Salahkah Bila Aku Mendua

Salahkah Bila Aku Mendua
Bab 79. Orang yang tepat


__ADS_3

Sesampainya di rumah, Kalea langsung meminta izin pada Bu Belinda untuk mengantar suami ke kamar. Suaminya harus banyak beristirahat.


"Pergilah, Sayang. Kamu juga ikut istirahat saja. Nanti Mama akan meminta Bibi untuk membawakan makan malam ke kamar," jawab Bu Belinda penuh perhatian.


Kalea mengangguk dan menuntun Javas menuju kamar. Bu Belinda dan Kesha yang menyaksikan hal tersebut, tersenyum bahagia. Kehidupan Javas kini sudah lebih berwarna.


Sesampainya dalam kamar, Kalea meminta sang Suami untuk berbaring. Setelah makan malam datang, dia akan menyuapi. "Aku mandi dulu ya, Mas. Badan rasanya lengket," ucap Kalea meminta izin.


Javas seperti tidak rela walau ditinggal masih dalam satu ruangan yang sama. Namun, dia tidak memiliki pilihan lain. Istrinya itu memang butuh penyegaran dengan mandi.


Lima belas menit waktu yang dihabiskan Kalea dalam kamar mandi, rasanya belum cukup. Namun, mengingat perut suaminya masih lapar, Kalea bergegas keluar dan berniat untuk memakai baju.


Dia tersenyum kala mendapati suaminya itu sedang duduk bersandar pada kepala ranjang. Dia berjalan menuju pintu dan menguncinya rapat. Saat akan berjalan menuju lemari pakaian, Kalea tiba-tiba merasakan pelukan dari belakang.


"Aku suka wangi ini. Wangi sehabis kamu mandi," ucap Javas sambil menghirup tengkuk sang Istri yang beraroma bunga.


"Aku belum pakai baju, Mas," protes Kalea ketika merasakan pelukan itu semakin erat. Akhirnya, Javas melepaskan pelukan dan membiarkan istrinya itu berpakaian terlebih dahulu.


Piyama tidur berbahan satin berwarna coklat, telah Kalea kenakan. Rambutnya yang basah, masih terbungkus handuk kecil agar sisa airnya tidak menetes.


Bersamaan dengan itu, pintu kamarnya diketuk dari luar. "Sepertinya, makanan sudah datang," gumam Kalea sesegera mungkin membuka pintu. Javas yang sudah kembali duduk di sisi ranjang, hanya memperhatikan sang Istri yang berjalan mendekati pintu.


Helaan napas kasar dia keluarkan ketika kepalanya terlintas bayangan yang iya-iya. Dia mengulum senyum, merasa gila sendiri karena istri cantiknya itu.


"Taruh di meja saja, Bi." Kalea menginterupsi Bibi untuk menaruh nampan berisi satu piring nasi beserta lauk, segelas susu, dan satu botol air putih. Itu memang pesanan Kalea.


"Terima kasih ya, Bi," ucap Kalea sebelum Bibi berlalu dari kamar. Setelah menutup pintu, Kalea mendekat pada suaminya. "Makan di sofa saja ya, Mas? Takut berantakan dan semut akan datang," pinta Kalea yang segera disetujui oleh Javas.

__ADS_1


Bagai anak kecil yang patuh pada orang tua, Javas duduk tenang menunggu suapan demi suapan dari Kalea.


"Aaa..." Kalea meminta Javas untuk membuka mulut ketika satu sendok makanan telah disodorkan. Javas membuka mulut walau tatapan matanya tidak beralih menatap wajah cantik sang istri. Dia bangga dan bahagia memiliki istri seperti Kalea.


"Kenapa cantik sekali sih. Aku kan jadi ingin gigit," ucap Javas dengan mulut penuhnya.


Kalea melotot tajam. "Kalau sedang makan tuh jangan banyak bicara. Tersedak baru tahu rasa," peringatnya kesal.


Javas pun menurut karena Kalea berucap demi kebaikannya juga. Sambil menyuapi suaminya, Kalea juga ikut makan menggunakan sendok yang sama dan satu piring yang sama. Ibarat kata, satu piring berdua.


Pandangan Javas menelisik isi piring yang memang berjumlah cukup banyak nasi. Dia akan bertanya setelah makanan habis.


Saat telah selesai pun, Kalea meminum air dari bekas bibirnya. Sungguh. Ini definisi romantis yang sesungguhnya. Lain kali, Javas akan melakukan hal yang sama.


"Kenapa kita makan dalam satu piring yang sama?" tanya Javas dengan menaik-turunkan alisnya.


