. Kemudian, Javas Berlutut di hadapan sang Istri dan mengelus perut Kalea yang masih rata.
"Tolong kerjasamanya ya, Nak. Ibumu sehat, kamu juga sehat. Kita akan bertemu beberapa bulan lagi." Setelah mengucapkan hal tersebut, Javas mengecup perut Kalea yang di dalam terdapat darah dagingnya.
...----------------...
Pesawat yang ditumpangi Kalea dan Javas sudah mendarat di Bandara Soekarno-Hatta tepat pukul empat lewat lima belas menit sore. Saat keluar dari area bandara, ternyata Reza telah menunggu di lahan parkir yang tersedia.
Reza memindai koper yang berada di tangan Javas untuk dimasukkan ke bagasi. Sedangkan Kalea, dia sudah masuk lebih dulu ke kursi penumpang bagian belakang.
Setelah Javas dan Reza masuk, barulah mobil melaju membelah jalanan ibu kota yang seperti biasanya, yaitu macet di sore dan pagi hari.
"Mau makan dulu, Sayang? Kita bisa berhenti di restoran terdekat kalau kamu mau," tanya Javas penuh perhatian. Sejak tadi, Kalea duduk bersandar di bahu sang Suami demi mencari posisi duduk ternyaman.
"Boleh kita berhenti di warung Padang? Aku ingin makan rendang, Mas," pinta Kalea layaknya anak kecil yang meminta dibelikan mainan.
Tanpa menunggu lama, Javas pun meminta Reza untuk berhenti di warung Padang. "Za? Berhenti di warung Padang ya? Istriku ingin makan rendang," titah Javas yang segera diiyakan patuh oleh Reza.
Setelah menepi, Javas-lah yang turun untuk membelikan makanan pesanan sang Istri. Apapun yang Kalea inginkan, selagi sehat dan bisa, Javas akan berusaha tanpa meminta bantuan Reza maupun orang lain.
__ADS_1
Satu bungkus rendang beserta lauknya telah berada digenggaman. Javas kembali masuk dan menunjukkannya pada sang Istri. "Ini pesanan kamu, Sayang," ucapnya lalu memberikan pada Kalea.
Mata Kalea berbinar bahagia. "Terima kasih, Mas. Aku akan makan nanti saat tiba di rumah."
Setengah jam lamanya, mereka pun sampai di kediaman keluarga Kanagara. Saat baru saja turun dari mobil, Kalea telah disambut meriah oleh Bu Belinda, Kesha, Lintang, pak Tono, dan Bu Yuni. Ada juga seorang perempuan yang tidak diharapkan kehadirannya, tetapi ikut ada dalam deretan orang-orang yang Kalea sayang.
Riak wajah Kalea mendadak tak bersahabat. Ingin sekali dia menjambak rambut perempuan yang kini berdiri sok cantik bak putri. "Tuh, Mas. Dia datang lagi. Senang ya kamu, didatangi terus sama calon mantan tunangan," tunjuk Kalea pada Alika yang sok baik.
Javas menggelengkan kepalanya pelan. Tidak tahu alasan Alika datang ke rumah. Terakhir kali karena bertemu Alika, rumah tangganya tidak baik-baik saja. Kali ini, Javas tidak akan membiarkan hal seperti itu terjadi lagi.
Setelah menyalami para orang tua, Kalea memilih langsung pergi ke kamarnya. Rasa kesal karena kehadiran perempuan bernama Alika, membuat hatinya terasa dongkol. Dia duduk di sisi ranjang dan mengambil napas dalam-dalam agar emosinya tidak keluar.
Sedangkan di lantai bawah, Bu Belinda pun tak kuasa untuk meminta Alika pulang. Dia tidak memiliki alasan hingga tidak mengizinkan anak dari temannya itu datang ke rumah.
"Javas? Bagaimana perjalananmu kemarin?" tanya Alika bersikap lembut. Javas memutar bola matanya jengah.
"Menyenangkan. Oh iya, ada tujuan apa kamu datang kesini? Bukankah pesta resepsi telah selesai seminggu yang lalu? Apa kamu butuh sesuatu?" tanya Javas dingin dan datar.
"Aku hanya ingin berkumpul bersama keluargamu. Aku juga sudah menganggap Tante Belinda seperti ibuku sendiri," jawab Alika terkekeh pelan. Seakan pertanyaan Javas adalah sesuatu yang lucu.
"Keluarga? Sejak kapan kita menjadi keluarga? Ma? Mama tolong bicara padanya. Dia sudah tak selayaknya datang di acara-acara yang tidak diundang. Karena bagaimanapun, Kalea sudah tinggal disini. Perasaanya berhak dijaga. Tetapi, jika kamu ingin selalu mengunjungi Mama, aku bisa pindah sih," ucap Javas ketus.
Dia segera berlalu meninggalkan semua orang yang berada disana. Bu Belinda yang disebut namanya, hanya mampu menghela napas. Beliau akan bicarakan dengan temannya, Indi.
Beliau juga tidak tahu mengapa Alika jadi sering datang ke rumah. Biasanya, tidak pernah sesering ini. Hanya bila ada acara tertentu itupun jika Bu Belinda mengundangnya.
"Alika? Pulanglah, Nak. Tante hanya ingin menjaga keutuhan keluarga, Tante. Dulu saja, kamu jarang datang. Jadi, lebih baik seperti dulu saja. Karena sekarang, kondisinya sudah berbeda." Bu Belinda mempertegas semuanya agar Alika tak lagi datang dengan alasan apapun.
__ADS_1