Salahkah Bila Aku Mendua

Salahkah Bila Aku Mendua
Bab 68. Sementara×selamanya


__ADS_3

Setelah Kalea tertidur, Javas keluar ruangan menuju depan kamarnya. Di sana terdapat taman kecil yang ditumbuhi banyak tanaman. Reza telah menunggunya di kursi yang tersedia.


"Bagaimana, Za?" tanya Javas tegas.


"Dia menghilang, Tuan. Jejaknya tidak terlihat lagi," jawab Reza lemas.


"Kamu harus cari dia sampai dapat. Aku berharap, dia tidak akan melakukan aksi selanjutnya," geram Javas dengan gigi-giginya yang bergemeletuk.


"Saya sudah memperketat penjagaan di depan gerbang hotel, Tuan. Aneh sekali jika dia bisa masuk dengan selamat. Apakah dia menyamar sebagai tamu hotel?"


"Tidak ada yang tidak mungkin. Penjahat sudah menyusun rencananya dengan sebaik mungkin. Tugas kita, hanya perlu waspada dan perketat penjagaan," titah Javas tegas.


Setelah kejadian malam itu, pagi harinya Javas mengajak Kalea untuk pulang ke rumah mamanya. Disana, istrinya akan aman dari segala serangan musuh.


"Mas?" panggil Kalea sambil menatap suaminya yang kini sedang fokus melihat tablet di tangannya.


"Kenapa, Sayang?" Javas meletakkan tabletnya dan memfokuskan atensinya pada sang Istri.


"Semalam itu gawat sekali ya? Hingga kita harus pulang sekarang? Orang itu siapa sebenarnya, Mas?" tanya Kalea penasaran.


Bukannya menjawab, Javas justru memeluk Kalea berniat menenangkan. "Tidak usah pikirkan. Itu biar jadi urusanku. Yang terpenting, kamu menurut saja. Karena untuk bisa menjadi aku yang sekarang tidaklah mudah. Banyak orang ingin menjatuhkan," keluh Javas lalu menyandarkan kepala di bahu Kalea.


Saat Kalea menunduk, suaminya itu tampak memejamkan matanya nyaman. Javas memang tidak bisa tidur semalam akibat siluet seseorang semalam. Padahal hanya sebuah siluet. Namun, Javas sudah waspada dan siaga. Kalea pun tahu, kehidupan orang kaya bisa dibilang kurang tenang.


"Semoga Tuhan selalu melindungi dimana pun Mas berada," ucap Kalea mendoakan keselamatan sang Suami. Dia memberikan usapan lembut di rambut agar suaminya itu bisa lebih tenang.

__ADS_1


Tidak berapa lama, mobil yang dikendarai pengantin baru itu tiba di kediaman Bu Belinda. Reza turun lebih dulu untuk memastikan tidak ada yang mengikuti mobil mereka. Setelah dirasa aman, Reza membukakan pintu untuk sang Tuan dan Nona.


"Silahkan, Tuan. Kondisi sedang aman," beritahu Reza dan Javas mengangguk lalu memapah istrinya untuk turun lebih dulu. Setelah itu, keduanya memasuki rumah yang langsung di sambut oleh Bu Belinda dan Kesha. Dua perempuan itu menunjukkan raut panik dan khawatir.


"Kamu tidak apa-apa kan, Sayang? Orang itu tidak melukai kalian kan?" tanya Bu Belinda sambil menelisik tubuh Kalea dan Javas bergantian.


"Aku tidak apa-apa, Ma. Tidak ada yang melukaiku," jawab Kalea menenangkan.


"Kok bisa ada yang masuk ke wilayah hotel sih, Bang? Apakah mereka rival bisnis yang kalah tender bulan lalu?" tebak Kesha penuh selidik.


Javas menggeleng. "Belum tahu. Jejaknya hilang begitu saja. Aku sudah memperketat penjagaan untuk kalian semua. Untuk sementara, Kalea tinggal disini saja agar aku bisa lebih tenang saat bekerja," jelas Javas panjang lebar mengatakan strateginya.


