Salahkah Bila Aku Mendua

Salahkah Bila Aku Mendua
Bab 35. Sayang


__ADS_3

Kalea sudah tiba di apartemen Javas tepat pukul delapan. Ya. Hari ini Kalea tidak berangkat pagi. Dia sudah meminta izin dan Javas mengizinkan. Kalea mengatakan harus mengerjakan tugas terlebih dahulu sebelum berangkat karena tadi dirinya bangun kesiangan.


Sudah tidak ada Javas di apartemen tersebut. Mungkin saja sudah berangkat untuk bekerja. Setelah menutup pintu, Kalea berbalik dan sangat terkejut ketika ada orang lain di dalam ruangan tersebut.


"Selamat pagi, Nona. Saya Romlah, cleaning service yang sudah diperintahkan Tuan Javas untuk membersihkan apartemen," ucap seorang wanita paruh baya itu sambil membungkuk hormat.


Kalea hanya bisa tersenyum kikuk sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Tetapi, mengapa Mas Javas meminta Ibu untuk membersihkan apartemen? Lalu, saya harus mengerjakan apa jika pekerjaan saya saja sudah diambil alih?" tanya Kalea meringis.


Bu Romlah terkekeh. "Kenapa harus bersih-bersih, Nona? Tuan Javas memang meminta saya untuk membersihkan apartemen tiga kali dalam seminggu." Pernyataan tersebut membuat Kalea semakin heran. Pantas saja setiap kali Kalea datang di hari-hari tertentu, apartemen sudah dalam keadaan bersih.


"Maksud Ibu? Berarti, selama ini—" Kalea tidak mampu melanjutkan ucapannya. Dia sadar jika Javas hanya berasalan saja saat menjadikannya asisten rumah tangga.


"Lebih baik jangan terlalu dipikirkan. Oh iya, Tuan Javas sempat berpesan kepada saya agar Nona membuka pesan yang dikirim oleh beliau," ucap bu Romlah sopan.


Kalea mengangguk dan mengucapkan terima kasih. Dia pun bingung pekerjaan apa yang harus dikerjakan saat ini. Keadaan apartemen telah bersih dan rapi.


"Karena sudah selesai, saya pamit undur diri,, Nona. Permisi."


"Terima kasih, Bu. Hati-hati di jalan," ucap Kalea yang langsung dibalas oleh senyum hangat bu Romlah.


Sepeninggalan cleaning service, Kalea membuka ponsel dan mulai membaca sebaris pesan yang dikirim oleh Javas.


From: Javas


Pergilah ke kamar ku dan bersiaplah dengan pakaian yang sudah aku sediakan. Dua jam lagi aku akan menjemputmu.


Demikian pesan yang dikirim oleh Javas tadi pagi. Kalea mengembangkan senyum lalu segera berjalan menuju kamar Javas. Saat pintu telah terbuka, Kalea mengedarkan pandangan dan melihat sebuah dress floral tergeletak di atas kasur.


Kalea mendekat dan memeriksa dress tersebut yang sayangnya sangat indah. Padahal, hanya sebuah dress sederhana tetapi mampu membuat Kalea terpana. Bisa ditebak, harganya mungkin mahal.


"Untuk apa Javas menyiapkan dress seindah ini?" gumam Kalea bertanya.

__ADS_1


"Baiklah. Aku akan bersiap dan mengikuti permainan Mas Javas Barat, Javas tengah, Javas timur," gumam Kalea lalu terkekeh sendiri.


Belum sampai dua jam, Kalea bisa mendengar pintu apartemen terbuka. Dia yang sedang bersiap di kamar milik Javas, seketika merasa tidak enak.


Dia beranjak, berniat untuk membuka pintu tetapi urung ketika pintu itu terbuka lebih dulu. Javas muncul dengan raut lelahnya. Namun, raut itu hanya sebentar karena kini telah berganti dengan mata yang terbuka sempurna.


Kalea menelisik penampilannya sendiri barangkali ada yang salah. Karena sejak tadi, Javas tidak bergerak dan masih berdiri di ambang pintu lengkap dengan mulutnya yang terbuka.


"Kenapa, Mas? Apa aku jelek mengenakan dress ini?" tanya Kalea bingung.


Javas menggeleng lalu kakinya melangkah pelan untuk mendekat. Kalea bisa melihat jika tatapan Javas kini mengarah pada bibir yang sudah dirinya poles dengan lipstik.


"Apa aku jelek memakai warna lipstik ini?" Kalea kembali bertanya semata untuk menghilangkan rasa heran karena sejak tadi Javas tak kunjung bersuara.


