Salahkah Bila Aku Mendua

Salahkah Bila Aku Mendua
Bab 34. Tujuh keliling


__ADS_3

Kalea sampai di rumah tepat pukul sembilan malam. Ada rasa takut yang menyergap ketika melihat lampu rumahnya masih menyala, pertanda jika suaminya belum tidur.


Kalea menggigit bibir bagian dalamnya. Merasa ragu untuk masuk ke rumah tetapi tidak memiliki pilihan lain. Dengan sangat pelan, Kalea membuka pintu rumah yang belum terkunci.


Saat sudah terbuka, Kalea mengedarkan pandangan untuk mencari keberadaan Zoni barangkali masih menunggu. Namun, hal tersebut adalah sesuatu yang mustahil. Kalea menghembuskan napas lega ketika tidak menemukan suaminya dimana pun.


Kalea menutup pintu lalu menguncinya dengan sangat pelan. Dia takut setiap suara akan membangun Zoni.


Kalea melenggang masuk melewati ruang tengah. Saat itu juga, Kalea bisa melihat Zoni yang tengah tertidur di sofa. Jantung Kalea rasanya berhenti berdetak saat itu juga. Antara senang tetapi rasa bersalah lebih mendominasi.


Salahkan saja Kalea yang selalu tidak tegaan. Belum lagi, jika mengingat daftar kesalahannya yang sudah sangat panjang. Memang, semua itu tidak sebanding dengan perlakuan buruk Zoni. Namun,Kalea sadar jika selingkuh bukanlah jalur yang tepat.


Kalea berjongkok di hadapan Zoni dan ditatapnya wajah damai sang Suami. Tidak ada lagi debar-debar senang seperti dulu yang Kalea rasakan saat berada di dekat suaminya.


Semua sudah tampak biasa saja dari kacamata Kalea. Zoni sudah tak mempesona seperti dulu. Kalea menghela napas. Merasa teringat dengan ucapan Javas jika hati tidak bisa berbohong.


Kalea berniat beranjak untuk mengambilkan sebuah selimut. Namun, tangannya tiba-tiba dicekal oleh Zoni dan pada saat itu, mata Zoni terbuka. Tatapan keduanya beradu. Seakan Zoni sedang mencari arti dalam diri Kalea.


"Maaf jika aku mengganggu tidurmu. Bukankah lebih baik kamu pindah ke kamar, Mas?" tawar Kalea merasa bersalah.


Zoni menggeleng dan mengambil posisi duduk agar lebih nyaman. Dituntunnya Kalea agar duduk di sampingnya. "Tadi ibu datang ke rumah," ucap Zoni tiba-tiba yang membuat Kalea merasa heran.


Bukankah setiap hari ibunya itu selalu datang ke rumah? Tanpa dikasih tahu, Kalea sudah hapal dengan jelas. "Memangnya kenapa? Bukankah itu sudah menjadi pekerjaan ibu?" Kalea tersenyum sinis.


Zoni mengangguk membenarkan. "Ibu ingin aku menceraikan mu." Ucapan Zoni barusan berhasil membuat Kalea merasa tertarik. Dia begitu antusias mendengarkan kelanjutan tentang hal tersebut.


Mencoba merubah mimik wajah menjadi tak bersahabat, Kalea bertanya. "Lalu?"


Zoni tiba-tiba memeluk Kalea hingga membuat tubuh Kalea kaku. Pelukan Zoni sudah terasa asing baginya. Setelah Zoni melepas pelukan, Kalea merasakan tangan besar suaminya menyingkirkan anak rambut lalu menyelipkan ke belakang telinga.


Sangat aneh. Tidak nyaman dan canggung.

__ADS_1


"Dan ibu memintaku untuk menikah lagi. Namun, aku segera menolaknya. Aku masih mencintai istri terbaikku," ucap Zoni dengan bibir mengembangkan senyum.


Sangat berbeda dengan raut wajah yang ditunjukkan oleh Kalea. Wajah perempuan itu kini sudah pias. Bahunya merosot karena harapannya tidak sesuai kenyataan.


Zoni memegang kedua bahu Kalea dan tatapan matanya lekat memandang wajah Kalea. "Sesuai perjanjian awal kita. Aku ingin memperbaiki semuanya," ucapnya lembut.


Kalea tersenyum walau dipaksakan. Mencoba menunjukkan raut bahagia padahal dalam hati patah dan ambyar. "Terima kasih, Mas." Hanya kata itu yang keluar dari mulut Kalea.


