
Disinilah Kalea berada, di sebuah pemakaman umum yang terletak tidak jauh dari pusat kota. Bu Yuni dan Pak Tono sudah menceritakan semuanya dengan detail tanpa ada yang ditutup-tutupi.
Orang tua Kalea mengalami kecelakaan tunggal saat dalam perjalanan pulang dari acara pernikahan. Entah suatu keberuntungan atau bukan, saat itu Kalea dititipkan pada sang Nenek karena usianya yang masih enam bulan. Hal itu tidak memungkinkan orang tua Kalea membawa anaknya. Karena saat itu, mereka belum memiliki cukup uang untuk menyewa pengasuh.
Ayah dan ibu Kalea langsung meninggal di tempat setelah kecelakaan nahas yang menimpa keduanya. Bu Yuni dan Pak Tono juga mengatakan dengan jujur jika mereka masih menyimpan harta benda peninggalan orang tua Kalea.
Tidak banyak. Hanya kalung, gelang, cincin, dan beberapa perhiasan lainnya milik Rita, ibu Kalea. Bu Yuni maupun pak Tono tidak pernah berani menyentuhnya. Itu bukan hal mereka, katanya.
Mereka juga meminta maaf pada Kalea dan menyesali perbuatannya. Mereka mengatakan jika melihat wajah Kalea seperti melihat ibunya.
Bu Yuni tidak ikut ke pemakaman. Hanya pak Tono yang menemani. Kalea juga sudah memperkenalkan Javas pada keduanya. Wajah terkejut tentu tidak bisa di sembunyikan. Mengira jika hubungan Kalea dan selingkuhannya sudah selesai.
Tidak ada cerita mendalam tentang masa lalu Kalea. Kalea juga tidak berniat mengeluh pada orang tuanya. Hingga sampai saat ini, Bu Yuni maupun pak Tono masih mengira jika hancurnya rumah tangga diakibatkan oleh Kalea yang mendua.
"Ini makam ayah dan ibumu. Maaf karena selama ini sudah menyembunyikan darimu," sesal Pak Tono yang sudah berjongkok di depan gundukan tanah. Di atasnya terdapat nama orang tua Kalea.
Sarita dan Darsono.
Kalea menatap nanar dua gundukan tanah di depannya. Rumput liar sudah tumbuh cukup lebat di atasnya, menandakan jika makam tersebut jarang bahkan tidak pernah dikunjungi.
"Nak Javas? Bapak tinggal dulu ya. Tolong jaga Kalea," ucap Pak Tono berpesan. Tanpa diminta pun, Javas akan menjaga Kalea dengan baik. Namun untuk menghormati orang yang lebih tua, Kalea mengangguk patuh.
Setelah Pak Tono pergi, Javas ikut berjongkok di samping Kalea yang sedang mencabuti rumput pada makam di depannya.
Entahlah. Kalea harus menangis atau tetap datar saja. Rasanya, dia sulit menjabarkan isi hatinya. Perasaannya begitu aneh. Namun, ketika mendapat rangkulan di bahunya, tangis Kalea pecah seketika.
Hatinya terasa rapuh ketika menyadari jika dirinya hanyalah yatim piatu. Cukup lama Kalea menangis, hatinya sedikit lega. Seperti ada batu besar yang keluar dari rongga dada.
"Terlepas dari perbuatan ayah dan ibu setelah aku dewasa, mereka sangat menyayangiku saat masih kecil. Mereka merawat dan memberiku makan dengan kenyang," ucap Kalea mencoba mengingat kebaikan Bu Yuni dan Pak Tono.
"Apa aku salah jika tetap menganggap mereka ayah dan ibuku, Mas? Mereka berubah kasar ketika aku beranjak dewasa. Dulu, mereka memperlakukan aku sama seperti kepada Lintang." Kalea kembali menyambung kalimatnya.
__ADS_1
"Apa rencanamu untuk ke depan?" tanya Javas memastikan.
Terdengar helaan napas kasar dari Kalea. Hidungnya yang merah dengan mata yang sembab, membuat Kalea begitu menyedihkan. "Aku hanya akan mengambil beberapa perhiasan milik ibu sebagai kenang-kenangan. Sisanya, akan aku berikan pada ayah dan ibu. Mereka berhak mendapatkannya," jelas Kalea mengatakan rencananya.
Javas mengangguk saja. Tangannya bergerak mengusap sisa cairan bening di sudut mata perempuan yang dicintainya. "Jangan ada lagi air mata setelah ini. Kamu harus bahagia," tekad Javas kuat. Dia ikut teriris dan sakit saat melihat Kalea menangis.
Waktu bergulir. Matahari sudah tak semenyengat beberapa menit yang lalu. Angin terasa berhembus sejuk menerpa rambut Kalea hingga mengenai wajahnya. Daun dari pohon Ketapang tampak berguguran akibat terpaan sang Angin.
