
Matahari sudah terbit sejak tadi. Membangunkan manusia untuk bergegas menjalankan kewajibannya. Tak terkecuali Kalea dan Bu Yuni yang sudah berkutat di dapur sejak satu jam yang lalu.
Ya. Mereka terbangun pukul lima untuk mempersiapkan masakan dan camilan yang akan menjadi suguhan. Bu Yuni tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya ketika mendengar jika Kalea kembali memutuskan untuk menikah.
Ada rasa lega karena putrinya sudah menemukan orang yang tepat dan bisa membahagiakannya. Karena beliau merasa, tidak bisa memberikan kebahagiaan itu.
"Kalea?" panggil Bu Yuni lembut. Tangannya berhenti meracik bawang putih yang sedang di iris.
"Kenapa, Bu?" jawab Kalea lembut.
"Akhirnya, kamu menemukan seseorang yang menghargai dan menyayangi kamu. Ibu berharap, kamu selalu diberkati kebahagiaan," ucap Bu Yuni sendu.
Kalea tersenyum manis. Dalam hati mengaminkan doa sang Ibu yang biasanya selalu diijabah dan tidak akan tertolak. "Doakan ya, Bu. Semoga kali ini, selamanya," jawabnya lalu mengelus lengan sang Ibu lembut.
Tanpa terasa, air mata Bu Yuni menetes membasahi pipi. Mengingat semua perbuatan buruknya pada sang Putri yang terbilang tidak pantas. Tidak ada dendam maupun sakit hati yang Kalea pancarkan ketika sedang menatapnya.
Yang ada, hanya tatapan bahagia dan rasa hormat yang besar. 'Ya Tuhan. Apa yang sudah aku lakukan dulu? Putri sebaik Kalea sudah aku sia-siakan. Ampuni aku ya Tuhan,' batin Bu Yuni menyesali.
"Loh! Ibu kenapa menangis?" tanya Kalea panik.
Bu Yuni menggeleng dengan senyum terukir di bibirnya. "Ini adalah air mata kebahagiaan. Kamu anak yang baik dan sangat berbakti. Ibu sampai tidak tahu bagaimana cara mengungkapkan luar biasanya kamu," racau Bu Yuni tergugu.
Kalea pun memeluk sang Ibu untuk menenangkan. "Aku tidak apa-apa, Bu. Aku masih baik-baik saja," ucapnya mencoba mengatakan kalimat penenang.
Namun, bukannya tenang, Bu Yuni semakin sesenggukan. Se lapang dan sesabar itu hati Kalea.
Lintang yang akan masuk ke dapur, seketika mengurungkan niat. Dia ingin memberikan waktu pada anak dan ibu itu untuk saling memahami satu sama lain. Lintang merasakan, matanya mulai memanas dan sebuah cairan mungkin akan mengalir sebentar lagi.
Sebelum cairan itu menetes, Lintang mengusapnya dengan ibu jari. Inilah gambaran keluarga yang sejak dulu Lintang inginkan.
Lintang menoleh kaget ketika merasakan tepukan pelan di bahunya. Ketika menoleh, ternyata sang Ayah pelakunya. Ada senyum terharu yang ditunjukkan pria paruh baya di depannya.
"Ayah merasa bersyukur memiliki putra dan putri seperti kamu dan Mbak Kalea," ucap beliau lalu memeluk Lintang untuk menyalurkan rasa sayang. Pagi hari itu, berjalan dengan lancar dan banyak keajaiban yang terjadi.
Kalea merasa, hari ini adalah hari terbaiknya. Dimulai dari kesalahan yang dilakukan, dia pun mempelajari banyak hal. Namanya hidup, pasti ada pasang dan surutnya, ada bahagia juga sedihnya. Jika tidak seperti itu, bukan hidup namanya.
__ADS_1
Namun, dari sekian banyaknya masalah yang datang, kini Kalea tersenyum ketika melihat ke arah belakang sambil berkata. "Ya Tuhan, terima kasih karena aku bisa sampai di titik ini. Ternyata, ujian hidup yang Engkau berikan, memiliki akhir yang begitu indah."
...----------------...
Pukul sembilan lewat tiga puluh menit, keluarga Javas baru tiba di kediaman orang tua Kalea. Banyak sekali hantaran yang dibawa hingga Lintang lelah bolak-balik mengangkutnya.
Sudah ada Pak RT dan Pak RW yang akan menjadi saksi acara lamaran sekaligus pertunangan Kalea dan Javas.
Ya. Dua keluarga itu sepakat untuk mengadakan acara pertunangan dalam acara yang sederhana. Dari Kalea juga telah menghadirkan beberapa tetangga dekat sebagai saksi.
"Silahkan dinikmati hidangannya." Pak Tono mempersilahkan tamunya.
Semua mengangguk dan mulai mencicipi kudapan yang disuguhkan. Sedangkan Javas, pria itu sejak tadi mencoba mencari keberadaan Kalea yang belum terlihat. Bahkan, pesan yang dirinya kirimkan belum juga dibalas.
