
Pagi kembali menjelang. Zoni terbangun dari tidurnya setelah samar-samar mendengar suara ketukan pintu dan bunyi bel di lantai bawah. "Siapa yang datang sepagi ini?" gumam Zoni merasa kesal.
Namun, saat ingat jika semalaman Kalea tidak pulang, Zoni membuka mata lebar-lebar dan bergegas membukakan pintu. Zoni akan memarahi Kalea karena tidak mengurus dirinya dengan benar. Istrinya itu justru meninggalkan dirinya.
Saat pintu dibuka, bukan Kalea yang ada di hadapan. Melainkan sosok ibu dan adiknya. Bahu Zoni merosot. Entah kemana perginya Kalea karena semalam saat ditelepon, istrinya tidak menjawab panggilan darinya. Lalu, saat Zoni mencoba menghubungi Lintang, adik dari Kalea mengatakan jika istrinya itu sudah pulang sejak tadi sore.
"Kenapa wajahmu terlihat tidak suka saat ibu datang? Jangan jadi anak durhaka kamu ya," ucap Bu Rosi lalu melenggang masuk melewati Zoni begitu saja. Anabella hanya tersenyum sambil mengelus lengan sang Kakak lembut.
"Masuk, Mas. Istri Mas Zoni belum pulang kan? Jadi, biar kami yang urus Mas," ucap Anabella manis. Tidak tahu saja jika ada maksud terselubung di dalamnya.
Zoni menjambak rambutnya kasar lalu menutup pintu dan berjalan gontai mendekati ibunya.
"Ada apa sih, Bu? Tumben-tumbenan sepagi ini sudah datang?" tanya Zoni yang seketika membuat bu Rosi melotot tak terima.
"Kamu ya. Ada ibu datang bukannya senang malah lesu begitu. Jelas ibu mau merawat kamu. Kalea belum pulang kan?" tanya bu Rosi kesal. "Yakin hanya itu? Tidak ada maksud lain?" tanya Zoni lagi belum percaya.
Bu Rosi tertawa. "Kamu memang tahu apa isi hati ibu. Biasa, ibu kemarin lihat tas bagus sekali di mall. Karena belum ada uang, ibu belum jadi beli," ucapnya lembut.
Zoni memutar bola matanya jengah. "Memang Ayah tidak memberikan ibu uang? Kenapa selalu meminta padaku? Aku itu sudah punya tanggung jawab sendiri, Bu. Kalea saja tidak aku kasih uang untuk beli perawatan wajah. Dia beli menggunakan uangnya sendiri," ucap Zoni berusaha tidak bersikap kasar. Walau sebenarnya, Zoni ingin sekali marah dan meluap-luap.
"Kamu harusnya ingat. Yang sekolahkan kamu sampai lulus S1 tuh siapa kalau bukan ibu dan ayah? Kalau sekolah kamu tidak tinggi, mana bisa kamu kerja kantoran," jawab bu Rosi meremehkan.
__ADS_1
Zoni mengepalkan kedua telapak tangannya. Merasa diingatkan tentang tidak naiknya jabatan. "Aku belum gajian, Bu. Kemarin saja ibu baru meminta. Uangnya kemana? Kenapa ibu boros sekali sih?" kesal Zoni yang mulai tidak tahan.
"Zoni! Kamu mulai berani pada ibu? Ibu menyesal sudah membesarkan mu sampai menjadi orang sukses seperti sekarang." Bu Rosi mulai mengeluarkan air mata buayanya. Sedangkan Anabella, dia mendekat dan mengelus pundak sang Ibu, sok menguatkan.
"Aaargh!" Zoni berteriak kencang. Merasa pusing dengan tingkah ibu dan adiknya.
"Ibu kan tahu. Harusnya ibu memberi pengertian padaku karena baru saja gagal naik jabatan. Kenapa ibu bertindak seolah-olah adalah pemeras? Aku heran!" sentak Zoni lalu tangannya menyambar gelas di hadapan dan membantingnya.
Bu Rosi dan Anabella tertegun. Merasa terkejut dengan sikap Zoni yang tidak biasanya. "Aku mohon, kalian pulanglah! Kepala ku pusing!" Setelah berucap demikian, Zoni berlalu meninggalkan dua perempuan berbeda generasi menuju kamar.
