
Javas benar-benar mengajak Kalea berkeliling ibu kota. Tempat yang pertama kali di kunjungi mereka adalah sebuah restoran all you can eat dengan ruangan VIP. Javas mengatakan jika dia tidak ingin Kalea kehilangan napsu makan hanya karena takut ada yang melihat keduanya sedang bersama.
Entah salah atau benar, Kalea ingin menikmati waktunya bersama Javas sebelum semuanya benar-benar berakhir. Kalea tidak bisa berharap banyak atas hubungan yang terjalin di antara keduanya.
Setelah mendengar nasehat Kimi, cepat atau lambat Kalea pikir harus kembali bersama Zoni. Laki-laki itulah yang dulu menjadi cinta pertamanya.
Jadi, ini adalah saat-saat terakhir bagi Kalea untuk bisa memandang wajah teduh dan menenangkan milik Javas.
"Mas Javas? Bukankah ini terlalu mewah?" tanya Kalea tidak enak hati. Saat ini keduanya tengah berjalan menuju ruang tempat mereka reservasi.
Javas berdecak sebal. "Panggilannya sudah kembali Mas ya?" ledeknya tersenyum sumringah. Kalea tersipu dengan melipat bibirnya ke dalam.
"Apa-apaan sih," jawabnya sambil tersenyum lalu malu-malu.
Hal itu membuat Javas gemas dan berakhir mengacak-acak rambut Kalea. "Cantik sekali sih. Jadi ingin gigit." Setelah mendengar ucapan Javas, Kalea melotot tajam dan membuat Javas membungkuk untuk meminta maaf.
"Maafkan saya, Tuan Putri," ucapnya yang membuat Kalea tertawa.
"Jangan bersikap seperti itu terus-menerus ya," ucap Kalea berpesan hingga membuat Javas mengernyit heran.
"Memangnya kenapa?"
"Bahaya. Takut aku terbang." Lalu, keduanya kembali tertawa layaknya pasangan muda yang sedang di mabuk cinta.
Tidak berapa lama, keduanya sampai dan menuju meja yang telah diarahkan oleh sang Pramuniaga. Javas menarik kursi dan mempersilahkan Kalea untuk duduk terlebih dahulu. "Duduklah, Sayang," ucapnya lembut lengkap dengan senyum manisnya.
Kalea menurut dan mengambil posisi duduk. "Kamu mau pesan kuah apa?" tanya Javas saat salah seorang pramuniaga membawakan tumpukan wadah berisi irisan daging tipis-tipis untuk di panggang.
"Aku tidak tahu. Bisa tolong pesankan yang enak?" ucap Kalea meringis malu. Dia memang tidak pernah makan di restoran semewah itu apalagi sampai memesan ruang VIP.
Javas tersenyum. Sama sekali tidak masalah. "Aku akan pesankan yang enak untukmu."
__ADS_1
Kini Javas beralih pada sang Pramuniaga dan mengucapkan kuah pesanannya. "Kuah Jepang satu dan kuah tom yum satu ya, Mbak," ucapnya ramah yang segera diangguki oleh yang bersangkutan.
"Kamu tunggu disini atau mau ikut pilih makanan?" tanya Javas sambil membelai rambut Kalea. Kebetulan juga dia masih dalam posisi berdiri di sebelah perempuan yang dicintainya.
"Memangnya, kita harus melakukan apa lagi?" tanya Kalea polos.
Javas segera menunjuk pada rak dan meja berisi banyak makanan mentah sebagai isi kaldu yang akan mereka makan. "Kamu suka bakso kan? Ayo, ikut denganku agar kamu tahu nantinya." Javas segera menarik lengan Kalea lembut agar mengikutinya.
Sarapan dikala siang itu pun berjalan dengan lancar. Javas begitu telaten mengajari Kalea tata cara makan di restoran tersebut. Terbilang kampungan memang. Namun, tidak semua orang bisa makan di tempat yang hampir semua memasak sendiri di hot pane.
Perjalanan mereka belum berakhir. Ketika waktu sudah menunjukkan pukul dua belas siang, Javas mengajak Kalea untuk ke kantor sebentar. Tentunya untuk mengurus pekerjaan yang harus Javas tangani dan tidak bisa diwakilkan oleh Reza.
"Tidak masalah kan, jika kamu menungguku sebentar?" Javas sekali lagi memastikan takut Kalea marah atau kesal seperti kebanyakan perempuan yang jika keinginannya tidak sesuai.
Kalea tertawa. "Tidak masalah sama sekali. Aku justru senang bisa menemanimu bekerja," ucap Kalea sambil menatap Javas sendu.
