
Tidak semua luka datang dari keluarga yang tidak utuh. Untuk sebagian orang, keluarga yang utuh pun seringkali membuat dunia mereka terasa runtuh.
Itulah yang saat sedang Kalea rasakan. Dirinya dan Lintang sama-sama anak kandung pak Tono dan bu Yuni. Namun entah kenapa, perbedaan sikap yang ditunjukkan kedua orang tua itu sudah sejak lama dilakukan.
Ibunya seringkali berkata, "Untuk apa sekolah tinggi-tinggi. Ujung-ujungnya akan berakhir di dapur juga." Dan memang, pemikiran tersebut sudah terbilang kuno.
Kalea keluar dari rumah orangtuanya. Tidak tahu harus pulang kemana karena hubungannya dengan Zoni sedang tidak baik-baik saja.
"Bukankah sejak dulu hubungan ku dengan mas Zoni tidak pernah baik-baik saja?" gumam Kalea tersenyum miris.
Setelah berpamitan, Kalea keluar dari gang rumah orangtuanya. Rumah itu memang berada di dalam pemukiman yang hanya bisa dilewati motor karena sempitnya akses jalan.
Setelah keluar dari gang, Kalea berjalan pelan menyusuri trotoar. Menikmati indahnya pemandangan di sore hari. Namun, pendengaran Kalea terganggu kala ada mobil yang berhenti di samping jalan.
"Ssst! Kalea!" ucap suara yang membuat Kalea menoleh terkejut.
"Javas?" gumam Kalea heran sekaligus takut ada yang melihat. Bagaimana pun, Kalea tidak bisa bersikap biasa-biasa saja saat bertemu Javas di tempat umum. Belum lagi, mobil yang digunakan Javas saat itu merupakan mobil mewah.
"Masuk!" titah Javas tegas yang membuat Kalea hanya bisa menurut. Kalea masuk dan duduk di kursi samping kemudi.
"Kenapa disini?" tanya Kalea merasa kurang suka.
Javas menoleh kesal pada Kalea. "Memangnya kenapa? Tidak boleh?" Javas justru balik bertanya yang membuat Kalea mendengkus kesal.
"Bagaimana jika ada yang melihat, Vas? Aku masih takut jika hubungan kita diketahui banyak orang. Bagaimana tanggapan orang-orang setelah mengetahui jika aku berselingkuh. Aku takut," ucap Kalea meluapkan isi pikirannya. Tangannya bergerak untuk mengusap wajah kasar.
Javas segera menjalankan mobil menuju suatu tempat. "Tenang saja. Semua sudah aku perhitungkan. Jika aku tidak memikirkan hal tersebut, sudah sejak kamu keluar dari gang, aku akan memanggilmu," ucap Javas tanpa beban.
__ADS_1
Kalea hanya menghela napas kasar. Tidak ada gunanya mendebat Javas yang memang keras kepala.
"Kita mau kemana?" tanya Kalea saat sadar jika mobil yang ditumpangi berjalan ke arah yang berbeda jalur dari rumahnya.
"Ke apartemen ku. Memangnya kamu mau pulang?" tanya Javas yang membuat Kalea akhirnya bungkam.
Benar pertanyaan Javas. Kalea tidak mungkin pulang walau rumah itu juga rumahnya.
"Kenapa diam? Apa ada masalah? Cobalah cerita padaku." Javas kembali berucap saat mendapati wajah Kalea yang mendadak murung.
"Bukankah seharusnya kamu bahagia karena baru saja bertemu orang tuamu?" tanya Javas lagi seakan tak kenal lelah untuk mengorek informasi agar Kalea tak murung lagi.
Kalea ingin membuka mulut tetapi urung ketika merasakan mobil berhenti di sebuah basemant apartemen. "Kita mau kemana?" tanya Kalea yang membuat Javas menyentil kening perempuan di sampingnya.
"Bukankah sudah ku katakan ingin ke apartemen ku?" Javas justru balik bertanya. Merasa gemas dengan tingkah Kalea.
Javas tertawa lalu turun lebih dulu untuk membukakan pintu. Setelah Kalea turun, Javas mengajak Kalea naik ke lantai atas menuju unit apartemennya.
Saat sudah sampai di lantai tujuan, keduanya berjalan beriringan melewati lorong dan Kalea bisa melihat Reza yang tengah menunggu di depan pintu.
