
Sesuai janjinya, Javas membawa Kalea berjalan-jalan di atas hamparan pasir putih. Javas mengikuti langkah Kalea yang sejak tadi enggan untuk berhenti menyusuri pinggiran pantai. Ini adalah hari kelimanya berada di Bali. Itu berarti, dua hari lagi akan pulang ke ibukota.
"Mau cari apa sih?" tanya Javas karena istrinya itu seperti tidak memiliki lelah. Tenaganya tak habis-habis padahal sudah berjalan cukup lama.
"Tidak ada. Hanya ingin berjalan saja. Aku suka udaranya yang sejuk seperti ini," jawab Kalea tersenyum polos. Niat Javas ingin mengajak kembali ke hotel pun urung ketika melihat senyum sang Istri.
"Kita ke kafe itu saja bagaimana? Menikmati matahari tenggelam sambil makan malam. Sepertinya akan indah," ucap Javas mengiming-imingi.
Kalea terdiam sejenak. Mencoba memikirkan tawaran yang menggiurkan dari sang Suami. "Benar juga. Perutku juga sudah terasa lapar." Kalea berucap sambil memegangi perutnya.
Javas tersenyum puas. "Lebih baik kita makan terlebih dahulu. Bila melihat matahari tenggelam dari rooftop kafe, mungkin akan lebih indah."
Kalea mengangguk menyetujui. "Tapi, gendong ya," pinta Kalea manja.
Javas mengernyit heran. Sudah hampir lima hari setelah semenjak resepsi pernikahan diadakan, sikap Kalea berubah manja dan suka menangis jika keinginannya tidak terpenuhi.
Aneh sekali menurut Javas. Karena setahunya, Kalea tidaklah manja dan merengek seperti tadi. "Baiklah. Naik ke punggung ku sekarang." Walau demikian, Javas sama sekali tidak keberatan.
Setelah berjongkok di hadapan Kalea dan sang Istri telah naik punggungnya, Javas segera berjalan menuju kafe yang sudah menjadi incarannya sejak tadi. Dia ingin segera menikmati minuman dingin untuk menghilangkan dahaga di tenggorokan.
Sampai di depan kafe, Kalea meminta diturunkan. "Turunkan aku, Mas. Aku akan berjalan sendiri menaiki tangga. Rasanya pasti menyenangkan," ucap Kalea yang lagi-lagi terasa aneh bagi Javas.
Bukankah di rumah juga ada tangga untuk akses naik turun? Lalu, mengapa Kalea bersikap seolah-olah tidak pernah naik dan turun tangga?
Keanehan tidak sampai disitu saja. Ketika sudah duduk dan memesan meja, Kalea justru meminta rujak sebagai makan malamnya. Ingin tidak menyetujui, tetapi wajah memelas Kalea membuat Javas tidak tega.
"Makan nasi dulu ya, Sayang," pinta Javas lembut.
Kalea menggeleng. "Aku sedang tidak berselera makan, Mas. Baru membayangkannya saja, aku sudah mual," jawabnya sambil meringis.
Ketika Javas amati, wajah istrinya memang sedikit pucat. "Kamu sakit? Mau ke dokter?" tanya Javas mendadak khawatir.
Kalea menggelengkan kepalanya pelan. "Mungkin, hanya sedikit tidak enak badan."
Perbincangan keduanya harus terhenti ketika seorang pramusaji mendatangi mejanya untuk mengantarkan pesanan.
__ADS_1
"Permisi, ini pesanannya."
Kalea dan Javas mengangguk, mempersilahkan pramusaji tadi melakukan tugasnya. Ada makanan aneka seafood yang Javas pesan dan sayur-mayur sebagai sandingan.
Laki-laki itu tidak bisa jika makan tanpa sayur. Melihat sayur kangkung yang tersaji dengan indahnya, membuat air liur Kalea terasa ingin menetes. "Baiklah, Mas. Aku akan makan nasi terlebih dahulu menggunakan sayur kangkung. Sepertinya enak," ucap Kalea dengan mata yang tidak beralih menatap meja.
