Salahkah Bila Aku Mendua

Salahkah Bila Aku Mendua
Bab 72. Benih premium


__ADS_3

Suaminya itu belum menjawab dua pertanyaan Kalea. Yang pertama tentang perempuan bernama Alika, yang kedua tentang mantan ayah mertuanya. Kini, dirinya tengah diobati oleh seorang dokter.


Akibat luka lecet yang cukup banyak, tubuhnya terasa remuk redam hingga membuat lemas. Dokter juga memberi Kalea obat pereda nyeri. Efek dari obat tersebut membuat Kalea pada akhirnya terlelap.


Entah sudah berapa lama tertidur, Kalea mendengar suara cukup ramai di ruangan VIP yang sudah Javas sewa untuknya. Ketika matanya terbuka, ada Bu Belinda, Kesha, Lintang, dan kedua orangtuanya.


Mereka sedang duduk di atas karpet tebal yang entah di dapat darimana. Mungkin karena sofa yang tersedia tidak mencukupi jumlah orang yang ada. Mereka belum menyadari jika Kalea telah bangun. Kalea menoleh ke kiri dimana dia merasakan lengannya terasa berat padahal tidak terpasang infus di sana.


Ternyata, Javas tengah tertidur dengan posisi duduk dan menggenggam tangannya. Kalea tersenyum. Sepertinya, Javas sangat mengkhawatirkan dirinya. Apalagi, sejak berada di rumah sakit, Kalea sama sekali belum membuka mulut untuk berbicara dengan suaminya itu.


Kalea mengelus kepala sang Suami lembut. Dalam hati meminta maaf yang sebesar-besarnya karena telah mendiamkan. Tanpa sadar, gerakannya itu membuat Javas terbangun. Dia tampak tergeragap dan menatap Kalea dengan mata yang terbuka lebar.


"Kamu sudah bangun?" tanya Javas dengan suara cukup kencang. Hal itu membuat semua orang yang sedang duduk bersila di atas karpet, mengalihkan semua atensi pada Kalea.


"Kalea? Kamu sudah bangun?"


"Akhirnya, Mbak bangun juga."


"Kak, aku khawatir sekali karena kakak tak kunjung bangun."


Suara sambutan saling bersahut-sahutan, seakan Kalea bagai putri tidur yang tidak bangun selama empat puluh hari. Dahi Kalea mengkerut bingung. "Aku hanya tidur. Mengapa kalian bersikap seolah aku baru bangun dari koma?" tanyanya penasaran.


"Iya hanya tidur. Tetapi, hampir lima jam loh," jawab Kesha terlihat begitu khawatir sekaligus lega.


Tentu saja Kalea terkejut. Dia berpikir hanya tidur beberapa menit saja. Ternyata sudah hampir lima jam. "Kenapa bisa selama itu?" tanya Kalea yang jadi bingung sendiri.

__ADS_1


"Lupakan. Kamu harus diperiksa dokter terlebih dahulu," ucap Javas yang sudah menekan tombol darurat untuk memanggil dokter. Sekitar lima belas menit pemeriksaan, dokter keluar dari ruangan.


Setelah bertanya keadaan, satu per satu keluarga pamit untuk makan malam. Lintang yang turut ikut, mengatakan sudah memesan makanan untuk kakak iparnya, yaitu Javas.


Kini, tinggallah Kalea dan Javas di ruangan tersebut. Kalea masih setia dengan keterdiaman. Pandangannya menatap kosong ke arah pintu dimana jejak keluarganya masih tertinggal di sana.


Tiba-tiba, Kalea merasakan tangan hangat dan besar yang menyentuh punggung tangannya. "Jangan pikirkan macam-macam. Aku akan katakan semuanya padamu agar tidak menjadi kesalahpahaman." Javas berucap lembut sambil menatap teduh mata sang Istri. Walau yang ditatap justru membuang muka.


"Kalau begitu katakan," pinta Kalea masih tetap membuang pandangan.


Helaan napas kasar pun terdengar. "Alika adalah anak Tante Indi, temannya Mama. Aku pernah akan dijodohkan oleh dia karena tak kunjung menikah. Namun, yang namanya hati tidak bisa dipaksa. Aku tidak ada rasa apapun pada anak Tante Indi. Berbeda ketika sedang bersamamu. Debar-debar menyenangkan itu selalu hadir," jelas Javas panjang lebar. Tidak lupa, di akhir kalimat dia menjelaskan isi hatinya.


