
Kalea membuka lemari pendinginan untuk mencari bahan makanan apa yang akan dia masak pagi itu. Melihat tidak banyak bahan makanan, hanya ada susu UHT, coklat batang, dan telur, Kalea memilih untuk membuat bread pudding.
Berhubung di meja makan juga terdapat roti tawar yang semalam Reza bawa bersama makan malam pesanan Javas. Tangan Kalea mulai lincah membuat sesuatu yang sudah hapal di kepala.
Setelah selesai, Kalea memasukkan ke Oven dan memanggangnya selama lima belas menit. Sambil menunggu, Kalea beralih membuat fla-nya.
Javas datang ke meja makan dan bersamaan dengan itu, pudding telah siap untuk disantap. Mencium aroma coklat yang menguar, perut Javas mendadak berbunyi. Dia sangat menyukai rasa segala bentuk coklat.
"Masak apa istriku, Sayang?" tanya Javas sambil mendekat pada Kalea yang saat ini sedang sibuk menata makanan.
"Istri?" tanya Kalea dengan dahi mengkerut heran.
Javas tertawa. "Anggap saja sedang latihan jika suatu saat nanti benar kamu akan aku miliki," jelas Javas menjawab kebingungan Kalea.
"Ada-ada saja," jawab Kalea tersipu malu.
"Sudah siap. Mau makan sekarang?" tawar Kalea yang segera mendapat anggukan dari Javas. Tangan Kalea kembali lincah mengambil bread pudding dengan memotongnya terlebih dahulu. Setelah itu, Kalea berikan Fla di atas pudding tersebut lalu menghidangkannya di hadapan Javas.
"Cobalah. Mas tidak masalah bukan, kalau makan bread pudding di pagi hari?" tanya Kalea memastikan.
"Aku akan makan apapun yang kamu masak. Aku suka rasa coklat. Kamu pandai mengolahnya. Ini enak sekali dan terima kasih banyak," ucap Javas panjang lebar yang membuat Kalea bingung harus menjawab yang mana dulu.
Hanya bisa geleng-geleng kepala lalu ikut duduk di samping Javas. Memperhatikan Javas makan dengan lahap membuat Kalea tersenyum senang. "Mas suka rasa coklat ya? Jarang sekali sih ada laki-laki yang suka rasa coklat," tanya Kalea belum Mengalihkan pandangan.
"Sangat suka semua yang berbau coklat. Kamu harus catat dan ingat," pinta Javas dengan mulut penuhnya. Hal itu membuat Kalea tertawa dan mengangguk mengiyakan saja.
Kalea juga ikut bergabung untuk sarapan. Tepat setelah sarapan selesai, ponsel Kalea yang tergeletak di atas meja berdering. Hal itu sontak berhasil mengalihkan perhatian Javas dan melihat ke layar ponsel Kalea yang berkedip-kedip.
"Siapa?" tanya Javas saat mendapati raut wajah Kalea penuh binar.
__ADS_1
Kalea menunjukkan layar ponsel pada Javas yang terdapat nama 'KIMI' di nama penelepon. Melihat wajah Javas yang bingung, Kalea pun bersuara.
"Dia sahabat aku yang saat ini ada di Singapura," jawab Kalea lalu segera menerima sambungan telepon.
Javas hanya mengangguk dan mempersilahkan Kalea untuk menerima panggilan. Melihat Kalea yang begitu antusias menanggapi ocehan seseorang di seberang sana, Javas yakin jika Kalea sangat dekat dengan sosok di seberang sana.
Hingga telepon terputus, Kalea menatap Javas yang kini sedang menatapnya. "Kenapa, Mas?" tanyanya sambil mengangkat dagu.
Javas menggeleng lalu tersenyum lebar. "Sepertinya kamu sangat dekat dengan sahabatmu itu," tebak Javas yang segera dibenarkan oleh Kalea.
"Sahabatku itu baru saja pulang dari luar negeri. Dia mengajakku bertemu siang nanti. Boleh tidak jika aku meminta izin selesai bekerja lebih awal?" tanya Kalea memohon.
Javas nampak tak suka. "Memangnya, setelah bertemu sahabatmu, kamu mau kemana?"
"Tentu saja menginap bersama Kimi. Dia hanya sebentar di Indonesia. Jadi, kami berniat untuk menghabiskan waktu bersama," jelas Kalea dan Javas mengangguk-anggukan kepala.