Pagi harinya, Kalea sudah bangun. Sarapan yang dibuat sudah terhidang di meja makan. Tidak berapa lama, Zoni datang ke ruang makan. Kalea yang sedang mencuci perabotan kotor, hanya menoleh sekilas lalu kembali fokus pada pekerjaan.


Tiba-tiba, Kalea merasakan ada tangan besar yang memeluk perutnya diikuti punggung yang terasa hangat. "Kamu wangi sekali," gumam Zoni sambil menghidu wangi tubuh Kalea.


Kalea bergerak tak nyaman sambil mencoba melepas belitan tangan suaminya. "Mas, aku sedang mengerjakan tugas rumah," protes Kalea kesal.


"Tidak apa-apa. Aku ingin seperti ini dahulu." Setelah menjawab, Javas kembali menelusupkan wajah pada tengkuk putih Kalea.


Helaan napas pelan terdengar. Kalea lelah harus berpura-pura setiap hari. Apakah lebih baik Kalea relakan saja rumah hasil kerja kerasnya? Rumah yang dibeli dari uang tabungannya selama bertahun-tahun.


Kalea pasti akan mendapatkan kemarahan sang Ayah. Seberat itu memang bebannya. Bercerita hanya akan mendapatkan penghakiman. Dianggap tidak bisa menyelesaikan masalahnya sendirian. Ayahnya tidak tahu saja jika selama ini kaki kecilnya gemetar ketika harus menapaki bumi.


Kalea harus perkasa, harus kuat, harus memiliki sabar yang luas. Mereka tidak tahu bagaimana tersiksanya Kalea saat akan mencoba mengembalikan kewarasannya.


Jiwa Kalea telah kosong hingga Javas mengisinya dengan cinta kembali.


"Kenapa melamun?" tanya Zoni yang menyentak pikiran Kalea.


Senyum tipis Kalea tunjukkan agar terlihat baik-baik saja. Sudah terlalu banyak kesulitan yang Kalea hadapi saat bersama Zoni dan Kalea lewati sendirian. Hingga menjadikan Kalea yang saat ini. Kalea dengan sisi lain dan lebih berani.


"Tidak. Aku hanya sedang—"


Kring!

__ADS_1


Kalea menghela napas lega ketika belum selesai berucap tetapi ponsel Zoni berdering. Itu menyelamatkan Kalea dari pernyataan barusan.


"Iya sebentar. Aku akan berangkat sekarang," ucap Zoni yang didengar baik oleh Kalea.


Belum lagi saat Kalea melihat wajah Zoni yang serius, menandakan ada sesuatu yang terjadi di seberang sana.


"Kenapa, Mas?" tanya Kalea basa-basi ketika telepon sudah ditutup.


"Tidak tahu. Aku diminta datang tepat waktu hari ini. Padahal, setiap hari aku selalu datang tepat waktu," jawab Zoni masih merasa heran.


"Ya sudah. Sarapannya mau dibawa saja?" tawar Kalea yang segera diangguki oleh Zoni. Hal tersebut tampak tak biasa bagi Kalea. Zoni sejak dulu tidak pernah mau jika dibawakan bekal dari rumah.


Apakah Zoni telah berubah? Secepat itu?


"Boleh. Aku akan makan di kantor."


Setelah itu, Kalea memindahkan dua potong roti bakar ke dalam sebuah wadah. Saat sudah selesai, dia menyerahkan pada suaminya.


"Aku berangkat dulu ya, Sayang. Jaga diri baik-baik. Kalau hari ini kerja, hati-hati di jalan," ucap Zoni yang membuat Kalea tertegun seketika.


Kata-kata itu adalah kata yang sangat familiar di telinga. Kalimat yang sudah sejak lama Zoni lupakan setelah jabatan di kantornya naik enak bulan silam.


Sekarang, Kalea mendengar kalimat itu lagi dengan perasaan yang berbeda dan tidak seperti dulu.


"Kenapa semuanya terjadi di saat aku telah jatuh cinta pada laki-laki lain? Mengapa Mas Zoni baru sadar dan berubah?" gumam Kalea dengan tatapan menerawang jauh.


Huh. Pagi-pagi seperti ini Kalea harus dibuat pusing tujuh keliling.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...jangan lupa kasih dukungan dengan cara like, komen, vote dan kasih hadiah semampu kalian ya🔥🔥🔥...

__ADS_1


__ADS_2