Salahkah Bila Aku Mendua

Salahkah Bila Aku Mendua
Bab 77. Bernapas lega


__ADS_3

Kalea terbangun ketika merasakan sentuhan tangan dingin di pipinya. Dia berusaha membuka mata walau rasanya berat. Hal yang pertama kali dilihat adalah wajah seseorang yang sejak pagi memenuhi isi kepalanya.


Kalea mencoba mengingat apa yang terjadi pada dirinya hingga terbaring di ruangan yang serba putih. "Kamu sudah sadar?" tanya suara yang sangat Kalea inginkan kehadirannya.


Dia ingat kejadian terakhir yang mengatakan jika suaminya itu mengalami kecelakaan. Mengingat itu, Kalea segera mengambil posisi duduk dan mengumpulkan nyawanya.


Tatapannya berserobok dengan milik Javas. "Katanya Mas kecelakaan? Mana yang luka? Kok bisa? Aku khawatir sekali, Mas," cecar Kalea panik.


"Tenang, Sayang. Hanya kecelakaan kecil." Javas berusaha menenangkan Kalea.


Kalea menelisik penampilan Javas yang hari itu mengenakan pakaian rumah sakit. Di keningnya terdapat perban yang membungkus. Kalea menghela napas lega. Bayangan keadaan buruk menimpa sang Suami tidaklah benar.


"Sebenarnya apa yang terjadi, Mas? Aku tidak tahu kenapa kamu sampai tidak datang ke acara peresmian usaha ku. Dan sekarang, aku rasa keadaanmu baik-baik saja. Tidak ada luka serius." Kalea kembali bertanya dan kali ini, air matanya juga ikut berbicara.


Untuk menenangkan, Javas memeluk Kalea erat. Menyesal karena telah membuat istrinya itu khawatir. "Maafkan aku ... Maafkan aku," gumamnya lirih.


Setelah dirasa tenang, Javas melepas pelukan. Dia menangkup kedua sisi wajah sang Istri dengan penuh kasih sayang. "Maaf karena aku tidak datang. Aku akan ceritakan semua yang terjadi padaku."


Setelah itu, cerita mengalir begitu saja. Dari awal Javas pulang dari perusahaan dan mengalami ban bocor. Butuh waktu dua puluh menit untuk mengganti ban karena antrian yang lumayan panjang. Setelah ban berhasil diganti, jalanan terserang macet di jam dua belas siang.


Di jam tersebut banyak orang yang berniat mencari makan siangnya. Hingga satu jam bergelung dalam kemacetan, Javas akhirnya terlepas dan bisa menjalankan mobil dengan lancar. Namun, saat berada di perempatan jalan, ada pemotor dari arah kiri yang menyeberang.


Karena laju kendaraanya kencang, Javas tidak sanggup menahan dan berakhir lah dia menabrak tiang listrik di samping jalan untuk menghindari dari menabrak pemotor tersebut.

__ADS_1


Kepala Javas yang terbentur dan membuat darah segar mengalir dari sana. Dia dibawa ke rumah sakit oleh pemotor yang bersangkutan karena Javas pingsan. Dan setelah ditangani, Javas mengalami luka robek yang cukup dalam yang mengharuskan dokter untuk menjahitnya.


Mendengar hal tersebut, mulut Kalea menganga lebar. "Mana yang dijahit, Mas? Lalu, kemana ponselmu? Kenapa dihubungi juga tidak aktif?" tanya Kalea kesal sampai rasanya ingin menangis.


"Ponselku kehabisan daya. Saat suster menelepon menggunakan nomorku, katanya si pemotor tadi yang mengisi daya dan menghubungi. Dia sangat bertanggung jawab. Jadi, aku tidak mempidanakan dia," jelas Javas yang membuat Kalea semakin bisa bernapas lega.


"Aku sempat takut, Mas. Mana aku telepon asisten baru kamu, dia bilang jika Mas sudah pulang jam sebelas. Lain kali jangan lagi begitu ya, Mas." Kalea kembali menangis sesenggukan. Antara lega juga kesal yang telah menjadi satu, membuat perasaanya lebih sensitif.


"Yang lain dimana? Lintang? Reza?" tanya Kalea heran.


Saat matanya menelisik ke seluruh penjuru, ada dua ranjang di ruangan tersebut. Ada juga fasilitas AC dan sofa bed. "Ini di kamar kamu, Mas? Kenapa ada dua ranjang?" tanya Kalea lagi.