"Bagus. Sayur akan sehat untuk tubuh." Setelah mengatakan hal tersebut, Javas mengambilkan nasi beserta sayur yang Kalea inginkan terlebih dahulu. "Makan dulu, Sayang," ucapnya mempersilahkan.
Kalea makan dengan tenang. Hampir dua centong nasi telah Kalea habiskan dengan lahap. Namun, perutnya masih kurang kenyang sebelum menyantap rujak yang kini telah ada dalam hadapan.
Dia pun mulai memakannya. Rasa puas karena keinginannya terpenuhi, membuat senyum Kalea sejak tadi tak luntur. Javas tentu tidak bisa mengabaikan kondisi istrinya yang tampak berbeda akhir-akhir ini. Nanti, setelah berada di hotel, dia akan menanyakan hal ini pada sang Mama.
...----------------...
"Hallo, Ma?" sapa Javas untuk pertama kali saat sambungan telepon telah terhubung. Kalea sudah tidur sejak satu jam yang lalu. Malam ini, Javas bertekad untuk menanyakan keanehan-keanehan yang ditunjukkan sang Istri.
Javas hanya takut jika istrinya itu kemasukkan arwah. Semua orang tahu jika Bali memang indah. Namun, di samping itu ada hal-hal di luar nalar yang wajib dipatuhi bila berlibur ke pulau yang sering disebut Pulau Dewata.
"Kenapa, Vas? Kok telepon malam-malam begini?" Bu Belinda tampak heran. Takut ada sesuatu yang darurat karena anaknya menelepon pukul dua belas malam.
"Tidak masalah. Katakan saja, Nak," pinta Bu Belinda. Saat itu juga, Javas mulai bercerita keanehan sikap Kalea. Dia juga mengatakan jika sikap aneh itu sudah sejak acara resepsi digelar. Istrinya itu berubah sensitif dan lebih sering menangisi hal-hal yang menurutnya sepele.
Javas juga bercerita tentang keinginan Kalea yang ingin naik turun tangga karena terasa menyenangkan. Untuk yang terakhir, Kalea meminta rujak sebagai menu makan malamnya.
Bu Belinda mendengarkan dengan seksama. Dia tersenyum lebar dan bisa menyimpulkan setelah mendengar penjelasan dari Javas. "Jangan khawatir. Istri kamu baik-baik saja. Coba beli alat test kehamilan di apotek terdekat. Tetapi, kalau kamu masih ingin liburan dengan tenang, selesaikan dulu liburannya. Setelah pulang, baru kita akan ajak Kalea ke dokter," jelas Bu Belinda yang membuat Javas semakin dirundung kebingungan.
"Memangnya, Kalea sakit apa, Ma? Kenapa harus ke dokter?" tanyanya polos.
Bu Belinda yang berada di seberang sana, berdecak sebal. Anaknya adalah pemimpin perusahaan, tetapi untuk hal kecil seperti ini tak kunjung memahami. "Kamu dengar kan tadi Mama bilang apa? Coba beli alat test kehamilan di apotek terdekat. Kalea pasti tahu cara menggunakannya," jelas Bu Belinda yang membuat mata Javas seketika terbuka lebar.
"Berarti, besar kemungkinan Kalea sedang hamil, Ma?" tanya Javas berteriak namun tetap merendahkan suaranya.
"Iya. Makanya pulang dan periksa ke dokter. Mama senang mendengar kabar ini. Semoga istri kamu benar-benar hamil ya," ucap Bu Belinda penuh pengharapan.
Javas juga ikut mengaminkan. Dia sudah mengharapkan kehadiran sang Buah Hati dari Kalea. Semoga, apa yang diduga ibunya adalah suatu kebenaran.
__ADS_1
Setelah telepon ditutup, Javas kembali masuk ke kamar. Dia menutup pintu kaca yang menghubungkan dengan balkon dan menguncinya. Dia pun berbaring di samping sang Istri yang malam ini tidur begitu lelapnya.
