Salahkah Bila Aku Mendua

Salahkah Bila Aku Mendua
Bab 59. Cucu lucu


__ADS_3

Javas tidak pernah main-main dengan perkataannya. Laki-laki itu membawa Kalea menghadap ibunya dan akan mengatakan sejujurnya. Berulangkali Kalea mengatakan jika hal tersebut terlalu cepat. Namun, sekali Javas membuat keputusan, hal itu tidak bisa diganggu gugat.


"Bagaimana jika Tante Belinda mengira aku sudah isi duluan? Citraku akan buruk, Mas," protes Kalea ketika mobil yang dikendarai memasuki halaman rumah keluarga Kanagara.


"Tidak akan. Jika iya, aku akan jelaskan." Setelah berucap demikian, Javas turun lebih dulu untuk membukakan pintu di samping Kalea.


Kalea ingin protes tetapi sudah tidak dibelikan waktu lagi ketika pintu di sebelahnya terbuka. "Mas ..." rengek Kalea berharap Javas memberi belas kasihan.


"Ayolah. Kita sudah sama-sama dewasa, mama akan mengerti dan mendukung niat baik kita," jawab Javas lalu membopong tubuh Kalea begitu saja agar turun dari mobil.


"Turunkan, Mas! Aku bisa jalan sendiri," gerutu Kalea saat merasakan tubuhnya melayang di udara.


Beruntung, Javas langsung menurunkannya. Pada akhirnya, Kalea mengikuti langkah Javas yang memasuki rumah.


Sesampainya di dalam, Kalea disambut hangat oleh adik Javas, yaitu Kesha. "Eh! Ada kakak ipar. Masuk, Kak," sambut Kesha ramah.


"Mama dimana, Sha?" tanya Javas tidak ingin berbasa-basi.


Hal itu membuat Kesha mengerucutkan bibirnya kesal. "Datang-datang bukannya mengucap salam, malah langsung bertanya tentang Mama. Lihat aku, Bang. Apakah kamu sudah lupa jika memiliki seorang adik?" racau Kesha pura-pura marah.


"Drama." Javas berucap sambil menyentil kening Kesha pelan. Kalea yang melihat itu, hanya bisa menggelengkan kepala pelan. Kakak-beradik di depannya memang bagai kucing dan tikus.


"Tante Belinda di rumah kan, Sha?" Kini giliran Kalea yang bertanya.


"Ada, Kak. Lagi mandi di atas. Paling, sebentar lagi mama turun. Tunggu saja, Kak. Mau aku buatkan minum?" tawar Kesha yang lagi-lagi mendapatkan jitakan di kening.


"Aw! Abang kenapa sih?" kesal Kesha sambil mengusap keningnya.


"Kalau mau ambilkan minum tuh tidak usah ditanya. Langsung dibuatkan saja. Yang niat sedikit lah," jawab Javas lalu menarik lengan Kalea untuk duduk di sofa ruang tengah, meninggalkan Kesha yang sedang komat-kamit menyumpahi dirinya.


"Mas. Jangan gitu lah sama adik sendiri. Kasihan tuh Kesha," bela Kalea untuk Kesha.

__ADS_1


"Tuh, dengarkan, Bang. Kak Kalea memang paling tahu apa isi hatiku," puji Kesha lalu berlalu menuju dapur dengan menghentak-hentak kaki.


Bukannya takut, Javas justru tertawa renyah melihat tingkah adiknya yang sedang dalam model merajuk. Sedangkan Kalea, dia lagi-lagi menggelengkan kepala. Umur Javas bahkan sudah menginjak kepala tiga. Namun sifat dan perilakunya terkadang masih mirip dengan anak usia tujuh tahun. Sedang aktif-aktifnya.


"Eh, ada calon mantu!" ucap suara dari arah tangga yang mengalihkan perhatian Kalea juga Javas. Bu Belinda tengah menuruni anak tangga dengan penampilannya yang sederhana. Hanya daster rumahan tetapi Kalea yakin jika harganya bukan seperti daster miliknya.


Kalea tersenyum membalas sapaan tersebut. "Iya, Tante. Mas Javas yang mengajak aku kesini. Katanya, ada sesuatu yang ingin Mas katakan dengan Tante," jawab Kalea panjang lebar.


Tidak langsung menjawab, Bu Belinda memeluk Kalea terlebih dahulu. Kemudian, mengambil posisi duduk di single sofa yang menghadap langsung ke sofa yang diduduki pasangan muda di depannya.


"Perihal apa yang ingin kamu katakan, Vas? Sepertinya sangat serius," tanya Bu Belinda menatap sang Putra.


Javas mengangguk. "Iya, Ma. Ini sangat serius karena menyangkut masa depan Javas."


Dahi Bu Belinda semakin mengkerut dalam. Tidak paham kemana arah pembicaraan sang Putra. "Maksudnya? Bisa kamu jelaskan dengan benar?" tanyanya lagi menuntut penjelasan.


