Salahkah Bila Aku Mendua

Salahkah Bila Aku Mendua
Bab 71. Terkuak


__ADS_3

"Berarti, dua hari lagi sudah beres ya, Pak?" tanya Kalea setelah mendengar penuturan mandor yang menangani toko perhiasannya.


"InsyaAllah, sudah, Bu. Bisa jadi, besok sore kalau tidak ada kendala, kami bisa lembur dan menyelesaikan semua," jelas mandor tersebut ramah.


Kalea menganggukkan kepala tanda paham. Ini adalah kabar baik. Dengan begitu, dia bisa membuka tokonya secepat mungkin. Untuk perhiasan yang sedang dalam proses keling, hampir 80% selesai sesuai dengan permintaan dan persediaan emas mentah.


"Alhamdulillah kalau begitu, Pak. Semoga besok sudah selesai ya. Saya sudah tidak sabar ingin segera meresmikan," ucap Kalea bahagia.


Untuk tempat produksi perhiasannya, berada tidak jauh dari toko perhiasan. Mungkin sekitar lima ratus meter jaraknya. Kalea melirik jam di pergelangan tangannya yang sudah menunjukkan pukul sebelas siang.


Karena sudah tidak memiliki kegiatan, Kalea memilih berjalan kaki menuju produksi perhiasan miliknya. Hitung-hitung sambil menikmati udara panasnya ibu kota.


Saat dalam perjalanan dan hampir sampai, Kalea melihat ada motor yang berjalan pelan di belakang Kalea, seperti mengikuti dirinya. Dirasa mencurigakan, Kalea mencari keberadaan ponselnya untuk menghubungi Javas.


Yang membuat Kalea semakin ketakutan adalah, jalanan tampak sepi dan seperti tidak ada pejalan kaki lainnya di trotoar. Maklum. Para pekerja akan beristirahat dan keluar mencari makan pukul dua belas.


Kalea semakin mempercepat langkah saat motor itu akan mendekati dirinya. Bersamaan dengan itu, teleponnya diterima. "Halo, Mas. Aku sedang berjalan kaki menuju tempat produksi. Ada orang mencurigakan yang mengikuti. Aku harus bagaimana?" ucap Kalea tanpa basa-basi.


"Lari! Kalau ada semacam toko, masuklah kesana dan beli! Aku akan segera menyusul!" Javas berucap panik di seberang sana.


"Jangan matikan ponsel! Tetap biarkan terhubung."


Kalea menganggukkan dan pandangannya mengedar mencari sebuah toko apa saja. Namun sayang, dia tidak menemukannya karena di sekitar jalanan yang dia lewati, kebanyakan di dominasi oleh perusahaan tinggi.


Saat melihat ada jalan tikus, Kalea berpikir untuk masuk kesana. Namun, ketika mengingat jika penguntit memakai motor, hal tersebut pun urung.


"Ya Tuhan, bagaimana ini? Tolong lindungi aku," ucap Kalea berdoa lalu lari sekencang yang dia bisa. Saat Kalea menoleh ke belakang, motor itu masih setia mengikuti.


Jantung Kalea rasanya ingin lepas dari tempatnya. Tempat produksi emasnya sudah terlihat dari tempatnya berlari. Dengan sekuat tenaga, Kalea mempercepat larinya tetapi nahas, Kalea terjatuh dan tersungkur di atas paving trotoar.


Motor itu semakin mendekat dan berhenti tepat di samping Kalea. Rasanya, nyawa Kalea telah pergi dari raga.


"Mau apa?" tanya Kalea mencoba memberanikan diri, walau tubuhnya sudah bergetar ketakutan.


Seseorang tersebut membuka helm full face yang dikenakan. Namun, dia tetap memakai maskernya dan berucap. "Kenapa harus lari? Saya bisa mengantar Anda sampai di tempat tujuan."

__ADS_1


Bulu kuduk Kalea meremang. Dia tidak tahu siapa pemilik wajah dibalik masker. Dia tidak mengenalinya.


"Tidak perlu. Saya bisa jalan kaki," tolak Kalea berusaha bersikap setenang mungkin.


"Ayolah. Jangan sungkan," tawarnya yang membuat Kalea mengernyit. Tiba-tiba seperti mengenal suara tersebut.


"Apakah kita pernah bertemu? Mengapa saya merasa mengenali suara Anda? Dengan tujuan apa Anda melakukan hal ini pada saya? Membuntuti saya dan mengusik ketenangan," cecar Kalea mulai memberanikan diri.


Orang tersebut tampak gelagapan dan membuang pandangan. Bahkan, Kalea cukup mengenali sorot mata itu. Siapa sebenarnya? Apakah dia juga yang telah menerornya tadi pagi? Kalea seketika ingat dan melihat ke belakang motor. Dan benar saja, nomor kendaraannya ditutup.


Merasa kemarahan berada di ubun-ubun, Kalea mengayunkan kakinya untuk menendang motor tersebut hingga ...


Brak!


