
Dua bulan kemudian. Produksi perhiasan yang Kalea bangun sudah 50% jadi. Dia ingin, semua desain perhiasannya tidak dimiliki toko perhiasan lain. Kalea ingin menjual produk yang benar-benar produknya.
Untuk tokonya juga hampir jadi dan sebentar lagi akan diresmikan. Karena membeli sebuah ruko yang sudah jadi, Kalea hanya perlu merenovasi sesuai keinginannya. Ini usaha pertama Kalea yang tentunya banyak pelajaran yang bisa diambil.
Di sisi itu, ada Javas yang setia menemani dan memberikan saran membangun untuknya. Laki-laki itu membantu Kalea membangun bisnis pertamanya dengan lancar. Kalea akui, Javas memang sangat luar biasa. Hampir semua hal yang membutuhkan uang, Javas lah yang membayarnya.
Kalea berjanji setelah uang modalnya kembali, akan mengembalikan semua uang Javas.
"Selamat untuk semuanya, Sayang. Tidak sia-sia waktu belajarmu selama satu tahun di luar negeri. Kamu memang sangat berbakat," puji Javas sambil merangkul bahu perempuan yang dicintainya.
Kalea tersenyum lebar. "Ini semua tidak lepas dari bantuan Mas dan Tante Belinda. aku bersyukur karena ada orang-orang hebat di sisiku seperti kalian," jawabnya lalu balas memeluk pinggang Javas.
"Lintang belum kesini ya? Lama sekali dia," gumam Kalea sambil celingukan barangkali adiknya itu sudah datang.
"Oh iya. Dia tadi meneleponku dan mengatakan tidak bisa datang kesini. Katanya, dia ada acara dengan teman-temanya di kampus," jelas Javas yang membuat Kalea mengerjapkan kelopak mata beberapa kali.
"Kenapa dia menelepon Mas? Bukannya meneleponku? Apa dia sudah lupa jika akulah kakaknya?" gerutu Kalea yang membuat Javas terkekeh.
"Dia memiliki alasan. Katanya, ponselmu di luar jangkauan. Bagaimana bisa dia menghubungimu coba?"
Setelah mendengar hal tersebut, Kalea pun mencari keberadaan ponsel yang berada dalam tas. Benar saja. Ponselnya mati tak bernyawa. "Pantas. Ponselku kehabisan daya," gumam Kalea meringis malu.
Javas tersenyum menanggapi. Tangannya bergerak untuk mengusap puncak kepala Kalea lembut. "Aku harus pergi dulu. Jangan lupa! Nanti malam pukul tujuh aku jemput," pamit Javas lalu menyodorkan tangan untuk Kalea salimi.
Kekehan renyah pun terdengar. Kalea menerima uluran tangan Javas dan mencium punggung tangannya. "Pasti," jawabnya yakin.
__ADS_1
Setelah itu, Javas berlalu menuju mobilnya terparkir. Hari ini ada rapat penting dari kesatuan pemilik hotel di ibu kota. Tentu saja hal tersebut tidak bisa diwakilkan.
Untuk Kalea sendiri, kini perempuan itu tinggal di kost. Tentunya karena mempertimbangkan banyak hal termasuk keuangan. Sebenarnya, pak Tono dan Bu Yuni meminta Kalea untuk tinggal bersama mereka. Namun, Kalea menolak dengan halus. Dia mengatakan ingin hidup mandiri.
Walau pada kenyataannya, Kalea merasa seperti ada tembok besar sebagai pemisah antara dirinya dan orang tua. Bukan Kalea menjaga jarak. Namun, jarak itu seperti telah tercipta otomatis.
Malam harinya, Kalea telah siap dengan penampilan yang elegan. Malam ini, Bu Belinda mengajak Kalea serta Lintang untuk menghadiri acara ulang tahun beliau. Sebenarnya, bukan acara ulang tahun pada umumnya sih.
Bu Belinda kurang suka dengan perayaan ulang tahun menggunakan kue dan lilin. Beliau lebih senang bila menggunakan tumpeng dan mengadakan doa bersama. Berharap umurnya membawa manfaat.
Tin. Tin.
Suara klakson mobil milik Javas terdengar nyaring dari bawah. Karena kamar Kalea berada di lantai dua, suaranya tentu jelas terdengar. Setelah menyambar clutch dan memakai heels yang tingginya hanya lima senti, Kalea turun menuju lantai dasar.