Javas tersenyum dan menggenggam tangan Kalea. "Mereka sedang mencari makan. Aku sengaja meminta kamu dibaringkan di kamar yang sama denganku. Kamu kelelahan makanya mudah pingsan. Dokter juga menyarankan agar kamu di infus."


Kalea mengangguk lemah. Dia memang merasa lelah karena semalam digempur habis-habisan. Lalu pagi harinya, dia harus datang ke toko untuk mempersiapkan peresmian.


Kalea tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. "Mas pikir saja sendiri," jawab Kalea sambil memalingkan muka. Hal itu membuat bibir Javas mengerucut. Laki-laki itu kembali meraih pipi sang Istri untuk menghadap dirinya.


Javas melabuhkan kecupan singkat di sudut bibir Kalea. "Maafkan aku, Sayang. Besok tidak akan sebanyak semalam. Maafkan aku jika tindakanku menyakitimu. Aku menyesal," ucapnya sarat akan penyesalan.


Kalea kini balas menangkup wajah Javas. "Tidak apa-apa," ucapnya menenangkan.


"Aku berharap, setelah ini ada orang yang masuk ke ruangan," celetuk Javas tiba-tiba sambil mengacak rambutnya frustasi.

__ADS_1


Hal itu seketika membuat dahi Kalea mengernyit dalam. "Kenapa memangnya?" tanyanya heran.


"Aku takut tidak bisa menahan diri. Baru melihat bibirmu saja, rasanya sudah sangat menyiksa," ungkap Javas yang membuat Kalea tergelak renyah.


"Aku berpikir, setelah kepala Mas terbentur, mungkin otaknya akan sedikit membaik. Nyatanya, masih sama saja." Gelak tawa Kalea terdengar menggema di ruangan tersebut. Tawa itu sampai membuat deretan gigi putih Kalea tampak.


"Berdoalah, Mas. Aku juga akan bantu berdoa agar aku selamat," jawab Kalea dengan tawa yang masih tersisa.


Bagai berdoa dan langsung dikabulkan, pintu ruangan terbuka menampakkan Bu Belinda dan Kesha. "Aduh Javas! Mama tidak tahu lagi mengapa kamu senang sekali membuat mamamu ini jantungan!" pekik Bu Belinda heboh.


Kesha yang ikut datang bersama, hanya menggelengkan kepala sambil menutup telinga yang terasa berdenging.


"Benar, Ma. Mas Javas senang sekali membuat orang lain jantungan." Kalea menyetujui ucapan sang Mama.


Dia berniat untuk turun dari brankar. Tetapi, Bu Belinda sudah mencegahnya lebih dulu. "Tidak perlu beranjak. Tetaplah duduk di sana. Kamu butuh istirahat yang banyak, Sayang." Kalea terpaksa kembali duduk bersandar.


Baru saja Javas menoleh, Mamanya itu sudah melayangkan tatapan tajam. Hal itu membuat nyali Javas menciut. "Mama ... Mama. Anak lagi sakit bukannya dielus-elus dan dimanja. Lah ini, aku justru dipelototi," ucap Javas dengan bibir mencebik kesal.


Bu Belinda menghela napas panjang. Tangannya bergerak memijat pelipis yang terasa berdenyut nyeri. "Mama hanya bersyukur, mobilmu tidak kenapa-napa," gurau Bu Belinda yang semakin membuat bibir Javas manyun ke depan.


Kalea mengulum senyum melihat tingkah suaminya yang bagai anak kecil. Begitulah kenyataannya. Seorang anak tetaplah anak kecil di mata ibu dan ayahnya. Tidak peduli berapa pun umur anak tersebut. Setua apapun itu.


"Mama!" kesal Javas dengan alis yang sudah bertaut.

__ADS_1


Melihat itu, Kalea mendadak tidak tega. Dia memeluk pinggang sang Suami untuk menenangkan. "Tenang, Mas. Mama hanya bercanda. Jangan sekaku itu lah," ledek Kalea terkekeh geli.


Bu Belinda dan Kesha pun ikut menertawakan Javas. Lucu sekali bisa menggoda laki-laki di hadapannya. "Mama hanya bercanda. Kamu tuh sudah membuat heboh seluruh jagat raya. Bisa-bisanya menghilang di saat waktu-waktu penting," kesal Bu Belinda sambil menjitak kening Javas pelan.


__ADS_2