
Setelah semalam lamarannya diterima, Javas berniat untuk memberitahukan sang Mama. Kabar ini adalah kabar bahagia. Setelah berhasil melamar Kalea, Javas akan segera membuat Kalea menikah dengannya.
Perempuan itu pernah berkata jika dia belum ingin menikah sebelum usaha perhiasannya dibuka. Dia ingin dianggap pantas ketika bersanding dengan dirinya.
Padahal, bagi Javas semua penilaian orang lain tidaklah penting. Namun, ketika melihat tekad Kalea yang kuat, Javas tidak ingin memupuskan harapan itu.
"Sore, Ma," sapa Javas pada Bu Belinda yang sedang duduk di ruang tengah sambil menonton acara televisi. Dia sengaja datang selepas pulang dari bekerja.
"Sore, Nak. Duduk sini," pinta Bu Belinda sambil menepuk tempat kosong di sebelahnya.
Javas menurut dan menatap Reza, sang Asisten pribadi yang masih berdiri tegap di samping sofa. "Reza? Tolong kasih tahu Bibi untuk bawakan minuman kesini ya. Kamu kalau haus ambil saja," titah Javas lembut.
Reza mengangguk patuh. "Kalau lapar bagaimana, Tuan? Apakah saya boleh makan?" tanya Reza meminta izin. Dia memang berani berbicara bila sudah masalah hak. Yaitu, hak untuk makan dan minum saat berada dalam lingkungan kerja.
Karena bagaimanapun, dia butuh tenaga untuk mengerjakan banyak tugas dari sang Tuan. Dia juga sudah yakin bila Nyonya Belinda tidak suka dengan perasaan bernama lapar. Entah itu dirasakan dirinya, karyawan, bahkan anak-anaknya.
Hal itu langsung mendapat pelototan tajam dari Javas. "Kamu—"
"Tadi siang saya belum makan, Tuan. Bukankah Tuan juga belum makan? Menurut saya, lapar itu wajar," jelas Reza dengan menunduk hormat.
Bu Belinda yang mendengar itu, terperangah tak percaya. "Javas! Kamu tidak sayang badan?! Hah? Makanlah dulu, Rez. Minta makanan pada Bibi di belakang," titah Bu Belinda sambil memijit pelipisnya, pusing.
Dia paling tidak suka jika ada seorang pekerja atau anaknya sampai telat makan. Itu akan tidak baik untuk pencernaan.
"Tadi Javas sibuk sekali, Ma. Jadi, belum sempat makan siang," ucap Javas beralasan. Memang seperti itu keadaanya.
"Apakah kesibukan membuatmu lupa untuk tetap menjaga pola makan? Kalau sakit, siapa yang susah jika bukan diri sendiri. Mana kamu kalau disuntik tidak mau," gerutu Bu Belinda panjang lebar sampai membuka aib anaknya sendiri.
__ADS_1
"Baiklah. Aku akan dulu bersama Reza. Mama mau makan sekalian? Atau mau menunggu Kesha?" tanya Javas pada akhirnya. Nasehat Mamanya memang ada benarnya.
"Makanlah dulu. Mama akan menunggu Kesha. Mungkin, dia sebentar lagi akan pulang."
Setelah itu, Javas benar-benar makan di rumah sang Mama dengan lahap. Kebetulan sekali, Mamanya itu memasak makanan kesukaannya. Yaitu, udang galah sambal balado.
Tanpa ada canggung atau membedakan tempat duduk, Javas meminta Reza untuk duduk di meja makan. Keduanya, makan dengan lahap hingga butir nasi terakhir dan tak bersisa. Setelah perutnya kenyang, Javas kembali mendekat pada sang Mama yang masih berada di tempat semula.
Namun, pemandangan sang Mama yang sedang melamun cukup menganggu pikiran Javas. Dia menghentikan langkah hanya untuk melihat bagaimana sang Mama tidak menoleh ke arahnya. Mungkin terlalu asik dengan isi kepalanya.
Bahkan, televisi di depannya tidak lagi menarik perhatian Bu Belinda. Merasa cukup, Javas duduk di sebelah Bu Belinda dan memeluk tubuh wanita yang sudah melahirkannya ke dunia.
"Apakah Mama ada masalah? Kenapa sejak tadi aku melihat mama melamun?" tanya Javas lembut sambil tangannya bergerak naik dan turun mengusap punggung sang Mama.
