Salahkah Bila Aku Mendua

Salahkah Bila Aku Mendua
Bab 43. Janda vs gadis


__ADS_3

Harusnya Zoni tidak perlu merasa kesepian berada di rumah saat hari Minggu. Biasanya, dia juga terbiasa tanpa Kalea. Namun Minggu kali ini, rasanya sangat berbeda. Ada yang hilang tetapi Zoni tidak tahu apa.


Pagi hari yang biasa Zoni sambut dengan bahagia, sudah hampir dua minggu ini terasa hampa.


Kalea telah mengkhianati dirinya. Tidak sepantasnya Zoni menangisi perempuan yang sudah dengan tega meninggalkan dirinya.


Dengan sisa semangatnya, Zoni turun dari ranjang. Harinya harus dimulai entah ada Kalea ataupun tidak. Dia berjalan ke kamar mandi untuk gosok gigi dan mencuci muka. Rasanya, masih malas jika harus mandi.


Saat berjalan menuruni tangga, tidak ada pemandangan Kalea yang sedang memasak di dapur. Pemandangan itu seperti sudah takkan terulang lagi.


"Mengapa aku harus bersedih? Harusnya aku merasa senang karena terbebas dari Kalea," gumam Zoni lalu terduduk lesu di meja makan. Belum ada makanan yang terhidang karena tidak ada yang datang untuk memasak sarapan untuknya.


"Biasanya ketika aku sudah duduk meja makan, Kalea akan menyapu lantai. Dulu, aku sangat membenci hal tersebut karena berpikir jika makanan yang aku makan akan berdebu. Setelah semuanya tiada, mengapa aku justru ingin memutar waktu?" Zoni tidak berhentinya bertanya pada diri sendiri.


Beberapa menit Zoni habiskan untuk melamunkan kejadian yang telah lalu. Namun, kegiatannya harus terhenti ketika mendengar ketukan pintu disusul dengan suara sang Ibu yang memanggil.


"Zoni! Zoni!"


Zoni memejamkan matanya lelah. Dengan langkah gontai, dia berjalan dan berniat membukakan pintu. Saat pintu sudah terbuka, sosok sang ibu ternyata tidak datang sendirian. Ada seorang wanita yang menemaninya.


Zoni mengernyit heran. "Siapa dia?" tanyanya ketus.


Bu Rosi tersenyum manis. "Ini loh, Zon. Sonia, teman sekolahmu dulu. Masa kamu tidak mengingatnya?" jawabnya lemah lembut dan wanita bernama Sonia tersebut tersenyum ke arah Zoni.


Kerutan di kening Zoni semakin dalam. Dia lupa-lupa ingat dengan sosok perempuan cantik di depannya. "Yang mana? Zoni lupa, Bu," tanyanya untuk menghilangkan rasa penasarannya yang tinggi.


Bu Rosi berdecak sebal. "Kalau ada tamu itu baiknya disuruh masuk dulu, Zon. Jangan diinterogasi dengan pertanyaan," kesalnya lalu menggandeng lengan Sonia untuk masuk ke rumah.


"Zoni mandi dulu, Bu. Masih bau badan," pamit Zoni tanpa repot-repot menoleh pada sang Ibu dan Sonia yang sudah duduk di sofa ruang tengah.

__ADS_1


Kalau dipikir-pikir, perempuan bernama Sonia itu memang cantik. Namun, hal itu belum mampu menggetarkan hati Zoni seperti saat bersama Kalea. Padahal jika dilihat-lihat, Kalea dan Sonia masih lebih cantik Sonia.


Begitulah kenyataannya. Yang cantik belum tentu bisa menggetarkan hati.


Sedangkan di tempat lain, Javas tampak memandangi foto dalam ponselnya. Disana ada Kalea yang sedang tersenyum lebar saat berada di tempat kursusnya.


Javas ikut bahagia ketika mengetahui jika Kalea menjalani harinya dengan baik saat berada jauh darinya. Walau pada kenyataannya, rindu di hati Javas sudah menggunung. Namun, biarlah rindu itu Javas tabung dalam celengan. Nanti, saat waktunya tiba untuk berjumpa, dia akan membongkar semua celengan itu.


Saking fokusnya menatap foto di layar ponsel, Javas tidak sadar jika Reza dan sang Ibu Suri tengah memperhatikan tingkahnya.


