
Kalea merenungi setiap ucapan yang diungkapkan Javas. Matanya menatap lekat sosok pria tampan di hadapannya. "Apa Mas tahu sesuatu?" tanya Kalea.
Javas melempar pandangan ke arah lautan dimana ombaknya tampak menggulung tenang. "Tidak ada. Aku hanya merasa, sikapmu sejak pagi itu tidak seperti biasa. Pagi hari yang biasa ku lihat senyum manismu, pagi tadi terasa berbeda karena wajah cerah mu sedang mendung."
Mendengar jawaban Javas, Kalea mengembuskan napas berat. "Kamu sangat tahu apa yang aku rasakan tanpa harus aku bercerita. Aku tidak tahu lagi terbuat dari apa hatimu itu, Mas. Sehingga bisa memahami perasaan orang lain dengan hanya melihat raut wajahnya," ucap Kalea terenyuh. Matanya tampak berkaca-kaca saat mengucapkannya.
Javas kembali memandang Kalea yang hari itu tampil cantik walau hari sudah mulai menggelap. Namun, cahaya berwarna oranye yang dihasilkan matahari membuat siluet wajah Kalea tampak semakin menarik.
"Karena aku mencintaimu," jawab Javas tidak main-main dengan ucapannya.
Senyum Kalea mengembang sempurna. "Terima kasih, Mas Javas. Aku juga mencintaimu." Sambil mempererat genggaman tangannya.
"Permisi, pesanannya sudah jadi," ucap seorang waiters yang membuyarkan suasana syahdu di antara Kalea dan Javas.
Dengan mengulum senyum, Kalea mengangguk mempersilahkan waiters meletakkan pesanan. "Iya. Terima kasih, Mbak."
Suasana seketika hening. Hanya ada suara piring yang diletakkan di atas meja yang terdengar cukup nyaring. Setelah semua makanan tertata, sang Waiters mempersilahkan Kalea dan Javas menikmati hidangan.
"Terima kasih, Mbak," ucap Kalea sekali lagi sebelum waiters berlalu.
Javas dan Kalea saling lempar pandang lalu terkekeh bersamaan. "Kita harus makan terlebih dahulu. Setelah itu, kita bisa mengambil beberapa foto untuk mengabaikan momen saat ini," ucap Javas yang segera diangguki setuju oleh Kalea.
Keduanya makan dalam diam, menikmati hidangan yang sore itu terasa nikmat karena disantap bersama orang terkasih. Setelah sesi makan selesai, Javas meminta waiters untuk membereskan meja.
Kini, semua sudah rapi dengan kondisi perut yang kenyang. Javas melihat ada sedikit saus di pinggiran bibir Kalea. Tangannya terasa gatal ingin sekali menghapus noda itu.
"Kalea? Ada noda saus di bibir kamu," beritahu Javas yang membuat Kalea seketika mengusap-usap area bibirnya.
"Bukan disana, tetapi disitu." Karena Kalea salah sasaran, Javas mengambil tisu dan mengelap bibir Kalea pelan.
__ADS_1
"Disini," ucapnya sambil bergerak mengelap. Kalea tersenyum lalu berucap. "Terima kasih."
"Duduk disini. Sebentar lagi matahari akan tenggelam," pinta Javas sambil menepuk tempat kosong di sampingnya. Kebetulan juga Javas duduk di posisi yang langsung menghadap pantai.
Kalea menurut karena melihat matahari tenggelam bersama orang yang dicintai pasti akan sangat menyenangkan.
Setelah duduk berdampingan, Javas segera menautkan jemarinya pada jemari Kalea. Karena merasakan sentuhan yang sudah tidak asing lagi, Kalea menatap bawah dimana tangannya sedang bertaut dengan tangan Javas.
Kalea bisa merasakan tatapan mata Javas yang sedang mengarah padanya. Tatapan yang mampu membuat Kalea tenggelam dalam kubangan cinta. Senyumnya, tatapan matanya, seakan mengisyaratkan betapa Javas mencintai dirinya.
Senyum manis terbit begitu saja. Namun, ketika terlintas sosok Zoni pada ingatan, senyum itu seketika luntur. Hal itu tidak luput dari penglihatan Javas.
"Kenapa? Ada sesuatu yang sedang kamu pikirkan?" tanyanya lembut.
