Salahkah Bila Aku Mendua

Salahkah Bila Aku Mendua
Bab 28. Terbongkar


__ADS_3

Kalea telah berada di sebuah restoran Sunda dengan diantar Reza. Javas tiba-tiba ada meeting mendadak dan gagal mengantarnya. Sebenarnya, Kalea tidak perlu diantar karena dia bisa naik ojek karena motornya berada di apartemen Javas. Motor tersebut baru saja selesai diperbaiki.


"Terima kasih, Reza. Tidak perlu menjemput karena aku bisa naik ojek atau taksi," ucap Kalea sebelum benar-benar keluar dari badan mobil.


"Tapi, Nona—"


"Aku mohon. Nanti aku akan telepon Javas soal ini." Setelah menyela ucapan Reza yang akan membantah, Kalea turun dan segera masuk ke area restoran.


Setelah mengedarkan pandangan, Kalea bisa melihat sosok Kimi yang melambaikan tangan ke arahnya. Kalea menyambutnya dengan senang hati dan berjalan sedikit berlari mendekati meja Kimi.


"Kimi!"


"Kalea!"


Kedua perempuan itu pun saling berpelukan ala Teletubbies untuk melepas rindu yang sudah menggunung. Hampir setengah tahun mereka tidak bertemu secara langsung. Hanya lewat panggilan video dan itu pun tidak bisa berlama-lama.


"Aku sangat rindu padamu, Kalea! Kenapa akhir-akhir kamu jarang menerima telepon dariku?" ucap Kimi setelah pelukan terlepas.


Kalea merubah raut wajahnya dengan penuh rasa bersalah. "Maafkan aku. Sudah satu bulan lebih aku mulai bekerja. Jadi, aku tidak memiliki banyak waktu. Bagaimana kabarmu?" tanya Kalea sambil meminta Kimi untuk duduk di kursinya.


"Sangat baik setelah bertemu kamu. Bagaimana? Apakah kamu sudah meminta izin pada suamimu jika ingin menginap di apartemenku? Hanya satu hari saja," pinta Kimi merengek.


Kalea terdiam. Iya. dirinya belum meminta izin pada Zoni tentang masalah ini. Mengingat laki-laki itu, Kalea pun ingat jika pesan dan telepon dari suaminya bekum satupun yang Kalea jawab.


"Kalea! Kenapa malah melamun?" sentak Kimi karena memang tidak tahu masalah rumah tangga Kalea.


Kalea gelagapan. Dia berusaha mengembalikan kesadaran lalu menjawab. "Tidak apa-apa. Aku hanya sedang bertengkar dengan suamiku," jawab Kalea tidak ingin menutupinya lagi.


"Kenapa bisa seperti itu? Apa selama ini hubungan kalian sedang tidak baik-baik saja?" tanya Kimi dengan penuh pengertian.


Helaan napas kasar Kalea keluarkan untuk menghilangkan sesak di dadanya. "Sudah hampir lima bulan ini hubunganku dengan mas Zoni sedang tidak baik-baik saja," ungkap Kalea yang sama sekali tidak membuat Kimi terkejut.


"Aku sudah menduganya sih, Kal. Belum lagi ibu mertua dan adik iparmu yang suka ikut campur. Aku yakin, perjalanan rumah tanggamu tidak semudah dan semulus jalan tol," ucap Kimi menanggapi.

__ADS_1


...----------------...


Javas tersentak ketika suara pintu apartemennya terbuka. Hanya mama dan Kesha saja yang tahu kata sandi pintu apartemen miliknya. Benar saja, sosok Kesha muncul dengan senyum tengilnya.


"Tumben Bang Javas jam segini sudah stay di apart," ucap Kesha lalu melenggang masuk dan duduk di sebelah sang Kakak.


Javas diam tidak menanggapi ucapan Kesha yang bisa menimbulkan pertanyaan beruntun jika dia memberikan alasannya. Tidak mungkin Javas mengatakan secara terang-terangan bahwa dia tidak semangat bekerja karena hari ini tidak bisa bertemu Kalea.


"Pekerjaan sedang senggang. Jadi, Abang mendingan stay," jawabnya sambil memutar bola matanya malas.


Kesha mengangguk saja lalu mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Saat melihat area dapur, banyak sekali peralatan masak yang sudah dicuci seakan baru saja digunakan.


Apakah Abangnya itu masak sendiri? Lalu, sejak kapan Abangnya itu pandai memasak?


