
Setelah keluar dari kamar inap Kimi, Reza mengikutinya dari belakang guna mengantarnya sampai kamar pengantin. Kalea harus menaiki lift terlebih dahulu untuk bisa sampai di gedung paling atas. Tentunya, kamar bagian paling atas, menawarkan pemandangan yang lebih indah dari kamar di bawahnya.
Namun, Kalea sudah tak lagi menghiraukan hal tersebut. Pikirannya masih dipenuhi rasa kesal pada sang Suami. Ingin sekali Kalea memukul, menjambak, bahkan mengigit perempuan bernama Alika yang tidak tahu tata krama.
Sayangnya, hal tersebut hanya berakhir dalam pikiran. Kalea tidak benar-benar melakukannya hingga membuat perasaanya semakin dibuat dongkol.
Denting lift berbunyi, membuyarkan lamunan Kalea tentang kekesalannya. Dia berjalan lebih dulu menuju kamar dimana Javas telah menunggu di dalamnya.
"Terima kasih, Za. Kamu boleh beristirahat," ucap Kalea ketika telah tiba di depan pintu.
"Baik, Nona. Saya akan pergi setelah memastikan Nona masuk." Reza menjawab dengan sopan. Tidak memiliki pilihan lain, Kalea pun memutar kenop pintu setelah Reza menempelkan kartu akses.
Ketika pintu terbuka, Kalea tidak menemukan siapa pun. Namun, gemericik air sudah menjawab semua kebingungan Kalea. Dia segera mencari pakaian yang sudah di siapkan dalam koper.
Kali ini, Kalea telah memastikan jika semua pakaiannya tidak diganti dengan pakaian kurang bahan lagi. Piyama satin berwarna putih menjadi pilihan Kalea. Sambil menunggu suaminya selesai, dia memilih membersihkan riasan terlebih dahulu.
Tidak membutuhkan waktu lama karena riasan itu Kalea meminta agar tipis-tipis saja. Bersamaan dengan selesainya Kalea, pintu kamar mandi terbuka. Kalea enggan menoleh karena sudah tahu dibalik pintu itu suaminya.
Dia pura-pura menyisir rambut agar saat mencucinya, bisa lebih mudah. "Kamu sudah kembali, Sayang?" tanya Javas lembut. Laki-laki itu berjalan pelan mendekati sang Istri yang tampak cemberut.
"Memangnya kenapa? Tidak suka aku kembali cepat?" Kalea justru melempar pertanyaan bernada ketus, yang membuat kening Javas mengkerut bingung.
"Tidak. Justru aku senang, Sayang." Javas menyadari jika sejak tadi, mood istrinya sedang kurang baik. Entah apa penyebabnya. Namun, setelah Alika memaksa untuk memeluknya—
Damn it! Javas mengumpat ketika teringat perubahan sang Istri bermula dari sana. Dia menghela napas kasar. Sebenarnya, dia juga tidak mau dipeluk sembarangan seperti itu. Hanya saja, Alika tiba-tiba saja sudah memeluk tubuhnya.
"Kalea?" panggil Javas lembut yang sayangnya, tak dihiraukan oleh Kalea.
"Aku mau mandi," pamit Kalea segera berlalu meninggalkan sang Suami yang terpaku di tempat.
Kalea ingin sekali berlama-lama dalam kamar mandi. Seperti menenggelamkan diri dalam kubangan busa lembut dan menenangkan. Namun, pikirannya sungguh rumit. Dia kesal pada Javas tetapi juga ingin berdekatan dan memeluk pria itu.
__ADS_1
Apalagi, wangi musk dan Woody, sebagai ciri khas dari suaminya itu, membuat Kalea terbayang-bayang. Kalea mendengkus kencang. Tidak tahu dengan perasaannya sendiri.
Terpaksa, Kalea menuntaskan diri dan mengguyur kembali pada air bersih. Setelah itu, baru Kalea keluar dengan menggunakan bathrobe dan handuk kecil yang melilit rambutnya.
Kalea bisa melihat suaminya itu sedang memainkan ponsel sambil sesekali tersenyum. Hal tersebut tentu memicu pikiran buruk kembali hinggap di kepala Kalea. Dengan langkah menghentak-hentak, Kalea kembali ke kamar mandi untuk mengenakan baju tidurnya.
Tok. Tok. Tok.
Suara ketukan pintu itu membuat Kalea berjenggit kaget. "Apa!" Hingga tanpa sadar meninggikan suaranya ketika bertanya.
"Buka dulu," pinta sang Suami lembut.
"Aku sedang mengenakan pakaian. Jangan ganggu!" teriak Kalea lagi, terdengar sangat kesal.
Javas yang berada di balik pintu, menghela napas kasar melihat tingkah laku sang Istri yang tidak berterus terang. Istrinya itu juga tidak membiarkan Javas untuk menjelaskan.
"Buka atau aku dobrak pintunya?" Javas mencoba menggertak sang Istri agar segera membukakan pintu untuknya. Masalah tidak akan selesai jika keduanya tidak saling bicara.
Kalea yang sudah mengenakan pakaian lengkap, akhirnya mengalah dan membuka pintu kamar mandi. Ketika matanya berserobok dengan mata Javas, Kalea menunduk dan memalingkan muka.
Tenggorokan Kalea rasanya tercekat. Otaknya mendadak kosong ketika merasakan sapuan lembut di bibirnya. Ingin membalas pun, hatinya seperti tidak menyetujui.
Hingga wajah Javas menjauh karena tak kunjung mendapat balasan atasan ciuman yang diberikan, Kalea baru beranikan diri menatap mata tajam tetapi, sekaligus teduh dalam waktu bersamaan.