Melihat kegelisahan Javas, Pak Tono berucap menenangkan. "Tenang, Nak Javas. Putri kami sedang bersiap dalam kamarnya," ucap beliau terkekeh pelan untuk mencairkan suasana. Semua ikut terkekeh tak terkecuali Bu Belinda.
Suasana mendadak hening. Mungkin, dari keluarga Javas akan mengatakan maksud kedatangannya. Benar saja, tidak berapa lama suara adik dari Bu Belinda, yang tidak lain adalah paman Javas, membuka pembicaraan.
"Salam kenal, Pak Tono. Sebelumnya, perkenalkan saya adalah Satya, paman dari Javas, adiknya Kak Belinda. Mungkin, Bapak sudah mengetahui maksud kedatangan kami mengunjungi rumah Bapak. Namun, saya sebagai perwakilan dari keluarga Javas, ingin mengatakan secara langsung," ucap Satya, Omnya Javas.
"Silahkan, Javas. Katakan maksud dan tujuan kamu sekarang," titah pak Satya lembut.
Javas berdehem pelan. Rasa gugup kini sedang menyerangnya. "Terima kasih, Om," jawab Javas lalu membenarkan posisi duduknya.
Setelah menarik dan menghembuskan napas, Javas pun membuka pembicaraan. "Baik. Langsung saja ya, Pak. Maksud kedatangan saya sekeluarga, tidak lain adalah untuk meminang putri Bapak yang bernama Kalea Annasya. Saya mencintai putri Bapak dengan segenap hati saya. Izinkan saya untuk menemani perjalanan hidup putri Bapak. Memberi nafkah, mendidik, dan menjaganya dengan baik," ucap Javas setulus hati.
Semua yang berada di ruangan, tersenyum menanggapi. Termasuk Kalea yang saat ini sedang menguping lewat celah pintu kamarnya. Hatinya seperti ditumbuhi beragam macam bunga bermekaran.
Bibirnya sampai tak kuasa menahan senyum. Dia adalah Javas yang sama kan? Mengapa ketampanan dan kebijaksanaanya meningkat seribu persen? Apalagi, tubuh kekar itu kini dibalut kemeja batik yang menonjolkan khas Nusantara.
"Kalea! Keluarlah, Nak!" panggil Pak Tono kencang tetapi tidak menghilangkan nada lembutnya.
Deg.
Jantung Kalea seperti berpacu lebih cepat dari biasanya. Namanya dipanggil ketika Kalea belum mempersiapkan diri dengan baik.
__ADS_1
"Hayo, sedang mengintip pasti ya, Mbak?" Suara Lintang dari balik pintu membuat Kalea berjenggit kaget.
"Ya Tuhan, Lintang. Kamu itu mengagetkan," gerutu Kalea sambil memegangi dadanya.
Bukannya merasa bersalah, Lintang justru tergelak. "Itu, sudah dipanggil Ayah untuk keluar. Sudah saatnya untuk menjawab," ucap Lintang memberitahu.
Kalea mengangguk. Dia sudah mendengar pembicaraan di ruang tamu. "Baik. Mbak akan keluar sekarang," jawabnya lalu mulai berjalan ke ruang tamu.
Saat mendengar langkah kaki, semua mata langsung tertuju ke sumber suara. Kalea mendadak gugup karena dipandang oleh banyak pasang mata.
Walau demikian, Kalea berusaha berjalan dengan anggun. Apalagi, kebaya modern yang membalut tubuhnya, membuat penampilan Kalea pagi itu tampak paripurna.
(kira-kira seperti ini kebayanya 👇)
Ada rasa bangga ketika melihat Javas menatapnya tak berkedip. Tidak sia-sia pria itu membelikan kebaya yang dikenakan Kalea sekarang.
Kalea tersenyum dan mengangguk pada semua orang. Dia mengambil posisi duduk di samping sang Ayah. "Kalea? Kedatangan Nak Javas sekeluarga ke rumah bermaksud untuk meminang mu. Semua jawaban Ayah serahkan pada kamu." Pak Tono berucap lembut tanpa ada unsur mengintimidasi.
Beliau ingin, anaknya itu memutuskan hal besar dengan pikiran yang dingin dan matang-matang.
Kalea mengangguk dan melihat ke arah Javas yang sedang menatapnya penuh harap. Dia tersenyum manis dan menjawab. "Aku bersedia, Ayah," jawabnya yang menimbulkan suara sorak-sorai bahagia semuanya.
Ucapan syukur dan terima kasih seakan mengisi suasana pagi yang cerah itu. Kalea bisa melihat, wajah pria tampan yang duduknya berada dalam satu garis lurus dengannya itu, penuh binar bahagia.
Acara pun berlanjut setelah Pak Satya menginterupsi semua. Acara masih akan berlanjut. Kalea dan Javas akan melaksanakan pertunangan saat itu juga.
Untuk sementara, euforia ditunda. Tok!
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...jangan lupa komen🤣...
...mampir juga kesini yuk 👇...
__ADS_1