Salahkah Bila Aku Mendua

Salahkah Bila Aku Mendua
Bab 52. Tidak malu


__ADS_3

"Bukan siapa-siapa."


Suara itu membuat Kalea mengerjapkan kelopak mata pelan. Bukan suara. Melainkan kalimat 'bukan siapa-siapa' yang menganggu indera pendengarannya. Seperti ada yang disembunyikan Javas darinya.


Ketika Javas sudah dekat, Kalea bisa melihat sorot mata gugup dan enggan menatap matanya. Apalagi, posisinya yang duduk sedangkan Javas berdiri, sangat mudah untuk mengetahui ekspresi laki-laki di hadapannya.


Merasakan aura sekitar yang kurang baik, Kesha pamit untuk mengambil minum. Dia hanya beralasan saja. Tujuan sebenarnya adalah ingin menghindar dari perang dingin antara kakaknya dan calon kakak ipar. Dia juga yakin jika Abangnya itu akan mengamuk karena telah menunjukkan foto masa kecilnya.


"Semoga saja Kak Kalea bisa menjadi pawang yang baik," gumam Kesha setelah berhasil keluar dari ruang perpustakaan rumahnya.


Sedangkan di dalam ruangan, Kalea membuang muka saat menangkap pergerakan Javas yang duduk di sampingnya, menggantikan posisi Kesha.


Terdengar helaan napas kasar sebelum suara berat dan penuh penyesalan terdengar. "Jangan salah paham dulu. Aku tahu jika saat ini pikiranmu sedang berasumsi."


Kalea ikut menghela napas. Dia bergerak memunggungi laki-laki di belakangnya. Kesal sekali karena Javas tidak mau berbagi padanya. Harusnya, dia tidak boleh memaksa. Namun, kata hatinya mengatakan harus meminta penjelasan. Katakanlah Kalea seperti anak kecil. Tetapi, dia tidak peduli itu.


Tiba-tiba, Kalea merasakan hangat yang menyergap punggungnya diikuti tangan kokoh yang melingkar di perut. Setelah itu, dia merasakan ada dagu yang bertumpu di bahunya.


"Aku akan jelaskan. Jangan salah paham dulu dan menganggap jika semua laki-laki sama saja," ucap Javas lembut.


Tubuh Kalea lebih rileks ketika mendengar penuturan Javas baru saja. "Katakan," jawabnya walau terselip nada merajuk di dalam ucapannya.


Bukannya kesal, Javas justru terkekeh geli. "Kamu sedang cemburu. Oh, senangnya melihat kamu dibakar api cemburu," ledeknya yang semakin membuat bibir Kalea mengerucut.


"Mas!" kesal Kalea dengan tatapan menghunus. Javas justru tertawa renyah.


"Dengarkan aku. Jangan salah paham dan berasumsi sendiri. Dia hanya teman masa kecilku. Dia juga sudah menikah sekarang," ucap Javas mulai menjelaskan.


Tidak ingin langsung percaya, Kalea membalikkan badan untuk menatap mata Javas barangkali laki-laki itu berbohong. "Lalu, mengapa tadi Mas mengatakan jika dia bukan siapa-siapa? Seorang teman yang baik pasti akan mengakui pertemanannya. Bukan malah menyembunyikannya," cecar Kalea dengan mata yang memicing.

__ADS_1


"Iya aku salah. Tetapi, aku melakukannya karena tidak ingin membuatmu banyak pikiran. Sekali lagi aku tegaskan, dia hanya teman masa kecil." Javas mencoba meyakinkan Kalea. Namun bukannya percaya, Kalea semakin menatap Javas dengan penuh selidik.


"Yakin? Hanya seorang teman masa kecil?" tanya Kalea sambil menekankan kalimatnya.


Bola mata Javas bergerak gelisah, menandakan terselip kebohongan disana. Mungkin saja bukan? Kalea cukup paham dengan gestur seseorang yang sedang berbicara padanya.


Javas menghela napas. Haruskah dia mengakui semua tentang masa lalunya? Bukan karena merasa sakit ketika mengingatnya. Melainkan karena hal tersebut sudah tidak penting lagi baginya.


"Dia pernah menjadi pacarku saat di bangku SMA. Hanya cinta monyet. Tidak seperti cintaku padamu saat ini," jelas Javas Disertai kata-kata manis tetapi tulus ketika mengatakannya.


"Nah kan. Akhirnya mengakui juga," kesal Kalea sambil menghembuskan napas kasar.


