Salahkah Bila Aku Mendua

Salahkah Bila Aku Mendua
Bab 38. Remuk redam


__ADS_3

"Jika bercerai adalah keinginanmu, akan aku kabulkan," ucap Zoni pada akhirnya memilih melepas Kalea.


Satu beban di bahu Kalea rasanya berguguran kala mendengar Zoni menyetujui keinginannya. Dia harus mulai menata hidup dengan lebih baik lagi. Salah satunya adalah, bercerai dari suami yang hanya membuat luka.


"Namun, hal itu tidak selalu membuat hidupmu menjadi mudah. Kamu masih harus menghadapi ayah dan ibumu. Kamu ingat kan, apa pesan mereka ketika kamu akan menikah denganku?" tanya Zoni yang seketika mengembalikan ingatan Kalea pada satu tahun silam.


Dimana saat itu, ayahnya berpesan bahwa jangan pernah meminta bercerai pada sang Suami seburuk apapun Zoni. Ayahnya juga meminta agar Kalea bertahan dalam kapal rumah tangganya.


"Tidak ada rumah tangga yang tanpa masalah. Setiap kapal pasti menghadapi ombaknya masing-masing. Jika sebelum pernikahan lima tahun kamu bercerai, masalah lain akan timbul secara bergantian." Begitulah kira-kira ucapan Pak Tono saat itu.


Bahu Kalea merosot. Bukan hanya Zoni yang harus Kalea hadapi. Masih ada kedua orang tua yang harus diminta saran dan didengar nasehatnya.


"Aku bisa menjelaskan semuanya nanti. Bagaimanapun, aku masih anak mereka bukan?" jawab Kalea yang bahkan meragukan ucapannya sendiri. Ayah dan ibunya sudah pasti marah. Namun, Kalea percaya jika mereka masih menyayangi dan mau menerima Kalea apa adanya. Mungkin.


"Baiklah. Hari ini juga aku akan mengembalikan kamu pada ayah dan ibu. Karena aku sudah memintamu dulu, sekarang akan aku kembalikan," ucap Zoni yang membuat Kalea tersenyum sinis.


Dia diperlakukan layaknya barang yang bila sudah tak terpakai, bisa dibuang begitu saja.


"Iya. Aku akan mengemas barang-barang ku." Setelah berucap demikian, Kalea berdiri dan melangkah gontai menuju kamarnya. Dia sudah tak ingin berlama-lama di dalam rumah yang bagaikan neraka tersebut.


Persetan dengan sertifikat rumah yang lima puluh persennya masih menjadi miliknya. Dia tidak ingin membahasnya dahulu.


Saat tiba dalam kamar, ada sesak yang seketika menyeruak. Walau dia sudah tak lagi ada rasa pada suaminya, tetapi kenangan pahit dan manis masih Kalea ingat jelas di kepala.


Kamar tersebut, kamar yang dulu menjadi tempat Kalea dan Zoni memulai harinya. Dulu sekali. Saat semuanya masih sangat indah dan mendebarkan.


Sekarang, hanya tersisa sesak dan rasa sakit yang entah kapan akan mengering. Rumah tangganya dengan Zoni benar-benar akan kandas.


Kalea menghela napas pelan. "Harusnya aku tidak boleh menoleh ke belakang lagi. Aku harus menatap ke depan dan memulai hidup yang lebih baik lagi," gumam Kalea menyemangati diri sendiri.


Setengah jam kemudian, Kalea telah selesai mengemas semua barang miliknya. Dia menatap sekali lagi kamar yang satu Minggu terakhir telah menjadi kamar tidurnya lagi. Tidak ada yang berkesan dari waktu seminggu itu.


Mata Kalea beralih pada pigura yang berada di atas nakas. Pigura itu tampak bersandar tegap yang menunjukkan potret pernikahan Kalea dan Zoni.


Potret yang bahagia dan penuh tawa. kalea tersenyum kecut. Dia pikir, cintanya sudah benar-benar habis tak bersisa. Nyatanya, puing-puing itu masih ada.


"Aku ini perempuan yang sangat buruk. Mengapa aku harus melibatkan Javas dalam hal ini," gumam Kalea merasa bersalah.