Tiba-tiba, Kalea merasakan pinggangnya ditarik begitu juga dengan tengkuknya yang ditahan. Kejadian selanjutnya dia bisa merasakan benda kenyal yang menyesap bibirnya. Sangat terburu-buru sampai Kalea tidak bisa mengimbanginya.


Kalea mendorong kuat-kuat tubuh Javas agar menjauh. Dia sudah merasa kehabisan oksigen dalam paru-paru. Untungnya, Javas segera melepasnya dan menautkan kening hingga saling menempel.


Napas keduanya terengah-engah akibat ciuman buas tadi. "Kenapa kamu cantik sekali? Seketika aku ingin mengurungkan niat mengajakmu berjalan-jalan. Aku hanya ingin seharian ada di kamar dan tetap memelukmu agar tidak kemana-mana," ucap Javas yang membuat pipi Kalea seketika merona.


"Aku pikir, sikap Mas seperti tadi adalah sebuah ungkapan kurang suka. Ternyata—"


Cup.


Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Javas kembali melabuhkan kecupan di bibir Kalea yang saat ini sudah luntur akibat ciuman tadi.


"Bagaimana aku tidak jatuh cinta padamu berkali-kali? Sedangkan kamu selalu terlihat menawan setiap hari." Javas gemas sendiri sampai mencubit pipi Kalea pelan.


Tawa renyah Kalea menggema di seisi ruangan. Benar bukan? Javas pandai sekali merayu. "Sejak kapan Mas bisa merayu seperti itu?" tanyanya dengan mata memicing penuh selidik.


Dengkusan pelan Javas keluarkan. Salah satu tangannya berkacak pinggang sedangkan yang satu lagi digunakan untuk menyugar rambut. "Entah. Itu bukan rayuan melainkan tulus dari hati. Dulu, aku bukanlah orang yang pandai memuji. Namun saat bersamamu, bibirku seakan gatal jika tidak mengatakan tentang indahnya kamu di mataku."

__ADS_1


Mungkin jika Kalea adalah sebuah coklat, dia sudah meleleh akibat ucapan Javas barusan. Perempuan mana yang tidak akan luluh karena setiap hari selalu dipuji dan dicintai sebanyak ini?


Kalea menatap Javas memuja. "Kamu memang sangat pandai mengobrak-abrik isi hatiku, Mas," ucap Kalea lalu menunduk malu.


Namun, Javas kembali mengangkat dagu Kalea agar kembali menatapnya. "Jangan menunduk terus-menerus atau mahkotamu akan jatuh. Apapun yang terjadi, tatap mata lawan bicaramu saat sedang berbicara. Maka kamu akan tahu reaksi seperti apa yang ditunjukkan mereka," nasehat Javas lembut.


Kalea mencebikkan bibirnya kesal. "Aku malu padamu, Mas," ucap Kalea sambil menutup wajah dengan telapak tangan.


Tidak ingin pemandangan indah di depannya tertutupi, Javas membuka telapak tangan Kalea. "Jangan ditutup, Sayang. Ayo, kita berangkat saja kalau begitu," ucap Javas yang berhasil membuat Kalea membuka wajahnya.


"Tadi Mas memanggilku dengan sebutan apa?" tanya Kalea sambil mengulum senyum.


Javas justru terdiam dengan tatapan memicing. "Kenapa memangnya?" Dia balik bertanya yang membuat Kalea seketika kesal.


"Jawab saja. Aku ingin mendengarnya sekali lagi," rengeknya manja.


"Sayang. Aku memanggilmu dengan sebutan Sayang. Kenapa memangnya, Sayang?" goda Javas lengkap dengan senyum jahilnya.


"Aku suka dipanggil seperti itu. Terasa sangat ramah di telinga," kekehnya menatap Javas lekat.


"Baiklah, Sayang. Kita akan berangkat sekarang. Sebelum itu, kita akan makan siang terlebih dahulu." Setelah mengucapkan hal tersebut, Javas merengkuh pinggang Kalea untuk berjalan keluar dari apartemennya.


Saat sudah sampai di depan pintu, Kalea tiba-tiba protes tentang dirinya yang belum kembali memakai lipstik. "Mas! Aku belum memakai lipstik lagi," ucapnya panik.


Dengan raut santai, Javas pun menjawab. "Tinggal pakai di mobil saja, Sayang."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...mampir juga ke karya temanku di bawah ini yuk👇👇...


...

__ADS_1



...


__ADS_2