
Kalea mengerjapkan matanya ketika mendengar suara pintu yang digeser. Seperti ada lem yang menempel di kelopak mata hingga susah sekali terbuka.
Ketika matanya telah terbuka sedikit, pemandangan yang pertama kali Kalea lihat adalah pintu yang menghubungkan ke balkon telah terbuka, hingga menampakkan hari yang sudah gelap. Dia bisa melihatnya karena ranjang di ruangan tersebut langsung menghadap balkon.
Ada siluet pria yang tadi siang menggagahinya dengan hebat. Mengingat itu, Kalea mengulum senyum dan menutup wajahnya dengan telapak tangan.
Tadi siang, Kalea sempat takut. Namun, ketika Javas melakukannya dengan lembut dan hati-hati, dia bisa merasakan apa yang selama ini tidak pernah Kalea rasakan.
Sensasi yang berbeda, kenikmatan yang berbeda, bahkan perasaan hati yang bahagia. Javas benar-benar telah membuat otak Kalea gila.
"Sudah bangun? Tidurlah lagi jika masih mengantuk," tanya suara yang tidak lain adalah milik Javas. Entah sejak kapan pria itu berdiri di ambang pintu dengan menatap Kalea.
"Aku lapar, Mas," jawab Kalea sambil meringis malu.
Javas terkekeh lalu mendekati ranjang dan duduk di sisi Kalea. Dia melabuhkan kecupan sekilas di kening Kalea hingga membuat bibir ranum sang Istri yang masih sedikit bengkak itu mengulas senyum.
"Aku sudah pesankan makanan pada petugas hotel," jawab Javas sambil menatap Kalea penuh cinta.
Merasa salah tingkah, Kalea membuang pandangan kemana saja. Yang terpenting, tidak menatap Javas. "Baiklah. Aku akan membersihkan diri terlebih dahulu," ucap Kalea pada akhirnya.
"Kalau begitu biar aku bantu. Kebetulan, aku juga belum mandi." Javas berucap dengan tersenyum menggoda. Sontak saja hal itu membuat pipi Kalea merona.
"Jangan aneh-aneh deh, Mas. Aku malu," kesal Kalea sambil memukul lengan Javas pelan.
"Tadi siang kamu tidak malu loh. Bahkan, kamu—"
"Mas!" kejar Kalea dengan melempar guling pada Javas sebelum pria itu menyelesaikan kalimatnya. Dia malu dan sangat malu bila masalah tadi siang dibahas.
Javas tertawa renyah menanggapi. Melihat Kalea seperti itu membuat bahagia. Lucu sekali rasanya. "Iya, Sayang? Mau lagi? Yang sebelah mana?" goda Javas mengingat percintaan panasnya tadi siang.
__ADS_1
Tidak ingin wajahnya semakin memerah, Kalea segera berlari menuju kamar mandi dengan selimut yang menggulung tubuhnya. Dia masih malu jika harus menunjukkan semua anggota tubuhnya.
Gelak tawa renyah kembali terdengar dari Javas. Kalea yang sudah masuk ke kamar mandi, hanya bisa menutup wajahnya malu. Dia tidak tahu jika bercinta dengan Javas akan semenyenangkan itu.
Ternyata, bukan rasanya yang salah, melainkan orangnya yang salah.
Daripada kepalanya terus dipenuhi bayangan kejadian tadi siang, Kalea segera mengguyur tubuhnya dengan air. Dia ingin otaknya jernih tanpa ternodai pikiran kotoran.
Lima belas menit, Kalea keluar dari kamar mandi. Ternyata, Javas telah menunggu di depan pintu dengan hanya mengenakan handuk yang melilit di pinggang.
"Astaga! Kamu mengagetkan sekali, Mas," gerutu Kalea sambil memegangi dadanya.
Mengabaikan gerutuan Kalea, Javas mengecup pipi kanan Kalea sekilas dan berlari masuk ke kamar mandi. Kalea tidak marah. Hal seperti inilah yang sejak dulu dia impikan ketika sudah berumah tangga.
Sambil bibir yang betah tersenyum, Kalea mulai mengenakan pakaiannya. Tidak. Lebih tepatnya milik Javas. Pria itu membawa beberapa kaos dan kemeja, tidak lupa ada celana pendek yang bisa Kalea pinjam.
