Salahkah Bila Aku Mendua

Salahkah Bila Aku Mendua
Bab 25. Skenario Tuhan


__ADS_3

Kalea mengetuk pintu ruangan dengan hati-hati. Berharap Javas segera membukakan benda kayu di depannya.


Tok. Tok. Tok.


Belum ada jawaban dari dalam yang membuat Kalea Bergerak gelisah. Akhirnya, Kalea kembali mengetuk pintu dan suara kenop yang diputar membuat Kalea bisa bernapas lega.


Javas muncul dengan hanya mengenakan kaos berwarna putih dan celana bahan pendek berwarna hijau botol. Kalea mengernyit heran. Mengapa penampilan Javas seperti baru saja mandi?


'Apakah aku berpikir terlalu lama sampai Javas selesai mandi?' batin Kalea bertanya.


"Kenapa?" tanya Javas singkat.


Kalea menghela napas. Hilang sudah niatnya untuk meminta maaf ketika mendengar nada ketus Javas. Perasaan Kalea sedang tidak baik-baik saja. Dimulai dari Zoni yang marah-marah sampai orang tuanya yang tidak adil.


Kalea menatap Javas dengan mata uang berkaca-kaca. Rasanya, hari ini berat sekali untuk Kalea. Tidak berapa lama, Kalea menunduk dan berkata. "Aku akan pulang."


Mendengar suara Kalea yang bergetar, membuat Javas seketika dirundung rasa bersalah dan khawatir. Dia hanya ingin menggoda Kalea dan melihat reaksi perempuan di depannya seperti apa.


Ini di luar ekspektasi Javas. Dengan sekali sentak, Javas merengkuh Kalea untuk masuk ke pelukan. "Maafkan aku jika sikapku melukaimu. Aku hanya ingin bercanda."


Mendengar itu, air mata Kalea tumpah-ruah. Rapuh sekali rasanya. "Jangan menangis lagi. Maafkan aku jika tingkahku menyakitimu," gumam Javas lagi sambil mengelus punggung Kalea naik dan turun. Berharap bisa memberikan ketenangan di hati Kalea.


Setelah cukup lama, akhirnya tangis Kalea reda. Javas membawa Kalea untuk masuk ke ruangan yang ternyata adalah sebuah kamar. Kalea mengedarkan pandangan. Mewah, seperti apartemen mahal kebanyakan.


"Duduk sini," pinta Javas lembut sambil menepuk sisi kosong di sebelahnya. Sejak tadi, Javas hanya memperhatikan Kalea yang terlihat takjub dengan apartemen miliknya.

__ADS_1


Tidak ada yang bisa dibanggakan. Hanya saja, Javas sangat senang bila melihat wajah Kalea yang antusias.


Setelah Kalea duduk, Javas kembali berucap untuk menanyakan apa yang sebenarnya terjadi pada Kalea.


"Katakan. Apa yang sudah kamu lalui hari ini sampai begitu sensitif dengan sikapku?" tanya Javas sambil terkekeh geli.


Kalea mengerucutkan bibir. "Ya. Mungkin aku terlalu sensitif setelah apa yang terjadi padaku dari sejak pagi tadi. Mas Zoni mengatakan jika dia gagal naik jabatan di kantor. lebih parahnya lagi, dia menyalahkan ku atas semua yang terjadi," jelasnya mulai bercerita.


Javas menganggukkan kepala paham. Lalu, cerita Kalea mengalir begitu saja tanpa ada yang ditutup-tutupi. Ada rasa nyaman ketika Kalea membagi kisahnya bersama Javas. Karena Javas tidak pernah menghakimi apa yang dilakukan Kalea. Entah benar atau salah, Javas selalu ada untuk Kalea.


"Jangan terlalu dipikirkan. Namun, tentang kamu yang meminta bercerai, apa sampai saat ini suami mu itu belum menghubungi kamu?" tanya Javas sambil memainkan jemari Kalea.


Kalea menggeleng sebagai jawaban. "Dia tidak akan menghubungi ku. Kehadiran ku tidak sepenting itu di hidupnya. Paling, hari ini mas Zoni sedang mengadu pada ibu dan ayahnya. Hal biasa yang sudah bisa aku tebak," jelas Kalea.


"Oh ya. Berbicara soal nama panggilan, mengapa kamu hanya memanggilku dengan nama? Kenapa tidak dikasih embel-embel 'mas'? Padahal, aku juga ingin dipanggil dengan penuh sayang seperti itu." Javas berdecak sebal kala mengingat hal tersebut.


Javas tersenyum senang lalu kembali memeluk Kalea. "Aku mencintaimu, Sayang," ucap Javas yang membuat pipi Kalea merona seketika.


"Aku juga mencintaimu, Mas Javas." Sengaja Kalea mulai menyematkan nama panggilan baru untuk Javas agar pria di sampingnya juga merasakan pipi yang memanas.


Javas melepas pelukan dan menatap Kalea lekat. "Coba sekali lagi?" pintanya yang kini tangannya sudah bergerak untuk membelai rambut Kalea.


"Aku mencintaimu, Mas Javas!"


Tatapan keduanya beradu dan Javas mulai mengikis jarak. Jemarinya bergerak untuk menyentuh dagu Kalea agar sedikit mendongak. Dengan begitu, Javas bisa menjangkau bibir yang hari ini tampak natural tanpa polesan lipstik.

__ADS_1


Mendapat perlakuan semanis itu, syaraf di mata Kalea memaksa kelopaknya untuk menutup. Hingga Kalea merasakan benda kenyal dan sedikit basah menyentuh bibirnya.


Sangat manis sampai Kalea mulai memberikan balasan.


Ting tong.


Ting tong.


Suara bel di depan membuat keduanya menjauhkan diri dengan buru-buru. Jantung Kalea rasanya berdegup dua kali lebih cepat dari biasanya. "Siapa, Mas?" tanya Kalea.


Javas ingin mengumpat pada orang yang kini telah mengganggu aktifitasnya. Dia mendengkus kesal kala. mendengar bel kembali ditekan.


"Sepertinya Reza. Dia aku suruh untuk membeli makanan," jawab Javas sambil mengusap bibir Kalea yang membengkak. Padahal, Javas sudah berusaha untuk tidak terburu napsu.


"Tidak memakai lipstik ya hari ini?" tanyanya yang membuat Kalea menunduk malu.


"Tadi aku buru-buru," jawab Kalea yang matanya bergerak malu-malu.


"Aku buka pintu dulu. Kamu tetap disini saja dan jangan kemana-mana." Setelah berucap demikian, Javas berlalu meninggalkan Kalea lalu menutup pintu ruangan dengan rapat.


Kalea menghela napas lega lalu membaringkan diri di atas ranjang dengan kaki yang masih menjuntai di lantai. "Sulit sekali memiliki hubungan terlarang ini. Aku ingin secepatnya bercerai. Lagi pula, mas Zoni seperti sudah tidak lagi mencintaiku. Setelah itu, aku bisa hidup bersama Javas dan bahagia," gumam Kalea.


Dia lupa jika manusia hanya bisa berencana. Ingin bercerai lalu menikah lagi dengan orang yang dicintai. Namun, kenyataan belum tentu sesuai ekspektasi manusia.


Tuhan memiliki banyak cara dan skenario indah-Nya demi kehidupan umat-Nya di dunia.

__ADS_1


‘Semua manusia membayangkan bisa menikah dengan orang yang dicintai. Manusia memang mempunyai bayangan, tetapi Tuhan mempunyai kenyataan.’


__ADS_2