
Bu Yuni berdiri di depan wastafel dengan pikiran yang berkelana jauh. Dia menyesal dan malu karena sudah memperlakukan Kalea dengan buruk. Harusnya, Bu Yuni tidak boleh seperti itu terlepas dari benang kusut yang menjeratnya di masa lalu.
Kalea tidak tahu apa-apa tentang masa yang telah berlalu. Harusnya, Bu Yuni menyadari tentang itu. "Bu?" panggil Pak Tono menyadarkan lamunannya.
Bu Yuni menoleh dan melihat suaminya itu tengah menatapnya sendu. "Ibu sedang memikirkan Kalea pasti," tebak Pak Tono benar.
"Ayah juga menyesal setelah melihat Kalea terbaring di rumah sakit beberapa hari yang lalu. Ayah menyadari satu hal bahwa sikap Ayah pada Kalea sudah tidak mencerminkan sebagai manusia," sesal pak Tono lalu membawa istrinya untuk duduk di meja makan sederhananya.
"Dulu, ibu sangat menyayangi Kalea. Namun ketika anak itu tumbuh remaja, ibu sadar satu hal jika wajah Kalea mirip sekali dengan Rita. Setiap Ibu melihat pemilik wajah itu, kebencian Ibu semakin besar. Seakan, mengingatkan ku tentang kesakitan yang telah Rita lakukan pada kita," ucap Bu Yuni menceritakan hal yang mengganjal di hati.
"Ayah juga sama. Benci dan kesal ketika melihat wajah Kalea. Tetapi, Kalea tidak tahu apa-apa soal masa lalu kita. Kita juga sudah sepakat untuk tidak memberitahukan anak itu. Kini, setelah semuanya tampak jelas, Ayah merasa berubah pikiran. Ayah ingin mengungkap semuanya pada Kalea." Pak Tono mengatakan rencananya untuk ke depan.
"Iya. Cepat atau lambat Kalea harus tahu," jawab bu Yuni menyetujui.
"Memangnya, Mbak Kalea anak siapa? Mengapa kalian seakan hanya ingin membalas dendam?" tanya suara yang membuat keduanya menoleh ke arah sumber suara.
Lintang sudah berdiri dengan raut kecewa di ambang pintu. Menatap kedua orang tua yang sudah mendurhakai seorang anak.
"Lintang," gumam Pak Tono dan Bu Yuni hampir bersamaan.
"Ayah dan Ibu sudah jahat dengan Mbak Kalea. Sekarang, kalian menyembunyikan kenyataan yang ada dan mencoba meluapkan kekesalan dan kebencian kalian pada orang yang tidak tahu apa-apa," geram Lintang merasa malu memiliki orang tua seperti itu.
Bu Yuni dan pak Tono menunduk lesu. Tidak ada yang benar memang. Sejak dulu, mereka selalu memperlakukan Kalea dengan kurang baik.
"Siapa sebenarnya mbak Kalea, Yah? Mengapa kalian menyembunyikan semua ini selama ini? Bahkan, sampai bertahun-tahun. Mbak Kalea sudah dewasa dan pantas mendapatkan penjelasan tentang asal-usulnya. Pantas saja, ayah dan ibu memperlakukan aku dan Mbak Kalea dengan berbeda. Aku kasihan dengannya." Betapa kecewanya Lintang ketika mendengar fakta yang sudah lama tertutup.
Tujuan awal dia datang adalah untuk memberitahukan mereka bahwa Kalea akan pergi ke Singapura demi mengejar cita-cita. Namun, Lintang begitu terkejut mengetahui jika kakaknya itu bukanlah kakak kandungnya.
"Maafkan ayah dan Ibu, Tang. Kami memang bersalah. Bahkan, kesalahan kami mungkin tidak akan pernah termaafkan. Ibu belum siap menjelaskan semuanya. Nanti, saat waktunya tiba, kami akan menceritakannya pada mbak-mu," ucap Bu Yuni penuh sesal.
Merasa muak, Lintang pergi begitu saja meninggalkan rumah. Dia sangat kecewa pada sosok orang tua yang suka membeda-bedakan seorang anak. Itu tidak adil untuk sang Anak juga kejiwaannya.
__ADS_1
Belum lagi, fakta baru tentang Kalea, membuat Lintang cukup sedih. Belum lagi, ayah dan ibunya selama ini seringkali kasar pada kakaknya semata untuk membalas dendam.
...----------------...
Javas tampak cemberut saat akan mengantar Kalea ke bandara. Laki-laki itu seperti tidak rela melepas kepergian sang pujaan Hati ke negeri seberang.