"Bang? Tumben sekali peralatan dapur dipakai. Sejak kapan Abang bisa memasak?" tanya Kesha dengan penuh selidik.


Javas menelan saliva. Lupa jika Kesha dan sang Ibu adalah sosok yang sangat teliti seperti kebanyakan wanita. "Abang sedang belajar memasak," jawab Javas bohong.


Kesha mengangguk lalu berjalan menuju dapur untuk melihat secara langsung masakan apa yang sudah kakaknya buat. Saat membuka tudung saji di meja, ternyata ada bread pudding yang ditaruh pada wadah kaca dan ditutup rapat.


"Bang? Ini, Abang yang membuat?" tanya Kesha sedikit meragukan.


Javas mengangguk saja. Dia tidak ingin menjelaskan apapun pada Kesha karena adiknya itu pasti akan mengadu pada sang Mama kalau sampai tahu bahwa dirinya membawa seorang wanita ke apartemen.


"Yakin?" tanya Kesha lagi memastikan.


"Iyalah. Memangnya siapa lagi yang akan memasak untuk Abang."


Kesha mengangkat bahu acuh. Dia Bergerak mengambil piring, berniat untuk mencicipi masakan sang Kakak. Baru satu sendok yang masuk, mata Kesha langsung berbinar merasakan kelembutan dari puding roti tersebut.


"Bang! Sumpah! Aku tidak percaya jika Abang yang membuatnya. Ini enak sekali!" pekik Kesha girang.


Javas memejamkan mata, merasa bahwa percuma menutupi semua dari adiknya. Tidak ingin dicecar banyak pertanyaan, Javas beranjak lalu menuju kamarnya untuk membersihkan diri.

__ADS_1


Sedangkan Kesha, dia menatap heran pada kepergian sang Kakak. "Pasti ada sesuatu yang bang Javas sembunyikan. Aku harus mencari tahu dan mengabarinya pada Mama,". gumam Kesha sambil tersenyum penuh maksud.


Setelah selesai makan, Kini Kesha berjalan menuju kamar sang Kakak. Setelah mengetuk pintu tiga kali, Javas muncul dengan wajah kesalnya.


"Kenapa sih, Bang? Sadis sekali cara memandang ku," kesal Kesha tidak habis pikir.


Tanpa menunggu lama, Kesha langsung mendorong tubuh Javas untuk semakin masuk ke kamar milik Javas.


Hidung Kesha mencium aroma vanilla khas seorang perempuan yang semakin menguatkan dugaannya tentang sang Kakak yang telah membawa seorang perempuan ke apartemennya.


Atau jangan-jangan, kakaknya itu jajan? Berpikir tentang itu, Kesha langsung menatap Javas dengan serius.


"Abang mau jujur atau tidak? Siapa sebenarnya yang datang ke apartemen Abang? Abang tidak jajan sembarangan kan?" tanyanya penuh selidik.


Hal itu membuat Javas geram dan menjitak kening sang Adik. "Enak saja. Abang tuh masih mempertahankan kehormatan Abang sebagai seorang laki-laki. Kamu pikir, Abang akan sembarang main celup menebar benih premium Abang? Enak saja," kesalnya lalu merebahkan diri di ranjang.


Kedatangan Kesha membuat kepala Javas terasa semakin berat. Kesha yang masih mengusap keningnya, seketika terbahak-bahak mendengar penjelasan Javas.


"Benih premium? Percaya diri sekali Anda, Tuan," ledek Kesha yang tidak dihiraukan oleh Javas. Laki-laki itu justru memejamkan mata agar kepalanya tidak semakin penuh karena ulah adiknya.


Baru saja matanya terpejam, suara Kesha kembali terdengar dan hal itu membuat Javas terperangah kaget.


"Bang! Ini pakaian wanita milik siapa!" tanya Kesha berteriak. Entah bagaimana caranya Kesha sudah berada di kamar mandi.


****! Javas mengumpat karena melupakan hal yang sangat penting. Pakaian Kalea yang berada di kamar mandi memang belum diambil oleh tukang loundry.


"PACAR ABANG! PUAS KAMU!" jawab Javas penuh penekanan.


Bukannya takut, Kesha justru bertepuk tangan girang dengan bibirnya yang mengulas senyum lebar. "Akhirnya mengakui juga."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...terima kasih untuk kalian yang selalu memberikan dukungan di karyaku ya🌹...

__ADS_1


...jangan kasih kendor🤭...


__ADS_2