
Pagi hari kembali menjelang. Kalea sudah sibuk di dapur untuk membuat sarapan. Hari ini Kalea meliburkan diri karena akan berkunjung ke rumah orangtuanya.
Dia sudah mengatakannya semalam pada sang Suami dan Zoni mengatakan jika dia ingin mengantarkan. Saat sarapan telah selesai dibuat, suaminya turun dari lantai atas dengan raut wajah yang tertekuk.
Kalea hanya mengernyit heran dengan sikap suaminya yang mudah sekali berubah. "Apa terjadi sesuatu, Mas?" tanya Kalea hanya penasaran. Rasa pedulinya telah hilang entah kemana.
Zoni menatap Kalea tajam. Tatapannya seakan menghunus dan ingin memakan Kalea hidup-hidup. Jujur, Kalea merasa takut hingga mundur beberapa langkah takut amarah suaminya akan meledak.
Walau tidak tahu karena apa, Kalea hanya berjaga-jaga seandainya kejadian yang telah lalu terulang. Apalagi jika hal itu menyangkut pekerjaan kantornya.
"Ini semua gara-gara kamu yang tidak pernah becus jadi seorang istri!" bentak Zoni yang membuat jantung Kalea mencelos. Ya Tuhan. Kesalahan apa lagi yang aku lakukan? batin Kalea ketakutan.
Zoni mengikuti langkah Kalea yang perlahan mundur hingga membuat tubuh Kalea gemetar ketakutan. "Ma-maksud k-kamu apa?" tanya Kalea.
__ADS_1
Zoni tersenyum miring. "Gara-gara kamu, aku gagal naik jabatan! Puas kamu? Aku sering datang terlambat karena kamu tidak pernah membangunkan ku! Ini semua gara-gara kamu!"
Kalea berjenggit kaget mendengar suara Zoni yang menggelegar di seluruh ruangan. Takut adalah satu kata yang lebih mendominasi.
"Coba kamu itu perempuan yang berpendidikan. Pasti kamu tahu bagaimana caranya mengurus suami! Seandainya kamu anak orang berada, pasti kamu akan tahu bagaimana kehidupan orang kaya. Sayangnya, kamu hanya anak orang miskin, berpendidikan rendah, dan tidak tahu tata cara hidup kaya! Aku sangat membencimu!" ucap Zoni panjang lebar. Laki-laki itu meluapkan semua kekesalan dengan menyalahkan Kalea.
Padahal, Kalea tidak tahu apa-apa tentang pekerjaan suaminya. Kalea mematung di tempat. Dadanya naik turun menahan sesak yang kini menghimpit rongga dadanya.
Kemarin, sikap suaminya sangat lembut. Mengapa hari ini berubah kasar lagi? Apakah di dunia ini memang ada manusia yang memiliki dua kepribadian?
Matanya mulai berkaca-kaca mendengar setiap hinaan yang keluar dari mulut Zoni. "Memang benar aku kurang berpendidikan. Namun, aku rasa itu semua tidak ada kaitannya dengan adab seseorang. Kamu pikir, sikapmu sudah sangat baik? Sudah paling sempurna dan bijaksana?" tanya Kalea berusaha melawan.
Plak.
__ADS_1
Satu tamparan berhasil mendarat di pipi Kalea dengan sangat keras. Kalea sampai merasa kebas di area pipinya dan telapak tangan suaminya seperti membekas.
"Kurang ajar kamu! Sekarang kamu sudah mulai berani padaku?" tanya Zoni ingin merendahkan Kalea lagi.
"Keluarkan semua hinaanmu! Aku sudah tidak peduli lagi jika kamu menghinaku miskin, tidak berpendidikan, jelek, jerawatan! Silahkan! Kamu memang tidak pernah menghargai aku!" Kini giliran Kalea yang berteriak menyuarakan isi hatinya.
Setelah itu, Kalea berlalu begitu saja ke lantai dua untuk mengambil tasnya. Tidak berapa lama, Kalea kembali dan tidak lagi menoleh pada Zoni yang tampaknya masih terpaku di tempat.
"Terserah kamu mau apa setelah ini. Aku harap kamu segera mengurus surat perceraian kita. Itu bukan yang kamu inginkan?" ucap Kalea sebelum benar-benar pergi.
Zoni bergeming di tempat. Tidak tahu harus menjawabnya bagaimana. Kalea yang sudah disakiti berulang kali, memilih pergi. Kebetulan juga hari ini dia ingin ke rumah orangtuanya. Mungkin, Kalea bisa beralasan ingin menginap saja.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
...jangan lupa dukungannya ya😘...
...dengan cara like, Komen, Vote dan kasih hadiah semampu kalian 🌹🌹...