"Yang benar saja. Jika aku ajak Kimi menginap disini, bisa-bisa hubungan kita akan terbongkar, Mas." Kalea tidak habis pikir dengan pemikiran Javas.
"Baiklah. Berarti, pagi ini kamu harus bersamaku hingga siang nanti. Aku tidak bisa bila sore hari tidak bertemu kamu. Sebagai gantinya, kamu akan menemaniku di kantor sampai waktunya tiba kamu bertemu sahabatmu." Javas membuat kesepakatan.
Kalea tampak menimbang-nimbang terlebih dahulu. Apakah tawaran Javas tidak terlalu beresiko?
"Bagaimana jika orang bisa langsung mengetahui hubungan kita jika aku datang ke kantor Mas? Belum lagi, perusahaan milik Mas kan sangat besar. Pasti banyak karyawan yang bekerja disana," ucap Kalea menjelaskan keresahan hatinya.
Javas tersenyum miring. "Perusahaan ku besar bukan berarti hanya memiliki satu pintu bukan? Aku memiliki pintu rahasia yang hanya diketahui oleh Reza dan aku. Jadi, apakah kamu sudah berubah pikiran, Sayang?" tawar Javas lagi.
Pada akhirnya, Kalea mengangguk setuju saja. Malas sekali jika harus mendebat Javas dan sudah bisa dipastikan, itu tidak akan selesai dalam waktu yang sebentar.
..................
__ADS_1
Perusahaan Kanagara Investama ternyata lebih besar dan megah dari perkiraan Kalea. Gedungnya saja ibarat akan menyundul langit.
Javas langsung meminta Reza untuk membawa mobil ke basemant rahasia. Disana juga, terdapat lift tersembunyi sebagai alat untuk naik ke lantai dimana ruangan Javas berada.
Kalea dibuat melongo karena kehidupan orang kaya ternyata serumit itu. Membayangkannya saja, Kalea sudah dibuat pusing.
Setelah tiba di ruangan Javas, Reza pamit untuk mengurus pekerjaan. Sedangkan Kalea, dia sudah tidak peduli dengan sekitar karena ruangan Javas sangatlah mewah. Dari lantai yang entah ke berapa, Kalea bisa melihat pemandangan ibu kota dari ketinggian.
Ruangan Javas ini hampir semua terbuat dari dinding kaca. Mengingat itu, Kalea yakin jika seandainya dia bekerja dan berada di tempat seindah itu, dia tidak akan bosan.
"Kamu suka melihat pemandangan di bawah ya?" tanya Javas yang tidak tahan untuk bertanya.
Kalea mengangguk lalu mengalihkan perhatian pada Javas. "Aku sedang membayangkan seandainya pendidikan ku tinggi dan bisa bekerja di perusahaan sebesar ini." Ucapan Kalea seketika membuat Javas terenyuh. Dia mendekat dan memeluk Kalea dari belakang.
"Kamu bisa ikut denganku setiap hari agar bisa bekerja di perusahaan ini. Nanti juga, kita akan pergi ke hotel dimana awal aku tinggal. Itu pekerjaan ku setiap hari. Mengecek situasi perusahaan dan hotel keluarga. Sebenarnya, masih ada beberapa usaha keluarga lainnya. Namun, ada orang kepercayaan yang sudah menghandle nya."
Mendengar penjelasan Javas panjang lebar tentang usaha keluarganya, hal itu membuat Kalea menelan saliva. Apalah daya Kalea yang hanya remahan rengginang. Jangankan perusahaan, uang saja pas-pasan. Kalea tertawa sendiri mengingat hal tersebut.
"Kenapa malah tertawa? Kamu tidak percaya padaku?" tanya Javas dengan tatapan memicing.
"Tidak. Aku hanya sedang takjub. Kalau aku, jangankan perusahaan, uang saja pas-pasan," jawab Kalea meringis malu.
Javas tertawa. "Menikahlah denganku maka kamu juga akan memiliki apa yang aku punya. Semua untukmu dan anak-anak kita."
Kalea tertegun dengan pernyataan Javas baru saja. Apakah kalimat tersebut sama saja dengan sebuah lamaran?
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...jangan lupa kasih dukungan semampu kalian ya🌹...
__ADS_1