Javas menarik dan menghembuskan napasnya terlebih dahulu sebelum mengatakan maksud kedatangannya. "Jadi begini, Ma, aku dan Kalea memutuskan untuk menikah besok senin di KUA terlebih dahulu. Untuk resepsi, kita bisa adakan lain kali. Yang terpenting, Kalea sudah resmi dulu menjadi istriku," jelas Javas panjang lebar.


"Ini maksud kamu, Senin lusa ini? Tidak salah kamu?" tanya beliau tidak menyangka.


Javas dan Kalea mengangguk serempak hingga membuat jantung Bu Belinda seakan berhenti berdetak. "Jangan katakan jika kamu sudah membuat Kalea melendung sebelum waktunya?" Beliau sungguh panik dan khawatir dengan pernyataan tiba-tiba anaknya.


Javas berdecak. Kalea memang pandai membaca kemungkinan yang akan terjadi. Dugaannya benar tentang reaksi yang akan ditunjukkan sang Mama.


"Tidaklah, Ma. Kami masih menjaga martabat dan kehormatan kami masing-masing. Memangnya, menikah di KUA identik dengan hamil duluan? Sekarang justru lagi jadi trend, Ma," jelas Javas meluruskan kesalahpahaman.


Baru setelah itu, Bu Belinda bisa bernapas dengan lega. "Mama pikir karena hal itu. Syukurlah kalau begitu. Lebih cepat lebih baik. Jadi, besok mau ke rumah orang tua Kalea?" tanya Bu Belinda mulai bisa diajak diskusi.


"Besok pagi ya, Ma. Bagaimana pun, pak Tono tetap menjadi wali untuk Kalea, Ma. Kita harus melamar Kalea secara resmi pada orang tua yang merawat. Terlepas dari fakta yang sudah diketahui," jelas Javas mengatakan rencananya.


Bu Belinda mengangguk membenarkan. Hal tersebut tidak boleh dilewatkan. Karena pernikahan adalah sesuatu yang sakral.

__ADS_1


Sedangkan Kalea, dia justru terpukau dengan pemikiran Javas. Dia sudah menyusun semua dengan sebaik mungkin agar tidak ada kesalahan. Ya. Ayahnya, bukan. Lebih tepatnya ayah asuhnya atau bisa disebut pamannya, berhak atas dirinya.


Kalea tidak akan hidup sampai sekarang tanpa uluran tangan pak Tono dan Bu Yuni.


"Kalea? Bagaimana pendapatmu?" tanya Bu Belinda yang berhasil menyadarkan lamunan Kalea.


"Iya, Tante. Aku akan setuju jika itu yang terbaik. Mereka tetaplah orang tua yang sudah merawat dan menjagaku hingga dewasa," jawab Kalea yang beruntung bisa cepat menguasai diri.


"Baik. Semoga semuanya dipermudah. Mama sudah tidak sabar untuk menimang cucu. Langsung buat ya kalau sudah sah," titah Bu Belinda tanpa beban. Seakan membuat anak layaknya membuat adonan roti.


Kalea tersenyum meringis. Tidak tahu harus menjawab apa. Namun, pikirannya teringat pada perkataan Javas beberapa minggu yang lalu. Sangat mirip dan mengarah ke hal yang sama.


"Oh ya. Tante juga ingin bertanya sesuatu. Kamu tidak dipaksa kan, oleh Javas?" tanya Bu Belinda penuh selidik.


"Ma!" tegur Javas tidak terima. Beruntung, Kalea menggeleng menandakan jika perempuan yang dicintainya tidak merasa keberatan.


"Tidak, Tante. Aku melakukan ini karena memang sudah saatnya. Sebagai seorang perempuan, kepastian adalah suatu hal yang dinanti. Aku justru merasa bahagia karena Mas Javas mengambil langkah yang tepat. Hubungan kami juga sudah berjalan dalam waktu yang tidak sebentar." Kalea menjawab panjang lebar.


Sedangkan Javas, tersenyum manis menanggapi. Kalea memang idaman. "Dengar tuh, Ma. Kami saling mencintai dan tidak ada unsur pemaksaan atau ancaman apapun. Lagi pula, bagaimana Javas bisa hidup tenang sebelum bisa memberikan cucu-cucu yang lucu untuk Mama," sahut Javas merasa di atas awan.


Bu Belinda memutar bola matanya jengah. "Bagus. Segera buatlah!" titah beliau lagi lalu beranjak dari duduknya.


Sebelum benar-benar berlalu, suara Kesha terdengar menginterupsi. "Berarti, sebentar lagi aku akan memiliki keponakan-keponakan yang lucu?" tanyanya antusias.


"Tepat sekali!" jawab Bu Belinda.


Javas hanya bisa menepuk jidatnya. Sedangkan Kalea, dia menutup wajahnya malu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_1


__ADS_2