Bu Belinda mengangguk membenarkan. "Iya. Jangan sementara, selamanya juga Mama sangat setuju." Beliau mengulum senyum untuk memecahkan ketegangan yang melingkupi.


Deheman pelan untuk menggoda pengantin baru itu pun terdengar. "Urus lah dengan baik agar segera ada penerus," jawab Bu Belinda lalu tersenyum tanpa beban.


Kesha yang mendengar candaan sang Mama, hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan. Mamanya memang pemecah suasana tegang terhebat nomor satu. Nomor satu dalam rumah maksud Kesha.


Mengabaikan godaan tersebut, Javas membawa Kalea naik ke lantai dua dimana kamarnya berada. Walau jarang ditiduri, kamar itu selalu dibersihkan setiap hari oleh para pekerja.


Saat pintu terbuka, aroma maskulin menyeruak indera penciuman Kalea. Ruangan itu tampak di dominasi oleh warna abu-abu tua dan hitam, khas seorang laki-laki. "Ini kamar kamu, Mas?" tanya Kalea yang sudah mengambil posisi duduk di sisi ranjang.


"Iya. Ini juga akan menjadi kamarmu. Aku mohon, jangan keluar rumah dulu untuk dua hari ke depan," titah Javas tak terbantahkan.


Jelas Kalea tidak setuju dengan perintah tersebut. Bagaimana dengan pembangunan toko emas dan tempat produksinya? Siapa yang akan membantunya?

__ADS_1


"Tapi, Mas ... Aku harus mengecek ke lapangan tentang perhiasan—"


"Reza akan mengurus semuanya. Kamu tenang saja. Ini hanya untuk dua hari ke depan. Setelah itu, kamu boleh datang tetapi tetap harus didampingi pengawal. Aku tidak akan membiarkan kamu pergi sendirian lagi."


"Tapi, Mas ..." Kalea merengek, merasa tidak terima dengan keputusan Javas yang hanya sepihak.


"Ini demi kebaikan kamu, Sayang. Aku tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk padamu. Percayalah, ini hanya sebentar." Javas begitu sabar memberikan pengertian pada Kalea.


Melihat bagaimana lelahnya Javas saat ini, Kalea merasa tak tega. Dia mengangguk patuh dan percaya jika semuanya demi kebaikan.


"Baiklah. Sekarang, kamu tidurlah, Mas. Akan aku temani. Kamu pasti lelah karena semalaman menjagaku," pinta Kalea lembut. Tidak ingin melewatkan kesempatan baik, Javas segera mengangkat Kalea untuk berbaring di ranjang.


Saat Kalea akan melemparkan protes, Javas kembali bersuara. "Aku ingin tidur dalam pelukan istri tercinta ku. Apakah salah?" tanyanya memelas.


Kalea terkekeh dan segera memeluk Javas penuh kelembutan. "Baiklah. Akan aku peluk seharian kalau begitu." Lalu dia mengecup kening Javas cukup lama hingga mata Javas terpejam merasakannya.


"Tidurlah, Mas. Lupakan semua masalah yang terjadi saat ini untuk sementara. Kamu butuh istirahat agar bisa menghadapi siang nanti."


Ya. Siang nanti Javas sudah meminta izin pada Kalea untuk ke kantor. Walau hari ini harusnya Javas mengambil cuti, tetapi Kalea tidak ingin mencegah barangkali ada hal darurat yang harus diselesaikan.


"Belailah rambutku, Sayang. Bagaimana aku bisa cepat tertidur jika kamu tidak membantunya," gerutu Javas lalu menelusupkan wajah di ceruk leher milik Kalea.


"Iya. Akan aku belai dan sayang. Pejamkan matamu, Mas. Bagaimana kamu bisa tidur bila terus berbicara," omel Kalea kesal.


Setelah itu, tidak ada lagi suara. Hening mengisi ruangan luas tersebut. Hingga Kalea bisa mendengar dengkuran halus dari Javas, dan Kalea pada akhirnya ikut terlelap.

__ADS_1


__ADS_2