Saat ini, keduanya tengah menaiki lift privat menuju lantai dimana ruangan Javas berada. Setelah benda kotak itu berdenting dan pintu terbuka, Javas menggandeng tangan Kalea menuju ruangannya.
"Duduklah, Sayang. Tunggu sebentar ya," ucap Javas lembut sambil menggiring Kalea untuk duduk si sofa ruang kerjanya. Kalea mengangguk patuh, tidak ingin menganggu fokus Javas.
'Maafkan aku, Javas. Kamu terlalu mahal untuk aku. Kamu adalah laki-laki berkelas dan tentunya, pasti bisa mendapatkan sosok perempuan yang berkelas juga. Mungkin, beberapa hari ke depan aku akan tetap bersamamu. Setelah itu, aku harus pergi,' batin Kalea sambil memegangi dadanya yang terasa sesak.
Harusnya Kalea sadar jika hubungannya dengan Javas tidak akan pernah ada akhir bahagia. Namun, Kalea terlalu memaksakan keadaan.
Kalea mencoba mengingat lekat-lekat setiap inci dari wajah Javas dan ingin menyimpannya dalam kenangan yang tidak akan terlupakan.
'Aku mencintaimu, Javas,' batin Kalea tanpa terasa menitikkan air mata. Sesegera mungkin Kalea menghalaunya. Dia tidak ingin Javas tahu jika saat ini dirinya sedang bersedih.
Tepat setelah Kalea selesai menghapus air mata, tatapan keduanya bertemu dalam satu garis lurus. Javas tersenyum yang dibalas senyum juga oleh Kalea.
"Tunggu sebentar ya, Sayang. Dua lembar lagi akan selesai," ucapnya lembut memberikan pengertian.
__ADS_1
Beruntung, Reza telah keluar dari ruangan karena harus ada yang laki-laki itu urus lagi. Jadi, Kalea tidak perlu merasa malu pada pria kaku bernama Reza itu.
Kalea mengangguk. "Tidak perlu terburu-buru. Aku akan menunggumu dengan senang hati, Mas," jawab Kalea sambil mengerling nakal.
Javas tersenyum sambil geleng-geleng kepala. Bisa-bisa dia tidak fokus bekerja jika sikap Kalea seperti tadi. Baru saja mendapatkan kerlingan, tubuh Javas langsung bereaksi. Entah magnet apa yang dimiliki perempuan yang dicintainya itu.
"Jangan mengerling seperti itu. Atau kamu akan tahu bagaimana rasanya diterkam," ancam Javas yang sama sekali tidak membuat Kalea takut.
"Oh ya? Memangnya seperti apa?" tanya Kalea menantang.
Javas menggeram kesal lalu segera beranjak dari kursi kebesarannya. Dia menuju pintu dan menguncinya. Setelah itu, dia berjalan mendekati Kalea dan kejadian selanjutnya, Javas mengangkat tubuh Kalea agar duduk di pangkuannya.
Pekikan tertahan keluar dari mulut Kalea yang sayangnya terdengar sangat merdu di telinga Javas. Dia tidak mendengar sebuah pekikan melainkan raungan manja.
"Mas!" ucap Kalea kesal.
"Bukankah aku sudah memberimu peringatan?" ucap Javas sambil tersenyum miring.
Bukannya takut, Kalea justru mengalungkan lengannya di leher milik Javas. "Dan aku tidak takut," tantangnya yang membuat Javas gemas sendiri.
Tatapan keduanya saling beradu seakan sarat akan cinta. Kalea ingin seperti ini terlebih dahulu karena dengan begitu, dia bisa melihat wajah Javas dengan jelas.
Jemari Kalea perlahan bergerak menyentuh alis tebal milik Javas. Sentuhan lembut yang membuat Javas seketika memejamkan mata. Kalea tersenyum lalu gerakannya turun ke rahang tegas Javas dan mengelusnya lembut.
Rahang yang ditumbuhi bulu-bulu halus hingga membuat Kalea ingin cepat-cepat menciumnya. Namun, Kalea tidak ingin terburu-buru. Dia ingin menikmati wajah tampan Javas dari jarak yang sangat dekat.
Merasa sudah terlalu lama, Javas membuka mata dan seketika itu juga, Kalea melabuhkan ciuman di rahang Javas. Sangat lembut sampai Javas kembali menutup mata.
Kalea tersenyum lalu berkata. "Aku mencintaimu, Mas Javas."
Setelah itu, Kalea memulai sesi ciuman lebih dulu yang segera mendapat balasan tak kalah lembut dari Javas.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...