
Setelah menutup pintu kamar, Javas berjalan mendekati sang Istri. Walau tampak memalingkan muka, Javas berusaha membangun kontak mata dengan Kalea.
"Sayang?"
"Sayang ... Sayang. Tidak perlu sayang, sayang!" sentak Kalea kesal.
Javas tertawa mendengar kekesalan sang Istri yang sedang dilanda rasa cemburu. "Aku ada kabar baik loh. Aku udah usir Alika untuk pulang. Nanti aku juga akan hubungi Tante Indi agar menjaga Alika dengan baik," ucapnya dan berhasil membuat Kalea menoleh.
"Benar kan? Jangan bohong?" tebak Kalea masih belum seratus persen percaya.
Javas memeluk sang Istri penuh kasih sayang. "Benar. Aku tidak berbohong. Aku sudah berjanji untuk bersikap tegas demi kamu, demi calon anak kita." Javas menunduk dan mengelus perut sang Istri.
"Efek anak kita, kamu jadi lebih sensitif. Jangan-jangan, dia perempuan ya," tebak Javas yang membuat Kalea terkekeh geli.
"Belum tahu. Nanti kita cek ke dokter saja, Mas," jawab Kalea yang sudah kembali mengukir senyumnya.
Javas pun bahagia melihat Kalea yang sudah kembali. Dia memeluk sang Istri erat dsn mengecupi pelipisnya. "Mas?" panggil Kalea lembut. Dia melepaskan diri dari belitan suaminya dan mengalungkan lengan di leher Javas.
Belum sempat Javas menjawab, Kalea sudah menyerang bibirnya lembut. Tidak ada keinginan untuk menolak, karena sebenarnya Javas menyukai kegiatan tersebut. Dia balas menarik pinggang Kalea dan membalas ciuman tersebut.
...----------------...
Lima Tahun kemudian.
Kepala Kalea terasa pening karena seharian berkutat dengan pekerjaan. Pesanan perhiasan di tokonya membludak akibat banyaknya orang yang mengadakan pernikahan.
__ADS_1
Tidak tanggung-tanggung. Ada satu keluarga yang memesan banyak sekali perhiasan yang dikhususkan untuk semua kerabat. Itulah keuntungan dari produk emasnya yang eksklusif. Desain perhiasannya tidak ada di toko lain.
"Reza? Mas Javas belum datang ya?" tanya Kalea sambil merenggangkan otot-otot yang kaku.
"Belum, Nyonya. Paling sebentar lagi."
"Oh iya. Istri kamu hari perkiraan lahirnya tanggal berapa? Nanti kalau ambil cuti, kabari jauh-jauh hari ya? Soalnya, biar Sinta tidak keteteran sendiri." Kalea berucap pelan. Sinta adalah manager di toko perhiasan yang Kalea miliki.
Sinta dan Reza lah yang berjuang banyak dalam kesuksesan usaha Kalea. Tanpa mereka, Kalea merasa bukan siapa-siapa.
"Siap, Nyonya! Masih satu bulanan lagi. Tapi, istri saya akhir-akhir ini sangat sensitif. Sedikit cemburu, sedikit nangis, sedikit marah, sedikit bahagia. Apa orang hamil memang seperti itu ya?" tanya Reza sambil memijit pelipisnya.
Kalea tertawa. Seakan mengingat kembali kenangannya dulu ketika mengandung pertamanya. Kini, dalam perutnya sudah dititipi nyawa lagi. Masih muda, satu bulan usianya.
"Memang wajar kalau begitu. Kamu siapkan stok sabar yang banyak saja. Dijamin, aman."
"Hai, Sayang," jawab Kalea beranjak dari duduknya untuk menyambut kedatangan sang Putri Tercinta.
Kalea menggendong sang Putri yang diberi nama Arunika hingga membuat Sang Suami melotot tajam padanya.
"Mama! Jangan gendong Aru dulu. Kasihan adeknya," peringat sang Suami kesal.
Kalea terkekeh lalu menurunkan sang Putri. "Maaf ya, Sayang. Mama sedang tidak bisa menggendong kamu. Nanti, kalau adik kamu sudah lahir, baru Mama akan gendong kamu lagi," jelas Kalea agar tidak menimbulkan kesalahpahaman di hati anaknya.
"Kalau adik sudah lahir, Mama gendong adik Aru saja. Kasihan," celetuk bocah lima tahun itu tidak merasa keberatan.
__ADS_1
Javas dan Kalea sontak terkekeh. Reza yang melihat pemandangan tersebut, tersenyum penuh arti. Sebentar lagi, dirinya juga akan seperti itu.
"Za? Kami tinggal dulu ya? Kalau sudah selesai, tolong jaga kuncinya," pesan Kalea sebelum berlalu meninggalkan sang Asisten.
Karena hari sudah sore, Javas mengajak anak dan istrinya untuk makan terlebih dahulu di restoran terdekat. Sepanjang perjalanan, Aru tidak berhenti menceritakan tentang kantor Papanya.
Kalea terkekeh dan menjawab dengan baik setiap pertanyaan yang anaknya berikan. Hingga ditengah kemacetan, Aru pun tertidur.
"Pa?" Panggilan itu membuat Javas menoleh cepat dengan senyum yang mengembang sempurna.
"Kenapa, Ma?" Mereka sepakat untuk mengganti panggilan menjadi Mama dan Papa. Tujuannya untuk mengajari sang Anak agar tidak sampai salah sebut.
"Terima kasih karena sudah menjadi suami dan ayah yang baik untuk keluarga. Aku bahagia bisa menjadi bagian dari hidup Papa," ucap Kalea sendu.
Javas meraih jemari sang Istri yang berada di tengah-tengah kursi, pemisah kursi kemudi dan kursi penumpang samping kemudi. "Terima kasih kembali. Aku juga bahagia memiliki istri yang memberiku anak-anak yang lucu. Terima kasih karena sudah menjadi istri dan ibu yang baik. Aku mencintaimu, Sayang," jawab Javas lalu mencium punggung tangan sang Istri.
Rumah tangga akan berjalan dengan baik jika ada kerjasama dari dua belah pihak. Hidup bahagia bukan berarti Javas dan Kalea tidak mengalami yang namanya ujian rumah tangga. Sudah banyak yang mereka lalui tetapi bisa mereka hadapi dengan baik.
Semua karena kerjasama yang baik dan saling mengerti satu sama lain.
Selesai....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...terimakasih karena sudah menemani perjalanan Kalea dan Javas. terimakasih atas setiap dukungan yang kalian berikan. sampai jumpa di novel selanjutnya ya🥰🥰😘😘😘😘🌹...
__ADS_1
...mampir juga ke karya teman othor yuk 👇...