Kalea terdiam. Masih ragu apakah harus jujur atau memilih menyembunyikan dari Javas. Tidak ingin terburu-buru, Kalea menyandarkan kepala di bahu lebar milik pria penghuni hatinya. Kalea memejamkan mata lalu melepas tautan tangan dan beralih memeluk tubuh kekar Javas.
"Ada sesuatu yang sedang aku pertimbangkan. Aku tidak ingin terlalu banyak memikirkan hal tersebut. Aku hanya ingin menikmati kebersamaan kita saat ini. Entah bagaimana akhir dari kisah ini, aku akan mengesampingkannya dahulu. Aku ingin selalu berada di dekatmu," ucap Kalea lalu semakin mempererat pelukan.
"Lihat. Matahari sudah pulang ke peraduan. Tidak inginkah kamu mencium ku kali ini?" tanya Javas yang tidak ada sangkut-pautnya dengan matahari tenggelam.
"Apa hubungannya matahari tenggelam dengan ciuman?" tanya Kalea bingung.
Javas terkekeh geli lalu mengecup puncak kepala Kalea beberapa kali. "Aku hanya ingin setiap menit bahkan setiap detik, merasakan perasaan ini. Perasaan senang sekaligus debar-debar bahagia. Cobalah rasakan degupan jantungku saat ini," pintanya lalu menarik salah satu tangan Kalea untuk menyentuh daddanya.
Deg. Deg. Deg.
Kalea mengulas senyum dan sudah bisa dipastikan jika saat ini pipinya tengah memerah. "Kamu tahu? Aku juga sedang merasakannya." Kini giliran Kalea yang berbicara jujur.
Di suasana malam yang hanya diterangi cahaya lampu remang-remang, Kalea bisa melihat jakun Javas yang naik dan turun. Tangan Kalea seketika merasa gatal ingin menyentuhnya. Namun, Kalea segera menepis pikiran nakal tersebut.
__ADS_1
Sadar jika tatapan Kalea mengarah pada lehernya, Javas mengangkat dagu Kalea agar sedikit menengadah. Dengan begitu, Javas mampu melihat bibir ranum yang selalu menjadi incarannya setiap saat.
Semesyum itu memang. Namun, semua itu atas dasar cinta yang Javas punya. Bukan sekedar mesyum yang sembarangan mesyum.
Karena jarak wajahnya sangat dekat, Kalea sampai bisa merasakan deru napas Javas menerpa wajahnya. Hangat yang menyergap, membuat darah Kalea terasa berdesir aneh.
Dan entah mendapat keberanian dari mana, Kalea merubah posisi lengan untuk bertengger di leher Javas. Hal itu membuat Javas menyatukan kening keduanya.
Saling bertukar oksigen dan cinta yang sedang keduanya rasakan.
...----------------...
"Zoni? Sudahlah. Lebih baik kamu menikah lagi. Percuma memiliki istri tetapi terasa bagai bujangan," ucap bu Rosi tiada menyerah untuk menghancurkan rumah tangga sang Putra.
Dia di iming-imingi uang banyak jika Zoni bersedia menikah dengan seseorang yang mencintai putranya itu. Jadi, bu Rosi akan terus berusaha hingga apa yang diinginkan terwujud.
"Bu. Aku tidak ingin menikah lagi dan menceraikan Kalea. Bagaimana pun, aku masih mencintai istriku," jawab Zoni sopan.
"Kenapa? Dia hanya perempuan miskin dan berpendidikan rendah. Kamu itu bisa mendapatkan yang lebih dari dia," ucap bu Rosi lagi.
Zoni kembali menggusah napas kasar. Setiap hari ibunya itu tidak pernah lelah untuk membuat dirinya mau menceraikan Kalea. Sekarang, Zoni baru sadar jika semua itu tidaklah benar. Dia juga sadar jika sudah termakan hasutan ibunya tentang bagaimana Kalea selama ini.
Padahal, Zoni harusnya adalah orang yang menjadi garda terdepan untuk istrinya. Bukan malah ikut menjelekkan Kalea yang membuat sang Ibu semakin gencar mencarikan istri baru untuknya.
"Tolong, Bu. Aku itu sedang pusing karena Kalea belum pulang. Aku takut dia kenapa-kenapa, Bu," mohon Javas dengan sangat.
Bu Rosi seketika memutar bola matanya malas. "Ibu pastikan kamu akan menyesal!" Setelah itu, beliau berlalu dan pulang dari rumah sang Putra.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1