Motor dan orang tersebut terjatuh ke aspal. Kalea kembali berlari dan kali ini cukup kencang. Namun, gerakan orang pembawa motor itu lebih cepat bangkit dan..


Brak.


"Aaargh!" Pekikan kencang penuh kesakitan terdengar pilu. Kalea terserempet motor tersebut hingga tubuhnya kembali terjatuh di atas trotoar. Seperti tak memiliki daya, Kalea tergelatak begitu saja.


Orang tersebut turun dari motor dan berjongkok di sebelah Kalea. "Ini belum seberapa. Saya tidak akan membiarkan kamu mati dengan mudah. Saya akan siksa perlahan dengan teror seperti ini. Tunggu hari esok," ucap seseorang tersebut yang masih bisa Kalea dengar jelas.


Rasa sakit di tubuhnya hampir membuat Kalea pingsan. Namun, sekuat tenaga dia menahan. Dia harus membuka masker yang dikenakan agar segera tahu siapa pelakunya.


Dengan sisa tenaga yang ada, Kalea menahan kaki seseorang tersebut yang akan beranjak. "Tunggu," lirih Kalea meringis menahan sakit.


"Lihat itu!" titah Kalea ke arah belakang. Seseorang orang tersebut menoleh dan dengan segera, Kalea menarik pengait di telinga pelaku.


Betapa terkejutnya Kalea ketika tahu siapa pelakunya. Ini lebih di luar dari perkiraannya. Orang tersebut tampak marah dan menatap Kalea nyalang.


"Kenapa? Sekarang kamu sudah tahu siapa saya? Jangan kamu berpikir mudah untuk menangkapnya. Lihat saja pembalasannya," ucap seseorang tersebut tampak geram.


Kalea tertawa sinis. Tawa yang begitu menggelegar dan cukup menakutkan. Hilang sudah semua rasa sakit di tubuhnya.


"Apakah Anda melihat jika jalanan disini dilengkapi CCTV? Selamat! Anda benar-benar sudah bunuh diri. Entah Anda mempunyai masalah apa pada saya. Saya rasa, Anda kurang kerjaan," ejek Kalea tak ingin lemah.

__ADS_1


Wajah seseorang tersebut tampak panik, marah, takut, sekaligus ingin menelan Kalea hidup-hidup. "Saya bukan Kalea yang dulu." Kalea kembali berucap tegas.


"Sebentar lagi, suami saya datang. Pergilah dan jangan ganggu saya lagi. Jika sampai itu terjadi, jangan harap Anda bisa hidup tenang," ucap Kalea jumawa. Dia mengambil posisi duduk di trotoar dengan santainya.


"Kamu pikir, jika saya tidak lagi mengganggu, hidupmu akan tenang?" Seseorang tersebut tertawa meremehkan.


"Kamu salah besar. Ada orang lain yang lebih dendam atas perbuatan selingkuhan kamu itu! Yang pasti, dia akan menghancurkan hidupmu!"


Kalea mengernyit bingung. Selingkuhan? Apa yang dimaksud pria paruh baya di depannya adalah Javas? Memangnya, apa yang dilakukan suaminya?


"Kamu pasti terkejut kan? Selingkuhanmu itu—"


"Kalea!"


Belum sempat pria paruh baya itu menyelesaikan kalimatnya, suara Javas sudah terdengar. Pria tersebut langsung pergi dari hadapan Kalea dengan memacu motornya cepat.


Kalea termenung. Memangnya apa yang dilakukan Javas?


"Apa yang terjadi? Apa yang sudah dia lakukan padamu? Reza! Kejar dia dan kerahkan semua pengawal! Dia harus ditangkap detik itu juga!" Javas berucap panik dan penuh penekanan.


Lamunan Kalea buyar ketika merasakan ada tangan besar yang membopong tubuhnya. Javas membawa Kalea menuju mobil dengan wajah panik dan ketakutan.


"Apa yang terjadi? Katakan! Kita akan ke rumah sakit sekarang juga," ucap Javas tak beraturan.


Dia ketakutan ketika melihat tubuh istrinya dipenuhi luka lecet. "Aku tidak apa-apa, Mas. Aku sudah tahu siapa pelakunya. Dia tidak lain adalah orang terdekat," ungkap Kalea yang membuat Javas membuka matanya lebar. Andai dia sedang dalam kondisi menyetir, mungkin dia akan menginjak rem dadakan.


Beruntung, ada pengawal yang mengendarai mobil.


"Siapa?" tanya Javas tidak sabar.


"Apakah kamu pernah terlibat sesuatu dengannya? Apa yang sudah kamu lakukan?" Pertanyaan itu berhasil menghujam jantung Javas. Bukan karena pertanyaannya. Melainkan karena nada bicara Kalea yang terkesan menuduh.


"Siapa? Aku tidak merasa melakukan sesuatu."


"Yudi Abysa. Ayah Zoni," ungkap Kalea yang membuat Javas bungkam seribu bahasa.

__ADS_1


__ADS_2