"Selamat sore, Tuan. Apartemen telah dibersihkan semuanya. Termasuk dua kamar dan pakaian untuk Nona Kalea," ucap Reza penuh hormat yang membuat Kalea semakin yakin jika Javas adalah orang kaya sungguhan.
"Bagus. Kamu boleh pulang sekarang," titah Javas yang segera mendapat anggukan hormat dari Reza. Setelah Reza berlalu, Javas menempelkan kartu akses dan kunci terbuka.
Javas mendorong pelan bahu Kalea karena perempuan itu sejak tadi melamun. "Masuk dulu. Melamun mu ditunda dulu," ejek Javas yang membuat bibir Kalea mengerucut.
Saat sudah di dalam, Kalea mengedarkan pandangan. Ruangannya sangat maskulin khas seorang pria. "Ini punya kamu lagi, Vas? Sebenarnya, kamu siapa sih? Kenapa kamu begitu misterius sampai aku tidak tahu identitas mu yang sebenarnya?" tanya Kalea merasa kecewa.
__ADS_1
Entah karena Kalea yang kurang memahami atau memang Javas yang sangat pandai menyembunyikan jati diri.
Kalea menatap Javas yang terdiam. "Kenapa kamu tidak jujur dari awal? Siapa sebenarnya kamu?" tanya Kalea yang kini sudah berubah serius.
Javas menghela napas ketika menemukan tatapan kecewa Kalea. "Kenapa aku harus menjelaskannya? Apa selama ini kamu belum paham?" Javas balik bertanya tetapi tetap mempertahankan nada lembutnya.
Javas mendekat dan menarik lengan Kalea untuk duduk di single arm sofa. Untungnya, Kalea menurut. Javas memilih duduk di pinggiran sofa sambil meremas pelan tangan Kalea.
"Aku tidak bermaksud membohongimu. Hanya saja, aku seperti enggan untuk menceritakan asal-usul ku. Karena dari itu, banyak orang yang menjauhiku. Mereka merasa tidak percaya diri berada di dekatku. Ada juga yang justru memanfaatkan identitas ku. Karena identitas itu, aku banyak menemukan orang-orang yang tidak tulus padaku. Mereka hanya menginginkan uangku." Javas menjelaskan panjang lebar agar Kalea tidak salah paham.
Kalea mendongak karena posisinya lebih rendah. "Jadi, siapa kamu sebenarnya?" tanya Kalea masih belum paham.
Javas membasahi bibir dengan lidahnya. "Coba kamu buka di website dan ketik PT. Kanagara. Di sana pasti akan muncul informasinya," pinta Javas yang masih belum bisa menjawab pertanyaan Kalea.
Akhirnya, dengan bibir yang Mengerucut dan rasa penasaran yang tinggi, Kalea mengambil ponsel di dalam tas. Dia mencari nama yang telah disebutkan Javas dan benar saja, semua informasi sudah tertera di sana.
Mata Kalea berkedip berulang kali saking terkejutnya. Ternyata, Javas bukanlah orang sembarangan. Kalea menatap Javas takut-takut. "Ternyata, kamu bukan orang sembarangan. Apa selama ini sikapku terlalu kurang ajar padamu? Jika iya, maka maafkan aku." Kalea mendadak tidak percaya diri berada di jarak sedekat ini dengan Javas.
"Huh. Benar kan. Jika orang sudah mengetahui indentitas ku, mereka mendadak tidak percaya diri. Itulah yang tidak aku suka. Tadi, kamu masih bersikap seperti biasa. Namun setelah mengetahui fakta yang ada, sikapmu mendadak berubah." Javas mengembuskan napas lelah lalu beranjak meninggalkan Kalea sendirian.
Tentu saja hal itu membuat pikiran Kalea tidak menentu. "Apakah Javas marah padaku?" gumam Kalea sambil menatap punggung Javas yang menghilang di balik ruangan.
Kalea menggigit jari jempolnya. Bingung harus menyusul Javas atau menunggunya saja. Namun, otak Kalea mengatakan jika Kalea harus menyusul dan menenangkan Javas yang tengah marah padanya.
Akhirnya, setelah menarik dan menghembuskan napas, Kalea beranjak dan berjalan menuju ruangan dimana Javas berada. Dia tidak ingin Javas marah terlalu lama padanya.
Bagaimana pun, Javas-lah yang selalu ada ketika Kalea dalam masa terpuruknya.
__ADS_1