Kepergian Kalea nyatanya membuat Zoni merasa kehilangan. Padahal, baru satu hari dan Zoni merasa sudah sangat lama bagai berbulan-bulan.
"Kamu kemana Kalea? Kenapa teleponku tidak diangkat?" gumam Zoni dirundung rasa khawatir.
Sedangkan di tempat lain, Kalea mengerjapkan mata kala merasakan sinar matahari masuk ke retinanya. Belum lagi, Kalea merasakan perutnya seperti ditimpa beban berat.
Saat matanya terbuka, hal yang pertama kali Kalea lihat adalah wajah bantal Javas yang masih terlelap. Kalea mengulum senyum malu-malu ketika melihat Javas yang sangat tampan ketika sedang terlelap.
'Tidur saja tampan apalagi sedang berpenampilan rapi' batin Kalea memuja.
Melihat Javas yang masih pulas, timbul keinginan Kalea untuk menyentuh setiap inci wajah tampan milik pria di depannya. Pria yang telah membuat hidup Kalea berubah seratus delapan puluh derajat. Kalea merasa bahagia memiliki Javas dalam hidupnya.
__ADS_1
Jemari Kalea bergerak menyentuh alis, mata, hidung mancung Javas, rahang tegas yang ditumbuhi bulu-bulu halus, dan yang terakhir adalah bibir penuh Javas.
Bibir yang mampu membuat Kalea merasakan apa itu cinta yang sesungguhnya. Tiba-tiba, mata Javas terbuka dan langsung bertemu tatap dengan matanya.
Kalea tersenyum dan hal itu membuat Javas mengumpat. "****! Jangan tersenyum seperti itu saat di pagi hari. Aku bisa gila nanti," peringat Javas yang membuat Kalea mengernyitkan dahi heran.
"Kenapa memangnya? Apa kamu tidak suka jika aku tersenyum?" Raut wajah Kalea mendadak mendung.
"Bukan seperti itu. Aku sudah menahannya sejak semalam. Jadi, tolong jangan bangunkan adik kecilku. Atau ... kamu akan tahu akibatnya," ucap Javas sengaja mempermainkan nada suaranya menggoda.
Kalea melotot. Dia tidak sepolos itu untuk memahami penjelasan Javas. Bagaimanapun, Kalea sudah pernah menghadapi Zoni yang memiliki napsu besar dan tidak bisa menahan diri.
Kalea bergidik ngeri dan berniat untuk turun dari ranjang sebelum semuanya berakhir buruk. Tidak ada keinginan Javas untuk mencegah. Walau dia mencintai Kalea, bukan berarti Javas akan melakukan lebih dari sekedar ciuman. Dia masih bisa berpikir waras dan menahan diri. Bagaimanapun, Javas tidak mau melakukan hubungan badan tanpa ada ikatan yang sah.
Javas terkekeh. "Mandilah. Aku ingin makan masakan mu pagi ini. Satu hari tanpa masakanmu, lidahku mulai cerewet," ucap Javas memuji dan itu adalah kenyataan. Lidahnya mulai tidak suka rasa masakan lain dan ingin makan masakan Kalea setiap hari.
"Baiklah. Mas Javas juga harus segera mandi," ucap Kalea yang kini sudah merasakan pipinya memanas. Panggilan baru itu membuat Kalea bahagia sepanjang hari. Hanya sebuah panggilan tetapi mampu merubah hidup Kalea.
"Kamu memang cerdas, Sayang." Kini Javas mulai menggoda Kalea.
Merasa tidak akan selesai pembicaraan di antara dirinya dan Javas, Kalea geleng-geleng kepala dan benar-benar berlalu dari kamar tersebut. Dia harus mandi dan menyiapkan sarapan untuk Javas yang tersayang.
__ADS_1
Kalea harap, hari-hari bahagia seperti ini tidak segera berlalu. Kalea ingin merasa bahagia setiap hari tentunya bersama Javas, bukan Zoni maupun laki-laki lain.
"Dia benar-benar bisa membuatku gila. Javas, aku mencintaimu," gumam Kalea tersenyum gemas sendiri.