Tidak ingin semakin bimbang, Kalea segera melangkah dengan tangannya yang sibuk menyeret koper. Dia harus pergi agar mendapatkan kebahagiaan.


Zoni masih berada di ruang tengah dengan posisi duduk di sofa dan tangan yang memijat pelipis. "Mas, aku sudah selesai," ucap Kalea yang membuat Zoni mendongak.

__ADS_1


"Tidakkah kamu berubah pikiran?" tanya Zoni dengan wajah yang menunjukkan sejuta penyesalan dan kehilangan.


Kalea mencoba mencari celah barangkali hal tersebut hanyalah sebuah kepura-puraan. Namun sialnya, wajah itu tampak tulus saat mengatakannya.


Kalea menghela napas dan menatap langit-langit rumah agar tak lagi meneteskan air mata. Benar kata pepatah yang mengatakan, tidak ada perpisahan yang tidak menyakitkan.


Kalea melepas pegangan kopernya dan memilih duduk di samping Zoni. Dia berikan jarak sekitar satu meter agar tidak gugup saat mengatakan pendapatnya.


"Tadi, aku sempat ragu apakah harus mengakhiri pernikahan kita atau memperbaiki semuanya. Namun, aku sadar hanya akan ada luka dan kita akan berujung menyakiti, seperti sekarang ini. Aku tidak tahu apakah kamu juga merasakan sakit ketika harus melepaskan aku. Walau aku telah dengan yang lain, berpisah denganmu nyatanya sangat menyesakkan," jelas Kalea yang sudah bisa mengontrol diri.


Tidak ada lagi sikap menggebu-gebu seperti kejadian tadi. Yang ada, Kalea berucap pelan dan penuh pengertian.


"Mari berpisah secara baik-baik. Aku juga ingin melihatmu bahagia bersama orang yang tepat. Orang yang ideal menurut ibu dan ayahmu juga menurutmu," ucap Kalea lagi.


Zoni hanya diam dengan tatapan kosong yang membuat Kalea akhirnya bungkam. Dia menghela napas kasar lalu menoleh pada laki-laki yang kini masih berstatus sebagai suaminya.


"Tidak adakah yang ingin kamu katakan?" tanya Kalea pada akhirnya.


Zoni menoleh dan pada saat itu juga, tatapan keduanya bertemu. Laki-laki itu menatap Kalea dengan pandangan yang sulit sekali diartikan. Sedetik kemudian, Zoni mengusap wajahnya kasar.


"Sepertinya kamu sudah tidak sabar untuk berpisah dariku. Aku yakin, setelah itu kamu akan kembali pada selingkuhan mu dan berpikir akan hidup bahagia bukan?" tanya Zoni dengan raut yang sangat menyeramkan.


Kalea sampai harus menelan ludah agar tenggorokannya basah. "A-aku tidak tahu. Manusia boleh berencana tapi Tuhan yang menentukan," jawab Kalea tergagap.


Kalea tidak merasa takut sama sekali. Apapun itu, dia percaya jika sang Ayah tidak akan pernah mengusirnya.


...----------------...


Sesampainya di rumah orang tua Kalea, bu Yuni dan Pak Tono tampak heran kala mendapati anaknya datang membawa koper besar. Muncul banyak pertanyaan yang memenuhi isi kepala keduanya.


"Akhirnya kamu datang juga bersama Kalea. Rasanya, sudah lama sekali kamu tidak mengunjungi kali, Zon," ucap Pak Tono mengulas senyum, berusaha berpikir positif.


Zoni tersenyum tipis. "Maaf, Yah. Zoni memang banyak sibuknya. Namun, kedatangan Zoni kali ini dengan tujuan ingin mengembalikan Kalea."


Ucapan Zoni barusan berhasil membuat Bu Yuni dan Pak Tono terkejut sampai membelalakkan mata. "Tetapi, apa alasannya? Apakah putri kami membuat kesalahan?" tanya Pak Tono menatap tajam Kalea.


Ditatap seperti itu, Kalea menunduk takut. Dia hanya bisa berdoa dalam hati semoga sang Ayah masih mau menerima dirinya.


"Kalea ketahuan telah berselingkuh, Yah. Dia berhubungan dengan laki-laki di belakang Zoni," ungkap Zoni laksana petir yang menyambar di atas kepala.