"Kamu marah padaku? Katakan saja. Aku tidak akan tahu jika kamu tidak mengatakannya. Aku bukan cenayang atau memiliki mata batin sehingga bisa membaca pikiran seseorang. Tolong. Komunikasi adalah salah satu proses yang bisa melancarkan sebuah hubungan. Jangan seperti itu lagi aku mohon," ucap Javas memohon pengertian.
Kalea membuang muka lalu melewati sang Suami begitu saja menuju ranjang. Dia ingin diberi waktu terlebih dahulu. Tidak lama kemudian, Javas menyusul dan ikut berbaring di samping Kalea.
Kalea yang sudah bergelung dalam selimut, tidur dengan membelakangi sang Suami. Dia berusaha memejamkan mata, tetapi perasaanya tidak bisa berbohong. Dia ingin segera menyelesaikan kesalahpahaman ini.
Merasakan hal tersebut, air mata Kalea sudah tak terbendung lagi. Perasaanya kali ini begitu sensitif. Sekuat tenaga Kalea menahan isakan, tetap saja suara itu lolos dari bibirnya.
__ADS_1
"Kalea? Kamu menangis?" tanya Javas panik. Dia menyibak selimut yang dikenakan istrinya. Melihat Kalea hanya diam, Javas membalik tubuh sang Istri agar mau menghadap ke arahnya.
Javas menghela napas kasar ketika mendapati pipi Kalea sudah basah karena air mata. "Maafkan aku jika perbuatanku menyakitimu. Entah kamu marah karena apa, tetapi aku ingin meminta maaf pada kejadian tadi saat ada Alika. Dia yang memaksa untuk dipeluk. Kamu tidak tahu kan jika tadi aku sempat menolak? Tidak mungkin juga aku mendorong kasar Alika," jelas Javas berterus terang.
Mendengar itu, bukannya tangis mereda, justru semakin menjadi-jadi. "Ya harusnya kamu dorong saja dia! Aku tuh tidak suka melihat suamiku berpelukan dengan perempuan lain! Kamu tuh sudah membuatku berpikir yang macam-macam. Apalagi, dia kan pernah—"
Cup.
"Itu hanya pikiran kamu yang terlalu berlebihan. Aku hanya mencintai kamu. Jika aku memang ingin dengannya, sudah sejak dulu aku menerima perjodohan. Namun, aku tidak suka dengannya. Karena aku cintanya hanya pada perempuan bernama Kalea. Janda lincah dan memiliki banyak gaya," goda Javas yang nyatanya berhasil membuat Kalea tertawa.
"Apaan sih. Banyak gaya apa?" kesalnya sambil menyeka air mata.
"Gaya di atas ranj—"
"Tidak perlu diteruskan. Atau aku akan marah lagi!" cegah Kalea sebelum Javas menyelesaikan kalimatnya.
Gelak tawa dari Javas tak terelakkan lagi. Itulah salah satu sifat yang Javas suka dari Kalea. Ketika dirinya sudah membujuk, istrinya itu akan mudah memaafkan. Sehebat itu Kalea memiliki hati. Sampai Javas tidak tahu lagi harus mengungkapkan rasa cintanya menggunakan apa. Karena hampir semua kalimat cinta di dunia, tidak mampu mewakilkan perasaannya.
"Jujur nih, kamu cemburu karena Alika bukan?" tanya Javas lagi, ingin menyelesaikan masalah hingga tuntas.
Kalea mengangguk yakin. Memang itu yang membuat perasaanya menjadi buruk. "Tetapi, sikap kamulah yang membuat aku semakin kesal. Bisa-bisanya, Mas pasrah saja dipeluk mantan, bukan mantan. Tapi calon mantan, di depan mata kepalaku. Kalau Mas yang ada di posisi itu, apa Mas tidak marah? Pasti marah kan? Tolong, lebih tegas lagi pada perempuan bernama Alika. Aku tidak suka melihatnya," ketus Kalea dengan pandangan mata jengah.
Javas tertawa. Senang sekali bisa melihat sang Istri cemburu. "Maafkan aku. Lain kali aku akan bersikap tegas dan menjaga perasaanmu. Maafkan aku, Sayang," gumam Javas penuh penyesalan.
Laki-laki itu memeluk Kalea erat, untuk menyalurkan rasa sayang yang sudah mendarah daging. "Jangan marah lagi padaku. Aku tidak bisa hidup jika istriku dalam keadaan marah. Aku mencintaimu," ucapnya lagi yang berhasil menerbitkan senyum di bibir Kalea.
Setelah cukup lama berpelukan, Javas menjauhkan wajah demi bisa menatap wajah cantik sang Istri. Ditatapnya lekat-lekat hingga Javas merasa tenggelam dalam kubangan cinta yang menghilangkan kewarasannya.
"Mau pakai gaya apa lagi?" tanya Kalea sengaja menggoda suaminya yang tampak sedang menahan sesuatu. Dia sengaja menggigit bibir bagian bawahnya agar semakin menggoda.
Javas mengulum senyum malu-malu dan menelusupkan wajah di ceruk leher Kalea. "Memangnya, sudah mempelajari gaya baru?" tanya Javas ikut terjebak dalam kalimat yang Kalea mulai.
__ADS_1
Mendengar hal tersebut, Kalea terbahak renyah. Isi kepala suaminya memang tidak jauh-jauh dari hal yang iya-iya. Walau demikian, Kalea akhirnya melabuhkan kecupan di pinggiran bibir sang Suami.
"Jangan aneh-aneh lagi ya. Atau aku akan marah berhari-hari," ucap Kalea sebelum akhirnya menyerahkan diri.