"Apa tidak bisa kursus disini saja ya?" tanya Javas untuk kesekian kali. Matanya menoleh sekilas kemudian kembali terarah ke depan, fokus pada jalanan.
"Tidak bisa. Kimi sudah mendaftarkan aku disana. Lagi pula, disana aku akan mendapatkan banyak pengalaman," jawab Kalea mencoba memberikan pengertian.
"Baiklah. Tetapi, aku tidak bisa sering-sering kesana karena pekerjaanku tidak bisa ditinggal. Mama bisa banyak bertanya jika aku terus-terusan ke Singapura. Bagaimana ini?" rengek Javas manja.
Kalea terkekeh walau matanya tampak sendu. "Kita bisa melakukan panggilan video, Mas. Zaman sekarang sudah berbeda dengan zaman dahulu." Dia tampak sabar memberikan penjelasan pada Javas yang kini bertingkah layaknya anak remaja.
Helaan napas kasar terdengar. Javas tidak punya pilihan. Jika ingin Kalea sukses, memang dirinya harus berkorban.
"Pergilah kasih, kejarlah keinginanmu. Selagi masih ada waktu," ucap Javas justru mengungkapkan lewat lagu.
Berat sekali meninggalkan laki-laki yang dicintai ke negeri orang.
Javas menoleh. Merasa tidak masalah karena suaranya tidak merdu dan cenderung false. "Tetapi, bukankah suara serakku di pagi sangatlah merdu?" tanya Javas dengan alis naik turun, sengaja ingin menggoda Kalea.
Pukulan tangan Kalea pun melayang dan mendarat di lengannya. "Ish! Apa-apaan sih," kesalnya lalu memalingkan wajah yang sudah merah merona.
Kini giliran Javas yang tertawa. Merasa sukses telah membuat Kalea tersipu. "Yah. Mengapa cepat sekali sampai sih? Mengapa hari ini tidak macet saja," gumam Javas lesu.
Kalea menggelengkan kepalanya pelan. "Memangnya, kalau macet kenapa? Apa Mas berpikir aku akan urung berangkat?"
Javas hanya mengangkat bahu sebagai jawaban. Dia mulai memutar setir menuju lahan parkir bandara yang masih tetap ramai walau hari sudah menjelang malam.
Setelah terparkir, Javas menahan Kalea yang akan turun dari mobil. Hari ini, dia belum mencium Kalea agar dia bisa tidur nyenyak malam nanti.
__ADS_1
Kalea jelas bingung hingga melayangkan tatapan penuh tanda tanya. "Kenapa, Mas? Ada sesuatu yang ingin kamu katakan?" tanya Kalea heran.
Javas tidak menjawab. Matanya bergerak untuk melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. "Masih ada waktu satu jam," jawab Javas yang sebenarnya bukan jawaban dari pertanyaan Kalea.
Saat Kalea ingin bertanya lagi, tindakan Javas sudah menjawab semuanya. Dia merasakan bibirnya basah oleh benda kenyal milik Javas. Tidak ingin menolak, Kalea memejamkan mata dan mengalungkan lengan di leher Javas.
Dia mulai membalas ciuman lembut itu. Ada rasa tidak rela, takut, dan khawatir yang Kalea rasakan dari sikap Javas. Pria itu bahkan sangat lembut saat me lu mat bibirnya atas bawah secara bergantian.
Setelah dirasa cukup, karena waktu tidak memungkinkan, Javas melepas ciuman. Ibu jarinya bergerak mengusap bibir Kalea yang basah karena saliva. Dia mengukir senyum. "Sangat manis. Bagaimana aku bisa menjalani hari-hari ku tanpa menciummu terlebih dahulu?" tanyanya sendu.
Kalea menatap mata teduh sekaligus tajam milik Javas yang saat ini juga sedang menatapnya. "Kita bisa melakukannya di video," kekehnya lalu membingkai wajah Javas dengan kedua telapak tangannya.
"Jangan seperti itu. Aku menjadi berat jika ditahan. Semua akan baik-baik saja selama kita saling percaya. Aku mohon, tunggulah aku, Mas Sayang," ucap Kalea lembut.
Kemudian, Kalea mendekatkan wajah dan mengecup semua sisi wajah Javas. Di mulai dari kening, kedua pipi, hidung, dagu, dan terakhir di bibir.
"Aku mencintaimu, Mas."
Seperti ada yang meleyot tetapi Javas tidak tahu apa. Seperti ada ribuan kepakan sayap kupu-kupu yang saat ini menggelitik perutnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Jangan lupa dukungannya ya 😘...
...Baca juga karya temanku di bawah ini yuk 👇👇...
...
...
__ADS_1