Pak Tono menatap nyalang sosok putrinya. Begitu juga Bu Yuni yang sudah membekap mulut tidak percaya. Apa kata tetangga nanti ketika mengetahui fakta jika anaknya dicerai karena telah berselingkuh. Bu Yuni sudah tak dapat berkata-kata lagi. Putrinya itu benar-benar sudah mengecewakan hatinya.

__ADS_1


"Kalea!" ucap Pak Tono menggema di seisi ruangan. Ketika mendengar nada tinggi sang Ayah, tangis Kalea kembali pecah. Dia yakin, akan ada hukuman yang ayahnya beri setelah ini.


"Maafkan Kalea, Yah. Aku tahu sudah melakukan kesalahan. Tetapi, Ayah tidak tahu bagaimana menderitanya aku hidup bersama mas Zoni," ucap Kalea mencoba membela diri.


PLAK.


Satu tamparan berhasil mendarat di pipi Kalea. Rasa perih karena tamparan Zoni belum hilang, kini harus ditambah lagi dengan tamparan dari sang Ayah.


Tamparan kali ini rasanya lebih sakit dari berkali-kali lipat dari tamparan Zoni. Seorang laki-laki cinta pertamanya dalam hidup, juga sedang menghakiminya. Lalu, pada siapa lagi Kalea harus berlindung?


"Bukankah Ayah sudah pernah berpesan padamu untuk menurut dan hormat pada suamimu? Jika sudah seperti ini, siapa yang akan malu? Ayah dan Ibu, Lea! Ayah tidak meminta kamu menjadi pegawai kantoran atau wanita karir. Ayah hanya meminta kamu untuk berbakti pada suamimu. Namun, apa yang kamu perbuat? Semua hanya membuat malu keluarga!"


Hati Kalea mungkin sudah tak lagi berbentuk saat ini. Rasanya remuk redam dan menyesakkan. Tidak ada pembelaan sedikitpun yabg Zoni berikan. Sekedar klarifikasi agar meringankan beban Kalea. Tidak ada. Laki-laki itu seakan puas kala menyaksikan Kalea dimarahi habis-habisan oleh sang Ayah.


Kalea sudah tidak lagi mendengar ucapan sang Ayah karena terlalu fokus pada rasa sakit yang menekan dadanya. Didengar pun rasanya percuma karena hanya ada penghakiman yang membuat Kalea semakin merasa kesepian.


"Pergi kamu dari rumah! Ibu sudah tidak sudi lagi memiliki anak seperti mu. Mulai hari ini, kamu bukan lagi anak kami! Pergi kamu!"


Bagaikan dihujam jutaan belati, perkataan sang Ibu berhasil membuat dunia Kalea runtuh. Dia mendongak dan bersujud di kaki ibunya mengharapkan pengampunan.


Tangisnya sudah meraung-raung seperti anak kecil yang meminta perhatian ayah dan ibunya. "Ibu ... maafkan Kalea. Kalea mengaku salah. Bukankah aku tetaplah anak ibu dan ayah? Mengapa kalian juga ikut memusuhiku? Aku sedang membutuhkan kalian ...." racau Kalea tak jelas akibat tangisnya yang sesenggukan.


Dengan kasar, Bu Yuni menendang tubuh Kalea sampai membentur pinggiran meja.


Bruk.


Sekujur tubuh Kalea rasanya sakit karena ini sudah kedua kalinya dia dibanting ke lantai. Kalea merasakan ada bau anyir yang berasal dari pelipisnya.


Ketika tangannya menyentuh bagian tersebut, ada banyak sekali darah yang keluar dari sana. Kalea tersenyum penuh luka menatap ibu dan ayahnya.


Dia mencoba mengingat bagaimana ekspresi ayah dan ibunya menyaksikan dirinya tergolek tak berdaya. Hanya menyaksikan tanpa berminat membantunya berdiri.


Hingga mata Kalea rasanya menggelap. Sayup-sayup, dia mendengar suara Lintang yang berteriak memanggil namanya. Setelah itu, hanya gelap yang bisa Kalea lihat.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...jangan lupa komen yang banyak🤭🤭🔥🔥...


...Mampir juga ke karya temanku yuk👇...


...

__ADS_1



...


__ADS_2