
Kalea mengerjap saat merasakan ada cahaya silau yang menyorot mata. Matanya memicing untuk menyesuaikan sinar yang masuk ke retinanya. Samar-samar, Kalea mendengar suara percakapan Lintang dengan seorang pria yang Kalea tidak tahu siapa.
Saat matanya sudah terbuka, dia bisa melihat ruangan yang didominasi warna putih dengan aroma obat-obatan yang mendominasi. Masih mencoba mengingat apa yang telah terjadi, Kalea mencari tahu mengapa ada di tempat tersebut.
Setelah ingat, Kalea menatap Lintang yang saat ini menatap khawatir dan lega secara bersamaan ke arahnya. "Akhirnya Mbak Kalea sadarkan diri. Aku khawatir karena Mbak hampir dua puluh empat jam tidak sadarkan diri," ucap Lintang bersyukur.
Kalea tersenyum masam. Mengapa dari keluarganya hanya Lintang yang selalu peduli padanya? Sekarang, saat Kalea dalam keadaan susah, Lintang lah yang siap sedia.
"Ayah dan Ibu dimana, Tang?" tanya Kalea tidak ingin membenci dua orang yang telah membesarkannya. Dia masih berharap maaf dari ayah dan ibunya atas kesalahan yang sudah Kalea perbuat.
Lintang menghela napas berat. "Mbak tidak perlu memikirkan mereka dulu. Yang terpenting, Mbak harus sehat dan segera pulih," ucap Lintang tidak ingin membuat kakaknya bertanya lebih lanjut. Lintang takut kakaknya akan kecewa setelah mendengar penjelasan darinya tentang Ayah dan ibu.
Kalea menatap hampa pada pintu masuk ruangannya. Berharap ada ayah atau ibunya yang datang. Bahkan, Kalea heran kemana perginya Zoni sekarang.
"Luka di pelipis Mbak Kalea tidak terlalu parah. Dokter sudah menanganinya," ucap Lintang seakan tidak ingin membuat kakaknya melamun dengan pandangan kosong.
Kalea tersenyum. "Terima kasih karena masih sudi menolong, Mbak," ucap Kalea merasa hutang budi.
"Jangan berterima kasih seperti itu padaku. Apa yang aku lakukan sekarang tidak sebanding dengan yang Mbak Kalea lakukan untukku dulu," ucap Lintang lembut.
Kalea menghela napas pelan. Bayangan kejadian kemarin masih teringat jelas di kepala. Mungkin, Kalea harus memikirkan masa depannya mulai hari ini. Setelah semua yang terjadi, Kalea tidak ingin menjadikan Javas tempat sampah untuk dirinya.
Walau Javas tidak akan keberatan menerima dirinya, tetapi Kalea sangat malu dan sudah tak memiliki muka lagi. Semua memang harus berakhir. Dia akan menemui Javas untuk terakhir kali dan membicarakan soal hubungannya.
Javas berhak bahagia dengan perempuan baik-baik dan tidak seperti dirinya. Mengingat itu, mata Kalea mulai berkaca-kaca. Hal itu segera disadari oleh Lintang. "Mbak? Aku tidak akan bertanya banyak hal tentang masalah yang saat ini Mbak hadapi. Namun, aku akan siap jika Mbak membutuhkan bantuan ku," ucap Lintang memberikan semangat.
Kalea mengangguk dan satu tetes air mata berhasil lolos. Dia selalu lemah jika ada seseorang yang peduli saat dirinya terpuruk.
Hari berganti. Untuk beberapa hari ini, Kalea tinggal di kost milik Lintang. Adiknya itu sudah meminta izin pada ibu kost bahwa Kalea adalah kakaknya. Beruntung, ibu kost tidak masalah dan mengizinkan Kalea untuk tinggal beberapa hari disana.
"Mbak yakin mau kesana?" tanya Lintang untuk kesekian kali.
__ADS_1
Kalea mengangguk mantap. "Mbak harus bangkit, Tang. Mbak harus memperbaiki semuanya dan Mbak mencoba memulai dari diri Mbak sendiri," jawab Kalea yang tidak menghentikan aktifitas yang sedang mengemas pakaian yang dua hari ini dia pakai.
Koper yang semula Kalea bawa telah Lintang ambil di rumah orang tuanya. Dan selama hampir lima hari ini, ayah dan ibunya sama sekali tidak menanyakan keadaanya.
Entah bagaimana dengan Javas. Kalea sudah menonaktifkan ponsel selama beberapa hari untuk menghindari Javas. Laki-laki itu pasti akan datang ketika mendengar bahwa Kalea berada di rumah sakit. Sungguh. Kalea sangat merindukan pria tampan itu.