Tepat pukul satu siang, Kalea dan Javas meninggalkan area pemakaman. Tentunya setelah mengirimkan doa untuk orang tua Kalea semoga mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan YME.
Tidak ada yang bersuara selama dalam perjalanan menuju kediaman keluarga Javas. Tatapan mata Kalea begitu nyaman menatap keluar jendela. Apalagi, rintik-rintik hujan mulai terlihat.
"Bagaimana perasaanmu sekarang? Apakah masih butuh silent time?" tanya Javas karena sudah terlalu lama membiarkan Kalea merenung.
Terdengar suara helaan napas kasar. Kalea harus terbiasa dengan kenyataan yang ada. Karena tidak memiliki jawabannya, Kalea hanya mengangkat bahu tak tahu.
"Sepertinya, aku butuh minuman dingin. Bisa kita membelinya dulu, Mas?" pinta Kalea memohon.
"Tentu saja. Kita bisa berhenti sebentar di mini market." Setelah mengatakannya, Javas menepikan mobil ketika mendapati sebuah mini market di pinggir jalan.
...----------------...
"Akhirnya kalian datang juga. Mama sudah menunggunya sejak tadi," ucap Bu Belinda menyambut bahagia kedatangan sang Putra dan Kalea.
Raut wajah Kalea sudah lebih baik dan tidak semendung tadi. Dia memeluk Bu Belinda setelah melakukan sapaan cium pipi kanan dan kiri. Kesha yang kebetulan berada di rumah, melakukan hal yang sama.
"Apa kabar, Kak?" tanya Kesha ramah.
"Kabar baik. Baru kemarin kan, kita bertemu," ucap Kalea kikuk.
Kesha terkekeh geli. "Itu hanya formalitas, Kak. Aku bingung mau menanyakan apa."
__ADS_1
Hal itu langsung mendapat jitakan di kening. Tentu saja hadiah terindah dari sang Abang tersayang. Kesha mengaduh sakit dan Javas meninggalkan begitu saja sambil menggandeng lengan Kalea.
Bu Belinda hanya bisa geleng-geleng kepala. Kesha dan Javas bagai tikus dan kucing bila sedang bersama. Acara makan siang yang sudah terlambat pun berlangsung. Pembicaraan ringan menyelingi acara siang itu hingga suasana menjadi hangat.
Setelah acara makan siang selesai, Bu Belinda mengambil alih Kalea dan tidak membiarkan Javas mendekatinya. Melihat wajah Javas yang sengsara, membuat Bu Belinda juga Kesha tertawa.
"Abang pasti galau nih. Tetapi, biarkan saja. Aku akan tunjukkan pada Kakak foto masa kecil Abang," ucap Kesha tanpa beban mengambil album foto yang berjejer di rak buku.
"Lihat ini, Kak," ucap Kesha sambil menepuk tempat kosong di sampingnya. Dia sedang duduk pada sofa yang tersedia di ruang baca.
Kalea menurut dan duduk di samping Kesha. Bu Belinda sedang pamit ke toilet. "Abang tuh dulu orangnya hangat. Setelah papa meninggal, Abang berubah dan irit bicara. Tetapi sekarang, Abang sudah kembali seperti dulu. Hangat dan tidak lagi irit bicara," ungkap Kesha yang cukup membuat Kalea terperangah.
Pasalnya, selama mengenal Javas, tidak sekalipun dia mendapati sikap dinginnya. Javas selalu hangat dan memiliki ribuan kosa kata agar bisa berbincang dengannya.
"Tetapi, Mas Javas tidak seperti itu selama aku mengenalnya," ucap Kalea mengatakan ketidaksetujuannya.
Kesha justru tersenyum penuh arti. "Karena Abang sudah menemukan seseorang yang tepat, yaitu Kakak," jawabnya laku mulai membuka halaman album.
"Ini foto Bang Javas saat di Taman Kanak-kanak. Lucu ya?" tunjuk Kesha pada sebuah foto masa kecil Javas. Kalea tersenyum. Javas sudah goodlooking sejak dalam kandungan. Buktinya, saat masih kecil, wajah Javas sudah menunjukkan ketampanannya.
Lalu, lembar demi lembar terbuka. Kalea selalu tersenyum melihat sosok Javas kecil. Hingga pada lembar yang entah ke berapa, senyum Kalea pudar. Ada sebuah foto yang memperlihatkan Javas bersama anak perempuan yang begitu manis.
"Dia siapa?" tanya Kalea memastikan.
Mulut Kesha sudah terbuka dan akan menjawab pertanyaan dari Kalea. Namun, sebuah suara menghentikan gerakan bibirnya.
"Bukan siapa-siapa," jawab suara yang tidak lain adalah milik Javas.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...jangan lupa dukungannya ya 😘...
__ADS_1
...mampir juga kesini yuk 👇...