"Begitu juga dengan botol air yang sama. Rasanya terasa manis karena itu bekas bibir kamu, Mas," ucap Kalea layaknya sebuah gombalan. Namun kali ini, Kalea bersungguh-sungguh tanpa ada bualan sedikitpun.


"Ternyata, istriku bisa bersikap romantis juga," celetuk Javas disertai kekehan renyah.


Bibir Kalea pun mencebik kesal. "Apa selama ini aku kurang romantis?" tanyanya sambil sibuk menata kembali piring dan botol ke dalam nampan.


"Minum dulu susunya, Mas," pintanya lalu mendekatkan gelas pada bibir sang Suami. Bukannya langsung menenggaknya, Javas justru meminta Kalea untuk menyesapnya lebih dulu.


"Kamu dulu, Sayang. Aku sisanya tidak masalah," jawabnya sambil tersenyum lembut.


Kalea menurut dan menenggak setengah dari isi gelas tersebut. Setelah itu, baru Javas yang menenggak dengan meminum dari bekas bibir sang istri.

__ADS_1


Melihat hal tersebut, Kalea tertawa renyah. "Oh, kamu mau ikut-ikutan ternyata," ucapnya sambil mencubit pipi suaminya gemas.


"Aku taruh ini di dapur dulu ya, Mas. Nanti aku ke kamar lagi," pamit Kalea sambil meletakkan gelas kosong bekas susu.


"Kenapa harus turun sih? Minta Bibi untuk mengambilnya saja kan bisa." Javas merengek layaknya anak kecil yang tidak ingin ditinggal. Helaan napas kasar pun terdengar. Sikap manja suaminya belum juga luntur selama beberapa hari ini.


"Tidak bisa, Mas. Kasihan Bibi kalau harus turun naik tangga. Bibi sudah tua loh." Mendengar hal tersebut, Javas pun mengangguk pasrah. Dari kamar ke dapur lalu ke kamar lagi, tidaklah membutuhkan waktu satu jam bukan?


"Kamu duduk dulu. Jangan berbaring karena baru selesai makan. Tunggu hingga satu jam sebelum tidur agar lambung kamu aman." Setelah berucap demikian, Kalea benar-benar keluar dari kamar menuju dapur.


Ketika di dapur, ada Kesha yang sedang membuat mi instan. "Mau makan mi, Sha? Bukannya lauk banyak ya? Lagi bosen?" tanya Kalea sambil melongok pada panci yang digunakan untuk merebus mi.


"Iya. Bosen aku, Kak. Sesekali makan mi tidak masalah. Lidah terkadang ingin rasa yang berbeda," jawab Kesha terkekeh sendiri.


"Enak tuh. Ya sudah, aku tinggal ke kamar dulu ya? Abang kamu umur saja yang sudah tua. Tingkahnya masih kaya bocah kalau ditinggal terlalu lama." Kalea berpamitan meninggalkan Kesha.


Gelak tawa renyah tak terelakan lagi. "Yang memang begitu orangnya, Kak. Dulu, ketika Papa masih ada, Abang tuh manja sekali pada Mama. Namun, ketika Papa tiada, Bang Javas seperti berusaha menghilangkan sifat tersebut. Tetapi, yang namanya sifat terkadang susah dirubah. Terbukti, sekarang sifat itu datang lagi ketika Bang Javas menemukan seseorang yang tepat seperti Kakak," ungkap Kesha mengenang masa lalu kakaknya.


Mata Kalea terbuka lebar. Namun setelahnya, dia tersenyum maklum. Javas juga manusia biasa yang butuh kasih sayang dikala waktu terpuruknya. Dulu, Kalea melihat Javas itu bagai sosok yang sangat kuat. Kini, dia sadar jika Javas juga bisa sakit dan kelelahan.


"Berarti, apakah aku orang yang tepat?" tanya Kalea ingin memastikan.


Kesha mengangguk antusias. "Kakak orang yang sangat-sangat tepat untuk Bang Javas yang dulunya kaku. Setelah ada Kakak, kakunya hilang tuh," gelak Kesha lagi, merasa lucu dengan tingkah sang Kakak.


Kalea tidak bisa lagi menyembunyikan senyumnya. Dia bahagia ketika mendapat pengakuan dari orang terdekat Javas yang mengatakan jika dirinya orang yang tepat. "Terima kasih, Sha. Kalau begitu, aku ke atas dulu ya," pamitnya lagi.


"Pergilah, Kak. Bisa-bisa, seisi rumah akan heboh karena Bang Javas mencari Kakak." Tawa renyah pun kembali terdengar.

__ADS_1


__ADS_2