Kalea menahan bibirnya untuk tidak tersenyum. Murah sekali rasanya. Dia masih membutuhkan satu penjelasan tentang mantan ayah mertuanya yang sedari pagi menerornya.


"Lanjut," ucap Kalea dan Javas mengangguk patuh. Laki-laki itu mulai menjelaskan tentang bagaimana dirinya bisa mengenal Yudi Abyasa, ayah Zoni.


Hal itu sangat tidak sebanding. Karena pak Yudi terus memaksa dan mengatakan ingin meningkatkan kualitas usaha, dengan lapang dada Javas memberikan suntikan dana tersebut, sebesar yang Pak Yudi inginkan.


Saat di tengah jalan, ternyata beliau melakukan tindak kecurangan. Harusnya, perusahaan mendapat bagi hasil sebesar yang telah disepakati. Namun, dari pihak pak Yudi hanya memberikan setengahnya. Bahkan, itu terjadi selama hampir lima bulan.


Itu sudah melanggar aturan kerjasama. Tibalah Javas menyita semua fasilitas usaha yang beliau jalankan. Alhasil, perekonomian keluarganya collapse.


Mungkin karena itu juga orang tua Zoni ingin menikahkan anaknya dengan orang kaya.


Kalea mengernyit heran. "Mas tahu darimana kalau Mas Zoni akan menikah? Dengan orang kaya juga?" tanya Kalea heran.

__ADS_1


Javas tersenyum jumawa. "Aku memiliki mata-mata dimana-mana. Itu berlaku untuk perusahaan yang meminta suntikan dana dari perusahaan ku. Aku harus menyelidiki semua keluarganya sampai ke cucu-cucunya," jelas Javas yang langsung diangguki paham oleh Kalea.


"Memangnya, calon istri mas Zoni kaya raya ya, Mas?" tanya Kalea lagi, penasaran.


"Mulai kepo ya," ucap Javas sambil mencubit hidung sang Istri gemas.


Kalea terdiam sambil menyerongkan tubuhnya menghadap Javas. "Tadi, Mas Zoni datang menemui ku," ungkap Kalea membuat tubuh Javas menegang seketika.


"Ada tujuan apa dia menemui mu lagi? Aneh sekali," tanya Javas kesal.


"Dia hanya meminta maaf. Dia juga memberikan surat undangan pernikahan dan meminta kita untuk datang. Dia mengatakan, jika dia ingin menjalani rumah tangga dengan damai tanpa ada bayang-bayang masa lalu. Begitu," jelas Kalea tanpa ingin menutup-nutupi.


"Oh ya? Benarkah dia meminta maaf dengan tulus? Aku hanya curiga jika dia terlibat dengan masalah ayahnya. Aku harap, kamu menjaga jarak ketika dia mencoba mendekatimu. Bukan karena cemburu sebagai satu-satunya alasanku. Tetapi, karena ini demi kebaikanmu." Javas kembali berucap memberikan Kalea pesan.


Mendengar hal tersebut, Kalea pun teringat dengan perkataan Pak Yudi ketika baru saja menyerempet dirinya. "Oh iya, Mas. Pak Yudi mengatakan jika apa yang dia lakukan itu tidak seberapa. Masih akan sds teror susulan katanya," ungkap Kalea mendadak takut.


Javas menghela napas dan mengambil posisi duduk sisi brankar. "Kamu tidak perlu pikirkan. Mulai sekarang, aku akan cari asisten pribadi untukmu yang akan menjadi pengawalmu juga. Ini demi kebaikan kita semua. Kamu selamat, aku pun tenang."


Kalea mengangguk lalu memeluk sang Suami penuh sayang. "Terima kasih, Mas. Maaf juga sempat salah paham padamu. Padahal, apa yang kamu lakukan pasti memiliki alasan," sesalnya sambil menelusupkan wajah di dada suaminya.


"Aku akan menuruti semua ucapan, Mas. Karena aku percaya, semua demi kebaikanku," sambungnya lagi.


Javas pun tersenyum. Dia mengecupi puncak kepala Kalea dengan sayang. Tangannya yang menganggur, dia gunakan untuk mengusap perut rata Kalea.


Jelas hal tersebut membuat Kalea terkesiap. "Kenapa, Mas?" tanya Kalea bingung.

__ADS_1


"Kapan benih premium yang aku tanam akan tumbuh di sini? Aku sudah tidak sabar menunggu hari itu. Setelah kamu sehat, kamu tidak boleh terlalu lelah," ucap Javas yang membuat Kalea malu setengah mati. Dia pun memukul lengan Javas pelan.


__ADS_2