Merasa mendapat jackpot, Kalea tersenyum penuh binar di matanya. Dia memilih meminjam salah satu kaos milik Javas. Kaos berwarna putih dengan tulisan H&M di bagian depan samping.
Ada banyak pesan ketika Kalea membuka ponselnya. Namun, ada satu pesan yang menarik perhatiannya. Yaitu, pesan dari nomor yang tidak dikenal. Namun, ketika melihat foto profilnya, Kalea tahu siapa pelakunya.
Hanya pesan biasa. Namun bagi Kalea, pesan itu tidak lagi ada artinya. Di pesan tersebut tertulis, 'Kalea apa kabar?'
Tidak berniat membalas, pada akhirnya Kalea kembali menaruh ponselnya di atas nakas. Baru saja ponselnya diletakkan, layarnya kembali menyala menampilkan jendela pop up pesan yang masuk.
Masih dengan nomor yang sama. Dia kembali mengirimi Kalea pesan. "Kenapa sih, mas Zoni? Ganggu sekali," kesal Kalea lalu tanpa basa-basi, memblokir nomor tersebut.
Kalea sudah bahagia dengan hidupnya yang sekarang. Jadi, meladeni mantan suami bukanlah hal yang menarik.
Kalea mendongak ketika mendengar pintu kamar mandi terbuka. Javas muncul dengan kondisi yang sudah lebih segar. Saat Javas akan membuka mulut untuk berbicara, bel di depan pintu kamar berdenting menandakan ada seseorang di baliknya.
__ADS_1
"Biar aku saja yang buka, Mas," ucap Kalea sambil beranjak menuju pintu. Ternyata, seorang petugas hotel yang membawakan makan malam untuk keduanya.
Kalea mempersilahkan orang tersebut menata makanan di meja yang sudah tersedia. Setelah selesai, Kalea mengucapakan terima kasih lalu petugas tersebut pamit.
"Kamu pakai bajuku? Apa tidak salah?" tanya Javas yang kini ikut bergabung duduk di double sofa yang Kalea duduki.
"Kenapa memangnya? Tidak boleh?" ketus Kalea lalu mengambil piring makan malamnya.
Javas terkekeh dan mengacak rambut Kalea gemas. "Boleh. Apa yang aku miliki, menjadi milikmu juga."
"Oh iya, Mas," ucap Kalea seperti ingin mengatakan sesuatu. Dia sedikit ragu apakah harus memberitahu suaminya atau mengabaikannya. Namun, karena Kalea takut akan menimbulkan kesalahpahaman, dia memilih untuk jujur saja.
"Tadi, mas Zoni mengirimi ku pesan dan bertanya kabar," ungkap Kalea sambil menelisik wajah Javas yang mendadak berubah garang.
Kalea meringis. "Aku abaikan dan langsung aku blokir."
"Bagus!" jawab Javas puas.
Kalea tergelak renyah. Dia berpikir, Javas akan marah karena tadi menunjukkan wajah sangarnya. "Aku mengatakan ini karena tidak ingin ada kesalahpahaman di antara kita. Kunci hubungan yang langgeng yang harus saling terbuka. Dan ini berlaku untukmu juga, Mas."
Javas mengangguk membenarkan. "Tentu saja. Makanlah. Setelah ini, kita akan bermain lagi," titah Javas sambil mengulum senyum. Berniat menggoda istrinya itu yang selalu langsung paham kemana arah pembicaraan mereka.
Terkadang, Javas berpikir jika Kalea itu polos. Namun, setelah kejadian tadi siang, Javas bisa mengetahui sisi lain dari Kalea ketika berada di atas ranjang.
"Aku tidak mendengar apa-apa, aku tidak mendengar apa-apa," gumam Kalea menirukan ucapan Reza pagi tadi.
Keduanya pun tergelak bersama mengingatnya. "Sepertinya, kamu sudah mulai terinspirasi oleh sosok Reza," goda Javas yang membuat Kalea menggelengkan kepala.
"Makan dulu, Mas. Baru kita main lagi," ucap Kalea giliran menggoda. Tatapan matanya memandang Javas dengan satu alis terangkat.
__ADS_1
"Benar ya? Jangan mengelabuhi aku karena hal itu tidak akan pernah bisa."
Makan malam itu, akhirnya diselingi candaan Kalea dan Javas. Keduanya saling bertukar cerita membicarakan hal ringan. Keduanya, ingin melewatkan malam bersama dan mengisinya dengan saling menyalurkan rasa kasih juga sayang.