Dia langsung menuju mobil Javas yang terparkir di depan pintu gerbang kosannya. Setelah menutup pintu mobil, Kalea menatap Javas yang masih terpaku di tempat sambil memandangnya.
Javas menggeleng. "Sebab kau terlalu indah dari sekedar kata. Dunia berhenti sejenak menikmati indah mu," jawabnya dengan lagu. Kalea mengulum senyum salah tingkah.
Padahal hanya lagu. Namun, berhasil menembus ke jantung. Javas tersenyum manis dan mulai menjalankan mobil. Dua puluh menit membelah jalanan, keduanya tiba di kediaman keluarga Javas.
Sudah ada beberapa kerabat dekat di rumah tersebut yang membuat Kalea merasa gugup saat baru memasuki rumah. Namun, hal itu menguar ketika Javas memperkenalkan satu per satu keluarganya.
Acara doa pun dimulai dan berlangsung khidmat. Setelah doa selesai, baru acara makan-makan diadakan. Banyak hal Kalea ketahui selama berada di dekat keluarga Javas. Yang paling penting adalah, mereka tidak pernah membedakan seseorang dari si kaya atau si miskin.
Pendidikan yang tinggi dan adab yang baik adalah keseimbangan. Karena sekarang, kebanyakan orang yang berpendidikan tinggi tetapi adabnya tidak baik. Mereka sombong dan membanggakan setumpuk ijazah dari universitas ternama, hingga lupa jika semua itu tidak ada artinya tanpa menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.
__ADS_1
"Terima kasih karena sudah datang ya, Sayang," ucap Bu Belinda tersenyum bahagia. Semua kerabat sudah pulang ke rumah masing-masing. Di dalam rumah besar itu, tinggallah Kalea, Javas, Lintang, Bu Belinda dan Kesha.
"Terima kasih juga karena Lintang sudah menyempatkan datang. Jangan sungkan untuk main ke rumah Tante ya," sambung beliau beralih pada sosok Lintang yang duduk di sebelah kiri Kalea. Sedangkan Javas, laki-laki itu duduk di samping kanan Kalea.
"Sama-sama, Tante. Justru saya berterima kasih karena Tante telah sudi mengundang saya dan menghidangkan banyak sekali makanan. Tante begitu peduli pada anak kost seperti saya," jawab Lintang sambil terkekeh sendiri.
Hal itu mengundang gelak tawa dari semua. Kalea hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah sang Adik yang terlewat jujur.
"Oh iya, apakah kamu sudah mendapatkan pekerjaan? Jika belum, mintalah bantuan Javas untuk memasukkan kamu ke perusahaan," ucap Bu Belinda lagi.
"Belum sih, Tan. Saya sudah mengirim lamaran kerja satu bulan yang lalu. Namun, sampai saat ini belum ada jawaban. Tante tahu sendiri jika persaingan dunia kerja itu kejam," jawab Lintang lagi. Yang lain hanya menyimak pembicaraan tersebut.
"Kalau begitu, masuklah ke perusahaan kami. Itu tidak berarti, kamu akan masuk dengan mudah. Kirimkan surat lamaran kerjamu dan tim ku akan melihat seberapa besar kemampuan kamu. Karena kamu adik dari Kalea, bukan berarti kamu bisa masuk lewat jalur orang dalam ya," kekeh Javas menggoda Lintang.
"Harus seperti itu dong. Dia harus di test dan jangan kasih masuk kalau tidak sesuai kriteria perusahaan. Keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia," sahut Kalea menyuarakan usulnya.
Gelak tawa kembali terdengar. Lintang seperti tidak masalah dengan hal tersebut. Memang kejujuran itu penting untuk memulai segala hal. "Serius ini, Kak? Berarti, saya bisa kirimkan CV hari ini juga ya?" tanya Lintang memastikan.
Tentu saja Javas mengangguk. "Serius. Kirimkan saja dan tim kami akan mengirim balasan sebelum lima belas hari kerja. Selamat mencoba dan semoga berhasil ya. Aku tidak bisa membantu banyak. Hanya kamu yang bisa menyelamatkan dirimu sendiri. Selama itu, tunjukkan kemampuan terbaikmu."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...mampir juga kesini yuk 👇...
...
__ADS_1
...