"Sudah berapa lama anak saya menjadi seperti itu, Rez? Mengapa kamu tidak mengatakannya padaku?" Bu Belinda bertanya lirih. Cukup khawatir dengan kondisi sang Putra.


Reza yang ditanya seperti itu, ingin sekali menyemburkan tawa. Bosnya itu memang terlihat seperti orang gila. Tidak tahu saja, jika sesuatu yang membuatnya gila adalah seorang wanita.


"Nyonya tenang saja. Pak Javas hanya sedang berbunga-bunga merasakan indahnya cinta bersemi," jawab Reza yang membuat Bu Belinda membuka matanya lebar.


Javas bercerita semuanya tanpa ada yang ditutup-tutupi. Dari awal perkenalannya dengan Kalea hingga status perempuan yang dicintai yang sudah tidak lagi melajang.


Beliau terkejut bukan main. Anaknya benar-benar menjadi perebut istri orang seperti yang Kesha tuduhkan. Ketakutan Bu Belinda selama ini menjadi kenyataan.


Namun, ketika mendengar jika Kalea disia-siakan oleh suaminya, ada sedikit lega di jiwa. Walau hal itu tidak pernah beliau benarkan. Javas, Kalea, bahkan suami Kalea juga salah.


Merasa terganggu dengan suara di depan pintu, Javas mendongak dan sangat terkejut ketika melihat mamanya telah berdiri di ambang pintu bersama Reza.


"Mama? Sejak kapan Mama ada disana?" tanyanya gugup.


Bu Belinda mendengkus kencang. "Sudah sejak tadi lah. Kamu saja yang terlalu sibuk dengan duniamu sendiri. Mama hampir saja berniat membawa mu ke rumah sakit. Barangkali kamu butuh pertolongan."


Bukannya tersinggung, Javas tersenyum lebar menyambut ejekan sang Mama. "Tenang, Ma. Cintaku sudah kembali. Mama ingin segera memiliki seorang cucu bukan?" tanya Javas yang diluar topik pembicaraan.

__ADS_1


Bu Belinda yang sudah duduk di sofa, menatap anaknya antusias. "Tentu saja. Hal itu adalah mimpi yang sejak dulu Mama inginkan."


Senyum di bibir Javas semakin lebar. Dia turun dari kursi kebesarannya dan duduk di sebelah sang Ibunda. Satu tangannya terangkat untuk menunjukkan layar ponsel yang masih menampilkan Kalea yang tengah berfoto di sebuah gedung tinggi tempatnya belajar.


"Mama lihat ini kan?" tanya Javas dan Bu Belinda mengangguk pelan.


"Ini adalah calon ibu dari anak-anakku. Dia sedang belajar untuk menjadi diri yang lebih baik lagi. Jadi, aku mohon doakan dia ya, Ma. Aku ingin Kalea segera lulus dan aku bisa menikahinya," ucap Javas sendu.


Melihat senyum sang Putra, Bu Belinda tidak ingin merusaknya. Dia mengiyakan saja walau tahu jika ingin menikah dengan Kalea pasti tidak semudah itu.


Entah mengapa, Bu Belinda merasa rintangannya akan cukup terjal. "Apakah kamu sangat mencintai dia?" tanya Bu Belinda lembut.


Tentu saja hal itu segera membuat Javas mengangguk. Tidak ada keraguan sedikitpun yang Javas rasakan. "Aku sangat mencintai perempuan kuat bernama Kalea itu."


"Kamu tidak lupa bukan, jika Kalea adalah seorang janda?"


Pertanyaan itu seketika membuat Javas menoleh tidak percaya. Mengapa sang Mama justru mempermasalahkan status Kalea? Bukankah zaman sekarang gadis atau janda sama saja? Yang membedakan hanyalah status.


"Memangnya kenapa, Ma? Mau janda atau gadis, bagiku sama saja," jawab Javas tidak habis pikir.


"Kamu lupa? Jika Kalea berpisah dari suaminya saat perselingkuhan di antara kalian terbongkar? Bagaimana jika mantan suami Kalea berniat untuk balas dendam? Belum lagi, nama kamu itu cukup di kenal dalam dunia bisnis. Apa kata mereka jika kamu lebih memilih janda daripada seorang gadis? Padahal, kamu bisa mendapatkan yang lebih dari segalanya." Bu Belinda berucap panjang lebar. Seketika itu juga, Javas terdiam.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...jangan lupa kasih dukungannya ya 😘...


...mampir juga ke karya temanku yuk 👇👇...


__ADS_1


__ADS_2