Bu Belinda tersenyum tulus. Seakan sebelumnya tidak pernah terjadi apa-apa. Sepandai itu seorang ibu menyembunyikan rasa sedih dan berdukanya.
Javas mengangguk. "Boleh, Ma. Mama boleh merindukan Papa sebanyak apapun yang mama bisa. Jangan lupa doakan Papa semoga tenang di alam sana. Tetapi Javas mohon, jangan terlalu larut," ucapnya bijak.
Bu Belinda tersenyum penuh haru. Menatap wajah sang Putra selalu mengingatkannya pada sang Suami yang sudah berpulang lebih dulu. Javas bagaikan duplikat dari ayahnya saat masih muda.
Bu Belinda mengusap matanya yang sudah berlinang air mata. Dia tidak ingin cairan bening itu jatuh di hadapan sang Anak. "Tuhan begitu baik pada Mama. Di saat papamu telah tiada, Tuhan memberikan wajah Papa padamu. Kamu sangat mirip papa, Vas," ucap beliau sendu.
"Mungkin, itulah alasan mengapa dulu saat kamu lahir, bukannya mirip mama justru mirip papa. Padahal, yang mengandung dan melahirkan adalah Mama. Tetapi, pas bayi lahir justru mirip sama Bapaknya. Kan tidak adil. Namun sekarang, Mama merasa bersyukur dengan hal tersebut. Mama seperti merasakan kehadiran Papa saat ada kamu. Ada sebagian dari Papa di dalam diri kamu. Bukan hanya sebagian. Tetapi, hampir semua yang ada di kamu mirip Papa." Setelah mengucapkan itu, Bu Belinda tak kuasa lagi menahan air mata.
Javas juga ikut merasakan kesedihan sang Mama. Dia memeluk mamanya untuk menenangkan dan mengatakan jika ada dirinya yang bisa beliau jadikan sandaran di saat-saat seperti ini.
"Mama bisa memintaku datang setiap hari agar rindu di hati Mama terobati. Karena obat rindu itu bertemu, Ma. Mama bisa bertemu denganku setiap hari," pinta Javas lembut.
__ADS_1
Bu Belinda sontak menghentikan tangisnya. Dia menatap sang Putra untuk memastikan jika anaknya itu sedang serius. Karena beliau tidak menginginkan kata-kata manis tanpa sebuah pembuktian.
"Kalau begitu, tinggallah disini, Vas. Kamu mempunyai rumah yang besar, mengapa justru memilih tinggal di apartemen dan hotel? Berkumpul lah seperti dulu," pinta Bu Belinda memohon.
Javas terdiam. Dia belum bisa menjawab detik itu juga. Banyak pertimbangan untuk kembali ke rumah. Seperti jarak perusahaan dan hotel yang semakin jauh saja. Padahal, Javas memiliki penyakit susah bangun pagi. Dia tidak bisa membayangkan jika tinggal di rumah dan setiap hari akan terlambat bekerja.
"Nanti Javas pikirkan ya, Ma. Mungkin, setelah Javas menikah akan mulai diputuskan untuk tinggal bersama Mama. Semua itu agar Mama tidak perlu merasa kesepian." Javas kembali membawa ibunya ke dalam pelukan. Tidak ingin membuat kesedihan sang Mama semakin bertambah.
"Oh ya. Berbicara tentang pernikahan. Bagaimana semalam? Apakah Kalea menerima lamaran kamu?" tanya Bu Belinda yang memang sudah tahu rencana sang Putra yang berniat untuk melamar Kalea di gedung tinggi.
Puteranya itu juga mengatakan alasan konyol mengapa mengajak Kalea kesana. Yaitu, sambil mengancam Kalea bila tidak menerimanya, maka Javas memilik untuk melompat saja dari gedung. Seandainya itu benar terjadi, Bu Belinda akan memarahi Javas habis-habisan.
Melihat sang Putra yabg tersenyum cerah, membuat Bu Belinda seketika tahu apa jawabannya. "Selamat, Sayang. Segeralah menikah. Memangnya, kalian tidak takut sampai terlalu tua?" pinta Bu Belinda penuh permohonan.
Javas tersenyum. "Pasti, Ma. Aku tidak ingin menghabiskan waktu terlalu lama dalam hal berpacaran. Karena berpacaran setelah menikah, rasanya pasti akan berbeda dan lebih menyenangkan."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...jangan lupa dukungannya bestie 🌹...
...mampir juga kesini yuk 👇👇...
...
...
__ADS_1