Javas tersenyum dan memandangi wajah ayu di depannya. "Semoga saja dugaan Mama benar. Besok kamu harus tahu tentang ini, Sayang," gumam Javas sambil menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah Kalea.
Melihat Kalea yang menggeliat, Javas menepuk-nepuk punggung sang Istri penuh kelembutan. Dia tidak ingin istrinya itu terganggu karena gerakan tangannya. "Tidurlah lagi, Sayang. Kamu harus banyak beristirahat dan tidak boleh kelelahan," gumam Javas lagi lalu mengecup kening Kalea dan menekannya cukup lama.
Setelah wajahnya menjauh, Kalea justru membuka mata. "Tidur lagi, Sayang. Maaf jika gerakan ku mengganggu tidurmu." Javas merasa bersalah karena telah membangunkan sang Istri.
Kalea tersenyum lalu menggeleng. "Kenapa belum tidur? Ini sudah malam loh, Mas," ucapnya kembali memejamkan mata. Dia sangat nyaman berada dalam dekapan suaminya.
"Tidak. Aku hanya sedang memikirkan sesuatu."
"Memikirkan tentang apa? Katakan. Barangkali aku bisa membantu," cecar Kalea yang telah kembali membuka kelopak matanya.
"Memikirkan tentang sikap kamu yang akhir-akhir berubah." Mendengar hal tersebut, wajah Kalea tampak bermuram durja. Tatapan matanya tampak sedih dan kecewa. "Tetapi kenapa? Apakah aku benar-benar berubah?" tanya Kalea bingung.
"Ya. Kamu sangat sensitif akhir-akhir ini. Apakah kamu ingin memeriksanya ke dokter?" tanya Javas yang membuat Kalea justru salah paham.
"Aku tidak apa-apa, Mas. Apa aku terlihat seperti orang gila?" Dan kini, Kalea kembali menangis karena pertanyaan Javas barusan. Melihat itu, Javas terkekeh pelan.
"Jangan menangis. Aku tahu, mungkin ini pengaruh hormon saja. Kamu ingat kapan terakhir kali kedatangan tamu bulanan?" tanya Javas dan Kalea mulai berhenti menangis.
Dia mencoba mengingat kapan terakhir kali kedatangan tamu bulanannya. Rasanya, sudah lama tamu itu tidak berkunjung. "Sudah lama. Sebelum kita menikah di KUA. Saat itu, aku baru saja selesai datang bulan," jawab Kalea.
Senyum merekah tak bisa Javas tahan lagi. Apakah ini adalah pertanda baik? "Mau coba tes pakai alat tes kehamilan tidak? Karena, aku sudah bertanya pada Mama tentang sikap kamu yang berbeda akhir-akhir ini. Mama menyimpulkan jika kamu hamil."
Mulut Kalea menganga lebar. Kabar ini terlalu mengejutkan tetapi juga membahagiakan secara bersamaan. Kalea juga merutuki kebodohannya sendiri yang tidak menyadari.
"Oh iya, Mas. Mengapa aku sampai lupa jika tamu bulanan ku tak lagi datang. Besok, kita harus pergi membeli alat tes kehamilan, Mas. Aku sudah tidak sabar untuk mengeceknya sendiri." Kalea berucap penuh antusiasme yang tinggi.
Wajar. Hamil adalah sesuatu hal yang baru untuk Kalea walau pernah mengalami kegagalan dalam pernikahan. Karena semasa hidup bersama mantan suami, dia belum pernah memiliki seorang anak. Kalea sempat berpikir jika dirinyalah yang bermasalah.
Semoga, apa yang selama ini Kalea semogakan, tersemogakan.
"Kalau begitu, kita tidur dulu dan istirahat dengan baik. Besok pagi aku yang akan belikan untukmu," titah Javas dan Kalea mengangguk patuh. Dia tidak sabar menunggu hari esok tiba.
__ADS_1
Keduanya pun tidur saling memeluk. Kalea yang belum memejamkan mata, satu tangannya bergerak mengelus perutnya yang masih rata. 'Ya Tuhan. Semoga dugaan baik ini benar adanya,' gumam Kalea berdoa di dalam hati.