"Kenapa harus berbohong, Mas? Jujur itu hal yang paling utama dalam sebuah hubungan," omel Kalea dengan kekesalan memuncak.


"Apalagi, kamu masih menyimpan fotonya. Jangan katakan jika kamu masih memiliki sisa rasa cin—"


Cup.


Kalea mengusap wajahnya kasar. Pembahasan tentang masa lalu selalu saja menguras emosi. Harusnya, Kalea tidak perlu marah. Karena apa yang dilakukan Javas belum ada apa-apanya dari yang dilakukan dirinya.


Bahkan dulu, Javas rela menjadi yang kedua demi menyelamatkan Kalea dari cinta yang salah. "Maafkan aku yang sudah terlalu ... cemburu," ucap Kalea mencicit di akhir kalimat.


Tidak ada rasa keberatan dengan cemburu yang Kalea tunjukkan. Justru, Javas bahagia saat rasa itu hinggap di hati perempuan yang dicintai. Itu berarti, Kale benar-benar mencintainya.


"Aku yang harusnya meminta maaf. Kesalahpahaman ini bermula dariku. Jangan cemberut lagi atau aku akan menciumnya," ancam Javas yang seketika membuat Kalea menutup mulut dengan telapak tangan. Matanya sudah melotot waspada karena Javas mulai mendekatkan wajah.


Tok tok tok.


Suara ketukan di balik pintu membuat Javas menjauh. Keduanya melihat pada arah pintu yang knopnya sudah diputar dari dalam.

__ADS_1


"Apakah kalian sudah selesai? Kesha yang sudah memberitahu Mama tentang kalian. Apa terjadi kesalahpahaman?" tanya Bu Belinda masih berdiri di ambang pintu.


Kalea hanya mampu meringis malu. Ini pertama kalinya dia datang ke rumah orang tua Javas. Namun, dia sudah membuat drama cemburu.


"Mama tidak perlu khawatir. Kami sudah sama-sama dewasa. Hal seperti itu tidak akan menggoyahkan rasa cinta kami," jawab Javas dramatis layaknya pujangga yang sedang menyuarakan sajaknya.


Kalea menahan tawanya. Sikap Javas terlalu absurd dan kurang cocok dengan garis wajahnya yang tampan. Sedangkan Bu Belinda, beliau hanya menggelengkan kepala pelan.


"Mama jadi tidak sabar ingin punya cucu," ucap Bu Belinda yang melenceng dari topik pembicaraan.


"Apa hubungannya, Ma? Jangan diburu-buru lah. Kalea harus mengejar cita-citanya terlebih dahulu," bela Javas agar Kalea tidak perlu memikirkannya.


"Bukankah mengejar cita-cita setelah menikah tidak ada masalah? Yang menjadi masalah adalah, jika kamu mengurung Kalea terus-menerus di dalam rumah dan tidak mengizinkannya meraih mimpi-mimpi." Bu Belinda tampak menggebu-gebu ketika mengucapkannya.


Kalea hanya ingin menjadi pendengar di antara pembicaraan Javas dan mamanya. Candaan keduanya begitu membuat Kalea takjub pada sosok ibu yang sangat menyayangi anaknya. Ingin sekali Kalea membangun hubungan semacam itu dalam hidupnya. Namun, hal tersebut hanya menjadi angan-angan saja.


"Kalea? Kamu kenapa berkaca-kaca?" tanya Bu Belinda merasa bersalah. Beliau sudah berada di hadapan Kalea sambil berdiri membungkuk untuk menatap wajah kekasih putranya.


Kalea menggeleng. "Tidak, Tante. Aku hanya sedang membayangkan memiliki seorang ibu seperti Tante. Tante sangat perhatian pada anak-anak tanpa bermaksud membedakannya."


Bu Belinda tersenyum penuh arti. "Makanya, cepatlah menikah dengan Javas. Secara otomatis, Tante akan resmi menjadi mamamu," ucapnya yang lagi-lagi menyinggung tentang pernikahan.


"Ma. Sudah berapa kali aku katakan?" peringat Javas sesabar mungkin.


Tidak ingin mempermasalahkan tentang pernikahan, Kalea akhirnya berkata. "Aku ikut Mas Javas saja, Tan. Kalau Mas Javas belum bersedia dan ingin aku membuka usaha, itu tidak masalah. Lagi pula, apakah Tante tidak malu memiliki menantu seperti ku?"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...terima kasih untuk kalian yang sudah setia baca sampai bab ini 🌹🌹🌹...

__ADS_1


...mampir kesini juga yuk 👇👇...



__ADS_2