"Mbak Kalea sudah memberitahu Mbak Kimi kan? Suruh Mbak Kimi jemput di bandara saja. Aku takut Mbak malah nyasar," ucap Lintang Khawatir.
Kalea terkekeh. "Tenang saja. Mbak sudah mengatur semuanya." Bersamaan dengan itu, Kalea sudah selesai berkemas. Dia mencari keberadaan ponsel yang berada dalam tas dan menghidupkannya.
Ada ribuan panggilan tak terjawab dan pesan yang sudah tak terhitung lagi jumlahnya dari Javas. Kalea tersenyum. Pria itu benar-benar merindukan dirinya.
Tanpa membaca deretan pesan dari Javas, Kalea memilih untuk menelepon langsung. Tanpa menunggu dering terlalu lama, panggilan itu langsung mendapat jawaban.
"Mas Javas?" ucap Kalea karena seseorang di seberang sana masih diam dan hanya terdengar hembusan napas teratur.
Kalea sampai harus memeriksa layar ponselnya, takut salah menghubungi seseorang. Namun, nama Javas terpampang jelas di sana.
"Apa kabar, Kalea," sapa Javas di seberang sana. Suaranya tampak lemah dan serak. Mendengar itu, Kalea dirundung rasa khawatir yang berlebihan.
"Mas? Apa kamu baik-baik saja?" tanya Kalea khawatir.
"Tidak ada yang baik-baik saja ketika kamu tak lagi ada disini," jawab Javas berupa gumaman.
Kalea terpaku di tempat. Sebesar itukah efek kehadiran dirinya bagi Javas? Ada rasa haru yang menyeruak. Namun, rasa cemas lebih mendominasi.
"Hei. Kenapa hanya diam? Kamu masih ingat alamat apartemen ku bukan?" tanya Javas lagi lirih.
Kalea mengangguk walau Javas tak bisa melihatnya. "Aku akan datang."
Setelah telepon terputus, Kalea menatap Lintang yang saat ini juga sedang menatapnya. Kalea menjadi gugup karena adiknya itu sedang menatapnya lekat.
__ADS_1
"Apakah Mbak mencintai seseorang yang ada di telepon tadi?" tanya Lintang lembut.
Kalea tidak mengangguk maupun menggeleng. Dia terlalu malu ketika harus mengakui di hadapan sang Adik.
"Mbak Kalea berhak bahagia. Setelah ini, aku harap Mbak tidak salah lagi memilih pasangan hidup." Lintang berpesan pada sang Kakak. Dia sangat menyayangi kakaknya itu yang rela berkorban demi masa depannya.
Kalea mengangguk. "Terima kasih, Lintang. Jaga diri kamu baik-baik. Setelah menemui dia, Mbak akan langsung berangkat," pamit Kalea terasa berat.
Tentu saja Lintang mendukung keputusan kakaknya yang memiliki niat baik. Dia merogoh saku celananya dan mengeluarkan apa yang sejak tadi ingin diberikan pada sang Kakak. "Bawalah ini, Mbak. Aku yakin Mbak Kalea lebih membutuhkan daripada aku," ucapnya sambil menyodorkan sepuluh lembar uang berwarna merah.
Kalea segera mendorongnya pelan. "Tidak. Mbak masih memiliki tabungan dari hasil bekerja. Kamu simpan saja untuk kebutuhan kuliah mu ya. Mbak ada uang kok." Dengan halus Kalea menolaknya.
"Tapi, Mbak—"
"Jangan khawatir berlebihan pada Mbak. Ada Kimi yang siap memberikan pinjaman seandainya Mbak kehabisan uang," candanya lalu terkekeh.
Lintang pun ikut terkekeh. Merasa lega ketika melihat kakaknya mulai bangkit dari keterpurukan.
...----------------...
Kalea menatap gedung apartemen di depannya. Dia mengulas senyum, karena sebentar lagi akan bertemu dengan Javas. Namun di sisi lain, Kalea merasa sedih karena harus mengakhiri hubungan ini.
Setelah menarik dan menghembuskan napasnya, Kalea berjalan ke pos satpam untuk menitipkan koper yang sejak tadi dia bawa. "Pak. Titip koper sebentar ya. Ini untuk Bapak," ucap Kalea sambil memberikan satu lembar uang lima puluh ribuan.
"Siap, Mbak. Akan saya jaga dengan sekuat tenaga," jawab pak satpam bersemangat. Kalea hanya menggelengkan kepala pelan. Di dunia ini memang tidak ada orang yang tidak mata duitan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...jangan lupa like, komen, vote dan kasih hadiah nya ya🔥...
...mampir juga kesini yuk👇...
__ADS_1